Asep Purnama, Asep
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Tantangan dalam Tata Laksana Malaria Berat di Rumah Sakit Daerah Terpencil di Indonesia

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Malaria falciparum merupakan infeksi yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum (Pf) yang sering menimbulkan komplikasi hingga timbul malaria berat dengan mortalitas yang tinggi. Manajemen malaria di daerah terpencil memiliki tantangan tersendiri sebagai akibat dari kurangnya kemampuan sumber daya manusia dan fasilitas diagnosis dan tata laksana yang memadai. Pada artikel ini akan dibahas mengenai kasus infeksi Malaria Falciparum dengan diagnosis yang ditegakkan secara pasti melalui pemeriksaan mikroskopis darah yang menyatakan adanya parasit Pf. Pasien sudah menerima Artemisinin-Based Combination Therapy (ACT) berupa dihidroartemisinin (DHA)-piperakuin (PPQ) dan primakuin (PQ). Pada evaluasi setelah pemberian obat ACT dan primakuin, tidak ada perbaikan klinis dan mikroskopis. Pengobatan malaria lini kedua berupa kina, doksisiklin dan PQ diberikan dan memberikan perbaikan klinis dan mikroskopis.Kata Kunci: Artemisinin Combination Therapy, doksisiklin, kina, malaria falsiparum  Challenges in Providing Treatment of Severe Malaria Case in a District Hospital of Remote Area in IndonesiaSevere Malaria is commonly found due to Plasmodium falciparum infection, which is causing high mortality in patient. A Severe case might be difficult to treat optimally in the remote settings area that could be due to lack in awareness of disease manifestation and inadequate diagnostic facilities. We report a case of Severe Malaria Falciparum infection, confirmed by blood smear eamination of Plasmodium falciparum (Pf) parasites. Patient had received Artemicinin Based Combination Therapy (ACT), which consisted of dihydroartemisinin (DHA)-piperaquine and primaquine (PQ) with no clear clinical and microscopy improvement. The second line anti malaria consisted of quinine, doxycycline, and PQ was then initiated, showing clinical and microscopy responses.

Informasi Dasar dan Penanganan HIV dan AIDS

Jurnal Ledalero Vol 14, No 2 (2015): HIV : Pesawat Tempur Siluman NTT
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (999.709 KB)

Abstract

Pankratius Husein outlines basic information on the HIV virus and AIDS illness, what medication is available, preventative strategies, and healthy lifestyle. Asep Purnama continues with a personal account of how he became interested in HIV and AIDS since a medical student, and the history of the struggle to correct attitudes among medical staff in Maumere as well as in the general population. This includes the story of the establishment of the Voluntary Testing and Counselling Clinic at the District Hospital in Maumere. Rasdiana Rovigis details the formation and activities of the local support group among HIV carriers. Kata-kata kunci: HIV, AIDS, informasi, penanganan, stigmatisasi, support, group.

Tantangan dalam Tata Laksana Malaria Berat di Rumah Sakit Daerah Terpencil di Indonesia

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1722.547 KB)

Abstract

Malaria falciparum merupakan infeksi yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum (Pf) yang sering menimbulkan komplikasi hingga timbul malaria berat dengan mortalitas yang tinggi. Manajemen malaria di daerah terpencil memiliki tantangan tersendiri sebagai akibat dari kurangnya kemampuan sumber daya manusia dan fasilitas diagnosis dan tata laksana yang memadai. Pada artikel ini akan dibahas mengenai kasus infeksi Malaria Falciparum dengan diagnosis yang ditegakkan secara pasti melalui pemeriksaan mikroskopis darah yang menyatakan adanya parasit Pf. Pasien sudah menerima Artemisinin-Based Combination Therapy (ACT) berupa dihidroartemisinin (DHA)-piperakuin (PPQ) dan primakuin (PQ). Pada evaluasi setelah pemberian obat ACT dan primakuin, tidak ada perbaikan klinis dan mikroskopis. Pengobatan malaria lini kedua berupa kina, doksisiklin dan PQ diberikan dan memberikan perbaikan klinis dan mikroskopis.Kata Kunci: Artemisinin Combination Therapy, doksisiklin, kina, malaria falsiparum  Challenges in Providing Treatment of Severe Malaria Case in a District Hospital of Remote Area in IndonesiaSevere Malaria is commonly found due to Plasmodium falciparum infection, which is causing high mortality in patient. A Severe case might be difficult to treat optimally in the remote settings area that could be due to lack in awareness of disease manifestation and inadequate diagnostic facilities. We report a case of Severe Malaria Falciparum infection, confirmed by blood smear eamination of Plasmodium falciparum (Pf) parasites. Patient had received Artemicinin Based Combination Therapy (ACT), which consisted of dihydroartemisinin (DHA)-piperaquine and primaquine (PQ) with no clear clinical and microscopy improvement. The second line anti malaria consisted of quinine, doxycycline, and PQ was then initiated, showing clinical and microscopy responses.

PENGARUH EKSTRAK DAUN KETAPANG Terminalia cattapa TERHADAP SlNTASAN DAN PERTUMBUHAN LARVA IKAN BOTIA Chromobotia macracanthus

Jurnal Perikanan Unram Vol 6 No 1 (2015): Jurnal Perikanan
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.334 KB)

Abstract

Ikan botia Chromobotia macracanthus merupakan spesies ikan hias air tawar asli Indonesia yang me­ miliki nilai  ekonomis tinggi  dan  merupakan komoditas potensial  yang keberadaannya  di  alam sudah  mu­ lai berkurang.  Kegiatan budidaya  merupakan  salah  satu  upaya  untuk melestarikan  keberadaan  ikan botia. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui konsentrasi ekstrak daun  ketapang  Terminalia cattapa yang op­ timal  untuk  meningkatkan  sintasan  dan  pertumbuhan  ikan  botia.  Media  pemeliharaan  yang  diberi  daun ketapang dengan  penambahan  konsentrasi yang  berbeda  sebagai  perlakuan yaitu  0,  0.3,  0.6,  0.9,  1.2 g/L masing-masing diulang sebanyak 4 kali. Jenis pakan berupa artemia. Parameter yang diamati adalah sintasan, pertumbuhan, total bakteri, kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan media yang terbaik untuk pemeliharaan ikan botia adalah media dengan penambahan daun ketapang 0,3 g/L, dengan nilai sintasan  tertinggi sebe­ sar 98%, panjang mutlak 1,435 cm, berat mutlak 0,148 g, panjang spesifik 1,82%, dan berat spesifik 15,87%.