Articles

Found 33 Documents
Search

Observation of Wild Seaweed Species in Labuhanbua Waters, Indonesia: a preliminary assessment for aquaculture development Erlania, Erlania; Radiarta, I Nyoman
Journal Omni-Akuatika Vol 13, No 1 (2017): Omni-Akuatika May
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (994.315 KB) | DOI: 10.20884/1.oa.2017.13.1.172

Abstract

Seaweed industry has been growing up and is supplied by either wild or cultivated seaweed crops. This study was aimed to present relevant information regarding ecological availability of wild seaweed in Labuhanbua coastal waters, Sumbawa Regency, West Nusa Tenggara and potential use of important species as candidate species for aquaculture. 46 sampling stations were determined along line transects perpendicular to coastal line; and seaweeds sampling were conducted during low tide by using 1 x 1 m2 quadrat transect. Field data consist of in-situ parameter including number of seaweed species and coverage area of each species; and ex-situ parameters consist of carbohydrate, protein, total C, total N, and total P content of seaweeds. The results showed that 33 species were found and three species has the most widely distribu tion, i.e. Padina sp., Dictyota dichotoma, and Gracilaria salicornia. Turbinaria, Dictyota, Padina, Stoechospermum, Hydroclathrus, Halimeda, and Chaetomorpha might be some important species that could be develop as aquaculture species candidates among other uncultivated species that were found along this study location. They have potencies as human food, livestock feed, neutraceuicals, cosmetics, pulp, textile, biofuel and any other industries; but conversely, they were found in lower density at Labuhanbua coastal waters. These species should be develop through aquaculture technology, involve genetic improvement and possibly genetic engineering. Commercial scale cultivation of those important seaweed species will contribute to industrial needs and prevent decreasing of wild seaweed availability in natural ecosystem.
MANAGEMENT OF SUSTAINABLE SEAWEED (Kappaphycus alvarezii) AQUACULTURE IN THE CONTEXT OF CLIMATE CHANGE MITIGATION Erlania, Erlania; Radiarta, I Nyoman
Indonesian Aquaculture Journal Vol 9, No 1 (2014): (June 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.204 KB) | DOI: 10.15578/iaj.9.1.2014.65-72

Abstract

Seaweed is an important aquaculture commodity that could contribute on climate change mitigation, related to its ability on absorbing CO2, as one of the green house gases, through photosynthesis. This study aimed to analyze seaweed potencies on carbon sequestration in the context of climate change mitigation while still resulting optimum production as primary purpose and to analyze the carrying capacity of Gerupuk Bay in order to manage sustainability of seaweed aquaculture. Seaweed, (Kappaphycus alvarezii) was cultivated with long-line system in Gerupuk Bay, West Nusa Tenggara, during five months for three cultivation cycles. Samplings were conducted at days-15, 30, and 45 with CO2 absorption rates as main parameters. Water carrying capacity was calculated to determine the ability of Gerupuk Bay waters for supporting development of sustainable seaweed aquaculture. The results showed that absorption rates of CO2 by seaweed (K. alvarezii) were different at each sampling days of cultivation periods; the highest value was at 10-20 days of cultivation. CO2 absorption analysis resulted based on sampling days of cultivation period could be appl ied to formulate the strategies for management of sustainable seaweed aquaculture, with optimal production and positively contributed to the environment. However, waters carrying capacity should also be considered as major aspect in the application of seaweed cultivation management, thus it can run continuously without causing conflicts with other interests.
FREQUENT MONITORING OF WATER TEMPERATURE IN PEGAMETAN BAY, BALI: A PRELIMINARY ASSESSMENT TOWARDS MANAGEMENT OF MARINE AQUACULTURE DEVELOPMENT Radiarta, I Nyoman; Erlania, Erlania; Sugama, Ketut; Yudha, Hirmawan Tirta; Wada, Masaaki
Indonesian Aquaculture Journal Vol 9, No 2 (2014): (December 2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1126.007 KB) | DOI: 10.15578/iaj.9.2.2014.177-185

Abstract

Aquaculture currently share for nearly half of the world’s food fish consumption, and continue to be the fastest-growing animal food producing sector. The viability of aquaculture operation has greatly been affected by the characteristic of marine environment. Inventory and monitoring of marine environment are necessary and can be done through information technology implementation. Frequent monitoring of water temperature, for almost one year observation, at four aquaculture sites in Pegametan Bay and Research and Development Institute for Mariculture was investigated. Water temperature data were obtained by using logger and buoy systems. These data were contrasted against marine fish mortality. On the other hand, the suitability of species requirements with the thermal conditions was evaluated by comparing temperature range to the optimum and lethal temperature information available on marine fish species of aquaculture interest. This research could be beneficial for enhancing productivity of marine aquaculture operation in terms of possible impact of climate change. It was also possible to find the ideal temperature range for culturing fish species, taking into account the variability associated with large-scale phenomena.
PERBEDAAN SIKLUS TANAM BUDIDAYA RUMPUT LAUT, Kappaphycus alvarezii, TERHADAP VARIABILITAS TINGKAT SERAPAN KARBON Erlania, Erlania; Radiarta, I Nyoman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.235 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.1.2014.111-124

Abstract

Rumput laut merupakan komoditas penting kelautan dan perikanan. Komoditas ini selain berperan untuk peningkatan ekonomi masyarakat pesisir juga mempunyai fungsi sebagai penyerap karbon. Penelitian ini telah dilaksanakan untuk menganalisis pengaruh perbedaan waktu siklus tanam terhadap tingkat serapan karbon oleh rumput laut, Kappaphycus alvarezii, terkait fluktuasi kondisi lingkungan perairan. Rumput laut dibudidayakan dengan sistem long line di Perairan Teluk Gerupuk selama tiga siklus tanam pada bulan Juli-November 2012. Pengamatan dan analisis sampel rumput laut dilakukan pada hari ke-0, 15, 30, dan 45 untuk masing-masing siklus tanam, dengan parameter yang dianalisis adalah laju serapan karbon, laju pertumbuhan harian, dan produktivitas budidaya. Pengukuran parameter kualitas air dilakukan secara in situ untuk mengetahui fluktuasi kondisi perairan Teluk Gerupuk. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode statistik deskriptif dan inferensia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siklus tanam rumput laut yang berlangsung pada musim tanam berbeda memberikan pengaruh pada perbedaan pola serapan karbon oleh rumput laut hasil budidaya. Tingkat serapan karbon tertinggi dari tiap siklus diperoleh pada waktu yang sama yaitu pada periode awal budidaya, dengan nilai berturut-turut 33,13; 88,73; dan 18,16 ton C/ha/tahun. Budidaya yang berlangsung pada saat musim tanam produktif memberikan serapan karbon yang optimum, dan sebaliknya saat musim tanam kurang produktif serapan karbon yang dihasilkan juga minimum.
DISTRIBUSI RUMPUT LAUT ALAM BERDASARKAN KARAKTERISTIK DASAR PERAIRAN DI KAWASAN RATAAN TERUMBU LABUHANBUA, NUSA TENGGARA BARAT: STRATEGI PENGELOLAAN UNTUK PENGEMBANGAN BUDIDAYA Erlania, Erlania; Radiarta, I Nyoman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 3 (2015): (September 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (851.123 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.3.2015.449-457

Abstract

Keberadaan rumput laut di alam sangat dipengaruhi oleh karakteristik substrat dasar perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi dan hubungan tutupan rumput laut alam dengan komponen substrat dasar perairan di sepanjang pantai Labuhanbua, Kabupaten Sumbawa. Pengumpulan data lapangan pada 46 titik pengamatan menggunakan transek kuadrat ukuran 1 m x 1 m yang ditempatkan sepanjang transek garis yang disebar tegak lurus terhadap garis pantai dengan jarak masing-masing sekitar 50 m. Parameter yang diamati adalah: persentase tutupan dasar perairan yang terdiri atas tutupan pasir, karang hidup, pecahan karang, lumpur, batu karang, lamun, dan rumput laut (total tutupan 100%). Pengambilan sampel substrat dasar perairan juga dilakukan pada beberapa titik pengamatan untuk analisa parameter P2O5, N total, C organik total, dan tekstur substrat 3-fraksi: pasir, liat, dan debu. Analisis data dilakukan secara spasial dan statistik (analisis klaster dan deskriptif). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa jenis Rhodophyta banyak ditemukan di kawasan dengan substrat dominan berlumpur; Chlorophyta pada substrat dengan asosiasi antara pasir, karang hidup, dan batu karang; sedangkan Phaeophyta lebih banyak ditemukan pada substrat dasar yang didominasi oleh pecahan karang. Secara keseluruhan, jenis-jenis dari kelompok Phaeophyta memiliki tutupan yang relatif jauh lebih tinggi dibandingkan Chlorophyta dan Rhodophyta. Strategi pengelolaan sumberdaya rumput laut alam dan pengembangan budidayanya dapat diimplementasikan melalui beberapa langkah penting, yaitu pengaturan pemanenan rumput laut alam, identifikasi jenis prospektif dan potensinya, pengembangan teknologi budidaya adaptif dan spesifik, serta studi kesesuaian lahan untuk pengembangan budidaya rumput laut potensial.
PENGARUH IKLIM TERHADAP MUSIM TANAM RUMPUT LAUT, Kappaphycus alvarezii DI TELUK GERUPUK KABUPATEN LOMBOK TENGAH, NUSA TENGGARA BARAT Radiarta, I Nyoman; Erlania, Erlania; Rusman, Rusman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1391.945 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.3.2013.453-464

Abstract

Rumput laut merupakan komoditas unggulan perikanan budidaya di Indonesia.Pengembangan kawasan budidaya rumput laut dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan biofisik perairan dan kondisi iklim. Salah satu faktor pembatas dalam budidaya rumput laut adalah musim tanam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pola musim tanam rumput laut yang dihubungkan dengan perubahan iklim yang terjadi di Teluk Gerupuk Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Data primer yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data keragaan budidaya rumput laut dan pola musim tanam. Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi terkait meliputi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, NOAA Center for Weather and Climate Prediction, dan Dinas Kelautan dan Perikanan. Data yang terkumpul dianalisis dan dibahas secara deskriptif yang disertai dengan gambar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa produktivitas lahan pengembangan rumput laut sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim. Adanya perubahan iklim baik nasional maupun global (El Niño dan La Niña) sangat memengaruhi pola musim tanam rumput laut di Teluk Gerupuk. Musim tanam produktif umumnya terjadi pada bulan di mana curah hujan rendah (musim kemarau) dan suhu udara juga rendah (24oC-27oC).
PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN LELE DI KAWASAN MINAPOLITAN KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT: ASPEK KESESUAIAN LAHAN, IMPLEMENTASI PRODUKSI, DAN STRATEGI PENGEMBANGAN Radiarta, I Nyoman; Subagja, Jojo; Saputra, Adang; Erlania, Erlania
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1301.279 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.307-320

Abstract

Pengembangan kawasan minapolitan harus didukung dengan ketersediaan data dan informasi di antaranya potensi lahan serta dukungan strategi pengembangannya. Kabupaten Bogor telah ditetapkan sebagai satu wilayah pengembangan minapolitan ikan lele. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengembangan budidaya ikan lele di kawasan minapolitan Kabupaten Bogor dengan melihat aspek kesesuaian lahan, implementasi produksi, dan strategi pengembangannya. Survai lapangan telah dilakukan pada bulan Juni 2011. Kesesuaian lahan dianalisis secara spasial dengan mengadopsi 1-3 sistem skor, 1 adalah kurang sesuai, dan 3 adalah sangat sesuai. Dari total potensial lokasi pengembangan sebesar 28.519 ha menunjukkan kategori sangat sesuai dan sesuai ditemukan sebesar 20.854 ha. Lokasi ini tersebar merata di empat kecamatan minapolitan. Dengan memanfaatkan sekitar 20% dari luasan yang ada, produksi ikan lele (pembesaran) per siklusnya sekitar 625.620 ton dengan semi-intensif atau 93.317 ton dengan tradisional. Beberapa strategi pengembangan budidaya ikan lele yang terbagi menjadi tiga segmen perlu diperhatikan guna mendukung kesuksesan program minapolitan ini.
EKSISTENSI INDUSTRI TEPUNG IKAN DI KOTA TEGAL, JAWA TENGAH Erlania, Erlania
Media Akuakultur Vol 7, No 1 (2012): (Juni 2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.983 KB) | DOI: 10.15578/ma.7.1.2012.39-43

Abstract

Ketergantungan industri pakan ikan terhadap bahan baku impor, termasuk tepung ikan, menyebabkan harga pakan ikan menjadi mahal, sementara produksi tepung ikan lokal belum dapat memenuhi kebutuhan industri pakan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Kota Tegal, Jawa Tengah merupakan daerah penghasil ikan dengan hasil tangkapan yang masih berlimpah, sehingga di daerah ini industri tepung ikan cukup berkembang walaupun masih dengan teknologi yang sangat sederhana. Industri tepung ikan yang berkembang di kawasan pengolahan ikan di pelabuhan perikanan Kota Tegal ini menggunakan bahan baku yang berasal dari limbah industri fillet berupa kepala, tulang, kulit, sisik, jeroan, dan sisa sisa daging ikan yang menempel pada tulang. Kekurangan dari tepung ikan lokal, termasuk dari Tegal umumnya memiliki kualitas rendah dengan kandungan protein antara 37%-38% dan kadar abu yang cukup tinggi yaitu 42%-44% (tidak memenuhi standar mutu tepung ikan berdasarkan SNI 01-2715-1996/Rev. 92). Hal ini disebabkan karena rendahnya kualitas bahan baku yang digunakan. Agar produk tepung ikan lokal dapat bersaing dengan tepung ikan impor, maka perlu adanya upaya peningkatan kualitas tepung ikan melalui penggunaan bahan baku dan penerapan teknologi yang lebih baik, sehingga dapat mereduksi penggunaan tepung ikan impor khususnya dalam industri pakan ikan.
Kajian Dampak Lingkungan Global dari Kegiatan Keramba Jaring Apung melalui Life Cycle Assessment (LCA) Prihadi, Tri Heru; Erlania, Erlania; Astuti, Iswari Ratna
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1900.967 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.263-273

Abstract

Perubahan iklim global yang berlangsung saat ini memberikan pengaruh pada berbagai bidang, termasuk perikanan yang menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan perairan. Hal ini berdampak pada muncul dan menyebarnya berbagai penyakit ikan, menurunnya laju pertumbuhan organisme perairan, bahkan hingga menimbulkan kematian massal ikan. Namun hal ini belum sepenuhnya dapat diatasi oleh para ilmuwan tanah air, bahkan bisa dikatakan baru sebagian kecil saja. Penerapan Best Management Practice (BMP) dengan aplikasi Life Cycle Assessment (LCA) akan sangat berarti dalam upaya penerapan perikanan budidaya berkelanjutan, dengan model pengelolaan kuantitatif. Dalam hal ini metode LCA secara kuantitatif merupakan pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi kuantitas dan kategori dampak lingkungan akibat kegiatan budidaya keramba jaring apung (KJA) melalui LCA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan budidaya di KJA menimbulkan dampak yang signifikan terhadap lingkungan perairan. Dari berbagai faktor yang berperan dalam kegiatan budidaya KJA, pakan ikan merupakan faktor yang paling dominan dalam menghasilkan dampak lingkungan global (di atas 70%), berupa pemanasan global, penurunan jumlah sumberdaya abiotik, eutrofikasi, penipisan lapisan ozon, toksisitas pada manusia, dan penurunan jumlah keanekaragaman hayati. Dari faktor pakan tersebut, unsur yang paling berpengaruh dalam menghasilkan dampak lingkungan adalah soybean Brazil dan winter wheat, sehingga perlu dicari alternatif bahan untuk mensubstitusi kedua unsur tersebut. Demikian juga faktor-faktor lainnya (seperti: polystyrene foams, drum plastik, bambu, jaring, besi, skala budidaya, dan lain-lain) mempunyai peranan terhadap dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan perairan.Global climate change has been affecting many sectors, including fisheries causing aquatic environment degradation such as fish disease outbreaks, decreasing growth rate of fish and other aquatic organisms, and further, may cause fish mass mortality. Recently these conditions have not fully solved by Indonesian scientists. Application of Best Management Practice (BMP) with Life Cycle Assessment (LCA) using quantitative model is the best way for implementing a Sustainable Aquaculture. This case was the first attempt of using the quantitative LCA in Indonesia. This research was conducted to quantify and evaluate environmental aspects that were affected by floating net cage (KJA). The result showed that fish culture in KJA contributed significant impacts to the aquatic environment. From many factors of KJA, feed was the most dominant factor that caused the global environmental impact (above 70%), in form of global warming potential, abiotic depletion, eutrophycation, ozone depletion potential, human toxicity, and biodiversity depletion. Feed consist of many substances. Soybean Brazil and winter wheat were the major substances that brought out the most environmental impact. Thus, it is important to find alternative materials to substitute these substances. Other factors of KJA (plastic drums, polystyrene foam, bamboo, steel, net, farming scale, etc.) also affected the quantity and kind of impacts to aquatic environment.
PENYIMPANAN ROTIFERA INSTAN (Brachionus rotundiformis) PADA SUHU YANG BERBEDA DENGAN PEMBERIAN PAKAN MIKROALGA KONSENTRAT Erlania, Erlania; Widjaja, Fifi; Adiwilaga, Enan Mulyana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.524 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.2.2010.287-297

Abstract

Keberhasilan kegiatan budidaya perikanan harus ditunjang dengan ketersediaan benih yang berkesinambungan. Oleh karena itu, diperlukan juga ketersediaan pakan alami larva berupa rotifera (Brachionus rotundiformis). Desain percobaan berupa rancangan faktorial dengan dua faktor dan lima ulangan diaplikasikan dalam penelitian ini. Sebagai perlakuan berupa suhu ruang penyimpanan (suhu kamar, suhu ruang AC, dan suhu refrigerator/lemari es) dan pakan mikroalga konsentrat (monospesies dan multispesies). Bakteri probiotik juga digunakan sebagai pengontrol kualitas air. Spesies mikroalga yang digunakan adalah Nannochloropsis sp., Dunaliella sp., Isochrysis sp., dan Pavlova sp. Parameter yang diukur adalah kelimpahan rotifera dan parameter kualitas air media kultur (pH, salinitas, DO, dan NH3). Analisis data terdiri atas analisis regresi, analisis ragam, dan uji keparalelan. Hasil pengukuran parameter kualitas air selama penyimpanan menunjukkan kondisi media yang relatif stabil dan merupakan kisaran optimum bagi pertumbuhan B. rotundiformis. Kelimpahan maksimum tertinggi dari B. rotundiformis baik pada perlakuan pakan monospesies maupun multispesies alga adalah pada suhu kamar. Dari interaksi kedua perlakuan, diperoleh kelimpahan akhir tertinggi pada suhu ruang AC–pakan multispesies. Hal ini menunjukkan bahwa rotifera dapat disimpan lebih lama pada suhu ruang AC dengan pemberian pakan multispesies alga.The success of any aquaculture practices should be supported by sustainable supply of fish fry. Therefore, the availability of rotifers (Brachionus rotundiformis) as natural feed for fish larvae is required. The research was arranged in factorial design with two treatments and five replications. Treatments consisted of different room storage temperatures (refrigerator, room temperature, and room with air conditioner/AC) and microalgae concentrate added as rotifer feed (monospecies and multispecies algae). Probiotic bacteria was used to control water quality. Mikroalgae species consisted of Nannochloropsis sp., Dunaliella sp., Isochrysis sp., and Pavlova sp. Parameters measured were rotifer density and water quality of rotifer media (pH, salinity, DO, and NH3). Data analysis included regression analysis, analysis of varians and parallel testing. The results of water quality parameters during rotifer storage showed that media conditions were relatively stable and optimal for B. rotundiformis growth. The result of treatments interaction showed that the highest maximum density of rotifer at the end of the research was achieved by rotifer stored in air conditioned room fed with multispecies algae. This showed that rotifers can be stored longer in room storage with AC and fed by multispecies algae.