I Nengah Budiasa, I Nengah
Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM TEKS GAGURITAN TAMTAM Budiasa, I Nengah
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.895 KB)

Abstract

Text Gaguritan Tam Tam as one of the classic works of literature that is used as a tool or medium to convey a moral message and values of Hinduism to the people, especially young children that contains the message that was brought through the narrative/penokohannya so it will be further assessed. Based on this background, the problems of this research are: 1) Tam Tam Gaguritan Text Structure, 2) Meanings and functions contained in Tam Tam Gaguritan Text, and (3) The values of Hindu religious education contained in Gaguritan Tam Tam. Specifically, the research carried out has a purpose according to the problem.The theory used is the theory of Instructionalism by teew, Hermeneutika function theory by Sumaryono, and Value theory by Koentjaningrat. The data used are primary and secondary data. Methods Data collection used is literature study, interviews, and document recording techniques, data analyzed with descriptive qualitative literature.Based on the research, the results obtained are as follows: 1) Tam Tam Gaguritan Text consists of various pupils with text structure including, language code, and literature, language style, figure, plot, setting, theme and message, 2) Gaguritan Tam Tam tale tells the heartwarming story of the atman incarnation, the disciple of the ancient Aji Saka (sacred) magician of Java who is a loving gentleman named Ginal (Goddess Adnya Swari) and Ginul (Tam Tam) is very clever in all the inner and outer sciences, told is the ultimate incarnation, where through the life of the twists and turns that eventually both united and became king and queen to teach dharma so that can be picked various values from narrative set/plot characterizing in ceritannya. The meanings contained in it are, the meaning of advice, the meaning of love and happiness, the meaning of hope, purpose and self-defense, the meaning of disappointment and anger, the meaning of resignation and abstinence, the meaning of anxiety and evil, the meaning of life goals, the meaning of admiration and gratitude, Its function is as a medium of education, means of entertainment and association (pesanthian), counselor of feeling (kundalini), and 3) Values contained in Tam Tam Geguritan Text: sraddha value, ethical value in brahmacari, moral value (subha and asuha karma) And leadership value.
WACANA IKLAN DALAM BENTUK PAPAN REKLAME DI BALI Budiasa, I Nengah
Aksara Vol 26, No 2 (2014): Aksara, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1504.184 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i2.152.97-107

Abstract

Analisis wacana iklan dalam bentuk papan reklame di Bali merupakan suatu kajian yang menganalisis pemakaian bahasa secara tertulis yang lebih populer disebut bahasa iklan. Kajian ini meliputi kekohesifan, implikatur, dan retorika wacana iklan yang tampak dari bangun wacana yang ditampilkan. Kekohesifan wacana iklan dapat dilihat dari hubungan antara kata yang satu dengan kata yang lain dalam sebuah frasa. Di samping itu, kekoherenan atau kepaduan makna menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam telaah ini. Selanjutnya, implikatur dalam analisis wacana iklan dalam bentuk papan reklame adalah analisis bagian tambahan makna yang tidak tertulis dalam iklan tersebut agar tetap tertangkap oleh pembaca. Terakhir, retorika wacana iklan berupa papan reklame merupakan efektivitas penggunaan bahasa dalam media tersebut. Melalui media bahasa yang efektif diharapkan dapat menimbulkan efek tertentu pada pikiran pembaca dan dapat mengubah sikapnya.
SINONIMI ADJEKTIVA DALAM BAHASA BALI Budiasa, I Nengah
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.494 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.181.151-170

Abstract

Dalam bahasa Bali tidak pernah ditemukan ada dua kata bersinonim memiliki kesamaan makna yang mutlak. Sebagai satuan leksikal, setiap kata memiliki relasi semantis yang berbeda-beda dalam membangun struktur kalimat. Perbedaan tersebut meyebabkan sebuah kata tidak memiliki kemungkinan yang sama untuk berdampingan dengan kata lain dalam satu bangun kalimat. Terkait dengan hal itu, masalah yang dibahas dalam kajian ini ada dua macam, yaitu (1) berapa macamkah  pasangan sinonim adjektiva yang dapat dianalisis  dalam bahasa Bali dan (2) bagaimanakah hubungan makna kata-kata yang menjadi pasangan sinonim adjektiva dalam bahasa Bali. Tujuan kajian ini adalah mendeskripsikan jumlah pasangan sinonim yang dapat dianalisis dan hubungan makna adjektiva-adjektiva yang menjadi pasangan sinonim dalam bahasa Bali. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode simak dan teknik catat. Artinya, pemerolehan data di lapangan dilakukan dengan cara menyimak pemakaian bahasa Bali, baik dalam bentuk tulisan maupun bentuk lisan. Berdasarkan  analisis data yang dilakukan diperoleh hasil bahwa sifat hubungan pasangan sinonim adjektiva yang ada dalam bahasa Bali dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti ragam, tingkat tutur, dan nilai rasa. 
PILIHAN BAHASA OLEH KAUM REMAJA DI DAERAH TUJUAN WISATA KUTA, BALI Budiasa, I Nengah
Kandai Vol 9, No 2 (2013): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.386 KB) | DOI: 10.26499/jk.v9i2.299

Abstract

Bahasa Bali adalah salah satu bahasa daerah besar di Indonesia yang sampai saat ini masih digunakan secara aktif oleh masyarakat penuturnya yang tinggal di Bali dan beberapa daerah lain di Indonesia. Sebagai alat komunikasi, bahasa Bali perlu dibina, dikembangkan, dan dilindungi oleh pemerintah karena bahasa-bahasa itu adalah bagian dari kebudayaan Indonesia. Salah satu usaha perlindungan terhadap bahasa Bali adalah mendokumentasikannya dalam bentuk penelitian. Permasalahan dengan objek bahasa Bali yang diteliti kali ini berkaitan dengan pilihaan bahasa di daerah tujuan wisata Kuta, Bali. Penelitian seperti ini penting dilakukan mengingat saat ini penggunaan bahasa Bali sudah mulai menurun di kalangan remaja. Hal itu tampak, misalnya, pada penggunaan bahasa Bali dalam komunikasi sehari-hari sudah disusupi pemakaian kosakata asing, seperti bahasa Indonesia dan Inggris. Hal itu sangat dimungkinkan mengingat masyarakat Bali adalah masyarakat dwibahasawan, bahkan multibahasawan. Di samping itu, sebagai daerah tujuan wisata, masyarakat penutur bahasa Bali juga tidak dapat menghindari pergesekan-pergesekan dari bahasa lain. Teori yang diterapkan dalam penelitian ini adalah teori eklektik.  Maksudnya, penelitian ini menggunakan beberapa teori yang relevan untuk mengalisis data penelitian. 
STRUKTUR SEMANTIS VERBA YANG BERMAKNA 'MEMOTONG' DALAM BAHASA BALI Budiasa, I Nengah
SAWERIGADING Vol 18, No 2 (2012): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2012
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1526.483 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v18i2.353

Abstract

Balinese verb which means 'memotong' is analysed by NSM (Natural Semantic Metalanguage) theory introduced by Anna Wierybicka . This theory, then, known as MSA is used to determine the semantic primes and semantic structure of those verbs.The purpose of this paper is to describe the group, the type, and the semantic structure of verbs which means 'memotong in Balinese language. It uses observative method for collecting data, equal and distributive method to analyze data, and informal method to provide the result of analysis. From the data analyzed, it is found that the Balinese verb which means 'memotong' consists of two groups, those are, (1) the verb which means 'memotong' by using instrument and (2) the verb which means 'memotong' without instrument inperforrming the acction. It is also shown from the result that the Balinese verbs which mean 'memotong ' only have one type of semantic primes, that is, do : cut. In NSM semantic structure, this type has syntax pattern: X do something to Y and Y cut by X. Abstrak Verba yang bermakna 'memotong' dalam bahasa Bali dikaji dengan teori NSM (Natural Semantic Metalanguage) yang dikemukakan oleh Anna Wierzbicka. Teori ini yang kemudian dikenal dengan teori MSA (Metabahasa Semantik Alamiah) dipakai untuk menentukan makna asali dan struktur semantis verba tersebut. Tujuan makalah ini alah untuk menjelaskan kelompok, tipe, dan struktur semantis verba yang bermakna 'memotong dalam bahasa Bali. Dalam pengumpulan data digunakan metode simak, untuk analisis data digunakan metode padan dan agih, dan untuk penyajian hasil analisis digunakan metode informal. Berdasarkan data yang dianalisis, hasil kajiannya menunjukkan bahwa verba yang bermakna 'memotong' dalam bahasa Bali terdiri atas dua kelompok, yaitu (a) kelompok verb bahasa Bali yang bermakna 'memotong' dengan menggunakan alat dan (2) kelompok verbabahasa Bali tanpa menggunakan alat dalam melakukan tindakan. Hasil kajiannya juga menunjukkan bahwa verba bahasa Bali yang bermakna 'memotong' hanya memiliki satu tipe makna asali, yaitu melakukan : terpotong. Dalam struktur semantis MSA, tipe ini memiliki pola sintaksis X melakukan sesuatu pada Y dan Yterpotong oleh X.
STRUKTUR SEMANTIS VERBA YANG BERMAKNA 'MEMOTONG' DALAM BAHASA BALI Budiasa, I Nengah
SAWERIGADING Vol 17, No 2 (2011): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2011
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1520.952 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v17i2.374

Abstract

Balinese verb which means 'memotong' is analysed by NSM (Natural Semantic Metalanguage) theory introduced byAnna Wierybicka . This theory, then, known as MSA is used to determine the semantic primes and semanticstructure of those verbs.The purpose of this paper is to describe the group, the type, and the semantic structure of verbswhich means 'memotong in Balinese language. It uses observative method for collecting data, equal and distributivemethod to analyye data, and informal method to provide the result of analysis. From the data analyzed, it is foundthat the Balinese verb which means 'memotong' consists of two groups, those are, (1) the verb which means 'memotong'by using instrument and (2) the verb which means 'memotong' without instrument inperforrming the acction. It isalso shown from the result that the Balinese verbs which mean 'memotong ' only have one type of semantic primes, thatis, do : cut. In NSM semantic structure, this type has syntax pattern: X do something to Y and Y cut by X. AbstrakVerba yang bermakna 'memotong' dalam bahasa Bali dikaji dengan teori NSM (Natural SemanticMetalanguage) yang dikemukakan oleh Anna Wierzbicka. Teori ini yang kemudian dikenal denganteori MSA (Metabahasa Semantik Alamiah) dipakai untuk menentukan makna asali dan struktursemantis verba tersebut. Tujuan makalah ini alah untuk menjelaskan kelompok, tipe, dan struktursemantis verba yang bermakna 'memotong dalam bahasa Bali. Dalam pengumpulan data digunakanmetode simak, untuk analisis data digunakan metode padan dan agih, dan untuk penyajian hasilanalisis digunakan metode informal. Berdasarkan data yang dianalisis, hasil kajiannya menunjukkanbahwa verba yang bermakna 'memotong' dalam bahasa Bali terdiri atas dua kelompok, yaitu (a)kelompok verb bahasa Bali yang bermakna 'memotong' dengan menggunakan alat dan (2)kelompok verbabahasa Bali tanpa menggunakan alat dalam melakukan tindakan. Hasil kajiannyajuga menunjukkan bahwa verba bahasa Bali yang bermakna 'memotong' hanya memiliki satu tipemakna asali, yaitu melakukan : terpotong. Dalam struktur semantis MSA, tipe ini memiliki polasintaksis X melakukan sesuatu pada Y dan Yterpotong oleh X.