Articles

Found 14 Documents
Search

Pengaruh ketinggian air dalam pemeliharaan larva ikan hias botia (Chromobotia macracanthus, Bleeker)

Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal, Vol. 1: No. 1 (October, 2014)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.336 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketinggian air yang berbeda terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan botia (Chromobotia macracanthus, Bleeker). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintasan atau kelangsungan hidup tertinggi terdapat pada perlakuan B dengan ketinggian air 10 cm yaitu sebesar 98.88%, sedangkan kelangsungan hidup terendah terdapat pada perlakuan A dengan ketinggian air 5 cm yaitu sebesar 97.99%. Pertambahan bobot nilai tertinggi terjadi pada perlakuan A dengan ketinggian air 5 cm dengan nilai bobot rata–rata 0.02252 gr dan pertambahan bobot rata–rata terendah terjadi pada perlakuan C dengan ketinggian air 15 cm yaitu sebesar 0.01132 gr. Pertambahan panjang rata–rata tertinggi terjadi pada perlakuan A yaitu sebesar 0.42 cm dan yang terendah terjadi pada perlakuan B yaitu sebesar 0.29 cm. Parameter kualitas air selama penelitian masih dalam kisaran optimal dimana suhu 24,3–28,9oC, pH 6,5–7,0, DO 6,84–7,69 ppm, NH3 0,00–0,03 ppm, NO2 0,00–0,07 ppm. Analisis statistik dengan uji F diperoleh bahwa ketinggian air yang berbeda dalam pemeliharaan larva ikan botia (C. macracanthus, Bleeker) berbeda sangat nyata (P>0.01) terhadap pertambahan bobot dengan nilai Fhitung (21.00) > Ftabel (10.92), dan berbeda sangat nyata terhadap pertambahan panjang dengan nilai Fhitung (23.56) > Ftabel (10.92), sedangkan untuk sintasan atau kelangsungan hidup tidak berbeda nyata antar perlakuan. Hasil uji BNT menunjukkan, setiap perlakuan memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidup.The study aims to determine the effect of different water levels on the growth and survival of fish larvae Botia (Chromobotia macracanthus, Bleeker). The results showed that the survival rate was highest in treatment B with the water level was 10 cm which was equal to 98.88 %, whereas the lowest survival rate was found in treatment A with the water level was 5 cm which was equal to 97.99 %. The highest value of weight gain occurred in treatment A with average value in weight was 0.02252 g and the average weight gain was lowest in the treatment of C that reached 0.01132 g. The highest growth of length was occured in treatment A that was equal to 0.42 cm and the lowest occurred in treatment B that was 0.29 cm. Water quality parameters during the study were in the tolerance range where the optimum temperature were 24,3-28,9 oC , pH 6.5 to 7.0, DO 6.84 to 7.69 ppm, NH3 0.00 to 0.03 ppm , NO2 0.00 to 0.07 ppm . Statistical analysis by F test showed that the different water levels in the larval rearing of fish Botia (C. macracanthus, Bleeker) was significantly different ( P > 0.01) in the weight gain with the value of Fcount ( 21.00 ) > Ftable ( 10.92 ), and it was significantly different against the length with the value of F count ( 23:56 ) > F table ( 10.92), while for the survival rate showed has not significantly different between treatments. The LSD test showed that all the treatment were effected the growth rate, but not for survival rate.

TOTAL KAROTENOID IKAN SUMATRA ALBINO (Puntius tetrazona) YANG DIBERI PAKAN TAMBAHAN TEPUNG KEPALA UDANG

Bioma Vol 14 No 1 (2018): BIOMA
Publisher : Biologi UNJ Press

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.487 KB)

Abstract

ABSTRACTAlbino tiger barb (Puntius tetrazona) is a freshwater ornamental fish that has a attractive colors. Carotenoid sources should be added in the diet because fish can not synthesis carotenoids in their bodies. One source of natural carotenoids (astaxantin and cantaxantin) is shrimp head meal, whose use has not been studied in albino tiger barb (Puntius tetrazona). The research was conducted from December 2016 until April 2017, at the Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok. The method used in this research is an experimental method, with Completely Randomized Design (RAL). The treatment in this research is TKU supplemental feeding (0%, 10%, 20%, 30%, 40%). The data taken are total carotenoid, were analyzed using One Way ANAVA at 95% confidence level and continued with Duncan test at α <0,05 with SPSS 17.0 program. The result of the research is the addition of the best TKU by 30% to improve the color quality, total carotenoids, and growth of albino tiger barb (Puntius tetrazona). The highest increase in total carotenoids at the fins of 13.54 ± 0.24 ppm and on the skin was 7.54 ± 0.11 ppm. Keyword: Shrimp Head Meal, Carotenoid, Feed, Color Quality, Puntius tetrazona.

PRODUKSI MASSAL BENIH IKAN HIAS BOTIA (Chromobotia macracanthus) MELALUI PENDEKATAN PADAT TEBAR DAN KETINGGIAN AIR MEDIA PEMELIHARAAN

Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.069 KB)

Abstract

Ikan botia (Chromobotia macracanthus) merupakan ikan hias asli dari perairan Sumatera dan Kalimantan yang memiliki potensi besar sebagai komoditas ekspor karena bentuk yang unik dan mempunyai warna yang indah. Permasalahan utama sampai saat ini adalah masih rendahnya sintasan larva hingga benih pada tahap pendederan (umur dua bulan). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui respons tingkat padat tebar larva (5, 10, dan 15 ekor/L) pada dua tingkat ketinggian air media pemeliharaan (16 dan 32 cm) dengan empat ulangan. Wadah pemeliharaan berupa akuarium ukuran 80 cm x 40 cm x 40 cm dengan sistem resirkulasi. Selama pemeliharaan, larva diberi pakan berupa nauplii Artemia di bulan pertama, sedangkan di bulan kedua diberi pakan nauplii Artemia dan bloodworm (cacing darah/larva Chironomus sp.) beku, serta diberikan secara sekenyangnya (ad satiation). Parameter yang diamati meliputi sintasan, pertumbuhan (pertambahan panjang total dan bobot mutlak), dan data kualitas air. Data yang diperoleh akan diolah dan dianalisis secara statistik menggunakan program SPSS versi 17.0. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa padat tebar dan ketinggian air media pemeliharaan larva hingga benih sampai umur 2 bulan berpengaruh nyata terhadap sintasan, akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan panjang total dan bobot mutlak. Perlakuan dengan padat tebar 15 ekor/L dan ketinggian air media pemeliharaan 16 cm dapat direkomendasikan untuk pemeliharaan larva hingga benih sampai ukuran 0,5 cm.

GROWTH RESPONSE OF CLOWN LOACH (Chromobotia macracanthus Bleeker 1852) JUVENILES IMMERSED IN WATER CONTAINING RECOMBINANT GROWTH HORMONE

Indonesian Aquaculture Journal Vol 10, No 2 (2015): (December 2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.365 KB)

Abstract

The main problem in the culture of clown loach (Chromobotia macracanthus) is the slow growth rate, which takes about six months to reach its market size (two inches total body length). Slow growth eventually cause a long production time and increase the production costs. An alternative solution can be proposed in order to enhance the growth is by using recombinant growth hormone. The aim of this study was to determine the immersion dose of recombinant Epinephelus lanceolatus growth hormone (rElGH) which can generate the highest growth in clown loach. Larvae at seven day after hatching were hyperosmotic treated with NaCl 2.0% for one minute, then immersed for one hour in water containing 0.3% NaCl, 0.01% bovine serum albumin (BSA), and different doses of rElGH, namely: 0.12 (treatment A), 1.2 (B), 12 (C), and 120 mg/L (D). As control, fish were immersed in water without rElGH and NaCl (control-1), water containing 0.3% NaCl and 0.01% BSA (control-2), and 0.3% NaCl water (control-3). Each treatment was replicated three times. The results showed that clown loach juveniles in treatment B, C, and D had longer total body length (P<0.05) than control-1, while fish treatment A was the same as controls. Survival and body weight were similar in all treatments and controls (P>0.05). In addition, the percentage of large size juveniles increased approximately 5% in treatment B, almost the same as in the medium size, while the small size were decrease compared to the control-1. Thus, the best immersion dose of rElGH was 1.2 mg/L water.

INDUKSI OVULASI DAN PEMIJAHAN IKAN AGAMYSIS (Agamyxis albomaculatus) MENGGUNAKAN HORMON YANG BERBEDA

Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.142 KB)

Abstract

Ikan agamysis (Agamyxis albomaculatus) merupakan ikan hias air tawar introduksi yang memiliki potensi cukup bagus untuk dikembangkan di Indonesia, namun masih bermasalah dalam budidayanya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas kombinasi hormon berbeda dalam menginduksi ovulasi dan pemijahan ikan agamysis. Jumlah ikan yang digunakan sebanyak 30 ekor (15 jantan dan 15 betina) dengan ukuran panjang 10-15 cm dan bobot 50-200 g. Ikan uji dipelihara dalam akuarium sistem resirkulasi dan diberi pakan cacing tanah dua kali sehari secara ad libitum. Perlakuan yang diberikan berupa penggunaan beberapa jenis hormon yaitu: (A) LHRHa dan antidopamin (ovaprim) dosis 0,7 mL/kg; (B) human chorionic gonadotropin (hCG) dosis 500 IU/kg; (C) aromatase inhibitor (AI) dosis 10 mg/kg; (D) kombinasi AI dosis 10 mg/kg + ovaprim dosis 0,7 mL/kg; serta (E) kombinasi hCG dosis 500 IU/kg + ovaprim dosis 0,7 mg/kg. Hormon diberikan melalui penyuntikan secara intramuskuler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi hormon hCG dosis 500 IU/kg + ovaprim dosis 0,7 mL/kg; memberikan respons pemijahan terbaik dengan waktu laten 7-12 jam; bobot telur ovulasi 7,3–9,4 g; derajat pembuahan 5,71%-34,7%; dan derajat penetasan 32,5%-50,44%. Penggunaan kombinasi hormon hCG dan ovaprim efektif menstimulasi proses ovulasi telur sehingga dapat menjadi acuan untuk peningkatan produksi larva ikan agamysis dalam pemijahan buatan.Agamysis (Agamyxis albomaculatus) is an introduced freshwater fish that has the potential to be developed in Indonesia. Yet, the fish has not been successfully cultivated. This research was conducted to determine the effectiveness of different hormone combinations to induce ovulation and spawning of agamysis. This research used 30 fishes (15 male and 15 female) ranged 10-15 cm in length and 50-200 g in body weight. The fish were stocked in aquaria equipped with recirculation system and fed with earthworm by ad libitum twice a day. The treatments were: (A) LHRHa and antidopamin (ovaprim) dose of 0.7 mL/ kg, (B) human chorionic gonadotropin (hCG) dose of 500 IU/kg, (C) aromatase inhibitor (AI) dose of 10 mg/kg, (D) a combination of AI dose of 10 mg/kg + ovaprim dose of 0.7 mL/kg, and (E) a combination of hCG dose of 500 IU/kg + ovaprim dose of 0.7 mg/kg. The hormones were given through intramuscularly injection. The results showed that the combination of ovaprim dose of 0.7 mL/kg and hCG dose of 500 IU/kg produced the best spawning response, with the latent period of 7-12 hours, weight of ovulated eggs of 7.3-9.4 g, fertilization rate of 5.71% to 34.7% and hatching rate between 32.5% - 50.44%. In conclusion, the combination of hCG and ovaprim was found to be more effective to stimulate egg ovulation of agamysis and could be used in improving larvae production.

PENINGKATAN KUALITAS WARNA KUNING DAN MERAH SERTA PERTUMBUHAN BENIH IKAN KOI MELALUI PENGAYAAN TEPUNG KEPALA UDANG DALAM PAKAN

Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.65 KB)

Abstract

Ikan hias koi merupakan salah satu produk perikanan yang budidayanya telah dikuasai oleh petani ikan di beberapa daerah. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas warna benih ikan hias koi melalui pengayaan tepung kepala udang dalam pakan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan dosis tepung kepala udang dalam formulasi pakan sebagai sumber karotenoid yaitu: 0% (kontrol), 5%, 10%, 15%. Pakan yang diberikan diformulasikan dengan isoprotein (30%), dan isolipid (15%). Ikan yang digunakan adalah benih dan ditempatkan dalam hapa-hapa di kolam. Pengamatan yang dilakukan selama pemeliharaan adalah parameter kualitas warna yang dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan TCF (Toca Color Finder), sedangkan pengukuran kuantitatifnya dilakukan dengan pengukuran total karotenoid pakan dan jaringan tubuh ikan. Selain itu, dilakukan pula pengamatan parameter pertumbuhan panjang, dan bobot yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kualitas warna pada ikan koi optimal pada pemberian tepung kepala udang sebesar 10% dicirikan dari nilai warna kuning dan merah. Selama penelitian juga diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap pertumbuhan bobot dan panjang mutlak, laju pertumbuhan spesifik bobot dan panjang tubuh, dan sintasan pada semua perlakuan.

PERKEMBANGAN LARVA DAN EKOLOGI IKAN “SIX-BANDED TIGER BARB” (Desmopuntius hexazona Weber & de Beaufort, 1912) DI CAGAR BIOSPHERE BUKIT BATU, RIAU

BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 8, No 2 (2016): (Agustus 2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (908.069 KB)

Abstract

Ikan hias, Desmopuntius hexazona merupakan salah satu ikan yang mendiami perairan gambut di wilayah Asia Tenggara, dari Mekong hingga Malay Peninsula, Sumatra dan Borneo. Sebagai ikan hias D. hexazona telah diperdagangkan secara internasional, namun ketersediaanya masih mengandalkan hasil tangkapan alam, disisi lain upaya budidayanya sangat minim dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perkembangan larva D. hexazona hingga ukuran benih dan faktor lingkungan yang mempengaruhi pemijahan sebagai data dukung penelitian ini juga melakukan kajian ekologi ikan D. hexazona. Koleksi dan studi ekologi D. hexazona dilakukan di hutan gambut propinsi Riau pada Agustus2014, sedangkan proses pembenihan dan pengamatan perkembangan larvanya dilakukan di laboratorium dengan menggunakan mikroskop cahaya yang terhubung dengan sistem komputer. Pemijahan ikan D. hexazona terjadi pada media pemeliharaan dengan kandungan bahan organik 200-300 ppm. Proses ontogeni D. hexazona pada suhu 28-30oC terjadi sebanyak 12 fase (stage) perkembangan selama 31 hari yaitu fase bintik mata, fase gelembung renang, fase bukaan mulut, fase penyempurnaan organ mulut, fase membran sirip mereduksi, fase terbentuk dua bagian gelembung renang, fase pita hitam (bar), fase sirip belakang (anal fin), fase sirip perut (pectoral fin) dan fase terakhir yaitu perkembangan larva. Pada hari ke 31 panjang total larva mencapai ±10,17 mm. Organ pencernaan mulai sempurna seiring dengan berkurangnya volume kuning telur yaitu pada hari kesembilan setelah menetas. Perkembangan sirip larva dimulai dari sirip dorsal dan anal selanjutnya sirip ventral dan sirip caudal dan terakhir sirip pectoral. Pigmen pita (barb) mulai terbentuk hari kesembilanbelas setelah menetas dan mulai sempurna pada hari ke-27 setelah menetas. Secara ekologi ikan D. hexazona ditemukan di zona penyangga dan zona inti yaitu perairan gambut dengan kualitas air sebagai berikut; pH: 3,69-3,85; DO: 0,7-4,7 ppm; TDS: 292-346 ppm; konduktifitas: 96-134 µS/L; NO3: 7,4-20,3 ppm dan kandungan bahan organik berkisar antara 200 hingga 400 ppm.Desmopuntius hexazona, or six-banded tiger barb, is a cyprinid fish that inhabits peat swamps and associated with black water streams. This species native to the Southeast Asia, from the Mekong drainage basin to the Malay Peninsula to Sumatra and Borneo. As ornamental fish, D. hexazona has been traded in the international market, but still rely on catches from the wild. Therefore, their sustainability was questionable. This research aims to examine the larvae development of D. hexazona and its associated environmental factors. Data collection and ecology conducted in the peat swamps in Riau Province. While, study of larva development was conducted in the Research and Development Institute for Ornamental Fish Culture. The careful observation of the process embryonic development larval six-barb carried done by using light microscope. The ontogeny process of D. hexazona on normal conditions (28-30oC) allowed into 12 stages based on diagnostic features of the developing embryos for 31 days and total body length 10.17 mm. Bio-ecological studies D. hexazona showed this fish inhabiting the waters with high total organic material content (200-400 ppm).

PENGARUH PEMBERIAN HORMON PERTUMBUHAN REKOMBINAN DENGAN METODE YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN BOTIA (Chromobotia macracanthus)

Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.642 KB)

Abstract

Pertumbuhan ikan botia tergolong lambat, memerlukan waktu sekitar enam bulan untuk mencapai ukuran komersial (panjang total 4-5 cm). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons pertumbuhan benih ikan botia yang diberi hormon pertumbuhan ikan kerapu (rElGH) melalui tiga metode yaitu: perendaman, oral, dan kombinasi perendaman dan oral. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dan setiap perlakuan diulang tiga kali. Dosis rElGH melalui perendaman yaitu 1,2 mg/L diberikan pada larva umur tujuh hari, sedangkan dosis secara oral yaitu 30 mg/kg pakan dan diberikan pada benih umur tiga bulan. Ikan dipelihara dalam akuarium sistem resirkulasi (80 cm x 40 cm x 25 cm) dengan kepadatan 5 ekor/L selama pemeliharaan tiga bulan pertama dan 1 ekor/L selama pemeliharaan periode tiga bulan kedua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi perendaman dan oral memberikan pertumbuhan yang lebih tinggi sebesar 12,04% dibandingkan kontrol. Perlakuan ini juga meningkatkan level ekspresi insulin-like growth factor-1/ IGF-1 sebesar 29,37% dibandingkan kontrol.The growth of Clown Loach is slow. It takes about six months to reach the market size (4-5 cm total body length). This study aimed to evaluate the growth response of Clown Loach treated with recombinant giant grouper growth hormone (rElGH) delivered by three different methods: immersion, oral, and the combination of immersion and oral. A completely randomized design was used as the experimental design and each treatment was replicated three times. The immersion method used rElGH dose of 1.2 mg/L on seven-day-old larvae, while oral treatment used 30 mg rElGH/kg feed on the three-month-old juvenile. The fish were reared in a closed recirculation tank (80 cm x 40 cm x 25 cm) at a density of 5 fish/L for the first three months, and 1 fish/L for the second three months of rearing period. The result showed that the combination of immersion and oral treatments produced a higher growth rate of 12.04% compared to control treatment. Those treatments also increased insulin-like growth factor-1/IGF-1 expression level about 29.37% compared to the control.

LITOSTRATIGRAPHIC AND SEDIMENTOLOGICAL SIGNIFICANTS OF DEEPENING MARINE SEDIMENTS OF THE SAMBIPITU FORMATION GUNUNG KIDUL RESIDENCE, YOGYAKARTA

BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 26, No 1 (2011)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (966.614 KB)

Abstract

Sambipitu Formation in the Southern Mountains plays an important role due to its stratigraphic position, between syn-volcanism and post- volcanism periods. The formation widely distributes along the southern slope of the Baturagung Mountains, Gunung Kidul Residence, Yogyakarta Province. Stratigraphically, the Sambipitu Formation is conformably underlain by dominated unit of volcanic breccias of the Nglanggran Formation, and conformably overlain by dominated unit of marl of the Oyo Formation. Based on detail section along the river of Ngalang, the Sambipitu Formation can be divided into Lower and Upper Members. The Lower Member is dominated by sandstone and siltstone, which is alternated by breccias. The Upper Member is dominated by siltstone and mudstone, which is intercalated by sandstone, marl and conglomerate. The Lower Member was deposited on an environment influenced by tidal current, which was highly affected by gravity flows of volcanic material. This deposition environment was getting deeper to be an inner shelf, where the Upper Member was deposited. Furthermore, based on Rock-eval pyrolysis, TOC value of the Sambipitu Formation ranges from 0.08% to 0.43%, whilst the PY (potential yield) value less than 0.15 mg HC/g rock. Thus, on the basis of those two parameters, the Sambipitu Formation is included into oil prone source rock potential of poor category. Moreover, Tmax value of the Sambipitu Formation ranges from 226°C - 335°C, with the HI (hydrogen Index) value varies from 0 – 12. It indicates that this formation contains kerogen Type III. Therefore, the organic thermal maturation based on plotting of Tmax vs HI, this formation falls into an immature category. Key word: Lithostratigraphy, volcanic material, tidal flat, inner shelf, and Sambipitu Formation. Formasi Sambipitu memegang peran penting karena posisi stratigrafinya yang terletak diantara perioda volkanisme dan pasca volkanisme. Formasi ini tersebar luas di lereng selatan Pegunungan Baturagung, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Formasi Sambipitu menindih selaras Formasi Nglanggran dan ditindih selaras oleh Formasi Oyo. Berdasarkan penampang stratigrafi rinci sepanjang Sungai Ngalang, Formasi Sambipitu dapat dibagi menjadi: Anggota Bawah dan Anggota Atas. Anggota Bawah didominasi oleh perselingan batupasir dan batulanau, dengan sisipani breksi gunung api. Sedangkan Anggota Atas didominasi oleh batulanau dan batulumpur dengan sisipan batupasir dan konglomerat. Anggota Bawah diendapkan di lingkungan paparan pasang-surut yang dipengaruhi oleh pengendapan material gunung api. Paparan pasang-surut itu semakin dalam menjadi paparan dalam dimana diendapkan Anggota Atas. Berdasarkan analisis Rock-eval pirolisis, nilai kandungan karbon total (TOC) serpih Formasi Sambipitu berkisar 0,08% – 0,43%, sedangkan Potential yield (kandungan cairan hidrokarbon) kurang dari 0,15 mg HC/g batuan. Berdasarkan dua parameter tersebut diatas, formasi tersebut termasuk kedalam kategori oil prone source rock, dengan kategori buruk (poor). Formasi Sambipitu mempunyai nilai temperatur maksimum (Tmax) antara 226°C - 335°C, dengan nilai HI (Hydrogen Index) kurang dari 12, menunjukkan formasi ini memiliki kerogen tipe III. Berdasarkan diagram temperatur maksimum (Tmax) terhadap nilai indeks hidrogen (HI) bahan organik, kematangan organik dari formasi ini termasuk ke dalam tingkat belum matang. Kata kunci: Litostratigrafi, material volkanik, paparan pasang-surut, paparan dalam, dan Formasi Sambipitu.

Kematangan gonad ikan sumpit (Toxotes jaculatrix Pallas 1767) pada salinitas berbeda [Gonad maturity of archerfish (Toxotes jaculatrix Pallas 1767) in different salinity]

Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 14, No 3 (2014): Oktober 2014
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.567 KB)

Abstract

The archerfish (Toxotes jaculatrix Pallas 1767) has a high tolerance to salinity alteration (euryhaline). However the adaptability of archerfish to salinity alteration has not been followed by the information of gonad maturation. This study was conducted to determine development the maturity of gonad of archerfish that was kept in medium with different salinities. Three concrete tank size 300 x 200 x 100 m3 was used in this study; each of them filled water with different salinity; 0, 12-15, and 30-35 ppt respectively. Fish omitted used in this experiment is 15.06 ± 2.05 cm of total length and 50-70 g of body weight. During six months of experiment, all fish were fed crickets twice a day as ad libitum. The gonads maturity level of female observed by egg diameter measurements that were obtained from cannulation while the gonads maturity level of male observed by means quantity and quality (motility) of sperm which were collected from striping. The results obtained show that the archer fish gonads develop in all salinity. Around 25-30% of female gonads develop until level 3 of Gonads Maturity Levels (TKG) in all salinity, whereas the gonad maturity level of male the highest found in fish reared at a salinity of 30-35 ppt followed 12-15 ppt and 0 ppt respectively 20%, 6% and 7%. AbstrakIkan sumpit (Toxotes jaculatrix Pallas 1767) memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan salinitas (eurihalin). Namun kemampuan adaptasi ikan sumpit pada berbagai salinitas belum didukung oleh informasi perkembangan gonadnya. Pe-nelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan kematangan gonad ikan sumpit yang dipelihara pada salinitas berbeda. Wadah yang digunakan adalah bak beton berukuran 300 x 200 x 100 m3 sebanyak tiga bak, masing-masing di isi air dengan salinitas berbeda yaitu 0, 12-15, dan 30-35 ppt. Hewan uji yang digunakan adalah calon induk ikan sum-pit ukuran 15,06±2,05 cm (bobot badan 50-70 g). Selama enam bulan pemeliharaan, ikan diberi pakan jangkrik dua kali sehari secara ad libitum. Tingkat kematangan gonad (TKG) ikan betina diamati melalui pengukuran diameter telur yang didapat dari hasil kanulasi dan tingkat kematangan gonad ikan jantan diamati melalui kuantitas dan kualitas (motilitas) spermatozoa yang diperoleh melalui pengurutan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa gonad ikan sumpit berkem-bang pada semua salinitas media. Sebanyak 25-30% ikan betina mengalami perkembangan gonad hingga TKG 3 pada semua salinitas, sedangkan tingkat kematangan gonad ikan jantan tertinggi didapatkan pada ikan yang dipelihara pada salinitas 30-35 ppt selanjutnya 0 ppt dan 12-15 ppt masing-masing sebanyak 20%, 6% dan 7%.