Rini Mariana Sibarani, Rini Mariana
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

ANALISIS PARAMETER RADAR DUAL POLARISASI PADA KEJADIAN HUJAN TANGGAL 14 FEBRUARI 2016 DI WILAYAH DKI JAKARTA Sibarani, Rini Mariana; Nugroho, Ari; Wirahma, Samba
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 17, No 1 (2016): June 2016
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2017.372 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v17i1.958

Abstract

IntisariRadar Dual Polarisasi digunakan pada kegiatan Intensive Observation Periode (IOP) yang dilaksanakan pada tanggal 18 Januari  - 16 Februari 2016 di Puspiptek Serpong. Berdasarkan data hujan dari satelit TRMM tanggal 14 Februari 2016 terpantau kejadian hujan di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan dengan intensitas 30–40 mm/h pada siang hingga sore hari. Kejadian hujan ini menyebabkan adanya genangan di beberapa titik di wilayah tersebut. Jika dilihat dari parameter keluaran radar, pada saat terjadi hujan maka nilai untuk setiap parameter sebagai berikut; untuk parameter rain terukur sebesar 20–30 mm/h. Parameter reflektivitas (Zh) berkisar 25-35 dBz yang menunjukkan bahwa hujan yang terjadi adalah hujan dengan sifat moderate, parameter Zdr berkisar 2–2,5 menunjukkan ukuran butir droplet hujan (D) > 2 mm , parameter beda perambatan fase (fdp) berkisar 200–250 dan nilai beda spesifik fase (Kdp) berkisar 0.4–2 yang membuktikan bahwa konsentrasi droplet hujan di wilayah tersebut cukup tinggi, serta nilai parameter koefisien korelasi (rhv) sebesar 0.85–1 yang menandakan bahwa partikel yang tertangkap radar adalah partikel hidrometeorologi. Parameter terakhir, kecepatan (V) bernilai positif 0–10 m/s yang menandakan partikel bergerak menjauhi radar dengan kecepatan yang tidak terlalu besar.   AbstractDual Polarization Radar is used on Intensive Observation Period (IOP) activities that was held on Januari 18 – Februari 16, 2016 at Puspiptek Serpong. Based on TRMM satellite data on February 14 2016, rainfall event is observed in East Jakarta and South Jakarta with the intensity of 30-40 mm/h in the afternoon. This rainfall caused inundation at some point in the region. When viewed from the radar output parameter during rain, the values for each parameter as follows; Rain ranges from 20-30 mm/h. Reflectivity (Zh) ranges from 25-35 DBZ which showed that the rain occurred was the rain with moderate nature, ZDR ranges from 2-2.5 indicates the grain size droplet of rain (D)> 2 mm, different propagation phase (fdp) ranges from 200-250 and the specific value of the phase difference (KDP) ranges from 0.4-2, which proves that the droplet concentration of precipitation in the region is quite high, and the value of the correlation coefficient (rhv) of 0.85-1 indicating that the particles which is captured by radar are hydrometeorology particles. Last parameter, velocity (V) is positive 0-10 m/s which indicates that the particles moves away from the radar at a not too large pace. 
ANALISA PENGARUH DEBIT AIR LIMPASAN CURAH HUJAN DI DAS KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR TERHADAP JUMLAH TITIK PANAS/TITIK HOTSPOT PADA BULAN JUNI - NOVEMBER 2014 Sibarani, Rini Mariana; Prayoga, M. Bayu Rizky; Muttaqin, Alfan
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 16, No 1 (2015): June 2015
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1217.231 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v16i1.2636

Abstract

INTISARITitik panas / titk Hotspot merupakan indikator kebakaran lahan dan hutan yang selalu menjadi masalah pada saat kondisi udara kering. Rendahnya intensitas curah hujan di suatu wilayah mengakibatkan jumlah titik panas ini meningkat. Hal ini dapat dilihat dari jumlah debit limpasan curah hujan di suatu wilayah. Pada tahun 2014 di Kabupaten Ogan Komering Ilir terditeksi jumlah titik panas terbanyak. Dimana ada 4 Daerah Aliran Sungai dengan luasan daerah yang cukup besar. Daerah aliran ini mengalami jumlah titik panas terbanyak pada bulan September hingga dasarian kedua bulan November 2014. Selain disebabkan karena debit limpasan dan intensitas curah hujan, jenis lahan dan kelembapan udara juga menjadi faktor penyebab pertambahan jumlah titik panas.ABSTRACHotspot is an indicator of land and forest fires which were always a problem when the dry air conditions. The low intensity of rainfall in the region resulted in the number of hotspots is increasing. It can be seen from the amount of runoff discharge rainfall  in a region.  In 2014 in Ogan Ogan Ilir detected a fairly high the amount of hotspots. Where there are 4 Watershed with an area large enough. In This flow area detected a fairly high the amount of hotspots in September until second dasarian November 2014. In addition due to the discharge of runoff and the intensity of rainfall, type of soil and the humidity also become a factor increasing hotspots.
ANALISA KEJADIAN BANJIR DI KOTA SOLO APRIL 2015 Muttaqin, Alfan; Sibarani, Rini Mariana
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 16, No 1 (2015): June 2015
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1221.079 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v16i1.2637

Abstract

AbstrakBanjir sering dikaitkan dengan fenomena meteorologi yang terjadi dialam. Kota Solo diterjang banjir pada tanggal 22 April 2015. Fenomena meteorologi yang menyebabkan terjadinya banjir tersebut telah dianalisis pada tulisan ini. Analisa meteorologi meliputi Gradien wind, Citra Satelit, Curah hujan dan Peta daerah aliran sungai. Dari segi gradien wind ini terlihat adanya Tropikal Siklon yang berada di Samudra Hindia sebelah selatan Pulau Jawa yang mulai tumbuh pada tanggal 19 April 2015. Tropikal siklon ini sangat mempengaruhi pola angin yang melewati daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta, sehingga didaerah itu terbentuk daerah belokkan angin. Hujan yang terjadi sejak tanggal 19 April 2015 menyebabkan material tanah mengalami keadaan jenuh. Tanggal 22 April 2015 awan - awan potensial hujan tebentuk secara merata di daerah Jateng dan Yogyakarta sehingga menyebabkan hujan deras dalam durasi yang cukup lama. Curah hujan yang tinggi didaerah lereng gunung merapi menyebabkan air limpasan masuk kedaerah disekitarnya termasuk Yogyakarta, Boyolali, Sukoharjo dan Solo. Banjir yang terjadi tidak hanya dari hujan lokal namun juga air limpasan dari lereng gunung merapi.
ANALISIS PENGARUH SIKLON TROPIS GILLIAN TERHADAP CURAH HUJAN DI WILAYAH RIAU DAN SEKITARNYA Sibarani, Rini Mariana
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 15, No 2 (2014): December 2014
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6005.078 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v15i2.2673

Abstract

IntisariSiklon Tropis merupakan gangguan meteorologi yang disebabkan karena adanya pusat tekanan rendah di lautan. Syarat terbentuknya siklon tropis di daerah perairan adalah suhu muka laut (sst) cukup panas (T > 260C). Salah satu Siklon Tropis yang terjadi di perairan Indinesia adalah Siklon Tropis Gillian. Siklon Tropis ini terjadi di Selatan Perairan Indonesia, yang berlangsung selama 5 hari dari tanggal 21 Maret – 25 Maret 2014. Siklon Tropis Gillian ini mempengaruhi kondisi curah hujan di wilayah Indonesia bagian Utara, tepatnya di Pulau Sumatera Bagian Utara. Selama terjadinya Siklon Tropis Gillian mengakibatkan pengurangan Curah hujan di wilayah tersebut, terutama di daerah Provinsi Riau. Dari data yang diperoleh baik dari data Penakar POS METEOROLOGI maupun dari data Satelit TRMM Jaxa mulai tanggal 23 Maret – 27 Maret 2014, curah hujan yang tercatat di wilayah Riau dan sekitarnya mendekati 0 mm. Hal ini membuktikan bahwa Siklon Tropis Gillian di selatan Perairan Jawa mempengaruhi curah hujan di Pulau Sumatera Bagian Utara (Riau).  AbstrackTropical Cyclone is the meteorological disturbance due to the low pressure center in the ocean. Terms of tropical cyclone formation in the waters is the sea surface temperature (sst) is quite warm (T> 260C). Tropical Cyclone Gillian is one of Tropical Cyclone that occurred in the waters of Indinesia. This tropical cyclones occur in the Southern waters of Indonesian, which lasted for 5 days from March 21 to March 25, 2014. Tropical Cyclone Gillian affects rainfall in the northern part of Indonesia, precisely in Northern Sumatra Island. During the Tropical Cyclone Gillian lead to a reduction in rainfall in the region, especially in the province of Riau. Rainfall data from the POS METEOROLOGY and TRMM Satellite Jaxa began on March 23 to March 27, 2014, was recorded in Riau area close to 0 mm. This proves that the Tropical Cyclone Gillian in southern waters of Java affecting rainfall in Northern of Sumatera Island (Riau).
ANALISIS SPASIAL EL NINO KUAT TAHUN 2015 DAN LA NINA LEMAH TAHUN 2016 (Pengaruhnya Terhadap Kelembapan, Angin dan Curah Hujan di Indonesia) Athoillah, Ibnu; Sibarani, Rini Mariana; Doloksaribu, Deassy Eirene
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 18, No 1 (2017): June 2017
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2575.809 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v18i1.2140

Abstract

IntisariKejadian El Nino Kuat tahun 2015 dan La Nina Lemah tahun 2016 sangat berpengaruh terhadap beberapa parameter cuaca di Indonesia seperti kelembapan udara, angin dan curah hujan. Dilihat dari kelembapan udara pada saat El Nino, kelembapan udara memiliki anomali negatif dan pada saat La Nina cenderung anomali positif. Dari pengaruhnya terhadap angin, saat El Nino angin zonal lebih dominan angin timuran, dan angin meridional lebih dominan angin selatan yang menyebabkan berkurangnya suplai uap air di Indonesia. Sedangkan saat La Nina, angin zonal lebih dominan baratan dan angin meridional lebih dominan dari utara. Data hujan yang digunakan dalam tulisan ini adalah data observasi per 1 jam dari satelit TRMM pada tahun 2015, 2016 dan data historis dari tahun 2001-2014. Dari hasil analisis spasial menunjukkan bahwa kejadian El Nino mulai terlihat dampaknya pada musim kering yaitu berupa penurunan curah hujan di bawah normalnya sekitar 50–300 mm/bulan terjadi pada bulan Agustus hingga Oktober 2015 terutama di wilayah Indonesia bagian Selatan sedangkan pada musim basah November 2015 – Maret 2016 tidak terlalu signifikan dampaknya. Kejadian La Nina terlihat dampaknya pada bulan September–Desember tahun 2016 dimana terlihat adanya penambahan curah hujan dibandingkan normalnya sekitar 50–400 mm/bulan.  AbtractThe strong El Nino in 2015 and the weak La Nina in 2016 are very influential on some weather parameters in Indonesia such as relative humidifty, wind, and rainfall. The relative humidity during El Nino tends to be a negative and when La Nina tends to be a positive anomaly. Impact to the wind during El Nino, zonal winds are dominant northern and meridional winds are dominant southern which leads to reduced supply of water vapor in Indonesia. While during La Nina, zonal winds are dominant western and meridional winds are dominant northern. Rainfall data used in this paper are the observation data from TRMM Satellite hourly from 2001–2016. Data were analyzed by monthly and seasonal analysis. From the result of spatial analysis shows the impact of El Nino began on dry season. That is decrease of rainfall below the normal around 50–300 mm/month occurs in August to October 2015, especially in southern Indonesia. while in wet season November 2015 – March 2016 the impact is not significant. The impact of La Nina is seen in September–December 2016, where there is an increase of rainfall above the normal around 50–400 mm/month. 
ANALISIS KEJADIAN EL NINO DAN PENGARUHNYA TERHADAP INTENSITAS CURAH HUJAN DI WILAYAH JABODETABEK (Studi Kasus : Periode Puncak Musim Hujan Tahun 2015/2016) Yananto, Ardila; Sibarani, Rini Mariana
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 17, No 2 (2016): December 2016
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1518.344 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v17i2.541

Abstract

IntisariBeberapa lembaga riset dunia dan badan-badan meteorologi beberapa negara di dunia menyatakan adanya kejadian El Nino Tahun 2015 terus berlanjut hingga tahun 2016. Adanya kejadian El Nino tersebut secara umum akan mempengarui intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia termasuk wilayah Jabodetabek. Analisis kejadian El Nino Tahun 2015/2016 dilakukan dengan menganalisis nilai NINO 3.4 SST Index, Southern Oscillation Index (SOI), Indian Ocean Dipole (IOD), pola sebaran suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature) dan juga gradient wind di Samudra Pasifik Tropis. Sedangkan Analisis Curah Hujan dilakukan dengan menggunakan data TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission). Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa berdasarkan parameter NINO 3.4 SST Index dan Southern Oscillation Index (SOI) pada pertengahan Tahun 2015 hingga awal Tahun 2016 telah terjadi fenomana El Nino pada level kuat, adanya peningkatan suhu permukaan laut di sebagian besar wilayah Indonesia sejak Bulan November 2015 yang diikuti dengan penurunan indeks Dipole Mode hingga menjadi bernilai negatif (-) sejak awal Tahun 2016 serta dengan adanya peralihan Angin Muson Timur ke Angin Muson Barat di wilayah Indonesia telah menyebabkan peningkatan curah hujan yang cukup signifikan dalam batas normal di wilayah Jabodetabek pada puncak musim hujan Tahun 2015/2016 (November 2015 - Februari 2016) walaupun pada Bulan November 2015 hingga Februari 2016 tersebut masih berada pada level El Nino kuat.   AbstractVarious research institutions in the world that work in the field of Meteorology and Climatology predicted an El Nino events in 2015 continued into 2016. The El Nino events phenomenon in general will affect to intensity of the rainfall in most parts of Indonesia, including the Greater Jakarta area. El Nino events phenomenon Analysis by Nino 3.4 SST index, Southern Oscillation Index (SOI), Indian Ocean Dipole (IOD), Sea Surface Temperature (SST) and gradient wind in the Tropical Pacific Ocean. While rainfall intensity analysis using TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) data. From this research it is known that based on the parameters NINO 3.4 SST index and the Southern Oscillation Index (SOI), it is known that there was a strong El Nino event occurred in mid-2015 to early 2016, the increase of sea surface temperature in most parts of Indonesia since November 2015 followed by declines Dipole Mode Index to be negative (-) since the beginning 2016 as well as the shift East monsoon to West monsoon in Indonesia has led to significant rainfall increased within normal limits in the Greater Jakarta area at the peak period of the rainy season 2015/2016 (November 2015 - February 2016) although in November 2015 until February 2016 El Nino event is still at the strong level.  
PERBANDINGAN PARAMETER ATMOSFER RADIOSONDE DI PALEMBANG DAN PANGKALPINANG SELAMA INTENSIVE OBSERVATION PERIODE (IOP) Athoillah, Ibnu; Sibarani, Rini Mariana
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 19, No 1 (2018): June 2018
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.315 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v19i1.2987

Abstract

Beberapa kondisi udara atas yang bagus untuk mendukung pertumbuhan awan adalah udara dalam kondisi labil, kelembapan yang cukup basah dan angin yang tidak terlalu kencang. Profil udara atas ini biasa diukur dengan menggunakan radiosonde. Namun selama ini terjadi keterbatasan dalam hal lokasi peluncuran radiosonde yang tidak banyak di Indonesia, seperti di Palembang tidak ada peluncuran radiosonde yang rutin dilakukan kecuali ada event tertentu seperti Intensive Observation Period (IOP) sehingga dalam kondisi biasa untuk mengetahui profil udara atasnya menggunakan lokasi peluncuran radiosonde terdekat yaitu di Pangkalpinang. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan parameter dari pengukuran radiosonde Palembang saat kegiatan IOP dengan radiosonde Pangkalpinang, guna mengetahui apakah parameter yang dihasilkan dari radiosonde Pangkalpinang bisa digunakan untuk wilayah Palembang. Parameter yang dibandingkan adalah K-Index, Lifted Index, Showalter Index, Convective Temperature (Tc), CAPE, RH 850 mb, RH 700 mb dan RH 500 mb. Perbandingan dilakukan secara visual dan uji statistik. Secara visual dengan metode grafik dan secara statistik menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil secara visual menunjukkan semua parameter memiliki pola yang mirip dan berdekatan. Hasil uji statistik menunjukkan hampir semua parameter yang diuji memiliki nilai probabilitas di atas 0.05 yang berati tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil pengukuran di Palembang dan Pangkalpinang kecuali parameter Showalter Index yang memiliki nilai probabilitas 0.008 atau di bawah 0.05 yang menunjukkan bahwa parameter Showalter Index ini ada perbedaan yang signifikan dari kedua lokasi.