Sartono Marpaung, Sartono
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

METODE DUAL KANAL UNTUK ESTIMASI KEDALAMAN DI PERAIRAN DANGKAL MENGGUNAKAN DATA SPOT 6 STUDI KASUS : TELUK LAMPUNG (DUAL BAND METHOD FOR BATHYMETRY ESTIMATION IN SHALLOW WATERS DEPTH USING SPOT 6 DATA CASE STUDY: LAMPUNG BAY) Arief, Muchlisin; Adawiah, Syifa Wismayati; Parwati, Ety; Marpaung, Sartono
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 14 No. 1 Juni 2017
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1004.554 KB)

Abstract

Depth data can be used to produce seabed profile, oceanography, biology, and sea level rise. Remote sensing technology can be used to estimate the depth of shallow marine waters characterized by the ability of light to penetrate water bodies. One image that can estimate the depth is SPOT 6 which has three visible canals and one NIR channel with 6 meter spatial resolution. This study used SPOT 6 image on March 22, 2015. The image was first being  dark pixel atmospheric corrected by making 30 polygons. The originality of this method was to build a correlation between the dark pixel value of red and green channels with the depth of the field measurement results, made on June 3 to 9, 2015. The algorithm  derived experimentally consisted of: thresholding which served to separate the land by the sea and the correlation function. The correlation function was obtained: first correlating the observation value with each band, then calculating the difference of minimum pixel darkness value and minimum for red and green channel was 0.056 and 0.0692. The model was then constructed by using the comparison proportions, so that the linear equations were obtained in two channels: Z (X1, X2) = 406.26 X1 + 327.21 X2 - 28.48. Depth estimation results were for a 5-meter scale, the most efficient estimation with the smallest error relative mean occured in shallow water depth from 20 to 25 meters, while the result of   10 meters scale from 20 to 30 meters and the estimated depth hadsimilar patterns or could be said close to reality. This method was able to detect sea depths up to 25 meters and had a small RMS error of 0.653246 meters. Thus the two-channel method coukd offer a fast, flexible, efficient, and economical solution to map topography of the ocean floor.AbstrakData kedalaman dapat digunakan untuk menghasilkan profil dasar laut, oseanografi, biologi, dan kenaikan muka air laut. Teknologi penginderaan jauh dapat digunakan untuk mengestimasi kedalaman perairan laut dangkal yang ditandai dengan kemampuan cahaya untuk menembus badan air. Salah satu citra yang mampu mengestimasi kedalaman tersebut adalah SPOT 6 yang memiliki tiga kanal visible dan satu kanal NIR dengan resolusi spasial 6 meter. Pada penelitian ini, Citra SPOT-6 yang digunakan adalah 22 Maret 2015. Citra terlebih dahulu dilakukan koreksi atmosferik dark pixel dengan membuat 30 poligon. Originalitas dari metode ini adalah membangun suatu korelasi antara nilai dark pixel kanal merah dan hijau dengan nilai kedalaman hasil pengukuran lapangan yang dilakukan pada 3 sampai dengan 9 Juni 2015. Algoritma diturunkan secara eksperimen yang terdiri dari thresholding yang berfungsi untuk memisahkan daratan dengan lautan dan fungsi korelasi. Fungsi korelasi diperoleh pertama-tama mengkorelasikan nilai pengamatan dengan masing-masing band, kemudian menghitung selisih nilai dark pixel maksimum dan minimum untuk kanal merah dan hijau yaitu 0,056 dan 0,0692. Selanjutnya, dibangun model dengan menggunakan dalil perbandingan sehingga diperoleh persamaan linier dalam dua kanal yaitu: Z(X1,X2) = 406,26 X1 + 327,21 X2 – 28,48. Hasil estimasi kedalaman, untuk skala 5 meter, estimasi yang paling efisien dengan Mean relatif error terkecil terjadi pada kedalaman perairan dangkal dari 20 sampai dengan 25 meter, sedangkan untuk skala 10 meter dari 20 sampai dengan 30 meter dan juga hasil estimasi kedalaman yang diperoleh mempunyai pola kemiripan atau dapat dikatakan mendekati kenyataan. Metode ini mampu mendeteksi kedalaman laut hingga 25 meter dan mempunyai RMS error yang kecil yaitu 0,653246 meter. Dengan demikian, metode dua kanal ini dapat menawarkan solusi cepat, fleksibel, efisien, dan ekonomis untuk memetakan topografi dasar laut.
METODE PENENTUAN TITIK KOORDINAT ZONA POTENSI PENANGKAPAN IKAN PELAGIS BERDASARKAN HASIL DETEKSI TERMAL FRONT SUHU PERMUKAAN LAUT Hamzah, Rossi; Marpaung, Sartono; Prayogo, Teguh
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 13 No. 2 Desember 2016
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (989.184 KB)

Abstract

Information points coordinate of potential fishing zones (PFZ) is required by user that to be more effective in conducting fishing operation. The results of thermal front detection using single image edge detection (SIED) asshape contour lines. This research aims to determine points coordinate for potential fishing zone based on detection of thermal fronts sea surface temperatures.To determine point coordinate performed segmentation on detection result according to size fishnet grid. Contour line contained in each grid is a polygon shape.Centroid of each polygon is point coordinate of PFZ. The result of sea surface temperature data processing from Terra/Aqua MODIS and Suomi NPP VIIRS satellitesindicates that method of determination the centroid of polygon is very effective in determining the point coordinate of PFZ. Using that method the processing stages of satellite data to be faster, more efficient and practical due to the information of PFZ is already as points coordinate.Abstrak Informasi titik koordinat zona potensi penangkapan ikan (ZPPI) sangat diperlukan oleh pengguna agar lebih efektif dalam melakukan operasi penangkapan ikan. Hasil deteksi termal front menggunakan metode Single Image Edge Detection (SIED) dalam bentuk garis kontur. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan titik koordinat ZPPI berdasarkan hasil deteksi termal front suhu permukaan laut. Untuk menentukan titik koordinat dilakukan segmentasi hasil deteksi sesuai ukuran fishnet grid. Garis kontur yang terdapat dalam setiap grid merupakan bentuk poligon. Pusat geometri dari setiap poligon merupakan titik koordinat ZPPI. Hasil pengolahan data suhu permukaan laut dari satelit Terra/Aqua MODIS dan Suomi NPP VIIRS menunjukkan bahwa metode penentuan pusat geometri poligon sangat efektif dalam menentukan titik koordinat ZPPI. Dengan menggunakan metode tersebut tahap pengolahan data satelit menjadi lebih cepat, efisien dan lebih praktis karena informasi ZPPI sudah dalam bentuk titik koordinat.
ANALYSIS OF SEA SURFACE HEIGHT ANOMALY CHARACTERISTICS BASED ON SATELLITE ALTIMETRY DATA (CASE STUDY: SEAS SURROUNDING JAVA ISLAND) Marpaung, Sartono; Harsanugraha, Wawan K.
International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences (IJReSES) Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space of Indonesia (LAPAN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1367.718 KB)

Abstract

Sea surface height anomaly is a oceanographic parameter that has spatial and temporal variability. This paper aims to determine the characters of sea surface height anomaly in the south and north seas of Java Island. To find these characters, a descriptive analysis of monthly anomaly data is performed spatially, zonally and temporally. Based on satellite altimetry data from 1993 to 2010, the analysis shows that the average of sea surface height anomaly varies, ranging from -15 cm to 15 cm. Spatially and zonally, there are three patterns that can be concidered as sea surface height anomaly characteristics: anomaly is higher in coastal areas than in open seas, anomaly is lower in coastal areas than in open seas and anomaly in coastal area is almost the same as in open seas. The first and second patterns occur in the south and north seas of Java Island. The third pattern occurs simultaneously in south and north seas of Java Island. Characteristics of temporal anomaly have a sinusoidal pattern in south and north seas of Java Island.
ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI UJUNG PANGKAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE EDGE DETECTION DAN NORMALIZED DIFFERENCE WATER INDEX (UJUNG PANGKAH SHORELINE CHANGE ANALYSIS USING EDGE DETECTION METHOD AND NORMALIZED DIFFERENCE WATER INDEX) Anggraini, Nanin; Marpaung, Sartono; Hartuti, Maryani
Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Vol. 14 No. 2 Desember 2017
Publisher : Indonesian National Institute of Aeronautics and Space (LAPAN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1711.126 KB)

Abstract

Besides to the effects from tidal, coastline position changed due to abrasion and accretion. Therefore, it is necessary to detect the position of coastline, one of them by utilizing Landsat data by using edge detection and NDWI filter. Edge detection is a mathematical method that aims to identify a point on a digital image based on the brightness level. Edge detection is used because it is very good to present the appearance of a very varied object on the image so it can be distinguished easily. NDWI is able to separate land and water clearly, making it easier for coastline analysis. This study aimed to detect coastline changes in Ujung Pangkah of Gresik Regency caused by accretion and abrasion using edge detection and NDWI filters on temporal Landsat data (2000 and 2015). The data used in this research was Landsat 7 in 2000 and Landsat 8 in 2015. The results showed that the coastline of Ujung Pangkah Gresik underwent many changes due to accretion and abrasion. The accretion area reached 11,35 km2 and abrasion 5,19 km2 within 15 year period. Abstrak Selain akibat adanya pasang surut, posisi garis pantai berubah akibat adanya abrasi dan akresi. Oleh karena itu diperlukan adanya deteksi posisi garis pantai, salah satunya dengan memanfaatkan data Landsat dengan menggunakan filter edge detection dan NDWI. Edge detection adalah suatu metode matematika yang bertujuan untuk mengidentifikasi suatu titik pada gambar digital berdasarkan tingkat kecerahan. Filter edge detection digunakan karena sangat baik untuk menyajikan penampakan obyek yang sangat bervariasi pada citra sehingga dapat dibedakan dengan mudah. NDWI mampu memisahkan antara daratan dan perairan dengan jelas sehingga memudahkan untuk analisis garis pantai. Penelitian ini bertujuan untuk deteksi perubahan garis pantai di Ujung Pangkah Kabupaten Gresik yang disebabkan oleh adanya akresi dan abrasi dengan menggunakan filter edge detection dan NDWI pada data Landsat temporal (tahun 2000 dan 2015). Data yang digunakan pada penelitian ini adalah citra Landsat 7 tahun 2000 dan Landsat 8 tahun 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa garis pantai di Ujung Pangkah Gresik banyak mengalami perubahan akibat adanya akresi dan abrasi. Luas akresi mencapai 11,35 km2 dan abrasi 5,19 km2 dalam periode waktu 15 tahun.
STUDY ON POTENTIAL FISHING ZONES (PFZ) INFORMATION BASED ON S-NPP VIIRS AND HIMAWARI-8 SATELLITES DATA Marpaung, Sartono; Prayogo, Teguh; Setiawan, Kuncoro Teguh; Roswintiarti, Orbita
International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences (IJReSES) Vol 15, No 1 (2018)
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space of Indonesia (LAPAN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1341.416 KB)

Abstract

Sea surface temperature (SST) data from S-NPP VIIRS satellite has different spatial resolution with SST data from Himawari-8 satellite. In this study comparative analysis of potential fishing zones information from both satellites has been conducted. The analysis was conducted on three project areas (PA 7, PA 13, PA 19) as a representation Indonesian territorial waters. The data used were daily  for both satellites with a period  time from August 2016 to December 2016. The method used was Single Image Detection (SIED) to detect thermal fronts. Method of mass center point for determining potential fishing zones coordinate point from result thermal front detection. Furthermore, an analysis of overlapping was done to compare the coordinate point information from both satellites. Based on data analysis that had been done, the result showed that potential fishing zones coordinate points of Himawari-8 satellite was mostly far from potential fishing zones coordinate point of S-NPP VIIRS. The coordinate points whose positionswere close together or nearly same from both satellites was only about 20 %. Differences in potential fishing zones coordinate positions occur due to the effect of different spatial resolutions of both satellite data and the size of the front thermal events that had high variability. The ideal potential fishing zones coordinate points information was probably a combination of the potential fishing zones coordinate points of S-NPP VIIRS and Himawari-8 by making two adjacent coordinate points to be a single coordinate point. Field validation testing was required to prove the accuracy of the coordinate point.
ANALISIS KEJADIAN CURAH HUJAN EKSTREM DI PULAU SUMATERA BERBASIS DATA SATELIT TRMM DAN OBSERVASI PERMUKAAN [ANALYSIS OF EXTREME RAINFALL EVENTS OVER THE SUMATERA ISLAND BASED ON TRMM SATELLITE DATA AND SURFACE OBSERVATION] Marpaung, Sartono; Satiadi, Didi; Harjana, Teguh
Jurnal Sains Dirgantara Vol. 9 No.2 Juni 2012
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1538.742 KB)

Abstract

Kejadian curah hujan ekstrem dapat memberikan dampak yang merugikan bagi manusia dan lingkungan. Seperti terjadinya banjir dan tanah longsor yang dapat mengakibatkan kerugian harta benda dan korban jiwa. Oleh sebab itu dalam makalah ini dilakukan suatu kajian untuk menganalisis kejadian curah hujan ekstrem. Metode yang digunakan untuk menentukan nilai ambang batas curah hujan ekstrem adalah fungsi distribusi kumulatif. Hasil analisis data curah hujan dari satelit TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) menunjukkan, nilai ambang batas untuk Pulau Sumatera dan sekitarnya antara 60 sampai 130 mm/hari. Ambang batas di sekitar ekuator lebih tinggi dibanding bagian utara dan selatan, akibat pengaruh dari faktor ekuinoks yang lebih kuat dibanding monsun. Kejadian curah hujan ekstrem dengan jumlah hari kejadian 1 sampai 2 hari pertahun dominan terjadi. Tahun 1998/1999 terjadi peningkatan jumlah hari kejadian curah hujan ekstrem di laut sebelah barat dan timur Pulau Sumatera, diduga akibat pengaruh faktor global (La Niña dan Dipole Mode). Total jumlah hari kejadian curah hujan ekstrem yang dominan terjadi dalam 14 tahun adalah 20 sampai 30 hari. Kejadian dengan jumlah hari tertinggi terjadi di perairan sebelah barat Pulau Sumatera, diduga akibat pengaruh dari Samudera Hindia sebagai sumber uap air. Hasil perbandingan dengan curah hujan observasi permukaan menunjukkan nilai ambang batas dan jumlah kejadian hujan ekstrem lebih tinggi dibanding hasil dari satelit TRMM. Kata kunci: Ekstrem, Curah hujan, Ambang batas, Distribusi kumulatif