Habib Subagio, Habib
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

Aplikasi Penginderaan Jauh Dalam Pemetaan Penggunaan Lahan Detil Tapak RDE, PUSPIPTEK Serpong

Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Vol 18, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1157.73 KB)

Abstract

Telah dilakukan pemetaan tutupan lahan dan perkembangannya dalam skala detil (1 : 5.000) dengan radius 5 km dari pusat tapak rencana pembangunan Reaktor Daya Eksperimental (RDE) di Kawasan Nuklir Serpong (KNS), PUSPIPTEK Serpong. Tujuan penelitian adalah untuk membuat database penggunaan lahan skala detil 1:5.000 sebagai persiapan dalam rencana pembangunan RDE dan melengkapi peta tutupan lahan skala 1: 10.000. Metode penelitian dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu pengumpulandan pengolahan data citra, ground check lapangan, analisis penggunaan lahan radius 300-500 m, radius 1,2,3,4, dan 5 km dari tapak RDE, serta perubahan penggunaan lahan tahun 2014-2015. Pengolahan citra satelit dilakukan di Pusat Pemetaan dan Tataruang, Badan Informasi Geospasial (BIG). Pengolahan data menggunakan program ArcGis dan Er Mapper, sedangkan analisis data citra satelit menggunakan Image Analysis yang merupakan salah satu tool dalam ArcGis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tutupan lahan KNS setelah radius 3 km merupakan pemukiman yang padat di berbagai tempat. Perubahan penggunaan lahan pada tahun 201 4-201 5 menunjukkan bahwa terjadi perkembangan pesat pemukiman ditunjukkan dengan peningkatan luasan pemukiman di bagian Utara – Timur kawasan PUSPIPTEK.

MAPPING EARTHQUAKE HAZARD BY USING GIS AND MULTI-CRITERIA ANALYSIS IN BANTUL REGENCY

GEOMATIKA Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.004 KB)

Abstract

Earthquakes are natural events that are difficult to predict and are always causing casualties or major damage. The concept of mitigation associated with the earthquake hazard requires a hazard map that can be used as the basis of land use regulation in order to avoid casualties in case of disaster. Map of the earthquake hazard have been prepared based on a combination of geologic map information; lithology (rock structure) map, earthquake intensity map, slope map, and a map of fault lines. GIS Method of multi-criteria analysis is used as a means of model simulation. The result of the disaster analysis map shows 13% of the area categorized as low or very prone to stability in case of earthquakes, with the main factor is the existence of fault lines. The result of comparison with previous studies showing there is a similarity level of damage and disaster map analysis, with notes need to increase the level of detail map geological information to improve the accuracy of maps of disaster.Keywords: earthquake, hazard, GIS, multi-criteria analysisABSTRAKGempa adalah kejadian alam yang sulit diprediksi dan selalu menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan yang besar. Konsep mitigasi terkait dengan bencana gempa bumi memerlukan sebuah peta bahaya yang bisa dijadikan dasar pengaturan penggunaan lahan dengan tujuan menghindari korban jika terjadi bencana. Peta bencana gempa bumi disusun berdasarkan kombinasi peta informasi geologi yaitu peta litologi (struktur batuan), peta intensitas gempa, peta kelerengan, dan peta jalur patahan. Metode GIS multi-kriteria analisis digunakan sebagai alat simulasi model . Hasil peta analisis bencana menunjukan 13% area masuk kategori stabilitas rendah atau sangat rawan jika terjadi gempa bumi, dengan faktor utama yaitu keberadaan jalur patahan. Hasil komparasi dengan studi-studi sebelumnya menunjukan ada kesamaan tingkat kerusakan dan peta bencana hasil analisis, dengan catatan perlu adanya peningkatan tingkat kedetailan peta informasi geologi untuk meningkatkan akurasi peta bencana.Kata kunci: gempa bumi, rawan, SIG, analisa multi kriteria

PETA TEMATIK RISIKO BENCANA UNTUK PENGUATAN PERAN GENDER DALAM PENANGGULANGAN BENCANA

GEOMATIKA Vol 18, No 1 (2012)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1500.348 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan kerentanan gender dan risiko bencana berbasis gender kabupaten bantul diatas peta. Penelitian ini menghasilkan kuesioner dan metode pembobotan dan skoring untuk penentuan kerentanan gender. Hasil penentuan kerentanan gender  selanjutnya diolah dengan kapasitas dan ancaman bencana yang ada untuk menghasilkan peta tematik risiko bencana untuk penguatan peran gender dalam penanggulangan. Peta yang dihasilkan adalah peta kerentanan gender, kapasitas dan peta risiko gender terhadap bencana gempabumi, tsunami, kekeringan dan banjir. Peta ini diharapkan memberi kemudahan bagi pengguna peta dalam melakukan identifikasi wilayah dan perbandingan khususnya mengenai peran gender dalam penanggulangan bencana selain juga dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi penguatan peran/kapasitas gender pada daerah berisiko tinggi serta meminimalkan kerentanan.Kata Kunci: Penguatan peran gender, Penanggulangan Bencana, Peta Risiko BencanaABSTRACTThis study aims to present gender vulnerability and gender disaster risk of Bantul district on the map. The study produced a questionnaire, weighting and scoring methods  to determine  gender vulnerability. The results then further processed with the capacity and the existing natural hazards which to generate disaster risk thematic maps. The resulting map are gender vulnerability map, gender capacity map and gender disaster risk maps for earthquakes, tsunamis, droughts and floods. These maps are expected not only to guide and facilitate  users to identifythe role of gender in disaster management in their own area but also be used as an evaluation basis to strengthen the role of gender or capacity in high-risk areas and to minimize vulnerabilities.Keywords: Gender strengthening, Disaster Management, Disaster Risk Map

EKSTRAKSI GARIS PANTAI MUKA LAUT RATA-RATA DARI CITRA MULTI PASUT

MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.329 KB)

Abstract

Setiap garis pantai yang didapatkan dari foto udara atau citra satelit adalah garis aktual atau temporal, yang dipengaruhi oleh fenomena pasang surut (pasut). Pada sebuah peta, diperlukan tinggi garis pantai muka laut rata-rata, yang harus dicari dengan bantuan data pasut. Di paper ini, penulis mencoba mendapatkan garis pantai muka laut rata-rata dari citra multi pasut. Hasilnya adalah garis pantai rata-rata dengan akurasi vertikal desimeter sedang akurasi horisontalnya tergantung kelandaian (slope) pantai yang bersangkutan. Penggunaan citra radar lebih mudah sebab citra radar multipasut dengan perbedaan ekstrim lebih mudah diperoleh karena tidak ada kendala awan. Kombinasi metode DEM dan metode median line pada citra radar akan menghasilkan hasil yang nyaris berimpit, sedang pada citra optik, hasilnya akan cukup jauh.Kata Kunci: Garis Pantai, Pasang Surut, Muka Laut Rata-RataABSTRACTAny coastline extracted from aerial or satellite imageries is an actual or temporal line, influenced by tidal phenomena. Mean sea level coastline is needed on a map, which must be extracted with the help of tidal data. In this paper we tried to extract the mean sea level coastline from multi-tidal-imageries. The result was mean sea level coastlines with vertical accuration in decimeter level, while the horizontal accuration depending on slope of the coast. The used of radar data for extracting coastline is easier because the multi-tidal radar images with extreme tidal differences can be obtained since radar data is free of cloud cover problem. Combination method of DEM and median line on radar data would result on a nearly similar coastline.Keywords: Coastline, Tidal, Mean Sea Level

PEMANFAATAN GIS UNTUK REKONTRUKSI KAWASAN STRATEGIS NASIONAL TROWULAN

MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 12, No 2 (2010)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.754 KB)

Abstract

Penelitian ini mengintegrasikan beberapa hasil kegiatan dan penelitian terkait surveiarkeologis di Trowulan dengan GIS. Metode yang digunakan adalah melakukan set up datadata tersebut kedalam format spasial yang memiliki referensi geografis yang sama. Berbagai aplikasi analisis baik 2D maupun 3D dilakukan untuk menunjukkan representasi keadaan Trowulan dari awal penelitian sampai saat ini, yang diharapkan dapat dijadikan sebagai input bagi pengambil kebijakan dalam mengambil langkah kedepan, terkait dengan rencana usulan wilayah Trowulan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) ataupun nominasi ’world heritage’. Upaya perlindungan dan konservasi kawasan ini menjadi prioritas utama untuk mengawal Trowulan dalam rangka penetapan kawasan tersebut sebagai KSN ataupun warisan budaya nasional dan dunia. GIS dapat digunakan sebagai instrumen dalam pengelolaan data dan informasi, sekaligus sistem pemantauan terkait dengan keseluruhan properti arkeologi yang ada di kawasan tersebut.Kata Kunci: Pemetaan, GIS, Kawasan Strategis Nasional, Arkeologi.ABSTRACTThis research integrating several related research activities and results of archaeological survey in Trowulan with GIS. The method used is to set up these data into a spatial format that has the same geographic references. Various applications both 2D and 3D analysis done to show a representation of the initial state Trowulan research to date, which is expected to be used as input for policy makers in taking the next step, is associated with the proposed plan area as a National Strategic Area Trowulan (KSN) or nominee the world heritage. The protection and conservation of this region a top priority in order to escort Trowulan determination as KSN region or national and world cultural heritage. GIS can be used as an instrument in the management of data and information, as well as the overall monitoring system associated with the existing archaeological properties in the area.Key Words: Mapping, GIS, National Strategic Area, Archeology