Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Jurnal Manajemen Resort dan Leisure

NILAI BUDAYA BATIK TASIK PARAHIYANGAN SEBAGAI DAYA TARIK WISATA JAWA BARAT Syarifuddin, Didin
Jurnal Pariwisata dan Perhotelan Indonesia Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Manajemen Resort dan Leisure
Publisher : Manajemen Resort dan Leisure

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.471 KB)

Abstract

Aktivitas masyarakat merupakan kebiasaan yang terjadi setiap hari, untuk menghasilkan karya sebagai buah pikiran dari gagasan masyarakatnya. Buah karya ini bisa berupa nilai, norma, kebiasaan, adat yang sifatnya tidak berbentuk, maupun yang sifatnya berbentuk diantaranya pakaian. Hal ini berfungsi sebagai pedoman didalam mempertahankan dan meningkatkan kualitas kehidupannya. Karya ini merupakan sesuatu yang bernilai yang menjadi pedoman masyarakat dalam menjalani kehidupannya, salah satu buah karya tersebut adalah pakaian dengan motif batik Tasik Parahiyangan. Tingginya nilai batik Tasik Parahiyangan ini tidak berbanding lurus dengan penghargaan dan pemaknaan sebagai warisan budayanya, terbukti masih belum tingginya kuantitas penggunaan batik oleh masyarakat di Jawa Barat, yang terbatas digunakan dalam acara formal, disamping masih banyaknya masyarakat pengguna batik ini, masih belum memahami makna dari batik yang dikenakannya. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan nilai budaya batik Tasik Parahiyangan sebagai daya tarik wisata di Jawa Barat, dengan melakukan kajian pustaka, menggunakan teori dari Shaw dan William tentang tujuh unsur elemen budaya yang menjadi daya tarik wisata.  Penelitian ini menggambarkan bahwa batik Tasik Parahiyangan merupakan buah karya, bersifat tradisional memiliki corak dengan unsur dan nuansa alam, flora dan fauna sebagai simbol yang menjadi motif utamanya, menggambarkan pedoman hidup, harmoni, adaptasi sebagai ajaran hidup masyarakatnya. Keindahan visual tergambar dari pemaduan bentuk dan warna, serta keindahan filosofis ditunjukkan dari simbol-simbol, untuk menjelaskan makna batik sebagai nilai budaya masyarakatnya. Batik ini sebagai kerajinan, tercipta secara turun temurun, sebagai sebuah tradisi, bernilai sejarah, bermakna lokal, sebagai cara hidup masyarakatnya, yang memberikan makna yang mulia dan luhur, sehingga bernilai daya tarik wisata.
NILAI WISATA BUDAYA SENI PERTUNJUKAN SAUNG ANGKLUNG UDJO KOTA BANDUNG, JAWA BARAT, INDONESIA Syarifuddin, Didin
Jurnal Pariwisata dan Perhotelan Indonesia Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Manajemen Resort dan Lesiure
Publisher : Manajemen Resort dan Leisure

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.256 KB)

Abstract

Kota Bandung merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Barat. Sebagai Ibu Kota Provinsi, Bandung sangat dikenal dengan fashion, food dan fun, yang merupakan bagian dari aspek pariwisata. Tiga hal tersebut merupakan hasil cipta dan karsa manusia, sebagai sub kebudayaan dengan nilai-nilai budayanya. Bandung memiliki salah satu destinasi Saung Angklung Udjo, dengan nilai seni budaya yang berbeda dengan destinasi yang lain. Saung Angklung Udjo adalah salah satu destinasi yang rutin melaksanakan pertunjukan Kesenian Sunda. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan seni pertunjukan Saung Angklung Udjo dilihat dari aspek nilai budaya pariwisata, dengan menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seni pertunjukan Saung Angklung Udjo adalah seni pertunjukan kesenian khas Jawa Barat yang berlatar belakang budaya Sunda, seperti wayang golek, haleran, tari topeng, calung, angklung, dengan alat musik tradisional, seperti calung dan angklung. Seni pertunjukan tersebut, menggambarkan seni tradisional yang memiliki daya tarik wisata dengan nilai-nilai budaya yang ada di dalamnya, yaitu nilai kehidupan manusia, nilai hubungan manusia dengan alam sekitar, nilai manusia dari aspek waktu, nilai manusia dari makna kerja dan amal perbuatan, serta nilai hubungan manusia dengan manusia yang lain. Nilai-nilai tersebut tergambar dari pemaduan antara gamelan angklung sebagai pengiringnya, lagu yang dibawakannya, dan kerjasama diantara para pemainnya.
PASAR TRADISIONAL DALAM PERSPEKTIF NILAI DAYA TARIK WISATA Syarifuddin, Didin
Jurnal Pariwisata dan Perhotelan Indonesia Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Manajemen Resort dan Leisure
Publisher : Manajemen Resort dan Leisure

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.201 KB)

Abstract

Pasar merupakan tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi, karena di pasar masyarakat bisa berbelanja, termasuk di Pasar Monju Bandung. Pasar Monju merupakan pasar yang menarik, karena para pengunjung bisa mendapatkan barang untuk memenuhi kebutuhannya. Masyarakat pada umumnya belum sepenuhnya dapat memaknai Pasar Monju sebagai tempat yang dapat membangun hubungan sosial masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pasar tradisional Monju dilihat dari perspektif nilai daya tarik wisata, dengan metode penelitian deskriptif kualitatif, pengambilan data melalui wawancara kepada 10 orang informan penjual dan pembeli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pasar Monju merupakan pasar yang beroperasi pada Hari Minggu dari pukul 06.00 sampai pukul 13.00, di sekitar Monumen Juang sampai depan PT Telkom Indonesia. Barang yang dijual mencakup kebutuhan sandang dan papan. Pengunjung berasal dari Kota Bandung dan sekitarnya, beberapa Kabupaten di Jawa Barat, bahkan dari luar Jawa Barat. Pasar Monju termasuk ke dalam kategori Pasar Tradisional, karena transaksinya secara manual tanpa kuitansi, harga bisa ditawar, tidak mengenal pembagian kerja, artinya para penjual berperan juga sebagai bagian keuangan, pelayan, dan juga sales. Pasar Monju sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat yang lebih memilih barang dengan harga terjangkau. Hal lain adalah tumbuhnya saling percaya diantara penjual dengan pembeli dan penjual dengan penjual yang lain. Pada aspek nilai sosial pariwisata, tumbuhnya ikatan emosional di dalam membangun interaksi sosialnya, tumbuhnya nilai gotong royong, khususnya diantara para penjualnya, tumbuhnya ikatan persaudaraan antara pembeli dengan penjualnya, karena terbangun interaksi sosial dalam bentuk menawar, sehingga menumbuhkan kedekatan yang menumbuhkan nilai rasa saling menghargai, menghormati, dan ikatan emosional dalam bentuk persaudaraan. Nilai relasional ini menumbuhkan empati dan simpati, sehingga menjadi daya tarik wisata dari aspek sosial, yang disebut nilai sosial pariwisata.