Articles

Found 12 Documents
Search

PENDUGAAN POTENSI CADANGAN KARBON DI ATAS PERMUKAAN PADA HUTAN MANGROVE DI KUBU RAYA MENGGUNAKAN CITRA ALOS PALSAR (ABOVEGROUND FOREST CARBON STOCK ESTIMATION IN KUBU RAYA MANGROVES BY USING ALOS PALSAR IMAGERY) Hudaya, Yudi Fatwa; Hartono, -; Murti, Sigit Heru; Hadiyan, Yayan
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 12 No. 1 Juni 2015
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2043.738 KB)

Abstract

Kebutuhan akan sistem pendugaan cadangan karbon hutan yang memadai dengan cakupan wilayah geografis yang lebih luas dan waktu pengukuran yang lebih cepat saat ini mulai diperhatikan, salah satu diantaranya melalui pemanfaatan citra satelit synthetic aperture radar (SAR). Penelitian ini ditujukan untuk membuktikan keunggulan aplikasi ALOS PALSAR dalam kegiatan kuantifikasi karbon pada hutan mangrove. Dibandingkan dengan penelitian-penelitian sejenis lainnya pada berbagai tipe hutan tropis maupun temperate dataran rendah sampai pegunungan, penerapan pada hutan mangrove, gelombang-L pada citra ALOS PALSAR secara signifikan terbukti memiliki sensitivitas yang lebih baik terhadap nilai kandungan karbon aboveground aktual hasil pengukuran berbasis alometrik di lapangan. Hubungan yang lebih baik diperoleh dengan koefisien determinasi mencapai 62% pada polarisasi HH dengan bentuk persamaan Y=1647e0,358BS_HH dan, 98,6% pada polarisasi HV dengan bentuk persamaan Y = 6,828BS_HV2 +279,4BS_HV + 2870. Sementara pada penelitian sebelumnya (R2) hanya 61% - 76%. Model penduga yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menghitung jumlah cadangan karbon dan sebarannya secara geografis. Kandungan biomassa di atas permukaan pada hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya diketahui 178,43 Mg/ha; sedangkan potensi karbon di atas permukaan diketahui 5.334.454,9 Mg (Megagram) atau 5,3 Mt (Megaton) karbon, dan kemampuan dalam menyerap karbondioksida (CO2) adalah 19,451 Mt (Megaton) CO2 equivalent. Hutan mangrove di Kubu Raya dengan luas 71.069,21 hektar apabila dipertahankan keberadaannya akan berkontribusi mengurangi tingkat emisi GRK (Gas Rumah Kaca) dari sektor kehutanan sebesar 0,76 %.Kata kunci: ALOS PALSAR, Mangrove, Alometrik, Karbon.
Pengaruh Aktivitas Penambangan Timah Putih (SN) terhadap Kerusakan Lingkungan Perairan Sungai Jelitik Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Saputro, Bintoro; Santosa, Langgeng Wahyu; Murti, Sigit Heru
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.13059

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aktivitas penambangan timah putih (Sn) terhadap kerusakan lingkungan perairan Sungai Jelitik yang diindikasikan oleh penurunan kualitas air Sungai Jelitik dan kerusakan sempadan Sungai Jelitik.Metode penelitian ini adalah survey dengan sampel diambil secara purposive sampling terhadap air sungai pada bagian hulu, tengah, dan hilir Sungai Jelitik, serta Air Limbah aktivitas penambangan timah sebelum masuk ke perairan Sungai Jelitik dengan parameter meliputi Kekeruhan, pH, logam berat meliputi Besi (Fe), Seng (Zn), Tembaga (Cu), Timbal (Pb), dan Kadmium (Cd). Untuk Kekeruhan, dan pH pengukuran dilakukan secara langsung menggunakan water quality chekeer.Berdasarkan hasil analisis laboratorium terhadap kualitas air Sungai Jelitik menunjukan bahwa 4 parameter kualitas air yang diukur telah melampaui baku mutu yang dipersyaratkan sesuai dengan PPRI Nomor 82 Tahun 2001 dan PerMenkes Nomor 416 Tahun 1990 tentang Syarat–syarat dan Pengawasan Kualitas Air yaitu pH dengan nilai rata-rata 5.39, logam Besi (Fe) pada Hulu sungai (P1) 0,053 mg/l, bagian Tengah (P2) 0,458 mg/l, dan Hilir (P4) 0,380 mg/l dengan baku mutu 0 mg/l dan kekeruhan pada bagian tengah (P2) dan Hilir (P4) >999 NTU dengan baku mutu lingkungan 25 NTU serta logam Zn pada Hilir Sungai (P4) 0,082 mg/l dengan baku mutu lingkungan 0,05mg/l, sehingga kualitas air Sungai Jelitik telah mengalami penurunan akibat aktivitas penambangan disekitarnya. Aktivitas penambangan juga berdampak terhadap kerusakan sempadan sungai di bagian tengah dan hilir Sungai Jelitik dengan luasan kerusakan masing-masing 1.983 Hektar di bagian tengah dan 1.663 hektar di bagian hilir. ABSTRACT This study aimed to determine the effect of tin mining (Sn) for environmental damage at Jelitik river that indicated by the decline in river water quality and damage to riparian Jelitik river.This research method is a survey with a sample taken by purposive sampling of river water at the upstream, midstream, and downstream river Jelitik and wastewater of tin mining activities before going into the waters of the River, with parameters include turbidity, pH, heavy metals that is iron (Fe ), Zinc (Zn), Copper (Cu), Lead (Pb) and Cadmium (Cd). For turbidity, and pH measurements were made directly using a water quality chekeer.Based on the results of laboratory analysis of water quality showed that 4 Jelitik River water quality parameters measured has exceeded the required quality standards in accordance with the PPRI Number 82 Year 2001 and Permenkes Number 416 of 1990 on terms and Water Quality Monitoring pH value is an average 5.39, metal Iron (Fe) in the river upstream (P1) 0.053 mg/l, central (P2) 0.458 mg/l, and Lower (P4) 0.380 mg/l with standard quality 0 mg/l and turbidity in the middle (P2) and Downstream (P4) > 999 NTU to 25 NTU environmental standards as well as the downstream river Zn metal (P4) 0.082 mg/l to the environmental quality standard of 0.05 mg/l. This means that water quality of Jelitik River has declined due to mining activities that rivers. Mining activities also affect to border of river in the middle and lower with area 1.983 acres in the middle and 1.663 acres in the lower.
Pengaruh Aktivitas Masyarakat terhadap Kerusakan Hutan Mangrove di Rarowatu Utara, Bombana Sulawesi Tenggara Alimuna, Wa; Sunarto, Sunarto; Murti, Sigit Heru
Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): September 2009
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.305 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13332

Abstract

ABSTRAK Hutan mangrove penting keberadaannya karena memberikan fungsi ekologi dan fungsi ekonomis bagi kehidupan masyarakat pesisir. Kerusakan hutan mangrove yang terjadi bersumber dari perilaku masyarakat untuk membuka lahan tambak, budidaya perikanan, dan penebangan liar karena semakin besarnya permintaan terhadap produksi kayu. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) mengkaji tingkat kerusakan hutan mangrove; 2) mengkaji aktivitas masyarakat yang mempengaruhi kerusakan hutan mangrove; 3) mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas masyarakat terhadap kerusakan hutan mangrove; 4) mengkaji peran serta masyarakat dalam mengelola hutan mangrove. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei melalui wawancara dengan menggunakan kuisioner. Analisis data menggunakan tabel silang, kemudian hasilnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui perhitungan INP (Indeks Nilai Penting) diketahui bahwa jenis vegetasi mangrove yang mendominasi dan memiliki peranan penting pada hutan mangrove di Desa Watumentade adalah jenis Bruguiera gymnorrhiza (tingkat semai (92,21), tingkat sapihan (87,98), dan tingkat pohon (139,84)), dan di Desa Tunas Baru adalah jenis Rhizophora mucronata (tingkat semai (67,52), tingkat sapihan (73,52), dan tingkat pohon (80,88)). Aktivitas masyarakat yang mempengaruhi terjadinya kerusakan hutan mangrove meliputi kegiatan pertambakan, dan penebangan liar yang digunakan sebagai kayu bakar dan bahan bangunan. Faktor-faktor kondisi sosial ekonomi yang mempengaruhi ativitas masyarakat meliputi pendidikan formal, pengetahuan, dan pendapatan masyarakat. Faktor tingkat pendidikan, pengetahuan (fungsi dan manfaat hutan mangrove, kerusakan hutan mangrove, dan pencegahan kerusakan hutan mangrove), dan pendapatan berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat dalam bentuk penggunaan lahan pertambakan yang menyebabkan kerusakan terhadap hutan mangerove. Peranserta masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove ditujukan oleh tindakan pencegahan kerusakan hutan mangrove, pada tingkat sedang (41,67%). ABSTRACT Presence of mangrove forest is very necessary because it serve ecological and economical functions to beach inhabitants’ life. Mangrove forest was damaged as result of inhabitants’ behavior to open embankment area, fishing, and illegal logging due to big demand for wood products. Objectives of research were (1) to study damage rate of mangrove forest; (2) to study inhabitants’ activity affecting damage of mangrove forest; (3) to study factors having effects of inhabitants’ activity on damage of mangrove forest; (4) to study roles of inhabitants in cultivating the mangrove forest. Methods used in this research were survey methods through interview using questionnaires. Data were analyzed by using cross-tables, the results were analyzed descriptively. Results of research indicated that, from calculation of INP (Important Value Index), it was known that types of mangrove vegetation dominating and having important role in mangrove forest in Watumentade Village were types of Bruguiera gymnorrhiza (rate of seedling (92.21), rate of sapling (87.98), and rate of trees (139.84)); and in Tunas Baru Village were types of Rhizophora mucronata (rate of seedling (67.52); rate of sapling, (73.52); and rate of trees (80.88)). Inhabitants’ activity affecting damage of mangrove forest included activity of embankment, and illegal logging used as firewood and building materials. Factors of social-economic condition affecting inhabitants’ activity included formal education, knowledge, and inhabitants’ income. Factors of educational level, knowledge (function and benefit of mangrove forest) and income affected inhabitants’ activity in uses of embankment area were causing damage of mangrove forest. Inhabitants’ role in cultivating mangrove forest was aimed by mangrove forest damage prevention at medium rate (41.67%). 
Kerusakan Lingkungan Akibat Aktivitas Manusia pada Ekosistem Terumbu Karang Uar, Netty Dahlah; Murti, Sigit Heru; Hadisusanto, Suwarno
Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.15626

Abstract

Terumbu karang merupakan ekosistem yang kompleks, khas, dan unik yang ditandai oleh tingginya keanekaragaman jenis biota penghuninya. Hubungan antar komponen biotik dan abiotik sangat erat,  sehingga eksploitasi terhadap suatu jenis biota dapat mengakibatkan perubahan populasi biota lainya. Penyebab utama kerusakan ekosistem terumbu karang secara garis besar disebabkan oleh faktor alam dan faktor manusia. Kabupaten Maluku Tenggara memiliki sumberdaya pesisir dan laut yang menjadi unggulan, namun pada saat ini mulai mengalami kerusakan akibat aktifitas manusia yang kurang terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji  kerusakan ekosistem terumbu karang di Pantai Ngurbloat Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara; (2) menganalisis faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kerusakan  ekosistem terumbu karang di daerah penelitian; dan (3) merumuskan kebijakan penanganan kerusakan eskositem terumbu karang di daereah penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Analisis strategi pengelolaan lingkungan dapat disusun berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 04 Tahun 2001 mengenai Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang. Hasil penelitian menunjukkan kondisi terumbu karang berada pada kondisi sangat rusak (LP I), rusak (LPII) dan baik  (LP III). Kerusakan tersebut diakibatkan karena antropogenik (kegiatan manusia) dan non-antropogenik (perubahan ekologis, faktor alam), antara lain: penangkapan ikan memakai bom ikan; panah; jaring; bubu; pengambilan karang untuk bahan bangunan dan hiasan akuarium; dan hiasan dinding. Rencana  strategis pengelolaan terumbu karang di perairan Pantai Ngurbloat diusulkan sebagai berkut: (1) penetapan zonasi kawasan terumbu karang sesuai daya dukung lingkungan; (2) penetapan kegiatan atau usaha yang boleh atau tidak boleh dilakukan pada setiap zona yang telah ditetapkan; (3) pengendalian penangkapan ikan dengan alat tangkap yang ramah lingkungan (tidak merusak terumbu karang dan lingkungan) serta dilakukan pada lokasi dan musim (waktu) yang tepat; (4) meningkatkan  kesadaran  dan  kepatuhan masyarakat  nelayan di Pantai Ngurbloat akan pentingnya terumbu karang sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya alam.
Kajian Degradasi Lahan Sebagai Dasar Pengendalian Banjir di DAS Juwana Miardini, Arina; Gunawan, Totok; Murti, Sigit Heru
Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): September 2016
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.15633

Abstract

Adanya pemanfaatan lahan yang intensif dan ekspolitatif dapat menurunkan daya dukung dan fungsi lingkungan DAS yang menyebabkan lahan menjadi terdegradasi. Tingginya luasan lahan kritis menjadi ancaman terhadap daya dukung DAS yang akan berdampak pada ketidakseimbangan hidrologi dalam DAS. Salah satu akibat ketidakseimbangan hidrologi dalam DAS adalah terjadinya banjir. DAS Juwana merupakan DAS Prioritas I berdasarkan penetapan 108 DAS prioritas. Salah satu indikator untuk menentukan degradasi dalam DAS dapat diketahui berdasarkan nilai koefisien aliran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik fisik DAS yang berpengaruh dalam penentuan koefisien aliran, menghitung koefisien aliran dengan mempertimbangkan parameter karakteristik fisik DAS dan memberikan rekomendasi pengelolaan banjir di DAS Juwana yang potensial banjir dalam mendukung upaya pengelolaan DAS dari hulu sampai hilir. Koefisien aliran dihitung denggan menggunakan metode cook yang memperhitungkan parameter kemiringan lereng, infiltrasi tanah, tutupan vegetasi dan simpanan permukaan. Perumusan pengendalian banjir dilakukan dengan melakukan penatagunaan lahan yang disesuaikan dengan arahan fungsi penggunaan lahan sehingga diharapkan menurunkan nilai koefisien aliran dan debit banjir. Karakteristik fisik DAS Juwana yang mempengaruhi penentuan koefisien aliran berdasarkan metode Cook yaitu Kemiringan lereng dengan rata-rata skor C sebesar 0,178, kerapatan aliran dengan rata-rata skor 0,084, infiltrasi dengan rata-rata skor 0,115 dan tutupan vegetasi dengan rata-rata skor 0,127. Kontribusi masing masing parameter dalam penilaian koefisien aliran yang memiliki pengaruh paling terbesar sampai paling terkecil dalam besarnya koefisien aliran yaitu kemiringan lereng yang memiliki pengaruh sebesar 35,39%, kemudian tutupan vegetasi sebesar 25,25%, infiltrasi sebesar 22,86% dan terakhir adalah kerapatan aliran yang berkontribusi sebesar 16,70%. Nilai koefisien aliran di DAS Juwana sebesar 50,25% yang termasuk kriteria tinggi. Daerah yang menjadi prioritas penanganan dalam pengendalian banjir terdapat pada satuan lahan yang memiliki nilai koefisien aliran tinggi sampai ekstrim seluas 48042,46 ha atau sebesar 36,84% dari luas DAS Juwana. Dalam upaya mengendalikan banjir dirumuskan beberapa pengelolaan yaitu penatagunaan lahan merestorasi, reklamasi dan konservasi penggunaan lahan sesuai dengan arahan fungsi penggunaan lahan sehingga dapat dikendalikannya aliran permukaan (surface run-off) karena berfungsinya tutupan vegetasi pada setiap penggunaan lahan disertai dengan pengelolaan lahan yang berbasis konservasi tanah dan air serta melalui pendekatan kolaboratif dengan memperhatikan potensi dan sensitivitas sumberdaya dalam DAS dan pesisir sehingga diperoleh pengelolaan yang terpadu.
Pemanfaatan Citra Multi-Functional Transport Satellite untuk Estimasi Petir di Wilayah Bandara Soekarno Hatta Cengkareng dan Juanda Surabaya Mandoza, Defri; Hartono, Hartono; Murti, Sigit Heru
Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): September 2016
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.15638

Abstract

Indonesia merupakan wilayah tropis yang memiliki jumlah kejadian petir yang cukup tinggi dan memiliki resiko yang tinggi terhadap bencana yang disebabkan oleh petir. Oleh karena itu informasi yang tepat dan akurat tentang terjadinya petir sangat dibutuhkan oleh masyarakat khususnya pengguna transportasi udara. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengolahan pada data citra satelit MTSAT dan memanfaatkannya sebagai parameter untuk mengestimasi petir. Dalam menentukan seberapa kuat hubungan SPA terhadap intensitas petir harian digunakan metode korelasi dan untuk menentukan nilai threshold SPA menggunakan data SPA minimum dan SPA rata-rata dari seluruh data SPA yang diolah pada saat terjadi petir. Metode statistik Critical Succes Index (CSI), False Alarm Rate (FAR), Probability of Detection (POD) dan Percent Correct (PC), digunakan dalam mengevaluasi tingkat akurasi estimasi petir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan nilai SPA terhadap jumlah petir adalah cukup kuat, yaitu semakin rendah nilai SPA maka jumlah petir cenderung semakin meningkat. Pengolahan data SPA menghasilkan nilai threshold SPA untuk estimasi petir sebesar -41oC dan -67oC. Evaluasi estimasi petir menggunakan threshold SPA -41oC dan -67oC menghasilkan akurasi masing-masing sebesar 32% dan 65%. Tingkat akurasi estimasi petir menggunakan threshold SPA -67oC lebih tinggi dibandingkan menggunakan threshold SPA -41 oC. Berdasarkan hasil penelitian inidiketahui bahwa petir hanya terjadi pada nilai SPA yang lebih rendah dari -41oC, dan petir yang paling banyak terjadi adalah pada nilai SPA dalam rentang -65oC s/d -80oC
Pemetaan Hutan Mangrove di Estuari Sungai Andai, Manokwari Papua Barat Berdasarkan Metode Density Slicing Berbasis Citra Alos Avnir-2 Imburi, Christian S.; Danoedoro, Projo; Murti, Sigit Heru
Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.13090

Abstract

ABSTRAK Secara umum julat nilai spektral objek diperoleh melalui perpustakaan spektral (spectral library) atau melalui pengukuran langsung di lapangan dengan alat ukur spectroradiometer, spectrometer, dan spectrophotometer, atau alat-alat sejenis yang mahal serta jarang, sehingga sulit untuk memperoleh julat nilai spektral objek tertentu. Studi tentang Metode Density Slicing Berbasis Citra ALOS AVNIR-2 Untuk Pemetaan Hutan Mangrove di Estuari Sungai Andai, Manokwari Papua Barat dilakukan dengan tujuan menghasilkan prosedur analisis perolehan julat nilai spektral melalui analis histogram band inframerah dekat ALOS AVNIR-2.  Penelitian ini dilakukan melalui dua tahapan metode analisis, yakni: 1) Analisis utama untuk menghasilkan julat nilai spektral, yakni analisis histogram band inframerah dekat ALOS AVNIR-2, dan 2) Analisis tambahan untuk menjelaskan tingkat akurasi julat nilai spektral melalui: (a) survei lapangan yang menghasilkan data untuk proses uji akurasi reklasifikasi metode density slicing, serta (b) melakukan uji akurasi terhadap peta zonasi mangrove berbasis density slicing. Analisis tersebut dijabarkan melalui pendekatan penginderaan jauh multitingkat, dimana citra QuickBird digunakan sebagai referensi untuk masking citra ALOS AVNIR-2, dan juga untuk validasi peta hasil metode density slicing. Hasil dari penelitian ini adalah prosedur analisis perolehan julat nilai spektral dan julat nilai spektral zonasi genus mangrove.  Akurasi pemetan hutan mangrove untuk metode density slicingmenghasilkan nilai 40%. Nilai tersebut masih belum memenuhi standar ketelitian yang diharapkan. Namun demikian, penelitian ini secara keseluruhan dapat menghasilkan julat nilai spektral, dan hal ini memberikan implikasi terhadap pengembangan prosedur untuk menghasilkan julat nilai spektral objek. ABSTRACT Generally the range of spectral value objects can be obtained through spectral library or through direct measurement in the field with measuring instrument spectroradiometer, spectrometer and spectrophotometer, or similar tool are expensive and rarely, so difficult to obtain spectral range of the certain objects value. Study about Slicing Density Method is based AVNIR ALOS-2 imagery for mapping of mangrove forest in the river estuary Andai, Manokwari, West Papua with the purpose of generating the acquisition analysis procedures spectral value range through near infrared band histogram analysis of AVNIR ALOS-2. Aim of this study through two stages of analysis methods, namely: 1) The primary analysis to produce a spectral value range, namely histogram analysis near infrared band AVNIR ALOS-2 and 2) Additional analysis to explain the level of accuracy range spectral value through: (a) field survey that produced  data to process of classification accuracy test with density slicing method, and (b) to examine the accuracy of zoning map based mangrove density slicing. This analysis describe through a multilevel remote sensing approach, which QuickBird imagery is used as a reference for masking  AVNIR ALOS-2, and also to validate of map density slicing method. The results of this research is procedure of  acquisition spectral value range and the spectral range of  mangrove genus value zoning. Accuration of Mangrove forest mapping with density slicing method produces value of 40%. This value is still not comply expected accuracy standards. Nevertheless, overall this research can produce a range of spectral values, and it has implications for development  procedure to product a spectral range of the certain objects value.
Pendugaan Potensi Cadangan Karbon Hutan di Atas Permukaan pada Ekosistem Mangrove Berbasis Synthetic Aperture Radar L-BAND Hudaya, Yudi Fatwa; Hartono, Hartono; Murti, Sigit Heru
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.13080

Abstract

ABSTRAK Kebijakan pemerintah untuk menurunkan tingkat emisi GRK (Gas Rumah Kaca) dari sektor kehutanan membutuhkan sistem pendugaan kandungan karbon hutan untuk cakupan wilayah geografis yang luas dan waktu pengukuran yang cepat. Salah satu alternatifnya melalui pemanfaatan citra satelit synthetic aperture radar (SAR). Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan sensitivitas gelombang-L dari citra ALOS PALSAR terhadap nilai kandungan karbon di atas permukaan pada hutan mangrove. Penelitian dilakukan pada kawasan hutan mangrove, di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Metode penyusunan model dilakukan berdasarkan analisis quantitatif menggunakan persamaan regresi, dengan cara mengkorelasikan nilai backscatter yang diekstrak dari citra ALOS PALSAR Res.50m pada polarisasi HH dan HV dengan nilai kandungan biomassa aktual hasil pengukuran lapangan berbasis plot alometrik. Model penduga yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menghitung jumlah cadangan karbon dan sebarannya secara geografis.  Ditemukan hubungan yang kuat dengan koefisien determinasi (R2) mencapai 62% pada polarisasi HH dengan bentuk persamaan Y=1647e0,358BS_HH dan, 98,6% pada polarisasi HV dengan bentuk persamaan Y = 6,828BS_HV2 + 279,4BS_HV + 2870; Berdasarkan model persamaan tersebut dihasilkan dua buah peta kelas kerapatan karbon model-1 (HH) dan model-2 (HV).  Kandungan biomassa di atas permukaan (Aboveground biomass-AGB) pada hutan mangrove di Kabupaten  Kubu Raya diketahui sebesar 178,43 Mg/ha; sedangkan potensi karbon di atas permukaan (aboveground biomass carbon) diketahui sebesar 5.334.454,9 Mg (Megagram) atau 5,3 Mt (Megaton) karbon, dan kemampuan dalam menyerap karbondioksida (CO2) adalah sebesar 19,451 Mt (Megaton) CO2 equivalent. Sensitivitas gelombang-L citra ALOS PALSAR terhadap objek yang diamati diperkirakan akan menurun pada saat karbon aktual tertinggi di lapangan mencapai 335,15 Mg ha-1. Dalam konteks mitigasi perubahan iklim, hutan mangrove di Kubu Raya dengan luas 71.069,21 Ha apabila dipertahankan keberadaannya maka akan berkontribusi mengurangi tingkat emisi GRK dari sektor kehutanan sebesar 0,76 %.  ABSTRACT The government policy to reduce the GHG (Green House Gas) emision from forestry sector, the need for sufficient forest carbon stock measurement system which encompass a faster measurement and covering broader geographic area to estimate the potential of forest carbon stock is now growing, one of which is the use of synthetic aperture radar (SAR) in radar remote sensing systems. The objectives of this study are to demonstrate the strong relationship between the L-band backscatter of ALOS PALSAR and the aboveground carbon stock in mangrove forest; and its sensitivity level. The information resulted from this study can be useful in reducing strategies of GHG (Green House Gases) emision, due to the climate change mitigation efforts in Indonesia. The study site was located at the area of mangrove forest, in Kubu Raya regency, West Kalimantan. The estimation models for aboveground biomass carbon stock was obtained from a quantitative analysis using regression method; i.e. by correlating the values of ALOS PALSAR 50m Res. backscatters at HH and HV polarization with the actual biomass total amount resulted from field -based allometric plots measurements. The estimation models were subsequently use for forest carbon stocks quantification in mangroves, and its distribution geographically. Strong relationship was found with coefficient of determination (R2) 62 % on HH polarization based on the equation model of Y=1647e0,358BS_HH  and , 98.6 % on HV polarization based on the equation model of Y = 6,828BS_HV2 + 279,4BS_HV + 2870; two models of carbon density classification maps i.e. model-1 (HH) and model-2 (HV) are also resulted from the two equation models. The quantity of AGB (aboveground biomass) of  mangrove forest in Kubu Raya district found as 178.43 Mg/ ha, while the aboveground biomass carbon is 5,334,454.9 Mg (Mega grams) or 5,3 Mt (Mega tons) of carbon, and the capacity of carbon dioxide (CO2) sequestration is 19.451 Mt (megatons) CO2 equivalent. The Sensitivity of L-band of ALOS PALSAR illumination on the object was expected to reach its saturation point when the highest total amount of actual carbon stock at field achieved the 335,15 Mg ha-1. In the context of climate change mitigation, the 71,069.21 ha area of mangrove forests in Kubu Raya if it remain save and be avoided from further deforestation and forest degradation, it will contribute to reduce the rate of GHG emissions from forestry sector by 0.76 %. 
Distribution of Accuracy of TRMM Daily Rainfall in Makassar Strait Giarno, G; Hadi, Muhammad Pramono; Suprayogi, Slamet; Murti, Sigit Heru
Forum Geografi Vol 32, No 1 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.045 KB) | DOI: 10.23917/forgeo.v32i1.5774

Abstract

This research aims to evaluate rainfall estimates of satellite products in regions that have high variations of rainfall pattern. The surrounding area of Makassar Strait have chosen because of its distinctive rainfall pattern between the eastern and western parts of the Makassar Strait. For this purpose, spatial distribution of Pearson’s coefficient correlation and Root Mean Square Error (RMSE) is used to evaluate accuracy of rainfall in the eastern part of Kalimantan Island and the western part of Sulawesi Island. Moreover, we also used the contingency table to complete the parameter accuracy of the TRMM rainfall estimates. The results show that the performance of TRMM rainfall estimates varies depending on space and time. Overall, the coefficient correlation between TRMM and rain observed from no correlation was -0.06 and 0.78 from strong correlation. The best correlation is on the eastern coast of South West Sulawesi located in line with the Java Sea. While, no variation in the correlation was related to flatland such as Kalimantan Island. On the other hand, in the mountain region, the correlation of TRMM rainfall estimates and observed rainfall tend to decrease. The RMSE distribution in this region depends on the accumulation of daily rainfall. RMSE tends to be high where there are higher fluctuations of fluctuating rainfall in a location. From contingency indicators, we found that the TRMM rainfall estimates were overestimate. Generally, the absence of rainfall during the dry season contributes to improving TRMM rainfall estimates by raising accuracy (ACC) in the contingency table.
ESTIMASI PRODUKSI JAGUNG (Zea Mays L.) DENGAN MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL 2A DI SEBAGIAN WILAYAH KABUPATEN JENEPONTO PROVINSI SULAWESI SELATAN Irsan, Laode Muhamad; Murti, Sigit Heru; Widayani, Prima
Jurnal Teknosains Vol 8, No 2 (2019): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/teknosains.36885

Abstract

Production is a real benchmark in successful crop management which is the most important output economically. Currently, corn production estimates are generally done by conventional means through field surveys. This conventional way requires a high cost and a long time. Appropriate agricultural management requires precise and accurate information or data to increase production and economic benefits. Sentinel 2A remote sensing satellite data is potential to be used in assessment of corn production estimation. The purpose of this research is to make land use mapping and corn production estimation by using spectral approach. Estimated data were obtained from Sentinel 2A image by mapping land use and modeling of vegetation index (NDVI, SAVI, MSAVI, TSAVI, EVI, and ARVI) then compared with data of corn production in the field. The result of data analysis shows land use mapping using Sentinel 2A image has 91% confidence level. Calculation of production estimation can show the accuracy of 74% with RMSE 0.69. The highest correlation is estimated production with EVI index model with regression correlation equal to 74% which shows strong correlation on both variables. Estimated production of corn in 2017 in Jeneponto Regency is 178,660,69 tons.