Pringgodigdo Nugroho, Pringgodigdo
Unknown Affiliation

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

Pengaruh Depresi Terhadap Perbaikan Infeksi Ulkus Kaki Diabetik Auliana, Arshita; Yunir, Em; Putranto, Rudi; Nugroho, Pringgodigdo
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Pasien Diabetes Melitus (DM) dengan ulkus kaki lebih banyak yang mengalami depresi dan memiliki kualitas hidup yang buruk. Dalam tatalaksana ulkus kaki diabetik perlu diperhatikan faktor psikososial karena diperkirakan dapat mempengaruhi penyembuhan luka melalui induksi gangguan keseimbangan neuroendokrin-imun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh depresi terhadap proses perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik, serta tingkat depresi pada pasien ulkus kaki diabetik yang dirawat inap.Metode. Studi kohort prospektif dilakukan pada 95 pasien ulkus kaki diabetik terinfeksi yang dirawat di RSCM dan RS jejaring pada Maret-Oktober 2014. Subjek dibagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok depresi dan kelompok tidak depresi. Data klinis, penilaian depresi, dan data laboratorium diambil saat pasien masuk rumah sakit kemudian dinilai perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik dalam 21 hari masa perawatan.Hasil. Dari 95 subyek penelitian, 57 orang (60%) masuk dalam kelompok depresi, yang didominasi oleh kelompok perempuan (70%). Penyakit komorbid terbanyak adalah hipertensi, dengan angka komorbiditas dan penyakit kardivaskular lebih tinggi pada kelompok depresi. Malnutrisi dan obesitas juga lebih banyak pada kelompok depresi (64,9% dan 31,6%), demikian pula dengan kontrol glikemik yang buruk (73,7%). Sebagian besar pasien (73,7%) yang masuk dalam kelompok depresi memiliki depresi ringan. Pada kelompok depresi 40,4% mengalami perbaikan infeksi dalam 21 hari masa perawatan, sedangkan 68,4% pada kelompok tidak depresi. Depresi cenderung meningkatkan risiko atau kemungkinan tidak terjadinya perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik, walaupun setelah dilakukan penyesuaian terhadap variabel perancu, hasil tersebut tidak bermakna secara statistik (p = 0,07, adjusted OR 2,429 dengan IK 95% 0,890-6,632). Lebih banyak subjek dengan depresi sedang yang tidak mengalami perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik dibandingkan dengan subjek dengan depresi ringan (93,3% dan 47,6%).Simpulan. Depresi cenderung meningkatkan risiko atau kemungkinan tidak terjadinya perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik.
Perubahan Konsentrasi Interleukin-6, C-Reactive Protein dan Soluble Vascular Cell Adhesion Molecule-1 Pada Pasien Hemodialisis dengan Dialiser Proses Ulang Nugroho, Pringgodigdo; Lydia, Aida; Susalit, Endang
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada pasien hemodialisis (HD). Faktor risiko kardiovaskular non-tradisional yang berperan salah satunya adalah inflamasi. Penggunaan dialiser proses ulang (DPU) dilaporkan menimbulkan reaksi inflamasi yang lebih ringan dibandingkan dengan dialiser baru, tetapi belum ada data pada membran selulosa diasetat.Metode. Dua puluh pasien HD diikutsertakan pada penelitian dengan desain pre and post untuk mengetahui perubahan konsentrasi interleukin 6 (IL-6), C-reactive protein (CRP) dan soluble vascular cell adhesion molecule-1 (sVCAM-1) pasca-HD pada penggunaan DPU ke-0, ke-5, dan ke-10. Subjek penelitian adalah pasien HD kronik >3 bulan dengan membran dialiser selulosa diasetat yang diproses ulang menggunakan mesin, cairan campuran asam perasetat dan hidrogen peroksida. Urea Reduction Ratio (URR) dan delivered Kt/V dinilai pada DPU ke 0, 5 dan 10.Hasil. Konsentrasi CRP selama penelitian menurun. Median konsentrasi CRP saat DPU ke-0 adalah 3,55 mg/L, saat DPU ke-5 adalah 2,97 mg/L dan saat DPU ke-10 adalah 2,92 mg/L, dengan p=0,074. Median konsentrasi IL-6 pada DPU ke-0 adalah 9,05 pg/ml, pada DPU ke-5 adalah 10,64 pg/ml dan pada DPU ke-10 adalah 8,51 pg/ml, dengan p=0,316. Rerata konsentrasi sVCAM-1 saat DPU ke-0 adalah 3078±786 ng/ml, saat DPU ke-5 adalah 3260±836 ng/ml, saat DPU ke-10 adalah 3154±631, dengan p=0,746. Selama penggunaan DPU hingga 10 kali tidak didapatkan perubahan adekuasi HD yang dinilai dengan URR dan Kt/V.Simpulan. Pada penggunaan DPU hingga proses ulang ke-10 tidak didapatkan peningkatan respons inflamasi yang bermakna, bahkan didapatkan penurunan konsentrasi CRP walaupun secara statistik tidak bermakna.Kata Kunci: CRP, DPU, hemodialisis, IL-6, inflamasi, sVCAM-1Change of Interleukin-6, C-Reactive Protein and Soluble Vascular Cell Adhesion Molecule-1 Concentrations in Hemodialysis Patients with Reprocessed DialyzerIntroduction. Cardiovascular disease is a major cause of morbidity and mortality in hemodialysis patients. In addition to traditional cardiovascular risk factors, non-traditional cardiovascular risk factors such as inflammation were also involved. Reprocessed dialyzer has been showed to induce less inflammation than new dialyzer, but data in diacetate cellulose membrane have not been presented. Methods. Twenty hemodialysis (HD) patients were enrolled. Pre and post study design was conducted to know post dialysis concentration changes of interleukin 6 (IL-6), C-reactive protein (CRP) and soluble vascular cell adhesion molecule-1 (sVCAM-1) at reuse 0, 5 and 10. Patients were recruited if medically stable, on maintenance HD >3 months, using reprocessed diacetate cellulose membrane by automated machine with mixture of periacetic acid and hydrogen peroxide solution. Urea reduction ratio (URR) and delivered dialysis dose were used to evaluate dialysis adequacy at reuse 0, 5, and 10.Results. CRP concentration was decreased. Median concentration of CRP at reuse 0, 5 and 10 were 3.55 mg/L, 2.97 mg/L and 2.92 mg/L, p=0.074. There were no significant changes of IL-6 concentration. Median concentration of IL-6 at reuse 0, 5, and 10 were 9.05 pg/ml, 10.64 pg/ml and 8.51 pg/ml, p=0.316. Concentration of sVCAM-1 was not changed significantly, with mean sVCAM-1 concentration 3078±786 ng/ml, 3260±836 ng/ml and 3154±631 ng/ml at reuse 0, 5 and 10,p=0.746. During use of reprocessed dialyzer through 10 times, there were no significant changes of hemodialysis adequacy using URR and Kt/V.Conclusions. The use of reprocessed dialyzer through 10 times showed no significant increase in inflammatory responses. CRP concentration was decreased, although statistically not significant. Keywords: CRP, hemodialysis, IL-6, inflammation, reprocessed dialyzer, sVCAM-1  
Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta Kurniawan, Hendra Dwi; Yunir, Em; Nugroho, Pringgodigdo
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang. Ulkus kaki diabetik terinfeksi merupakan kasus DM yang paling banyak dirawat di RS, berhubungan dengan morbiditas, mortalitas, biaya yang tinggi dan bersifat multifaktorial. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah albumin. Belum ada penelitian yang secara langsung menghubungkan konsentrasi albumin serum awal perawatan dengan perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Belum ada batasan mengenai konsentrasi albumin yang dapat mempengaruhi perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Penelitian ini bertujuan Mendapatkan data mengenai konsentrasi albumin serum awal perawatan dan hubungannya dengan perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik.Metode. Penelitian dengan desain kohort prospektif terhadap 71 pasien diabetes dengan ulkus kaki terinfeksi yang dirawat inap di RSUPNCM, RSPADGS atau RSP pada kurun waktu April-Agustus 2014. Diagnosis dan klasifikasi ulkus kaki diabetik terinfeksi menggunakan kriteria IDSA. Data klinis dan albumin serum diambil dalam 24 jam pertama perawatan dandiikuti dalam 21 hari perawatan dengan terapi standar untuk dilihat perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Perbedaan rerata konsentrasi albumin antara subjek yang mengalami perbaikan klinis infeksi dan yang tidak, diuji dengan uji t tidak berpasangan dengan batas kemaknaan p<0,05. Untuk analisis multivariat, digunakan analisis regresi logistik dengan koreksi terhadap variabel perancu. Kemudian dinilai kemampuan konsentrasi albumin serum dalam memprediksi perbaikan klinis dengan membuat kurva ROC dan menghitung AUC. Lalu ditentukan titik potong konsentrasi albumin serum dengan sensitivitas dan spesifisitas terbaik pada penelitian ini.Hasil. Rerata konsentrasi albumin pada kelompok yang tidak mengalami perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik dan yang perbaikan, masing-masing sebesar 2,47 (0,45) g/dL dan 2,94 (0,39) g/dL (p<0,001). Setelah penambahan variabel perancu, didapatkan adjusted OR untuk setiap penurunan konsentrasi albumin 0,5 g/dL adalah 4,81 (IK95% 1,80;10,07). Konsentrasi albumin kurang dari 2,66 g/dL dapat memprediksi bahwa ulkus kaki diabetik terinfeksi tidak akan mengalami perbaikan dalam 21 hari perawatan dengan sensitivitas 75% dan spesifisitas 69,6%.Simpulan. Terdapat hubungan antara konsentrasi albumin serum awal perawatan dengan perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Konsentrasi albumin serum kurang dari 2,66 g/dL dapat memprediksi ulkus kaki diabetik terinfeksi tidak akan membaik dengan sensitivitas 75% dan spesifisitas 69,6%.
Faktor Prediktor Kegagalan Virologis pada Pasien HIV yang Mendapat Terapi ARV Lini Pertama dengan Kepatuhan Berobat Baik Kurniawan, Farid; Djauzi, Samsuridjal; Yunihastuti, Evy; Nugroho, Pringgodigdo
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Pada negara dengan keterbatasan sumber daya, pengukuran viral load (VL) sebagai prediktor efektivitas terapi antiretroviral (ARV) tidak selalu mudah untuk diakses oleh pasien HIV yang mendapat terapi ARV. Pada penelitian-penelitian sebelumnya, kepatuhan berobat (adherens) diketahui merupakan faktor penting terhadap supresi VL HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor prediktor kegagalan virologis pada pasien HIV yang mendapat terapi ARV lini pertama sesuai paduan ARV terbaru dengan kepatuhan berobat yang baik di Indonesia.Metode. Studi kohort retrospektif dilakukan pada pasien HIV rawat jalan dewasa di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta yang memulai terapi ARV lini pertama selama periode Januari 2011-Juni 2014. Pasien HIV dengan kepatuhan berobat baik yang mempunyai data VL 6-9 bulan setelah mulai terapi ARV dimasukkan sebagai subjek penelitian. Kegagalan virologis dinyatakan sebagai nilai VL ≥400 kopi/mL setelah minimal 6 bulan terapi ARV dengan kepatuhan berobat baik. Usia awal terapi ARV, faktor risiko penularan HIV, stadium klinis HIV menurut World Health Organization (WHO), koinfeksi HIV-TB, jumlah CD4 awal terapi, peningkatan jumlah CD4, kadar hemoglobin dan indeks massa tubuh awal terapi, perubahan berat badan selama terapi, dan basis paduan terapi ARV merupakan variabel yang diteliti pada penelitian ini.  Hasil. Terdapat 197 pasien sebagai subjek penelitian ini. Kegagalan virologis ditemukan pada 21 pasien (10,7%). Peningkatan CD4 <50 sel/mm3 setelah minimal 6 bulan terapi merupakan prediktor kegagalan virologis (p = 0,003; OR 5,802, 95% CI= 1,842-18,270). Terdapat peningkatan risiko kegagalan virologis pada pasien dengan terapi ARV berbasis NVP pada saat VL diperiksa, namun tidak bermakna secara statistik (p = 0,060; OR 2,756; 95% CI= 0,958-7,924). Simpulan. Peningkatan CD4 <50 sel/mm3 setelah minimal 6 bulan terapi dapat memprediksi kegagalan virologis pada pasien yang mendapat terapi ARV lini pertama dengan kepatuhan berobat yang baik. Kata Kunci: kegagalan virologis, terapi ARV lini pertama, viral load Predictors of Virological Failure in HIV Patients Receiving First Line Antiretroviral Therapy with Good AdherenceIntroduction. Antiretroviral therapy (ART) effectively suppress HIV replication. Viral load (VL) measurement is better predictor than clinical or immunological criteria to evaluate success or failure of ART. However, in country with limited resources, viral load measurement is not easily accessible by HIV patients receiving ART. Therefore, it is necessary to know which factors that can predict virological failure. In previous studies, adherence was an  important factor for suppression of HIV viral load.  This study is aimed to know predictors of virological failure in HIV patients receiving recent first line ART regimen with good adherence in Indonesia. Methods. A retrospective cohort study was conducted among adult HIV patients in Out-patient Clinic of Cipto Mangunkusumo Hospital that started ART during periode of  January 2011-June 2014. HIV patients with good adherence that had viral load data 6-9 months after initiation of ART were included in this study. Virological failure was defined as viral load ≥ 400 copies/mL after minimum of 6 months therapy with good adherence. Age at starting ART, risk factor for HIV infection, HIV clinical stage, HIV-TB co-infection, baseline CD4 value, CD4 count increase, baseline hemoglobin level and body mass index, weight changes during therapy, and ART based regimen were analyzed in this study. Results. A total of 197 patients were included in this study. Virological failure was found in 21 patients (10,7%). CD4 increase <50 cell/mm3 after minimum 6 months of ART was predictor of virological failure (p = 0,003; OR 5,802, 95%CI 1,842-18,270). Conclusion. CD4 increase <50 cell/mm3 after minimum 6 months therapy can predict virological failure in HIV patients receiving first line ART with good adherence.  
Interstitial lung disease in mixed connective tissue disease Tendean, Marshell; Nuriawan, Sazkia Aziza; Nugroho, Pringgodigdo
Indonesian Journal of Rheumatology Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Rheumatology Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.147 KB)

Abstract

Interstitial lung diseases (ILD) are known as a debilitating pulmonary complications that may be occured in almost all systemic connective tissue diseases (CTD), including mixed connective tissue disease (MCTD). ILD is usually found in more than half of MCTD patients after 2-4years after the diagnosis made. A-47-years-old female initially diagnosed as systemic lupus erythematosus (SLE) developed a severe progressive dyspnea. She has recently diagnosed as MCTD with ILD after 9 months of initial symptoms. She was giving with Cyclophosphamide 500 mg IV pulse dose. However, after 1 months she developed severe pneumonia andpronounced demise due to intractable septic shock. The debilitating course of ILD is commonly seen in most systemic CTD. Therefore, it is important to perform initial screening and prevention. Systemic corticosteroid with or without immunosupressor agent(s) are indicated inILD-MCTD. Patients with progressive diseases will have poor prognosis.Keywords : ILD, MCTD, Corticosteroid
Diagnostic values of DAS28 and DAS28-squeeze in evaluating Rheumatoid Arthritis disease Santosa, David; Hidayat, Rudy; Prasetyo, Marcel; Nugroho, Pringgodigdo
Indonesian Journal of Rheumatology Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Rheumatology Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.827 KB)

Abstract

Background : In recent years, rheumatoid arthritis (RA) uses a “treat to target”  treatment strategy. This strategy requires a valid and accurate tool for assessing disease activity. The most widely used tool is DAS28, which was developed from DAS with the omission of ankle and foot joints. There has been many critization aboutthe accuracy of DAS28 in classifying the state of RA disease. Most importantly, when an active disease state was misclassified as an inactive state (false negative)which lead to under treat and subsequently to disability. The difference between DAS28 and DAS lies mainly in the exclusion of ankle and foot joints, thus DAS28-squeeze, a new and simple tool has been proposed. It comprises the same 28 joints in DAS28 added with a sqeeze test on both metatarsophalangeal joints. However, this new tool has never been validated with any imaging techniques.Objective : To assess the diagnostic values of DAS28 and DAS28-squeeze.Methods : This study comprised a cross-sectional diagnostic study, using Power Doppler sonography as a standard reference in evaluating the diagnostic value ofDAS28 and DAS28-squeeze. This study uses the most sringent sonography criteria of active disease which is an active Doppler signal with a moderate synovial hypertrophy on B-mode. Results : Over the study period, 56 subjects underwent diagnostic tests using DAS28, DAS28-squeeze and Power Doppler sonography. There were 4 false negativecases in DAS28 and 1 case in DAS28-squeeze. The sensitivities of DAS28 and DAS28-squeeze to identify active disease using Power Doppler sonography as reference standard were 73.3% (95%CI ± 11.59) and 93.3% (95%CI ± 6.55), respectively. While the specificities of DAS28 and DAS28-squeeze were 36.6% (95%CI ± 12.62) and 34.1% (95%CI ± 12.42), respectively. Furthermore the negative likelihood ratioof DAS28 and DAS28-squeeze were 0.73 and 0.19, respectively.Conclusion : This study is the first to validate DAS28- squeeze using imaging techniques. From this study the false negative rate of DAS28-squeeze is lower thanDAS28. DAS28-squeeze has a better sensitivity and negative likelihood ratio than DAS28 in identifying RA disease state.Keywords : Rheumatoid Arthritis, DAS28, DAS28-squeeze, treat to target, Power Doppler, squeeze test
Pengaruh Depresi Terhadap Perbaikan Infeksi Ulkus Kaki Diabetik Auliana, Arshita; Yunir, Em; Putranto, Rudi; Nugroho, Pringgodigdo
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 4 (2015)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.108 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v2i4.88

Abstract

Pendahuluan. Pasien Diabetes Melitus (DM) dengan ulkus kaki lebih banyak yang mengalami depresi dan memiliki kualitas hidup yang buruk. Dalam tatalaksana ulkus kaki diabetik perlu diperhatikan faktor psikososial karena diperkirakan dapat mempengaruhi penyembuhan luka melalui induksi gangguan keseimbangan neuroendokrin-imun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh depresi terhadap proses perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik, serta tingkat depresi pada pasien ulkus kaki diabetik yang dirawat inap.Metode. Studi kohort prospektif dilakukan pada 95 pasien ulkus kaki diabetik terinfeksi yang dirawat di RSCM dan RS jejaring pada Maret-Oktober 2014. Subjek dibagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok depresi dan kelompok tidak depresi. Data klinis, penilaian depresi, dan data laboratorium diambil saat pasien masuk rumah sakit kemudian dinilai perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik dalam 21 hari masa perawatan.Hasil. Dari 95 subyek penelitian, 57 orang (60%) masuk dalam kelompok depresi, yang didominasi oleh kelompok perempuan (70%). Penyakit komorbid terbanyak adalah hipertensi, dengan angka komorbiditas dan penyakit kardivaskular lebih tinggi pada kelompok depresi. Malnutrisi dan obesitas juga lebih banyak pada kelompok depresi (64,9% dan 31,6%), demikian pula dengan kontrol glikemik yang buruk (73,7%). Sebagian besar pasien (73,7%) yang masuk dalam kelompok depresi memiliki depresi ringan. Pada kelompok depresi 40,4% mengalami perbaikan infeksi dalam 21 hari masa perawatan, sedangkan 68,4% pada kelompok tidak depresi. Depresi cenderung meningkatkan risiko atau kemungkinan tidak terjadinya perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik, walaupun setelah dilakukan penyesuaian terhadap variabel perancu, hasil tersebut tidak bermakna secara statistik (p = 0,07, adjusted OR 2,429 dengan IK 95% 0,890-6,632). Lebih banyak subjek dengan depresi sedang yang tidak mengalami perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik dibandingkan dengan subjek dengan depresi ringan (93,3% dan 47,6%).Simpulan. Depresi cenderung meningkatkan risiko atau kemungkinan tidak terjadinya perbaikan infeksi ulkus kaki diabetik.
Hubungan Albumin Serum Awal Perawatan dengan Perbaikan Klinis Infeksi Ulkus Kaki Diabetik di Rumah Sakit di Jakarta Kurniawan, Hendra Dwi; Yunir, Em; Nugroho, Pringgodigdo
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.375 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v2i1.62

Abstract

Latar Belakang. Ulkus kaki diabetik terinfeksi merupakan kasus DM yang paling banyak dirawat di RS, berhubungan dengan morbiditas, mortalitas, biaya yang tinggi dan bersifat multifaktorial. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah albumin. Belum ada penelitian yang secara langsung menghubungkan konsentrasi albumin serum awal perawatan dengan perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Belum ada batasan mengenai konsentrasi albumin yang dapat mempengaruhi perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Penelitian ini bertujuan Mendapatkan data mengenai konsentrasi albumin serum awal perawatan dan hubungannya dengan perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik.Metode. Penelitian dengan desain kohort prospektif terhadap 71 pasien diabetes dengan ulkus kaki terinfeksi yang dirawat inap di RSUPNCM, RSPADGS atau RSP pada kurun waktu April-Agustus 2014. Diagnosis dan klasifikasi ulkus kaki diabetik terinfeksi menggunakan kriteria IDSA. Data klinis dan albumin serum diambil dalam 24 jam pertama perawatan dandiikuti dalam 21 hari perawatan dengan terapi standar untuk dilihat perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Perbedaan rerata konsentrasi albumin antara subjek yang mengalami perbaikan klinis infeksi dan yang tidak, diuji dengan uji t tidak berpasangan dengan batas kemaknaan p<0,05. Untuk analisis multivariat, digunakan analisis regresi logistik dengan koreksi terhadap variabel perancu. Kemudian dinilai kemampuan konsentrasi albumin serum dalam memprediksi perbaikan klinis dengan membuat kurva ROC dan menghitung AUC. Lalu ditentukan titik potong konsentrasi albumin serum dengan sensitivitas dan spesifisitas terbaik pada penelitian ini.Hasil. Rerata konsentrasi albumin pada kelompok yang tidak mengalami perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik dan yang perbaikan, masing-masing sebesar 2,47 (0,45) g/dL dan 2,94 (0,39) g/dL (p<0,001). Setelah penambahan variabel perancu, didapatkan adjusted OR untuk setiap penurunan konsentrasi albumin 0,5 g/dL adalah 4,81 (IK95% 1,80;10,07). Konsentrasi albumin kurang dari 2,66 g/dL dapat memprediksi bahwa ulkus kaki diabetik terinfeksi tidak akan mengalami perbaikan dalam 21 hari perawatan dengan sensitivitas 75% dan spesifisitas 69,6%.Simpulan. Terdapat hubungan antara konsentrasi albumin serum awal perawatan dengan perbaikan klinis infeksi ulkus kaki diabetik. Konsentrasi albumin serum kurang dari 2,66 g/dL dapat memprediksi ulkus kaki diabetik terinfeksi tidak akan membaik dengan sensitivitas 75% dan spesifisitas 69,6%.
Faktor Prediktor Kegagalan Virologis pada Pasien HIV yang Mendapat Terapi ARV Lini Pertama dengan Kepatuhan Berobat Baik Kurniawan, Farid; Djauzi, Samsuridjal; Yunihastuti, Evy; Nugroho, Pringgodigdo
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1299.814 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v4i1.110

Abstract

Pendahuluan. Pada negara dengan keterbatasan sumber daya, pengukuran viral load (VL) sebagai prediktor efektivitas terapi antiretroviral (ARV) tidak selalu mudah untuk diakses oleh pasien HIV yang mendapat terapi ARV. Pada penelitian-penelitian sebelumnya, kepatuhan berobat (adherens) diketahui merupakan faktor penting terhadap supresi VL HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor prediktor kegagalan virologis pada pasien HIV yang mendapat terapi ARV lini pertama sesuai paduan ARV terbaru dengan kepatuhan berobat yang baik di Indonesia.Metode. Studi kohort retrospektif dilakukan pada pasien HIV rawat jalan dewasa di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta yang memulai terapi ARV lini pertama selama periode Januari 2011-Juni 2014. Pasien HIV dengan kepatuhan berobat baik yang mempunyai data VL 6-9 bulan setelah mulai terapi ARV dimasukkan sebagai subjek penelitian. Kegagalan virologis dinyatakan sebagai nilai VL ≥400 kopi/mL setelah minimal 6 bulan terapi ARV dengan kepatuhan berobat baik. Usia awal terapi ARV, faktor risiko penularan HIV, stadium klinis HIV menurut World Health Organization (WHO), koinfeksi HIV-TB, jumlah CD4 awal terapi, peningkatan jumlah CD4, kadar hemoglobin dan indeks massa tubuh awal terapi, perubahan berat badan selama terapi, dan basis paduan terapi ARV merupakan variabel yang diteliti pada penelitian ini.  Hasil. Terdapat 197 pasien sebagai subjek penelitian ini. Kegagalan virologis ditemukan pada 21 pasien (10,7%). Peningkatan CD4 <50 sel/mm3 setelah minimal 6 bulan terapi merupakan prediktor kegagalan virologis (p = 0,003; OR 5,802, 95% CI= 1,842-18,270). Terdapat peningkatan risiko kegagalan virologis pada pasien dengan terapi ARV berbasis NVP pada saat VL diperiksa, namun tidak bermakna secara statistik (p = 0,060; OR 2,756; 95% CI= 0,958-7,924). Simpulan. Peningkatan CD4 <50 sel/mm3 setelah minimal 6 bulan terapi dapat memprediksi kegagalan virologis pada pasien yang mendapat terapi ARV lini pertama dengan kepatuhan berobat yang baik. Kata Kunci: kegagalan virologis, terapi ARV lini pertama, viral load Predictors of Virological Failure in HIV Patients Receiving First Line Antiretroviral Therapy with Good AdherenceIntroduction. Antiretroviral therapy (ART) effectively suppress HIV replication. Viral load (VL) measurement is better predictor than clinical or immunological criteria to evaluate success or failure of ART. However, in country with limited resources, viral load measurement is not easily accessible by HIV patients receiving ART. Therefore, it is necessary to know which factors that can predict virological failure. In previous studies, adherence was an  important factor for suppression of HIV viral load.  This study is aimed to know predictors of virological failure in HIV patients receiving recent first line ART regimen with good adherence in Indonesia. Methods. A retrospective cohort study was conducted among adult HIV patients in Out-patient Clinic of Cipto Mangunkusumo Hospital that started ART during periode of  January 2011-June 2014. HIV patients with good adherence that had viral load data 6-9 months after initiation of ART were included in this study. Virological failure was defined as viral load ≥ 400 copies/mL after minimum of 6 months therapy with good adherence. Age at starting ART, risk factor for HIV infection, HIV clinical stage, HIV-TB co-infection, baseline CD4 value, CD4 count increase, baseline hemoglobin level and body mass index, weight changes during therapy, and ART based regimen were analyzed in this study. Results. A total of 197 patients were included in this study. Virological failure was found in 21 patients (10,7%). CD4 increase <50 cell/mm3 after minimum 6 months of ART was predictor of virological failure (p = 0,003; OR 5,802, 95%CI 1,842-18,270). Conclusion. CD4 increase <50 cell/mm3 after minimum 6 months therapy can predict virological failure in HIV patients receiving first line ART with good adherence.  
Perubahan Konsentrasi Interleukin-6, C-Reactive Protein dan Soluble Vascular Cell Adhesion Molecule-1 Pada Pasien Hemodialisis dengan Dialiser Proses Ulang Nugroho, Pringgodigdo; Lydia, Aida; Susalit, Endang
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.142 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v3i3.23

Abstract

Pendahuluan. Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada pasien hemodialisis (HD). Faktor risiko kardiovaskular non-tradisional yang berperan salah satunya adalah inflamasi. Penggunaan dialiser proses ulang (DPU) dilaporkan menimbulkan reaksi inflamasi yang lebih ringan dibandingkan dengan dialiser baru, tetapi belum ada data pada membran selulosa diasetat.Metode. Dua puluh pasien HD diikutsertakan pada penelitian dengan desain pre and post untuk mengetahui perubahan konsentrasi interleukin 6 (IL-6), C-reactive protein (CRP) dan soluble vascular cell adhesion molecule-1 (sVCAM-1) pasca-HD pada penggunaan DPU ke-0, ke-5, dan ke-10. Subjek penelitian adalah pasien HD kronik >3 bulan dengan membran dialiser selulosa diasetat yang diproses ulang menggunakan mesin, cairan campuran asam perasetat dan hidrogen peroksida. Urea Reduction Ratio (URR) dan delivered Kt/V dinilai pada DPU ke 0, 5 dan 10.Hasil. Konsentrasi CRP selama penelitian menurun. Median konsentrasi CRP saat DPU ke-0 adalah 3,55 mg/L, saat DPU ke-5 adalah 2,97 mg/L dan saat DPU ke-10 adalah 2,92 mg/L, dengan p=0,074. Median konsentrasi IL-6 pada DPU ke-0 adalah 9,05 pg/ml, pada DPU ke-5 adalah 10,64 pg/ml dan pada DPU ke-10 adalah 8,51 pg/ml, dengan p=0,316. Rerata konsentrasi sVCAM-1 saat DPU ke-0 adalah 3078±786 ng/ml, saat DPU ke-5 adalah 3260±836 ng/ml, saat DPU ke-10 adalah 3154±631, dengan p=0,746. Selama penggunaan DPU hingga 10 kali tidak didapatkan perubahan adekuasi HD yang dinilai dengan URR dan Kt/V.Simpulan. Pada penggunaan DPU hingga proses ulang ke-10 tidak didapatkan peningkatan respons inflamasi yang bermakna, bahkan didapatkan penurunan konsentrasi CRP walaupun secara statistik tidak bermakna.Kata Kunci: CRP, DPU, hemodialisis, IL-6, inflamasi, sVCAM-1Change of Interleukin-6, C-Reactive Protein and Soluble Vascular Cell Adhesion Molecule-1 Concentrations in Hemodialysis Patients with Reprocessed DialyzerIntroduction. Cardiovascular disease is a major cause of morbidity and mortality in hemodialysis patients. In addition to traditional cardiovascular risk factors, non-traditional cardiovascular risk factors such as inflammation were also involved. Reprocessed dialyzer has been showed to induce less inflammation than new dialyzer, but data in diacetate cellulose membrane have not been presented. Methods. Twenty hemodialysis (HD) patients were enrolled. Pre and post study design was conducted to know post dialysis concentration changes of interleukin 6 (IL-6), C-reactive protein (CRP) and soluble vascular cell adhesion molecule-1 (sVCAM-1) at reuse 0, 5 and 10. Patients were recruited if medically stable, on maintenance HD >3 months, using reprocessed diacetate cellulose membrane by automated machine with mixture of periacetic acid and hydrogen peroxide solution. Urea reduction ratio (URR) and delivered dialysis dose were used to evaluate dialysis adequacy at reuse 0, 5, and 10.Results. CRP concentration was decreased. Median concentration of CRP at reuse 0, 5 and 10 were 3.55 mg/L, 2.97 mg/L and 2.92 mg/L, p=0.074. There were no significant changes of IL-6 concentration. Median concentration of IL-6 at reuse 0, 5, and 10 were 9.05 pg/ml, 10.64 pg/ml and 8.51 pg/ml, p=0.316. Concentration of sVCAM-1 was not changed significantly, with mean sVCAM-1 concentration 3078±786 ng/ml, 3260±836 ng/ml and 3154±631 ng/ml at reuse 0, 5 and 10,p=0.746. During use of reprocessed dialyzer through 10 times, there were no significant changes of hemodialysis adequacy using URR and Kt/V.Conclusions. The use of reprocessed dialyzer through 10 times showed no significant increase in inflammatory responses. CRP concentration was decreased, although statistically not significant.