Adib Suyanto, Adib
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

PEMANFAATAN LIMBAH KONSUMSI IKAN DARI WARUNG LESEHAN DAN WARUNG SEA FOOD UNTUK PENGGANTI SEBAGIAN PAKAN AYAM BROILER

Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 7, No 4 (2016): VOLUME 7 NO 4 TAHUN 2016
Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah merupakan materi atau zat, baik yang bersifat organik maupun anorganik yang dihasil-kan dari setiap aktivitas manusia. Alternatif lain untuk mengelola sampah organik selain sebagai kompos, adalah dijadikan sebagai bahan campuran untuk pakan ternak. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung limbah konsumsi ikan terhadap berat badan ayam broiler. Pakan dibuat sendiri oleh peneliti, yaitu dengan komposisi 28 % tepung limbah konsumsi ikan, 24 % ampas tahu, dan 48 % dedak padi. Dengan proporsi tersebut, pro-tein yang terkandung di dalam pakan tersebut adalah sebesar 24 %. Rancangan penelitian yang digunakan adalah pre-test post-test with control group, dimana sebagai pembanding adalah pa-kan BR1 yang tersedia di pasaran. Jumlah ayam percobaan adalah 20 ekor untuk masing-ma-sing kelompok penelitian. Variabel terikat yang diukur adalah persentase penambahan berat ba-dan ayam setelah tiga minggu diberikan pakan. Data hasil pengukuran menemukan bahwa rata-rata peningkatan berat badan ayam adalah 95,73 % pada kelompok kontrol, dan 95,99 % pada kelompok perlakuan. Hasil analisis dengan uji Wilxocon pada derajat kepercayaan 95 % me-nyimpulkan bahwa perbedaan peningkatan berat tersebut signifikan (nilai p = 0,002). Berdasar-kan hasil penelitian ini, kepada masyarakat khususnya para peternak ayam broiler, disarankan untuk memilih bahan pakan yang mengandung protein tinggi namun harganya tidak mahal, mu-dah diperoleh dan mudah dikelola, sebagaimana yang digunakan dalam penelitian ini.

PEMAANFAATAN LIMBAH JERIGEN MENJADI SAFETY BOX DI RSUD WATES, TAHUN 2016

Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 8, No 4 (2017): Vol 8, No 4 2017
Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah padat berupa jerigen bekas yang berada di area RSUD Wates terdiri dari dua jenis, yaitu ukuran 5 L yang dahulunya berisi cairan asam dan ukuran 10 L yang dahulunya berisi cairan bikarbonat.Dalam sebulan, jumlah limbah jerigen tersebut dapat mencapai 300 buah. Pengubahan menjadi safety box merupakan salah satu inovasi untuk memanfaatkan limbah jerigen yang ada tersebut. Walaupun bahan yang ada di dalam jerigen hampir sama seperti cairan infus, cairan di dalam jerigen ini tidak tergolong dalam limbah B3 apabila tidak mengenai pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya penerimaan responden, yang terdiri dari dari 38 orang perawat dan 9 orang petugas cleaning service, terhadap safety box, antara yang terbuat dari bahan karton dan dari bahan jerigen bekas, melalui metoda survey dengan desain penelitian prospektif. Data dianalisis dengan uji-test terikat pada 􀄮 = 0,05; dan diperoleh nilai p < 0,001; yang dapat diinterpretasikan bahwa perbedaan penerimaan responden terhadap kedua jenis safety box tersebut berbeda secara bermakna, sehingga dapat disimpulkan bahwa limbah jerigen yang dihasilkan di RSUD Wates dapat digunakan untuk menggantikan safety box lama yang berbahan karton.

PEMBERIAN VARIASI MODEL ALAT PEMUNGUT SAMPAH TERHADAP FREKUENSI MEMUNGUT SAMPAH MURID TK KUDUP SARI DI SIDOLUHUR, GODEAN, SLEMAN, TAHUN 2016

Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 8, No 1 (2016): AGUSTUS 2016
Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Penanganan sampah dapat melibatkan seluruh komponen masyarakat, termasuk anak-anak. Melibatkan anak usia dini merupakan langkah awal yang baik untuk pembelajaran penanganan sampah agar peduli terhadap lingkungan. Murid TK Kudup Sari rata-rata berusia 6 tahun, yaitu. usia yang berada dalam tahap meniru dan mudah menerima ilmu pengetahuan baru, sehingga diharapkan mereka lebih mudah untuk mengaplikasikan pembelajaran yang diperoleh. Studi ini bertujuan untuk mengetahui model alat pemungut sampah yang paling disukai murid TK me-lalui penelitian yang bersifat kuasi eksperimen dengan desain penelitian post-test only. Popu-lasi dan sampel penelitian ini adalah seluruh 41 orang murid Kelas B TK Kudup Sari yang terle-tak di Sidoluhur, Godean, Sleman. Pengamatan dilakukan sebanyak 10 kali ulangan dan dila-kukan dengan cara mengamati jumlah anak yang memungut sampah dengan menggunakan dua model alat pemungut yang disediakan. Secara deskriptif terlihat jelas perbedaan rerata fre-kuensi memungut sampah yang dilakukan oleh siswa TK, yaitu empat kali menggunakan model alat tusuk dan 37 kali menggunakan model alat penjepit. Hasil uji t-test bebas pada derajat ke-percayaan 95 % mengkonfirmasi hal tersebut karena nilai p yang dihasilkan lebih kecil dari 0,001 sehingga perbedaan tersebut sangat signifikan, di mana alat pemungut sampah model penjepit jauh lebih disukai dibandingkan alat pemungut sampah model tusuk.

PEMANFAATAN LIMBAH PEPAYA (Carica papaya L) DAN TOMAT (Solanum lycopersicum L) UNTUK MEMPERCEPAT PENGOMPOSAN SAMPAH ORGANIK

Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 8, No 2 (2016): NOVEMBER 2016
Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu penanganan sampah organik adalah memaanfaatkannya menjadi bahan baku kom-pos. Dalam penelitian ini, untuk mempercepat waktu pengomposan,digunakan limbah pepaya dan limbah tomat sebagai inokulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis inokulan yang lebih efektif di antara dua jenis limbah buah tersebut, melalui eksperimen yang mengguna-kan rancangan post test only group. Obyek penelitian adalah sampah organik yang berasal dari halaman Asrama I Poltekkes Kemenkes Yogyakarta sebanyak 60 kg yang diperoleh dengan me-toda integrated sampling, sedangkan sampah limbah pepaya dan tomat sebanyak 2 kg yang di-peroleh dari Pasar Serangan, diambil dengan metoda purposive sampling. Berdasarkan indika-tor kompos matang, dari lima kali ulangan, rata-rata waktu terbentuknya kompos pada kelompok perlakuan dengan inokulan limbah pepaya adalah selama 32,3 hari dan inokulan limbah tomat selama 31,7 hari. Hasil uji statistik dengan t-test bebas memperoleh nilai p < 0,001 yang berarti bahwa perbedaan lama waktu pengomposan antara kedua inokulan tersebut memang bermak-na. Dapat disimpulkan bahwa limbah tomat lebih efektif dan cepat dibandingkan dengan limbah pepaya dalam mempercepat proses pengomposan.

PERANAN GAMBAR PADA TEMPAT SAMPAH DALAM MENINGKATKAN FREKUENSI MEMBUANG SAMPAH SISWA SDN TAHUNAN, KECAMATAN UMBULHARJO, KOTA YOGYAKARTA, TAHUN 2015

Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 7, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.326 KB)

Abstract

Kegiatan penanganan sampah dapat melibatkan seluruh masyarakat, termasuk anak-anak. Pengajaran sedini mungkin pada anak-anak merupakan awal yang bagus untuk membiasakan mereka membuang sampah pada tempat yang benar karena karena di usia tersebut mereka mudah untuk mengerti dan mampu melaksanakan. Penelitian ini menggunakan tiga gambar ka- rakter kartun pada tempat sampah untuk mengetahui gambar mana yang paling disukai anak- anak SD Tahunan, di Kota Yogyakarta sehingga mempengaruhi frekuensi membuang sampah mereka. Studi yang dilakukan bersifat kuasi eksperimen dengan menggunakan desain pene- litian post test only dengan obyek penelitian adalah seluruh siswa SDN tersebut yang ber- jumlah 336 siswa. Pengamatan frekuensi membuang sampah dilakukan selama 10 hari antara pukul 07:00-11:00 WIB, dan dari hasil uji statistik dengan one way anova pada derajat keper- cayaan 95 %, diketahui bahwa frekuensi pembuangan sampah di antara ketiga gambar yang digunakan memang berbeda secara bermakna (p=0,027) dan dengan uji LSD diketahui bahwa gambar Doraemon adalah yang paling diminati siswa.

PEMANFAATAN CUKA KAYU UNTUK MENURUNKAN KADAR GAS H2S (HIDROGEN SULFIDA) LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU “X” DI TEJOKUSUMAN, NOTOPRAJAN, NGAMPILAN, KOTA YOGYAKARTA

Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 7, No 1 (2015): AGUSTUS 2015
Publisher : Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah cair dari industri tahu yang mengandung padatan tersuspensi maupun terlarut, akan mengalami perubahan fisika, kimia dan hayati yang akan menimbulkan gangguan terhadap kesehatan karena menghasilkan zat beracun. Hasil uji pendahuluan di Industri tahu “X”, terukur kadar H2S pada limbah cair yang dihasilkan sebesar 0,394 mg/l, yang berarti melebihi baku mutu. Salah satu cara untuk menurunkan kadar H2S tersebut adalah menambahkan cuka kayu. Penelitian ini merupakan eksperimen dengan desain penelitian post-test only with control group. Banyaknya sampel limbah cair yang digunakan adalah 20 liter, sementara tiga variasi dosis cuka kayu yang diteliti adalah: 5 ml, 10 ml dan 15 ml untuk setiap 1000 ml limbah cair. Berdasarkan hasil uji One Way Anova pada derajat kepercayaan 95 %, diperoleh nilai p < 0,001 yang berarti bahwa variasi dosis cuka kayu yang digunakan memiliki pengaruh yang berbeda dalam menurunkan kadar H2S pada limbah cair tahu. Berdasarkan hasil uji LSD diketahui bahwa mean difference dengan kelompok kontrol yang tertinggi adalah dosis C, yaitu 15 ml cuka kayu untuk 1000 ml limbah cair. Namun demikian, dosis B (10 ml untuk 1000 ml limbah) sudah mampu penurunkan kadar H2S sesuai dengan baku mutu yang dipersyaratkan yaitu 0,1 mg/l.