Articles

Found 8 Documents
Search

PENYULUHAN TENTANG MENANGGULANGI UJARAN KEBENCIAN DI SMA SANTA THERESIA JAKARTA Oktavianti, Roswita; Utami, Lusia Savitri Setyo
E-ISSN 2580-3786
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.441 KB)

Abstract

Abstract. Hate speech messages in social media and instant messaging services that are increasingly widespread have the potential to threaten the unity of the nation. Hate speech messages not only seek to instigate and influence a person but also disunite the people of Indonesia. The younger generation as the active users of social media and instant messaging is considered vulnerable to the exposure of hate speech messages. Therefore, the community service team of Faculty of Communication Tarumanagara University conducted counseling to Santa Theresia High School students in Central Jakarta about the prevention of hate speech. It aims to provide understanding to high school students about hate speech so that they can identify messages with hate speech nuances and know how to encounter them. After the counseling, the results show that the digital generation as the high social media and instant messaging users with hate speech messages are able to identify the hate speech messages that they receive in both social media and instant messaging services. They can also consider that hate speech messages are not a form of freedom of speech.Key words: hate speech, social media, instant messaging Abstrak. Pesan ujaran kebencian (hate speech) di media sosial dan layanan pesan instan yang semakin marak berpotensi mengancam persatuan kesatuan bangsa. Ujaran kebencian tidak hanya berupaya menghasut dan mempengaruhi seseorang tetapi juga memecah belah masyarakat Indonesia. Generasi muda sebagai pengguna aktif media sosial dan pesan instan rentan dengan terpaan pesan ujaran kebencian. Atas dasar itulah, tim pengabdian kepada masyarakat Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara melakukan penyuluhan kepada siswa SMA Santa Theresia Jakarta Barat tentang penanggulangan ujaran kebencian. Tujuannya adalah memberikan pemahaman kepada siswa SMA tentang ujaran kebencian, sehingga mampu mengidentifikasi pesan-pesan bernuansa ujaran kebencian dan cara menanggulanginya. Setelah penyuluhan, survei menunjukkan generasi muda sebagai generasi digital dengan kondisi tingginya penggunaan media sosial dan pesan instan, mampu mengidentifikasi pesan-pesan ujaran kebencian yang mereka terima baik di media sosial maupun layanan pesan instan. Generasi ini juga menilai bahwa ujaran kebencian bukan bentuk dari kebebasan berbicara.Kata Kunci: Ujaran kebencian, media sosial, pesan instan
Penggunaan Media Sosial Sesuai Nilai Luhur Budaya di Kalangan Siswa SMA Oktavianti, Roswita; Loisa, Riris
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement) Vol 3, No 1 (2017): September
Publisher : Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The youth as a generation of social media users holds great control over the dissemination of information in groups and families. Social media like Facebook, Twitter, Instagram, Path, becomes a medium of expression and self-existence, and the spread of news and information. In this case, social media becomes a means of spreading the noble values of the culture that is acculturated in ones self and their surrounding environment. However, the younger generation is less aware of the role of social media as a means of spreading the noble values of culture. Information and news in social media are accepted immediately without verifying the truth. Social media is more dominantly used as a means of self-expression, without a positive contribution to other social media users, or, in this case, followers. Therefore, the younger generation needs to be briefed on the use of social media as well as the importance of using social media as a medium that communicates the noble values of culture. The briefing was conducted at SMA Santo Kristoforus 1, West Jakarta. By using survey method to know the effectiveness of the briefing, the younger generation understanding of the use of social media before and after the briefing. The outcome of this activity, all students are able to show which information that should or should not be disseminated, able to recognize or identify false news (hoaxes), false news information, and the steps taken when receiving the false news.
Penggunaan Media Sosial Sesuai Nilai Luhur Budaya di Kalangan Siswa SMA Oktavianti, Roswita; Loisa, Riris
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement) Vol 3, No 1 (2017): September
Publisher : Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1021.698 KB)

Abstract

The youth as a generation of social media users holds great control over the dissemination of information in groups and families. Social media like Facebook, Twitter, Instagram, Path, becomes a medium of expression and self-existence, and the spread of news and information. In this case, social media becomes a means of spreading the noble values of the culture that is acculturated in ones self and their surrounding environment. However, the younger generation is less aware of the role of social media as a means of spreading the noble values of culture. Information and news in social media are accepted immediately without verifying the truth. Social media is more dominantly used as a means of self-expression, without a positive contribution to other social media users, or, in this case, followers. Therefore, the younger generation needs to be briefed on the use of social media as well as the importance of using social media as a medium that communicates the noble values of culture. The briefing was conducted at SMA Santo Kristoforus 1, West Jakarta. By using survey method to know the effectiveness of the briefing, the younger generation understanding of the use of social media before and after the briefing. The outcome of this activity, all students are able to show which information that should or should not be disseminated, able to recognize or identify false news (hoaxes), false news information, and the steps taken when receiving the false news.
Komunikasi Persuasif Public Speaker Pada Audiens Berbeda Negara (Studi Fenomenologi Master Of Ceremony Pada Audiens China dan Amerika) Dion, Calvin; Oktavianti, Roswita
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.862 KB)

Abstract

Seorang public speaker harus menentukan komunikasi persuasif seperti apa yang akan digunakan pada audiens yang berbeda negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana komunikasi persuasif public speaker pada audiens berbeda negara. Penelitian ini menggunakan konsep komunikasi persuasif yang dalam penelitian ini membahas tentang tiga faktor yang perlu diperhatikan seorang komunikator yaitu ethos, pathos, dan logos. Peneliti melakukan studi fenomenologi terhadap Master Of Ceremony pada audiens China dan Amerika. Peneliti memperoleh data dengan melakukan observasi, dokumentasi, studi pustaka dan wawancara dengan tiga orang Master Of Ceremony sebagai informan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, seorang komunikator dalam melakukan komunikasi persuasif pada audiens yang berbeda negara terutama audiens dari negara China dan Amerika harus memperhatikan tiga unsur yang penting yaitu ethos, pathos dan  logos seperti penampilan, persiapan, daya tarik emosional, logika, dan pesan yang masuk akal.
Pengaruh Terpaan Pesan Portal Berita Media Online dan Opinion Leaders Terhadap Perubahan Aktivitas Bermedia Sosial Oktavia, Cathrine; Loisa, Riris; Oktavianti, Roswita
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berangkat dari keprihatinan peneliti terkait berita grup pedofil “Loly Candy” di Facebook. Berita ini turut disebarkan melalui media online dan Facebook. Berita grup pedofil yang diterima melalui Facebook, menunjukkan adanya peranan opinion leaders dalam menyebarkan berita ini. Hal ini sesuai dengan konsep Teori Komunikasi Dua Tahap yang menyatakan penyebaran informasi dari media kepada khalayak terjadi secara bertahap dengan bantuan opinion leaders. Dalam hal ini, opinion leaders merupakan tangan kedua dalam menyebarkan informasi dari media kepada khalayak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan terpaan pesan portal berita media online, opinion leaders, maupun gabungan keduanya terhadap perubahan aktivitas bermedia sosial orang tua, sebagai pihak yang memiliki anak di bawah usia 12 tahun dan menggunakan Facebook. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 100 responden. Dari hasil pengolahan data diketahui bahwa tiga variabel independen dalam penelitian ini memberi pengaruh yang sangat kecil terhadap variabel dependen. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari terpaan pesan portal berita media online, atau opinion leaders, atau gabungan keduanya terkait pemberitaan kasus grup pedofil “Loly Candy” di Facebook, terhadap perubahan aktivitas bermedia sosial orang tua. 
Gaya Komunikasi Pimpinan di PD. Mie Sin Sen Rosana, Mia; Moein, Anoesyirwan; Oktavianti, Roswita
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat terlepas dari makhluk lainnya. Manusia membutuhkan interaksi untuk menunjang kebutuhan hidupnya, baik verbal, maupun non verbal. Kesuksesan sebuah perusahaan sangat bergantung pada komunikasi yang lancar antara atasan dan bawahan. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui gaya komunikasi pimpinan di perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Subjek penelitiannya adalah sumber daya manusia (karyawan) di PD. Mie Sin Sen. Penelitian ini meyimpulkan bahwa pimpinan di PD. Mie Sin Sen memiliki gaya komunikasi tim dan santai.
Self-Disclosure dalam Komunikasi Antarpribadi pada Pasangan Suami Istri Beda Agama Martin, Elysabath; Loisa, Riris; Oktavianti, Roswita
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pernikahan beda agama bukanlah hal yang baru di Indonesia. Namun fenomena ini masih menjadi isu kontroversial setiap kali diperbincangkan. Pernikahan beda agama merupakan salah satu bentuk hubungan antarpribadi yang kompleks, baik sebelum dan sesudah pernikahan terjadi, khususnya dalam hal penyingkapan diri (self disclosure). Maksud dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana self-disclosure yang dilakukan oleh pasangan suami-istri beda agama dengan pasangannya. Penelitian ini didasari teori komunikasi antarpribadi, self-disclosure dan Jendela Johari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam pernikahan beda agama, komunikasi pada pasangan suami-istri beda agama tetap terbuka satu sama lain. Hal ini menandakan terjadinya keterbukaan pada open self mengenai hal-hal umum yang memang sudah seharusnya diketahui oleh diri sendiri dan pasangan. Perbedaan agama dalam hubungan rumah tangga menyebabkan komunikasi sedikit terhambat karena tidak ingin menimbulkan konflik. Ini memperlihatkan bahwa terjadi hidden self pada komunikasi pasangan suami-istri beda agama terkait keinginan orang tua yang menginginkan anaknya dapat menganut agama yang sama. Kendati demikian, pasangan suami-istri beda agama cenderung memiliki rasa toleransi yang lebih tinggi terhadap perbedaan.
PERUBAHAN BUDAYA TINGGI BERITA INVESTIGASI MENJADI BUDAYA POPULER Oktavianti, Roswita
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.767 KB)

Abstract

Karakteristik media massa sebagai sumber informasi terus berubah mengikuti dinamika regulasi dan perkembangan industri media. Perubahan ini berdampak tidak hanya pada program hiburan tetapi juga program siaran berita. Sebagai konten dengan budaya tinggi (high culture), program berita investigasi seharusnya diproduksi melalui sejumlah tahapan investigatif dengan konten dan kualitas yang berbeda dengan berita reguler. Pada kenyataannya, pekerja media dituntut bekerja secara instan mengikuti logika industri media. Berita investigasi berubah dari semula memiliki budaya tinggi menjadi budaya populer (popular culture). Dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus maka penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana pekerja media menciptakan berita investigasi dari budaya tinggi menjadi budaya populer. Teknik pengumpulan data primer berupa wawancara dilakukan kepada informan, pekerja media di salah satu program investigatif televisi swasta. Penelitian menemukan bahwa industri budaya pada berita investigasi dilakukan pada tidak hanya pada konten tetapi juga sumber daya manusia di dalamnya. Berita investigasi diproduksi oleh jurnalis yang sebagian besar tanpa kompetensi investigasi. Berita investigasi berpatokan pada besarnya kuantitas berita yang dihasilkan, durasi produksi yang singkat, efisiensi anggaran, selera pasar, serta kepentingan pemilik dan pengiklan. Perubahan program berita investigasi dari budaya tinggi ke budaya populer ini pada akhirnya berdampak pada kualitas berita investigasi.