Nita Maya Valiantien, Nita Maya
Unknown Affiliation

Published : 22 Documents
Articles

Found 22 Documents
Search

THE PORTRAYAL OF HEROISM IN THE ORSON SCOTT CARD’S NOVEL ENDER’S GAME Rosianah, Rosianah; Kuncara, Singgih Daru; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.876

Abstract

ABSTRACT This research discussed about the portrayal of heroism in the Orson Scott Card’s novel Enders Game, based on Joseph Campbell’s hero’s journey. This research has two objectives, the first is to reveal the journey of Ender to become a hero and the second is to reveal hero traits in Ender’s character that appear during his journey. This study used qualitative approach. The subject of this study is novel by Orson Scott Card entitle Ender’s Game. The data were some sentences and utterances showing the hero’s Journey and hero traits. To obtain trustworthiness, the writer used triangulation technique. The writer found that the hero in his journey passed thirteen stages among seventeen stages of hero’s Journey, namely Call to adventure, Refusal of the call, Supernatural aid, Crossing the first threshold, Belly of the whale, Road of trials, Meeting with the goddess, Atonement with Father, Apotheosis, Ultimate boon, Refusal of the call, Crossing the threshold, Master of the two worlds, and Freedom to live. Three stages were absent, Woman temptress, Magic flight, and Rescue from within. In every phase Ender as the main character showed traits that indicate he is a hero. He showed twelve hero traits, there are; Courage, Virtuosity, Sacrifice, Determination, Focus, Compassion, Perseverance, Dedicate, Honesty, Loyalty, Conviction, and Wisdom. Keywords: hero, hero’s journey, traits  ABSTRAK Penelitian ini membahas tentang penggambaran kepahlawanan dalam novel Ender’s Game karya Orson Scott Card. Terdapat dua objek penelitian, pertama mengungkapkan perjalanan Ender untuk menjadi seorang pahlawan, dan objek kedua mengungkapan ciri-ciri pahlawan yang muncul pada karakter Ender dalam perjalannya . Subjek dalam penelitian ini adalah novel karya Orson Scott Card yang berjudul Ender’s Game. Data dalam penelitian ini adalah kalimat-kalimat dan ucapan yang menunjukkan “hero’s Journey” dan ciri-ciri pahlawan. Untuk mendapatkan kepercayaan, penulis menggunakan teknik triangulasi. Penulis menemukan bahwa Ender sebagai pahlawan dalam perjalanannya melewati tiga belas tahap di antara tujuh belas tahap perjalanan pahlawan, yaitu Call to adventure, Refusal of the call, Supernatural aid, Crossing the first threshold, Belly of the whale, Road of trials, Meeting with the goddess, Atonement with Father, Apotheosis, Ultimate boon, Refusal of the call, Crossing the threshold, Master of the two worlds, and Freedom to live. Terdapat tiga tahap yang tidak muncul dalam novel, yaitu, Woman as temptress, Magic flight, and Rescue from within. Di setiap tahap Ender sebagai karakter utama menunjukkan ciri-ciri yang menunjukkan bahwa dia adalah pahlawan. Dia menunjukkan dua belas ciri-ciri pahlawan, yaitu; Courage, Virtuosity, Sacrifice, Determination, Focus, Compassion, Perseverance, Dedicate, Honesty, Loyalty, Conviction, dan Wisdom. Kata kunci: pahlawan, perjalanan pahlawan, ciri-ciri
THE INFLUENCE OF PSYCHOLOGICAL CONFLICT TOWARD ELSA’S CHARACTER DEVELOPMENT IN FROZEN FILM Rahmah, Nor; Kuncara, Singgih Daru; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.675

Abstract

AbstractIn this research, the researcher focused to find the psychological conflict and its influence toward the main character’s character development in Frozen film. The researcher used two theories to answer the two research problems. For the first question, the researcher used the theory of psychological conflict by Kurt Lewin to find the kinds of psychological conflict expressed by the main character in Frozen film. To answer the second question, the researcher used the theory of personality development by Elizabeth B. Hurlock to explain the influence of psychological conflict toward the character development of the main character. In this research, the method that the researcher used was qualitative research method. The result of the analysis showed that Elsa expressed two kinds of psychological conflict which were approach-avoidance conflict and avoidance-avoidance conflict. And those two kinds of psychological conflict influence Elsa’s character development in five determinants they are intellectual, emotional, social, aspiration & achievement, and family. Key words: character, character development, Frozen film, psychological conflict AbstrakDalam penelitian ini, peneliti fokus untuk mengetahui konflik psikologi dan pengaruhnya terhadap perkembangan karakter dari karakter utama dalam film Frozen. Peneliti menggunakan dua teori untuk menjawab dua rumusan masalah tersebut. Untuk pertanyaan pertama, peneliti menggunakan teori konflik psikologi dari Kurt Lewin untuk mengetahui jenis-jenis konflik psikologi diekspresikan oleh karakter utama dalam film Frozen. Untuk menjawab pertanyaan kedua, peneliti menggunakan teori perkembangan kepribadian dari Elizabeth B. Hurlock untuk menjelaskan pengaruh konflik psikologi terhadap perkembangan karakter dari karakter utama. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan oleh peneliti adalah metode penelitian kualitatif. Hasil analisis menunjukkan Elsa mengekspresikan dua jenis konflik psikologi, yaitu approach-avoidance conflict dan avoidance-avoidance conflict. Dua jenis konflik psikologi tersebut mempengaruhi perkembangan karakter Elsa dalam lima determinan, yaitu intelektual, emosional, sosial, aspirasi dan prestasi, dan keluarga. Kata kunci: karakter, perkembangan karakter, film Frozen, konflik psikologi
EMMA WATSON’S MAGIC SPELL IN GENDER EQUALITY: THE USE OF RHETORICAL DEVICES IN “HEFORSHE” CAMPAIGN Valiantien, Nita Maya
Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics (CaLLs) Vol 1, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v1i2.691

Abstract

A movement to raise awareness towards gender equality issue has been promoted by the UN through the campaign called “HeforShe”.  To influence people toward the issue, Emma Watson, who is famous with her character as Hermione Granger in Harry Potter series, is appointed as the ambassador of this campaign. Emma Watson capability to convey messages about gender equality cannot be underrated. It can be seen from the strategies that she used in presenting her speech, which is in particular called as rhetorical devices. In that case, this paper aims to explore the use of rhetorical devices in Emma Watson’s speech which includes the rule of three, parallelism, and variation of personal pronoun use.Keywords: discourse, speech, rhetorical devices
THE HIERARCHY OF NEEDS REFLECTED IN MICHAEL OHER’S CHARACTER IN THE BLIND SIDE MOVIE Sari, Linda; Natsir, M.; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 4 (2017): Edisi Oktober 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i4.767

Abstract

ABSTRACT This study is aimed to find how Michael Oher fulfilled his needs and to convey Michael Oher’s character when all his needs have been fulfilled and his dominant character in the movie of The Blind Side. The method that is used by the writer is descriptive qualitative. The data of this study were analyzed with the hierarchy of needs theory by Abraham Maslow. The writer analyzed the dialogue also narration that reflected the needs of the main character and also the changes of his character. The result of this study shows Oher could fulfill all of his needs from the lowest stage that begins with physiological needs, safety needs, love and belonging needs, self-esteem needs, and the last is self-actualization needs. Regarding to all of his needs that had been already fulfilled, his character also changed from a silent boy to a confident character who could express himself in sport and became one of the players that had a big influenced to the team. Last, for the dominant character that appeared in Oher was the protective character which was found in two different needs based on Maslow’s. Keywords: hierarchy of needs, character, characterization, The Blind Side movie  ABSTRAK Kajian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Michael Oher memenuhi kebutuhan hidupnya dan menemukan bagaimana karakter Michael Oher ketika segala kebutuhan hidupnya sudah terpenuhi. Juga, kajian ini bertujuan untuk mengungkap karakternya yang dominan. Metode yang digunakan penulis adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini dianalisa dengan teori Hierarchy of Needs dari Abraham Maslow. Penulis menganalisa dialog dan juga narasi yang mencerminkan kebutuhan hidup karakter utama dan perubahan karakternya. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Oher mampu  memenuhi kebutuhan mulai dari kebutuhan fisiologis, kemanan, sosial, harga diri, dan kebutuhan pencapaian. Berkaitan dengan semua kebutuhan yang sudah terpenuhi, karakternya juga berubah dari lelaki yang pendiam menjadi karakter yang percaya diri dan bisa mengekspresikan dirinya dalam olahraga dan juga menjadi salah satu pemain yang memiliki pengaruh besar bagi timnya. Terakhir, untuk karakter dominan yang terlihat di Oher adalah karakter yang protektif dan di temukan didalam dua kebutuhan berbeda berdasarkan teori dari Maslow.  Kata kunci: hierarchy of needs, karakter, pemeranan, film The Blind Side
WOMEN PORTRAYAL IN PATRIARCHAL SOCIETY THROUGH FEMALE MAIN CHARACTERS IN ZEMECKIS’ BEOWULF FILM (2007) Barli, Christian; Sili, Surya; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 3 (2017): Edisi Juli 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i3.674

Abstract

ABSTRACT Patriarchy system which forms gender stereotypes and its issues, consciously or not is easily found in daily life. Gender stereotypes are strengthened by patriarchy system which includes judgments of surrounding society, and forms two categories; masculinity (men stereotypes) and femininity (women stereotypes) which referred from the different biological characteristics among men and women, to empower men and disempower women in society. The purposes of this research were to analyze the portrayal of patriarchy system which is portrayed in the Zemeckis’ Beowulf film, and to analyze the portrayal of female main characters who break patriarchy system which is portrayed in the film. This research was designed as a qualitative research, and the theory of patriarchy by Allan G. Johnson was used as the ground theory. The results of the research showed that patriarchy system and its four elements such as male dominance, male identification, male centeredness, and obsession with control are promoted in the society which is portrayed in the Zemeckis’ Beowulf film (2007). Although the two female main characters of the film live in a society which is patriarchal, but they do not fall into the patriarchy system and the gender stereotypes that are imposed on them as subordinate women, instead they challenge and break the social systems. Key words: Beowulf film, gender stereotypes, main characters, patriarchy, women portrayal.  ABSTRAK Sistem patriarki yang membentuk stereotip gender dan isu-isu terkait lainnya, mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari secara sadar atau tidak. Stereotip gender dilingkupi dan diperkuat oleh sistem patriarki yang mencakup anggapan-anggapan dalam kehidupan bermasyarakat yang mana membentuk dua kategori, yakni; maskulinitas (stereotip pria) dan feminitas (stereotip wanita). Anggapan-anggapan berdasarkan dua kategori gender tersebut mengacu pada perbedaan karakterisitk pria dan wanita secara biologis demi menguatkan kuasa serta wewenang pria, dan melemahkan peran dan posisi wanita dalam masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis penggambaran sistem patriarki yang terdapat di dalam film Zemeckis yang berjudul Beowulf. Penelitian ini bertujuan pula untuk menganalisis penggambaran pemeran-pemeran utama wanita yang mematahkan sistem sosial patriarki yang tergambar di dalam film tersebut. Penelitian ini dirancang sebagai sebuah penelitian yang bersifat kualitatif dengan menggunakan teori patriarki yang dikemukakan oleh Allan G. Johnson sebagai dasar teori. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sistem patriarki dan keempat elemennya, seperti; dominasi laki-laki, identifikasi pada laki-laki, keterpusatan pada laki-laki, dan obsesi terhadap penguasaan, digalakkan dalam kehidupan bermasyarakat yang tergambar dalam film Beowulf yang disutradarai oleh Zemeckis pada tahun 2007 tersebut. Meskipun kedua pemeran utama perempuan dalam film tersebut hidup di tengah-tengah masyarakat yang menganut paham sosial patriarki, namun mereka tidak jatuh ataupun terpengaruh oleh sistem patriarki dan stereotip gender yang beranggapan bahwa mereka adalah perempuan bawahan yang mestinya tunduk terhadap sistem-sistem sosial tersebut. Malahan mereka menantang dan menghancurkan tatanan sistem-sistem sosial tersebut. Kata kunci: Film Beowulf, stereotip gender, tokoh utama, patriarki, penggambaran perempuan
SOCIAL PROCESSES IN THE FORMATION OF DRE PARKER’S CHARACTER IN "KARATE KID" FILM (2010) Andriana, Wahyu Sartika; Natsir, M.; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.727

Abstract

ABSTRACT There are two objectives of research in this study, such as, to show the character formation that occurred in the character of Dre in Karate Kid film 2010, and to analyze how Dre experienced character changes shaped by social processes in Karate Kid film 2010. This analysis includes to descriptive qualitative method. This researcher used the Karate Kid film 2010 as the source of data. The data derived from the utterances of major characters containing the elements of social processes. From the finding of this analysis, the elements of social processes there are two classifications, first is associative social process, in associative social process such as; cooperation (team work), accommodation (agreement), assimilation (cultural fusion). The second classification of social process is dissociative social process, in dissociative social process such as; competition (compete in a good way), conflict (compete in a bad way). Keywords: individual, character formation, social process, hierarchy needs  ABSTRAK  Ada dua tujuan penelitian dalam penelitian ini, seperti, untuk menunjukkan pembentukkan karakter yang terjadi pada karakter Dre dalam film Karate Kid 2010, dan untuk menganalisis bagaimana Dre mengalami perubahan karakter yang dibentuk oleh proses sosial di film Karate Kid 2010. Analisis ini termasuk dalam metode deskriptif kualitatif. Peneliti ini menggunakan film Karate Kid 2010 sebagai sumber data. Data berasal dari ujaran karakter utama yang mengandung unsur-unsur proses sosial. Dari analisis ini, unsur-unsur proses sosial ada dua klasifikasi, pertama adalah proses sosial asosiatif, dalam proses sosial asosiatif seperti; kerjasama (kerja tim), akomodasi (kesepakatan), asimilasi. Klasifikasi kedua proses sosial adalah proses sosial disosiatif, dalam proses sosial disosiatif seperti; kompetisi (bersaing dengan cara yang baik), konflik (bersaing dengan cara yang buruk). Kata kunci: individu, pembentukkan karakter, proses sosial, kebutuhan hierarki
THE PSYCHOANALYTICAL STUDY ON THE CHARACTERISTICS AND CAUSES OF ADOLESCENT DEVIANT BEHAVIOR FOUND IN DIVERGENT NOVEL BY VERONICA ROTH Wiyani, Nurhasanah Putri; Sili, Surya; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.679

Abstract

Abstract This research investigates how the major character described to get causes of Beatrices deviant behaviors in Veronica Roth’s Divergent Novel. This research used three different theories to answer two research questions. First, used the personality theory by Sigmund Freud and used the four ds of abnormality theory by Ronald J.Comer to define the deviant behavior of the main character, Beatrice Prior. This research also used behavior disorder theory by Harry Gottesfeld to analyzed the causes of deviant behavior which is performed by the main character. The data sources are literary data. The method of data collection of the research is library research. The technique of data analysis is descriptive qualitative method. The researcher served the data in dialogues, and narratives by Beatrice. Based on the analysis, the researcher draws two conclusions: First, this research shows that the failure to control personality can make a person being deviant. It is reflected in the major character’s personality when she wants to leave her faction. The second, this research shows that there are four causes of Beatrice deviant behavior in six causes of behavior disorder, they are the physical, biological factors; the family; and the self-concept, and natural support systems. Key words : psychoanalytical study, deviant behavior, Divergent novel. Abstrak Penelitian ini menyelidiki bagaimana karakter utama dijelaskan untuk mengetahui penyebab perilaku menyimpang Beatrice di novel Divergent karya Veronica Roth. Penelitian ini menggunakan tiga teori yang berbeda untuk menjawab dua pertanyaan penelitian. Pertama, menggunakan teori personality oleh Sigmund Freud dan menggunakan teori the four Ds of Abnormality oleh Ronald J.Comer untuk menentukan perilaku menyimpang dari karakter utama, Beatrice Prior. Penelitian ini juga menggunakan teori behavior disorder oleh Harry Gottesfeld untuk menganalisis penyebab perilaku menyimpang yang dilakukan oleh karakter utama. Sumber data adalah data sastra. Metode pengumpulan data dari penelitian ini adalah studi pustaka. Teknik analisis data adalah metode deskriptif kualitatif. Peneliti menyajikan data dalam dialog, dan narasi oleh Beatrice. Berdasarkan hasil analisis, peneliti menarik dua kesimpulan: Pertama, penelitian ini menunjukkan bahwa kegagalan untuk mengontrol kepribadian dapat membuat seseorang menjadi menyimpang. Hal ini tercermin dalam kepribadian karakter utama ketika ia ingin meninggalkan faksi nya. Yang kedua, penelitian ini menunjukkan bahwa ada empat penyebab perilaku menyimpang Beatrice dalam enam penyebab gangguan perilaku, yaitu fisik, faktor biologis; keluarga; konsep diri, dan sistem pendukung alami. Kata kunci: penelitian psikoanalitik, perilaku menyimpang, novel Divergent
THE DIFFERENCES BETWEEN MEN AND WOMEN’S LANGUAGE IN THE DEVIL WEARS PRADA MOVIE Juwita, Tri Puspa; Sunggingwati, Dyah; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.870

Abstract

ABSTRACT This research with the title investigated the differences between men and women’s language feature and the consistency of the using of that language features by each gender. This research used the theory from Coates (2004) about men’s language features and Lakoff, quoted by Holmes (2003) about women’s language. The researcher got the data from every dialogue by main and supporting characters. The research design in this research used qualitative method from Mack et al (2005). The data source of this research got from the dialogue of men and women’s characters and the researcher also used books and journals which are related to this research to analyze the data. The technique of data analysis is descriptive method. The researcher draws two conclusions: firstly, this research found that men and women’s character in The Devil Wears Prada movie did not use all of the language features from Coates and Lakoff. Secondly, the researcher found that in some situation, the men and women’s character did not consistent use their own language features. Keywords: features consistency, men’s language, women’s language, The Devil Wears Prada movie  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang perbedaan antara bahasa pria dan bahasa wanita dan konsistensi pengunaan tersebut pada masing-masing jenis kelamin. Penelitian ini menggunakan teori dari Coates (2004) tentang bahasa pria dan teori dari Lakoff yang dikutip oleh Holmes (2003) tentang bahasa wanita. Peneliti mendapatkan data dari seluruh percakapan yang dilakukan oleh pemeran utama dan pemeran pendukung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dari Mack et al (2005). Sumber data diperoleh dari percakapan karakter pria dan wanita dan juga didukung oleh buku dan jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini. Cara untuk menganalisis data adalah dengan menggunakan metode deskripsi. Peneliti mendapatkan dua kesimpulan: pertama, ditemukan bahwa karakter pria dan wanita di film The Devil Wears Prada tidak menggunkan seluruh kriteria dari Coates dan Lakoff. Kedua, peneliti menemukan bahwa di beberapa situasi, karakter pria dan wanita tidak konsisten menggunakan karaker bahasa masing-masing gender. Kata kunci: konsistensi karakter, bahasa pria, bahasa wanita, film The Devil Wears Prada 
CHARACTER ANALYSIS OF DEXTER MORGAN FROM DEXTER TV SHOW: WITH SPECIAL REFERENCE TO PSYCHOPATH OR SOCIOPATH DISORDERS Antoko, Sulistyo Dwi; Natsir, Muhammad; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i2.1094

Abstract

ABSTRACT Dexter Morgan is the master of horrendous crimes without everyone acknowledgement, he is the master manipulator reflected through each episodes of Dexter TV Show. By using descriptive qualitative method, this study aimed to answer the following questions. The first research question is about the characters of Dexter Morgan, and the second research question is about how he conceals himself from the society. By using theories from Robert Hare’s Psychopathy Checklist –Revised (PCL- R) and Hervey M. Cleckley’sThe Mask of Sanity, the questions are answered in a direct way. The results of the study showed that Dexter Morgan matches 19 from 20 of PCL- R traits from both two factors (Personality and Behavior) such as charming personality, grandiose of self-worth, proneness to boredom, liar, manipulative, lack of remorse, shallow affect, poor and early behavioral problems, promiscuous sexual behavior, lack of realistic goals, impulsive, irresponsible, cannot accept responsibility, short-term relationship, juvenile delinquency, and criminal versatility. The only exception in the trait is from second factor which is revocation of conditional release, because Dexter Morgan never got caught, so he does not need to escape or bail from restraining orders.The result of the second research question showed how psychopath or sociopath lurking around in our peaceful society filled with happiness and joys by faking a smile and superficial charming personality. Psychopath conceals themselves in our everyday lives. Based on the answers of research questions, Dexter Morgan has dominant character as a high functioning psychopath because he can manipulate everyone, undetected serial killer, and act like a wolf in sheep clothes. Keywords: Psychopath, Sociopath, Psychological, Conceals, Dexter Morgan  ABSTRAK Dexter Morgan adalah seorang ahli dalam memanipulasi kehidupan dan juga seorang kriminal tak terdeteksi. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, penilitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan sebagai berikut. Pertanyaan pertama adalah tentang karakter dari Dexter Morgan, dan yang kedua adalah tentang bagaimana Dexter Morgan menyembunyikan identitas dirinya yang sebenarnya di kehidupan sosial. Dengan menggunakan teori dari Robert Hare yang bernama Psychopathy Checklist – Revised (PCL –R) dan Harvey M.Cleckley yang berjudul The Mask of Sanity. Hasil dari penilitian ini adalah Dexter Morgan mampu membuktikan bahwa ia sangat fit dengan 19 dari 20 kriteria PCL –R dari kedua faktor (Kepribadian dan Kebiasaan) seperti kepribadian yang mempesona, kebanggaan berlebihan terhadap diri sendiri, cepat bosan, pembohong, manipulatif, kurangnya perasaan menyesal, kosong, mempunyai masalah kebiasaan sejak dini, kebiasaan seksual yang acak, kurangnya tujuan realistis, bertindak tanpa berfikir, tidak bertanggung jawab, tidak bisa menanggung tanggung jawab terhadap diri sendiri, hubungan jangka pendek, dan lain sebagainya. Satu-satunya kriteria yang tidak dipenuhi Dexter Morgan adalah pembebasan dengan syarat tertentu, karena Dexter Morgan tidak pernah tertangkap oleh pihak berwajib, ia tidak perlu di bebaskan dengan syarat. Sedangkan jawaban dari pertanyaan kedua adalah bagaimana seorang psikopat atau sosiopat menguntit dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan senyuman palsu dan juga keahlian untuk memanipulasi kerabat atau teman-teman di kehidupan sosial.  Berdasarkan jawaban dari kedua pertanyaan, Dexter Morgan sangat dominan dengan sifat psikopat dalam dirinya sehingga ini membuat ia adalah psikopat berkemampuan tinggi, ia hebat memanipulasi dan juga pembunuh tak terdeteksi, ia adalah serigala dalam jubah domba. Kata kunci: Psikopat, Sosiopat, Psikologi, Menyembunyikan, Dexter Morgan.
RATIONALITY VALUE IN JOSTEIN GAARDER’S SOPHIE’S WORLD Rabbiyani, Sari; Kuncara, Singgih Daru; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.676

Abstract

Abstract The purpose of this study is to find the rationality value as seen in Sophie Amundsen’s character and to know how that rationality value defines her character. This study is categorized as a descriptive qualitative design. The source of data is taken from the Sophie’s World novel by Jostein Gaarder. This study used rationality theory from the rationalist such as Socrates, Plato, and Descartes, with the addition from Suwardi Endraswara and Ranjabar. The result of this research showed that the rationality values found in Sophie’s World novel are reasoning, doubting, and finding the agreement. The most appear rationality value is Sophie’s reasoning. When Sophie accept her lesson about philosophy, she shows her reasoning in case of receive her philosophical lesson. From her reasoning, Sophie’s character changed. Philosophy taught her about thinking rationally, logically, systematic, and critical. Thus, we can see that Sophie Amundsen is a dynamic character. From those three rationality values, Sophie Amundsen becomes thoughtful, skeptic, and has an understanding to others opinion that make her become wiser. Key words: rationality, philosophy, reasoning, doubting, agreement. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah menemukan nilai rasionalitas dalam novel Dunia Sophie, serta mengetahui bagaimana nilai rasionalitas tersebut mendefinisikan karakter Sophie Amundsen. Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif. Data-data dalam penelitian ini diperoleh dari novel Sophie’s World karya Jostein Gaarder. Penelitian ini menggunakan teori rasionalitas yang diambil dari beberapa filsuf rasionalis seperti Socrates, Plato, dan Descartes, dengan beberapa tambahan dari Suwardi Endraswara dan Ranjabar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan nilai rasionalitas yang ditemukan dalam novel Sophie’s World adalah penalaran, keraguan, dan persetujuan. Nilai rasionalitas yang dominan adalah penalaran yang dilakukan oleh Sophie. Ketika Sophie menerima pelajaran tentang filsafat, ia menunjukkan proses penalaran dalam hal menyerap pelajarannya tersebut. Dari penalaran yang sering dilakukannya, karakter Sophie mengalami perubahan. Filsafat menjadikan Sophie dapat berpikir rasional, logis, sistematis, dan kritis, sehingga dapat  kita lihat bahwa Sophie Amundsen adalah karakter yang dinamis. Dari tiga nilai rasionalitas tersebut, Sophie Amundsen menjadi seorang yang penuh pemikiran, skeptis, dan dapat mengerti pendapat orang lain sehingga menjadikannya seorang karakter yang bijak. Kata kunci: rasionalitas, filsafat, penalaran, keraguan, persetujuan