Articles

Found 4 Documents
Search

Survei Odontoglossum ringspot virus (ORSV) yang Menginfeksi Anggrek Alam Tropis di Indonesia Mahfut, Mahfut; Daryono, Budi Setiadi; Joko, Tri; Somowiyarjo, Susamto
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 20, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.16617

Abstract

Natural orchids are one of the important ornamental plants that were cultivated in tropical countries, including Indonesia. Virus infections has been important limiting factor in orchids cultivation because it decreases the orchids quality. Odontoglossum ringspot virus (ORSV) is one of the most reported virus infecting orchids which spread widely in the world. During 2010–2014 surveys of viral infections were conducted in Indonesia. The orchids were found infected by virus, showed symptoms of mosaic, mottle, chlorotic, necrotic, streak, wilting leaf, and ringspot on leaf surface. Detection with serological test DAS-ELISA showed only 11 from 125 samples were infected by ORSV with total incidence of 8,8%. Nine leaf samples of Phalaenopsis sp. were infected, respectively. Thus, it was concluded that Phalaenopsis is orchids genus which is the most abundantly and susceptibly infected by ORSV. The results proved that ORSV have entered and spread widely by infected orchids in orchids landscape (nursery), semi-natural forests (botanical gardens), and natural forest (national park) throughout Indonesia. This is the first report of ORSV infecting natural tropical orchids in Indonesia. INTISARI Anggrek alam merupakan salah satu kekayaan flora asli negara tropis, termasuk Indonesia. Keberadaan di habitat aslinya sudah sangat berkurang yang disebabkan kerusakan hutan dan adanya penyakit. Infeksi virus masih menjadi faktor pembatas terpenting dalam budidaya dan pengembangan potensi anggrek alam. Odontoglossum ringspot virus (ORSV) adalah salah satu jenis virus yang dilaporkan paling banyak menginfeksi anggrek serta memiliki penyebaran yang luas di dunia. Selama 2010-2014 telah dilakukan survei lapangan terhadap infeksi virus di Indonesia. Beberapa anggrek yang ditemukan terinfeksi oleh virus menunjukkan gejala berupa mosaik, belang, klorosis, nekrosis, streak, daun layu, dan bercak cincin pada permukaan daun. Deteksi dengan uji serologis DAS-ELISA menunjukkan bahwa 11 dari 125 sampel terinfeksi oleh ORSV dengan total kejadian 8,8%. Masing-masing sembilan dari total sampel daun terinfeksi merupakan Phalaenopsis sp. Hal ini menjelaskan bahwa Phalaenopsis adalah genus anggrek yang paling cocok dan rentan terhadap infeksi ORSV. Hasil penelitian survei kejadian infeksi Odontoglossum ringspot virus (ORSV) membuktikan bahwa virus ini telah masuk dan menyebar secara luas oleh anggrek-anggrek alam tropis yang terinfeksi di pertamanan anggrek (nurseri), hutan semi-alami (kebun raya), dan hutan alam (taman nasional) di seluruh wilayah Indonesia. Ini merupakan laporan pertama mengenai infeksi ORSV terhadap anggrek-anggrek alam tropis di Indonesia.
Deteksi Odontoglossum ringspot virus pada Anggrek Asli Koleksi Kebun Raya di Indonesia Mahfut, Mahfut; Daryono, Budi Setiadi; Somowiyarjo, Susamto
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.13.1.1

Abstract

Native orchid is one of Indonesian natural resources which play important role as parental materials in breeding program. Virus infection is one of the limiting factors in the cultivation of orchid. The purpose of this study was to detect Odontoglossum ringspot virus (ORSV) from native orchid. Symptomatic orchids were collected from 5 botanical gardens, i.e. Bogor, Cibodas, Purwodadi, Balikpapan, and Enrekang Botanical Gardens. Detection and identification was conducted by serological method using ORSV specific antisera, followed by RT-PCR and DNA sequencing. The serological test showed that 5 samples gave positive reaction against ORSV antiserum, i.e. Phalaenopsis amboinensis (KRB2) and Phalaenopsis amabilis (KRB12) from Bogor Botanical Garden, Phalaenopsis amabilis (KRP18) and Dendrobium salacence (KRP20) from Purwodadi Botanical Garden, dan Phalaenopsis modesta J. J. Sm. (KRBp5) from Balikpapan Botanical Garden. RT-PCR of the 5 samples using specific primer of ORSV coat protein gene was successfully amplified fragment DNA with size ± 474 bp. Homology analysis of those 5 ORSV isolates showed the highest index similiarity of 99.8% with corresponding sequences from 14 other ORSV isolates. Phylogenetic analysis indicated that ORSV KRB2 and KRP18 isolates was clustered in a separate group far from ORSV isolates in other countries. This is the first report of ORSV infection on native orchids collection from 5 botanical gardens in Indonesia.
Chili Cultivation Technique Using Fermentation of Liquid Organic Fertilizer as Catfish Waste Utilization in Tasik Madu Village, Merbau Mataram Mahfut, Mahfut; Yulianty, Yulianty
Pelita Eksakta Vol 2 No 2 (2019): Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas MIPA Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/pelitaeksakta/vol2-iss2/71

Abstract

Cabai (Capsicum annuum L.) adalah tanaman yang termasuk ke dalam familia Solanaceae. Selain budidaya lele, budidaya tanaman cabai juga menjadi program produk unggulan anggota Kelompok Tani Sumber Rejeki II, Dusun Tasik Madu, Desa Talang Jawa, Kecamatan Merbau Mataram. Pemakaian pupuk oleh warga dalam budidaya tanaman cabai sebatas menggunakan pupuk kandang saat awal penanaman dan pupuk kimia sebagai tambahan. Informasi mengenai pembuatan pupuk organik cair hasil fermentasi menggunakan pemanfaatan limbah organik dari air kolam hasil budidaya lele konsumsi sangat bermanfaat untuk warga Kelompok Tani Sumber Rejeki II karena aplikasi pupuk cair organik tersebut sangat efektif dalam pertumbuhan tanaman cabai dan dapat menurunkan biaya produksi. Progam Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) DIPA BLU Yunior Universitas Lampung tahun 2017 ini dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu; penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan melalui kerjasama mitra dengan salah satu warga, Ketua Sumber Mulya Farm, Bapak Muslim. Hasil yang diperoleh dalam penyuluhan sebagai kegiatan awal adalah terjadi peningkatan pengetahuan peserta mengenai pembuatan pupuk organik cair hasil fermentasi limbah kolam lele. Hasil akhir program kegiatan PKM ini adalah aplikasi pemanfaatan limbah budidaya lele dalam pemeliharaan dan peningkatan produksi tanaman cabai.
Pengenalan Teknik Budidaya Kelengkeng Super Sleman Berbasis Lingkungan Mahfut, Mahfut; Wahyuningsih, Sri
Jurnal SOLMA Vol 8 No 2 (2019): Jurnal Solma
Publisher : Uhamka Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/solma.v8i2.3472

Abstract

Perubahan kenaikan temperatur udara sangat dirasakan masyarakat di sekitar Dusun Gejayan, Kecamatan Condong Catur, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta. Penanaman tanaman buah seperti Kelengkeng Super Sleman (KSS) menjadi alternatif dalam memecahkan permasalahan terkait mengurangi dampak pemanasan global melalui program penghijauan. Selain itu memiliki nilai tinggi baik dari sisi pemenuhan gizi maupun produk pemasaran di bidang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pengenalan teknik budidaya KSS berbasis lingkungan di Dusun Gejayan merupakan salah satu bentuk dukungan pembangunan yang berkesinambungan melalui program setiap daerah dalam menghasilkan suatu produk (one village one product). Kegiatan dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu; penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan secara berkala. Hasil yang diperoleh dalam penyuluhan sebagai kegiatan awal adalah terjadi peningkatan persentase pengetahuan peserta dengan nilai sebelum dan sesudah kegiatan adalah sebesar 69,72%. Hasil juga menunjukkan bahwa warga Padukuhan Gejayan secara umum telah mengalami perubahan paradigma terkait budidaya KSS dan memahami penerapan teknik budidaya KSS berbasis lingkungan. Dampak positif tidak hanya berapa dukungan penghijauan dan pemenuhan gizi warga, tetapi juga menambah perekonomian warga melalui penjualan buah dan bibit ke konsumen. Dengan dukungan penuh dari Kepala Padukuhan Gejayan, penanaman pohon KSS diharapkan terus berkembang dan menjadi suatu budaya di dalam lingkungan Padukuhan Gejayan.