Abri Abri, Abri
Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas 45 Makassar
Articles
2
Documents
ISOLASI BAKTERI RHIZOSFER PADATANAMAN KACANG TANAH (ARACHIS HYPOGEA)ASAL BANTIMURUNG

JURNAL GALUNG TROPIKA Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fapetrik-UMPAR

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya mengatasi masalah kesuburan tanah dapat dilakukan dengan meningkatkan peran mikroba tanah yang bermanfaat melalui upaya peningkatan kandungan beberapa unsur hara di dalam tanah, peningkatan efisiensi penyerapan unsur hara, pengendalian patogen tular tanah melalui interaksi kompetisi, memproduksi zat pengatur tumbuh yang dapat meningkatkan perkembangan sistem perakaran tanaman, peningkatan aktivitas mikroba tanah heterotrof yang bermanfaat. Peran mikroba dalam siklus berbagai unsur hara di dalam tanah sangat penting, sehingga bila salah satu jenis mikroba tidak berfungsi maka akan terjadi ketimpangan dalam daur unsur hara di tanah. Ketersediaan unsur hara sangat berkaitan dengan aktivitas mikroba yang terlibat di dalamnya.Mikroorganisme di alam dapat dibagi menjadi mikroorganisme simbiotik dan mikroorganisme nonsimbiotik, yang hidup bebas dan mandiri dalam tanah dan memfiksasi nitrogen seperti Clostridium pasturianum dan Azotobacter .Mikroorganisme simbiotik berinteraksi dengan tanaman seperti bakteri rhizosfer dan endofit.Hasil isolasi   identifikasi   bakteri rhizpsfer kacang tanah   isolat KCT3, KCT4, dan KCT5  tergolong kedalam bakteri Bacillus sp. Bakteri ini  mempunyai ciri-ciri menampakkan warna koloni putih, gram positif, pertumbuhan anaerob negatif dan pembentukan endospora positif.. Berdasarkan uji morfologi dan fisikakimia diperoleh hasil bahwa isolat KCT4 masuk ke dalam kelompok Clostridium.Bakteri Clostridium sp. menampakkan warna koloni putih, reaksi gram positif, pertumbuhan anaerob positif, pembentukan endospora positif.

Isolasi Cendawan Rhisozfer Penghasil Hormone Indol Acetic Acid (IAA) Pada Padi Aromatik Tanatoraja

Prosiding Seminar Biologi 2015: Prosiding Seminar Nasional Mikrobiologi Kesehatan dan Lingkungan
Publisher : Prosiding Seminar Biologi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kualitas  jenis  padi  akan  berpengaruh  pada  selera  makan.    Jenis  padi  yang  menghasilkan  nasi pulen dan aromanya wangi merupakan keunggulan jenis padi aromatik. Namun sulit dijumpai dan harganya  mahal.  Sulawesi  Selatan,  khususnya  daerah  Tanah  Toraja  merupakan  daerah pengembangan padi aromatik yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Budidaya yang diterapkan masih bersifat tradisional dan berbasis kearifan lokal yaitu tanpa penggunaan pupuk, pestisida dan obat  kimia  lainnya,  sehingga  diharapkan  terdapat  keragaman  biodiversitas  mikroorganisme  yang tinggi  di  dalam  tanah  terutama  cendawan  rhizosfer  yang  menghasilkan  hormon Indol  Acetic  Acid (IAA). Rhizosfer  tanaman  padi  aromatik  diambil  sebanyak  10  gram  disuspensikan  dalam  100  ml aquades  steril.  Pemurnian  dilakukan  dengan  memindahkan  satu  koloni  jamur  pada  medium  PDA steril  yang  baru. Pengukuran  produksi  IAA  dilakukan  dengan  mengkulturkan  1  lup  penuh  isolat cendawan rhizosfer pada media  Potato Dextrose Agar (PDA) dengan penambahan L-Triptofan  dan selama 48 jam pada ruang gelap dengan suhu ruang. IAA dengan kertas saring kemudian disentrifius 3000 rpm selama 30 menit, tambahkan 2 tetes  asam orthofosfat, lalu tambahkan lagi dengan 4 ml reagen Salkowski (50 ml, 35% asam sulfat, 1 ml 0,5 mol larutan FeCl3), simpan ruang gelap selama 24  jam,  perubahan  warna  larutan  menjadi  pink  berarti  isolat  cendawan  telah  memproduksi  IAA. Pengukuran  absorbansi serapan IAA  nya  dengan  menggunakan  spektrometer  (spectronic 20)  pada panjang  gelombang  530  nm. Hasil  isolasi  cendawan  rhizosfer  padi  aromatik  jenis  Pare  kaloko menghasilkan 19 isolat dan Pare Bau 15 isolat. Rata-rata produksi Indole Acetic Acid (IAA) sebesar 0,556-2.190  mg/L  dihasilkan  oleh  isolat  pare  Kaloko,  sedangkan  rata  rata  produksi  IAA  yang dihasilkan oleh isolat pare Bau sebesar 0,048 – 1,8101,435 mg/L