Articles

Found 23 Documents
Search

Correlation between Hair Zinc Level and Cognitive Function in Elderly Mutiara, Dian Sarah; Sunardi, Diana; Dewiasty, Esthika
World Nutrition Journal Vol 3, No 1 (2019): Volume 03 Issue 1 Include Supplements Oral Presentation Abstracts of 14th Sympos
Publisher : Indonesian Nutrition Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.875 KB) | DOI: 10.25220/WNJ.V03.i1.0007

Abstract

Background and Objectives : Neurodegenerative disease is the most problem in elderly. Amyloid ? (A?) accumulation is the major cause of cognitive impairment. Zinc has an important role in antioxidant and A? accumulation process. This study aimed to evaluate the correlation between hair zinc level and cognitive function in elderly.Methods : A cross sectional study was conducted involving 58 subjects of elderly in Jakarta. Subjects were recruited by consecutive sampling. Hair zinc level was measured by inductively coupled plasma emission spectrometer (ICPS) and cognitive function assessed by abbreviated mental test (AMT). Data analysis was done by spearman rank correlation test[DN1]  and p-value less than 0.05 was considered statistically significant.Results : The mean of age was 65.4 ± 4.4 years old and 56.9% of subjects were female. The mean of hair zinc level was 123.23 ± 69.71 µg/gram hair and 32.8% subjects had hair zinc deficiency. There was 91.4% subjects had normal cognitive function. The study showed no correlation between hair zinc level and cognitive function in elderly (p=0.871 ; r=-0.022).Conclusion : There was no correlation between hair zinc level and cognitive function in elderly. Further research is expected to be performed with different level of cognitive function.
Peran Estimasi Laju Filtrasi Glomerulus (eGFR) sebagai Prediktor Mortalitas pada Pasien Sindrom Koroner Akut selama Perawatan di ICCU Dewiasty, Esthika; Alwi, Idrus; Dharmeizar, Dharmeizar; Harimurti, Kuntjoro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Pasien sindrom koroner akut (SKA) seringkali mengalami gangguan fungsi ginjal yang berhubungan dengan peningkatan risiko kematian SKA. Tatalaksana optimal dapat memperbaiki angka mortalitas, namun pasien dengan gangguan fungsi ginjal seringkali tidak mendapatkan tatalaksana optimal. Sampai saat ini belum ada studi yang meneliti hubungan antara gangguan fungsi ginjal dengan mortalitas selama perawatan di ICCU pada populasi di Indonesia yang berbeda dalam karakteristik klinis dengan populasi di luar negeri. Diperlukan penelitian mengenai hubungan antara gangguan fungsi ginjal dengan mortalitas selama perawatan di ICCU pada populasi Indonesia. Dengan demikian, diharapkan dapat dilakukan identifikasi dan stratifikasi pasien dengan risiko mortalitas tinggi sehingga dapat diberikan tatalaksana yang lebih optimal.Metode. Studi kasus kontrol dengan teknik sampling konsekutif dilakukan di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada bulan Januari-Mei 2008 dengan sampel data rekam medik 300 pasien SKA yang dirawat di ICCU RSCM th 2003-2007. Sampel terdiri dari 100 pasien sindrom koroner akut yang mengalami kematian saat dirawat sebagai kasus dan 200 pasien yang tidak mengalami kematian sebagai kontrol. Analisis statistik menggunakan uji chi square untuk variabel bivariat dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik untuk variabel-variabel perancu.Hasil. Didapakan hubungan yang bermakna antara penurunan fungsi ginjal (eGFR <60 ml/menit) dengan mortalitas (OR 2,97; IK 95% 1,726-5,106). Terdapat beberapa variabel lain yang bermakna sebagai prediktor mortalitas yaitu Killip Class (p <0,001), Luas Infark (p <0,001) dan terapi medikamentosa standar (p= 0,005). Pada analisis multivariat didapatkan adjusted OR untuk eGFR terhadap mortalitas sebesar 3,013 ( IK 95% 1,639-5,40)Simpulan. Estimasi Laju Filtrasi Glomerulus (eGFR) merupakan prediktor independen mortalitas pasien SKA selama perawatan di ICCU RSCM. Terdapat prediktor independen lain yang juga memengaruhi mortalitas yaitu Killip class, luas infark, dan terapi medikamentosa standar .Kata Kunci: eGFR, mortalitas, sindrom koroner akut Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR) as an In-Hospital Mortality Predictor in Acute Coronary Syndrome Patients in ICCUIntroduction. Due to the high in-hospital mortality rate of Acute Coronary Syndrome (ACS) patients, with renal dysfunction as one of its negative predictor, it is mandatory to screen renal dysfunction in ACS patients and investigate association between renal dysfunction and in-hospital mortality in ACS patients. To date, there is no such study which has been conducted in Indonesian population, which is different in clinical characteristics aspect with populations abroad. The aim of this study is to determine association between renal dysfunction (eGFR <60 ml/min) and in-hospital mortality in ACS patients who were hospitalized in ICCU Cipto Mangunkusumo Hospital. Methods. A case control study retrospectively was conducted. We investigated 100 ACS patients who were dead during hospitalization as the case group, and 200 ACS patients who were survived as the control group. The study was conducted in RSCM during January-May 2008. The subjects were ACS patients whom their medical records data were recorded since 2006 until 2007. We used consecutive sampling, We calculated the eGFR based on serum creatinine, age, and gender using formula of modified MDRD method for Chinese population. We calculated the odds ratios and the association with chi square test. Results. During the year 2006-2007, 100 ACS patients who were dead during hospitalization and 200 ACS patients who were survived were included in the study. We found significant association between renal dysfunction (eGFR <60 ml/min) and in-hospital mortality (OR 2,969 CI 95% 1,726-5,106). We also calculated other risk factors using multivariate analysis, and we had adjusted OR for eGFR was 3,013 (CI 95% 1,639-5,40). There were other risk factors which were significant as mortality predictors: Killip class (OR 4,046 CI 95% 2,235-7,322), large involvement area of infarct (OR 3,862 CI 95% 2,128-7,006), and non-standardized medical treatment (OR 2,598 CI 95% 1,238-5,452). Conclusions. Estimated GFR (eGFR) is an independent mortality predictor for in-hospital mortality in ACS patients. There are other risk factors which are significant as mortality predictors: Killip class, large involvement area of infarct, and non-standardized medical treatment. Keywords: acute coronary syndrome, eGFR, mortality
Pengaruh Penggunaan Proton Pump Inhibitor Jangka Panjang terhadap Sindrom Frailty pada Pasien Usia Lanjut Dewi, Stephanie; Laksmi, Purwita W; Syam, Ari Fahrial; Dewiasty, Esthika; Seto, Euphemia
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Sindrom frailty berkaitan dengan angka morbiditas dan kematian yang lebih tinggi, sehingga dipakai sebagai prediktor kesehatan pada orang usia lanjut (usila). Polifarmasi sebagai salah satu faktor risiko sindrom frailty dapat berkaitan dengan obat Proton Pump Inhibitor (PPI) yang sering diberikan pada usila atas indikasi adanya keluhan gangguan saluran cerna bagian atas. Sampai saat ini belum ada penelitian yang mempelajari hubungan PPI jangka panjang dan sindrom frailty pada usila.Metode. Studi kasus kontrol pada pasien usila di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Kelompok kasus adalah usila terdiagnosis Frailty menurut FI-40 item dan kontrol adalah usila yang tidak frail berdasarkan instrumen yang sama. Data yang digunakan pada penelitian ini berasal dari data sekunder status frailty berdasarkan penelitian sebelumnya dan data rekam medis poliklinik Geriatri dan poliklinik diabetes RSCM.Hasil. Didapatkan 225 subjek (75 kasus: 150 kontrol), 59,6% berjenis kelamin perempuan (rerata usia 72,14 tahun; simpang baku ± 6,4 tathun) dan 47,1% berpendidikan tinggi. Subjek yang berpendidikan rendah, berstatus cerai mati, berstatus nutrisi lebih buruk, tidak mandiri, memerlukan caregiver, hidup tidak berkecukupan dan kondisi kesehatan yang lebih buruk lebih banyak didapatkan pada kelompok frail dibandingkan kelompok yang tidak frail. Proporsi pengguna PPI Jangka Panjang sebesar 40,9%. Penggunaan PPI jangka panjang meningkatkan risiko sindrom frailty (Crude OR 2,15; IK 95% 1,22- 3,78; p<0,007) dengan adjusted OR 1,83 (IK 1,0-3,36) terhadap variabel nutrisi dan merokok.Simpulan. Penggunaan PPI jangka panjang (≥ 6 bulan) secara independen meningkatkan salah satu risiko sindrom frailty pada usila.Kata Kunci: frailty, geriatri, proton pump inhibitor jangka panjang, usia lanjutThe Effect of Long-Term Proton Pump Inhibitor Use on Frailty Syndrome in Elderly PatientsIntroduction. Frailty syndrome, the newest elderly health predictor, associated with higher morbidity and mortality. PPI are often used in elderly due to presence of upper gastrointestinal complaints, and relates with polypharmacy as one of the risk factor for frailty syndrome. There is no study of the relationship between long term PPI use and frailty syndrome in elderly.Methods. A case control study included subjects 60 years and above with good cognitive status. All subjects with history of hypersensitivity of PPI were excluded. Elderly who were frail based on FI-40 item were defined as cases, while individuals that were not frail were classified as control. Primary data (included frailty status) was collected on March-June 2013 by Seto E and Sumantri S, et al. Secondary data used in this current study were gathered from the primary data of previous research and from the medical record taken from geriatric and diabetic outpatient clinics Cipto Mangunkusumo Hospital.Results. There were 225 subjects collected (75 cases: 150 controls), 59,6% were female (mean age 72,14 years old, SD ± 6,4 years) and 47,1% with higher education. Lower education, divorced, poor nutrition, dependent, needed caregiver, economically insufficient, more comorbidity and poor health condition were seen in frail group. The proportion of long term PPI use were 40,9%. Long term PPI medication increased the risk of frailty syndrome (Crude OR 2,154; CI 95% 1,225-3,778; p<0,007) with adjusted OR 1,83 (CI 95% 1,02-3,37) after adjusting with nutrition and smoking variables.Conclusions. Long term use of PPI significantly increase the risk of frailty syndrome compared to the non-users.
Peran Tindakan Revaskularisasi terhadap Kesintasan Pasien Non ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) Amarendra, Gerie; Makmun, Lukman H; Antono, Dono; Dewiasty, Esthika
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Pengaruh revaskularisasi terhadap kesintasan pasien non ST elevation myocardial infarction (NSTEMI) masih belum jelas. Waktu revaskularisasi yang optimal pada pasien NSTEMI belum ditemukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh revaskularisasi terhadap kesintasan pasien NSTEMI, juga mengetahui pengaruh waktu revaskularisasi terhadap kesintasan pasien NSTEMI.Metode. Penelitian dengan disain kohort retrospektif dilakukan terhadap 300 pasien non ST elevation myocardial infarction yang dirawat di RSUPNCM pada kurun waktu Desember 2006-Maret 2011. Data klinis, laboratorium, elektrokardiografi (EKG), ekokardiografi, dan angiografi koroner dikumpulkan. Pasien yang telah terhitung enam bulan setelah onset kemudian dihubungi melalui telepon untuk melihat status mortalitasnya. Perbedaan kesintasan revaskularisasi ditampilkan dalam kurva Kaplan Meier dan perbedaan kesintasan diantara dua kelompok diuji dengan Log-rank test dengan batas kemaknaan <0,05, serta analisis multivariat dengan Cox proportional hazard regression untuk menghitung adjusted hazard ratio (dan interval kepercayaan 95%) antara pasien NSTEMI yang menjalani terapi medikamentosa dan revaskularisasi terhadap kelompok medikamentosa dengan memasukkan variabel perancu.Hasil. Terdapat perbedaan kesintasan yang bermakna pada uji log rank (p<0,001) antara pasien NSTEMI yang menjalani revaskularisasi dan terapi medikamentosa saja dengan crude HR 0,19 (IK95% 0,11-0,34) dan fully adjusted HR 0,33 (IK95% 0,17-0,64). Faktor perancu yang bermakna adalah penurunan fungsi ginjal dan syok kardiogenik. Pada analisis kesintasan berdasarkan waktu revaskularisasi tidak didapatkan perbedaan kesintasan antara pasien yang menjalani revaskularisasi < 1 minggu, 1-2 minggu, 2-3 minggu, 3-4 minggu, 4-5 minggu dengan p=0,853.Simpulan. Kesintasan enam bulan pasien NSTEMI yang menjalani terapi medikamentosa dan revaskularisasi lebih baik dibandingkan dengan terapi medikamentosa saja. Tidak terdapat perbedaan kesintasan enam bulan pasien NSTEMI berdasarkan waktu revaskularisasi.
Faktor-Faktor yang Berperan terhadap Terjadinya Lipodistrofi pada Pasien HIV yang Mendapatkan Terapi Antiretroviral Lini Pertama Kusumayanti, Ratu Ratih; Yunihastuti, Evy; Purnamasari, Dyah; Witjaksono, F; Dewiasty, Esthika
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Seiring dengan perkembangan antiretroviral, harapan hidup pasien HIV terus meningkat namun menjadi rentan terhadap efek samping pengobatan. Salah satu efek samping pengobatan adalah sindrom lipodistrofi, meliputi lipoatrofi, lipohipertrofi, atau gabungan keduanya. Faktor risiko yang dikaitkan dengan lipodistrofi pada HIV adalah usia, jenis kelamin, lama terapi antiretroviral, CD4 awal, Stadium HIV, dan pemakaian Stavudin. Belum ada publikasi di Indonesia yang meneliti kejadian lipodistrofi pada populasi pasien HIV yang mendapat terapi ARV lini pertama serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kejadian lipodistrofi pada pasien HIV dalam terapi ARV lini pertama berbasis Stavudin dan Zidovudin minimal 6 bulan serta faktor-faktor yang memengaruhinya yang berobat di Pokdisus RSCM.Metode. Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang dan kasus kontrol untuk mengetahui prevalensi lipodistrofi pada pasien HIV dengan ARV lini pertama serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Analisis statistik menggunakan uji chi square atau uji Kolmogrof Smirnoff untuk mendapatkan hubungan antara masing-masing faktor risiko dengan terjadinya lipodistrofi. Analisis multivariat dilakukan dengan regresi logistik.Hasil. Sebanyak 346 pasien terlibat dalam penelitian ini. Didapatkan prevalensi lipodistrofi sebesar 27,5%, dengan rincian 70,5% lipoatrofi, 8,4% lipohipertrofi, dan 21,1% gabungan keduanya. Lokasi lipoatrofi terbanyak di daerah wajah. Prevalensi lipodistrofi pada subjek yang menggunakan Stavudin sebesar 43.3%, dan Zidovudin sebesar 10,7%. Faktor yang berhubungan dengan kejadian lipodistrofi adalah penggunaan Stavudin [p= <0,001; adjusted OR 5,34 IK95% (2,59 – 10.98)].Simpulan. Didapatkan prevalensi Lipodistrofi pada pasien HIV yang mendapatkan terapi ARV lini pertama adalah 27.5%, dan didapatkan hubungan antara kejadian lipodistrofi pada pasien HIV dengan penggunaan Stavudin.
Peran Bersihan Laktat pada Kesintasan Pasien Sepsis Berat Hambali, Wirawan; Chen, Lie Khie; Widodo, Djoko; Dewiasty, Esthika; Pohan, Herdiman T; Suhendro, Suhendro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Sepsis Berat merupakan masalah kesehatan dengan tingkat mortalitas yang tinggi serta insiden yang terus meningkat. Bersihan laktat menggambarkan kinetika metabolisme anaerob pasien sepsis berat dan merupakan parameter yang potensial untuk mengevaluasi kondisi penyakit dan intervensi pengobatan yang didapat pasien. Namun demikian, hubungan antara bersihan laktat terhadap terjadinya kematian pasien sepsis berat belum diketahui. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh bersihan laktat terhadap kesintasan pasien dengan sepsisberat, serta faktor-faktor perancu yang mempengaruhi hubungan tersebut.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian kohort prospektif yang dilaksanakan di Unit Gawat Darurat dan ruang perawatan Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada bulan Maret-Mei 2011. Pasien termasuk dalam kelompok bersihan laktat tinggi bila terdapat perbedaan kadar laktat ≥10% dalam 6 jam pertama pengobatan, sedangkan perbedaan <10% termasuk ke dalam kelompok bersihan laktat rendah. Selanjutnya, dilakukan observasi terhadap terjadinya kematian dalam 10 hari pertama perawatan pada kedua kelompok. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis mengunakan uji statistik log-rank test, serta dicari nilai hazard ratio dengan menggunakan uji cox regression model. Selanjutnya, dilakukan analisis variabel perancu dengan menggunakan uji cox regression.Hasil. Laju kesintasan kelompok bersihan laktat tinggi dan rendah masing-masing sebesar 60,0% dan 26,7% (p=0,004). Median kesintasan yaitu 3 hari pada bersihan laktat rendah, sedangkan kematian tidak mencapai 50% pada bersihan laktat tinggi. Interkuartil I kedua kelompok berturut-turut sebesar 1 dan 4 hari. Dari analisis didapatkan hazard ratio sebesar 2,87 (IK 95%; 1,41-5,83). Pada analisis multivariat keberadaan syok sepsis, skor SOFA, penggunaan vasopresor/inotropik, transfusi dan cairan resusitasi, tidak ada yang mengubah nilai hazard ratio >10%. Oleh karena itu, tidak ada yang memenuhi syarat untuk disebut sebagai perancu.Simpulan. Pasien bersihan laktat tinggi memiliki kesintasan lebih tinggi dibandingkan pasien bersihan laktat rendah dan hubungan tersebut tidak dipengaruhi perancu. Kata Kunci: bersihan laktat, kesintasan, sepsis berat The Role of Lactate Clearance in Severe Septic Patients SurvivalIntroduction. Severe Sepsis is a major health problem that known to results high mortality rate, and still its incidents continue to rise. Lactate clearance represents kinetics alteration of anaerobic metabolism in severe septic patients that makes it to become a potential parameter to evaluate severity of one’s illness and intervention adequacy that received by the patient. However, the relationship between lactate clearance and occurrence of death in severe septic patients is still unknown.Methods. This is a prospective cohort study that conducted in Ciptomangunkusumo Hospital, from March to May 2011. Patients were categorized into high lactate clearance group if there were differences in lactate levels ≥ 10% in which occurred within the first 6 hours of the treatment, and contrary were categorized into low lactate clearance group. Occurrences of death were observed within the first 10 days. Afterward, the data were analyzed by means of survival analysis, Kapplan Meier curve were made, survival rate and median survival rate were determined, statistical test were calculated using log-rank test, and hazard ratios were calculated using Cox regression model test. Analysis of Confounder Variable was also performed using multivariate Cox regression testResults. The survival rate for high and low lactate clearance group were 60.0% vs. 26.7%, respectively (p=0,004). In low lactate clearance group the median survival was 3 days, while the mortality rate did not reach 50% in high lactate clearance group. The first Interquartile for these two groups was 1 day and 4 days, respectively. The hazard ratio that obtained from the analysis was 2.87 (95% CI, 1.41 - 5.83). On multivariate analysis the presence of septic shock, SOFA score, the use of vasopresor/inotropic, blood transfusion, fluid resuscitation didn’t change the hazard ratio value more than 10%. For that reason, these parameters were not considered as confounder.Conclusions. Patients with high lactate clearance have a better survival rate compared to patients with low lactate clearance, and its relationship is not influenced by confounder.
Pengaruh Edukasi Terstruktur dan Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi terhadap Penurunan Tekanan Darah Pasien Hipertensi Usia Lanjut: Uji Klinis Acak Tersamar Ganda Khomaini, Ayatullah; Setiati, Siti; Lydia, Aida; Dewiasty, Esthika
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Hipertensi masih menjadi permasalahan penting pada usia lanjut. Edukasi dan kepatuhan minum obat antihipertensi adalah salah satu faktor yang menjadi bagian tata laksana hipertensi secara holistik dan komprehensif. Penelitian ini dilakukan untuk menilai pengaruh edukasi terstruktur dan kepatuhan minum obat antihipertensi terhadap penurunan tekanan darah pada pasien usia lanjut.Metode. Uji klinis acak tersamar ganda pada Oktober 2012-Februari 2013 dilakukan pada pasien usia lanjut dengan hipertensi di tiga poliklinik di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Subjek dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok I yang mendapat edukasi terstruktur dan checklist, kelompok II yang mendapat edukasi terstruktur dan kelompok III tanpa edukasi terstruktur dengan checklist. Edukasi terstruktur dan checklist diberikan sebanyak 3 kali per bulan selama 90 hari. Dilakukan analisis dengan uji anova untuk melihat perbedaan tekanan darah pada ketiga kelompok setelah intervensi dengan prinsip analisis per protokol.Hasil. Didapatkan total 182 subjek yang memenuhi kriteria penelitian dan mengikuti penelitian sampai akhir, yang terdiri dari 60 subjek pada kelompok I, 61 subjek kelompok II dan 61 subjek kelompok III. Pada akhir pengamatan, tekanan darah sistolik (TDS) kelompok I, II dan II mengalami penurunan secara berturut-turut menjadi 130 (rentang 90-179) mmHg, 135 (rentang 80-174) mmHg dan 133 (rentang 102-209) mmHg (p=0,04). Sementara itu, tekanan darah diastolic (TDD) kelompok I, II dan III secara berturut-turut turun menjadi 70 (rentang 48-100) mmHg, 74 (rentang 45-103) mmHg dan 78 (rentang 60- 102) mmHg (p <0,001).Simpulan. Edukasi terstruktur memiliki pengaruh bermakna terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada kelompok hipertensi usia lanjut, sedangkan kepatuhan minum obat antihipertensi dalam bentuk checklist tidak memiliki pengaruh yang bermakna.Kata Kunci: edukasi terstruktur, checklist antihipertensi, hipertensi, usia lanjut Effect of Structured Education and Antihypertensive Medications Adherence to Decrease Blood Pressure for Hypertension in Elderly: a Randomized Controlled TrialIntroduction. Hypertension is one of the important problems in elderly due to high impact of cardiovascular complications. Education and antihypertensive medication adherence are considered as influence factors in a holistic and comprehensive hypertension treatment. This study was conducted to determine the effect of structured education and antihypertensive medication adherence in decreasing blood pressure as part of the hypertension treatment in elderly patients. Methods. A randomized clinical trial was conducted in October 2012 to February 2013 on hypertensive elderly patients at Cipto Mangunkusumo hospital, Jakarta. Subjects were divided into 3 groups: group I was received structured education and checklist, group II was received structured education, and group III was received checklist without structured education. Structured education was given 3 times per month for 90 days. Systolic and diastolic blood pressure (SBP and DBP) were measured on day-1 and day-90, then analyzed with anova test.Results. A total of 182 subjects that consisted of 60 subjects in group I, 61 subjects in group II and 61 subjects in group III was included in this study. Analysis results showed a decrease of SBP in group I, II and III to 130 (range 90-179) mmHg, 135 (range 80-174) mmHg and 133 (range 102-209) mmHg, respectively (p=0.04). Diastolic blood pressure (DBP) in group I, II, and III decreased to 70 (range 48-100) mmHg, 74 (range 45-103) mmHg and 78 (range 60-102) mmHg, respectively (p <0.001). Conclusions. Structured education significantly decreased systolic and diastolic blood pressure in elderly hypertensive patients, while adherence to antihypertensive medication did not affect signicifantly.
Uji Validasi Simple Risk Index dan Evaluation of Methods and Management of Acute Coronary Events dalam Memprediksi Mortalitas Pasien Sindrom Koroner Akut di Intensive Coronary Care Unit Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Meutia, Rahmah Safitri; Nasution, Sally Aman; Makmun, Lukman H; Dewiasty, Esthika
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 4 (2017)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Stratifikasi risiko merupakan komponen penting dalam tata laksana menyeluruh pasien sindrom koroner akut (SKA) untuk menghindari tindakan yang berlebihan pada pasien dengan risiko rendah, dan sebaliknya. Simple Risk Index (SRI) dan Evaluation of Methods and Management of Acute Coronary Events (EMMACE) telah divalidasi sebelumnya, namun uji validasi yang mengevaluasi performa skor SRI dan EMMACE di Indonesia dengan karakteristik pasien yang dapat berbeda dari negara lain belum dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi performa skor SRI dan EMMACE memprediksi mortalitas 30 hari pasien SKA.Metode. Studi kohort retrospektif dilakukan dengan menggunakan data rekam medis pasien SKA yang dirawat di Intensive Coronary Care Unit Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (ICCU RSCM) tahun 2003-2010. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode konsekutif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS for Windows versi 17. Performa diskriminasi dinyatakan dengan nilai area under the receiver-operator curve (AUC) dan performa kalibrasi dinyatakan dengan plot kalibrasi dan uji Hosmer Lemeshow.Hasil. Didapatkan total subjek sebanyak 922 pasien yang terdiri dari 453 pasien STEMI, 234 pasien NSTEMI,  dan 235 pasien UAP yang dirawat di ICCU RSCM pada tahun 2003-2010. Skor SRI untuk STEMI memberikan performa diskriminasi dan performa kalibrasi yang baik dengan nilai AUC sebesar 0,92 dan plot kalibrasi (R2)= 0,98 dengan hasil uji Hosmer Lemeshow mendapatkan nilai p=0,01. Skor SRI pada pasien SKA secara keseluruhan juga memberikan performa diskriminasi dan kalibrasi yang baik. Performa diskriminasi skor SRI pada pasien SKA mencapai nilai AUC sebsar 0,87 dan performa kalibrasi menunjukkan nilai R2= 0,99 dengan nilai p pada uji Hosmer lemeshow sebesar 0,52. Sementara itu, skor EMMACE pada pasien SKA memberikan perfoma diskriminasi yang baik (AUC= 0,87), namun performa kalibrasi tidak sebaik skor SRI (R2= 0,54; nilai p= 0,52).Simpulan.  Skor SRI memiliki performa diskriminasi dan kalibrasi yang baik pada STEMI maupun SKA secara keseluruhan dalam memprediksi mortalitas pasien yang dirawat di ICCU RSCM. Skor EMMACE memiliki performa diskriminasi yang baik, namun performa kalibrasinya kurang baik. Kata Kunci: EMMACE, mortalitas, SKA, skor, SRI, validasi Validity of Simple Risk Index and Evaluation of Methods and Management of Acute Coronary Events to Predict Mortality in Acute Coronary Syndrome Patients in Intensive Coronary Care Unit Cipto Mangunkusumo HospitalIntroduction. Risk stratification is an important part in the management of patients with an Acute Coronary Syndrome (ACS) to avoid overtreatment or undertreatment. Although Simple Risk Index (SRI) and Evaluation of Methods and Management of Acute Coronary Events (EMMACE) have been validated in other countries, no study of its applicability has been performed in Indonesia with different patients’ characteristics. This study aims to obtain the calibration and discrimination performance of SRI and EMMACE to predict 30 days mortality in ACS patients in ICCU of Cipto Mangunkusumo Hospital.Methods. A retrospective cohort study with consecutive sampling was conducted in ACS patients hospitalized in the ICCU Cipto Mangunkusumo hospital between the period of 2003 up to 2010. Data analyzed performed by SPPS program for Windows Version 17. The discrimination performance was explained using a value of area under the receiver-operator curve (AUC) while calibration performance was evaluated using hosmer lemeshow and plot calibration.Results. A total of 922 patients were included in this study consisted of 453 STEMI patients, 234 NSTEMI patients and 235 UAP patients. Simple Risk Index (SRI) score for STEMI had presentable discrimination and calibration performance (AUC= 0,92; R2= 0,98; and p value= 0,01). Simple Risk Index (SRI) score for overall ACS also showed sufficient performance and calibration discrimination (AUC= 0,87; R2= 0,99; and p value= 0,52). Meanwhile, EMMACE score in ACS patients showed satisfactory performance discrimination (AUC= 0,87), but the calibration perfomance was not as satisfactory as the SRI score with the calibration plot (R2)= 0,54 (p value= 0,52).Conclusions. Simple Risk Index (SRI) score shows a satisfactory discrimination and calibration performance both in STEMI and overall ACS patients in predicting mortality of ACS patients in ICCU Cipto Mangunkusumo Hospital. Evaluation of Methods and Management of Acute Coronary Events (EMMACE) score, nonetheless, displays sufficient discrimination performance, but poor performance of calibration.
Pengaruh Status Nutrisi terhadap Kesintasan 30 Hari Pasien Geriatri yang Dirawat di Rumah Sakit Lugito, Nata Pratama Hardjo; Soejono, Czeresna Heriawan; Wahyudi, Edy Rizal; Dewiasty, Esthika
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Dengan meningkatnya jumlah populasi usia lanjut, masalah kesehatan yang dialami juga semakin banyak, salah satunya malnutrisi. Studi di luar negeri menunjukkan malnutrisi pada pasien geriatri yang dirawat di rumah sakit menurunkan kesintasan. Pasien usia lanjut di Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda dengan pasien usia lanjut di luar negeri. Di Indonesia belum ada studi tentang status nutrisi pasien usia lanjut yang dirawat di rumah sakit dan pengaruhnya terhadap kesintasan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh status nutrisi terhadap kesintasan 30 hari pasien usia lanjut yang dirawat di ruang rawat akut geriatri dan ruang rawat penyakit dalam rumah sakit.Metode. Penelitian kohort retrospektif, dengan pendekatan analisis kesintasan, dilakukan terhadap 177 pasien geriatri yang dirawat di ruang rawat akut geriatri dan ruang rawat penyakit dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo selama bulan April–September 2011. Data demografis, diagnosis medis, kadar albumin, indeks ADL Barthel, geriatric depression scale, status nutrisi dengan mini nutritional assessment (MNA) dikumpulkan, dan diamati selama 30 hari sejak mulai dirawat untuk melihat ada tidaknya mortalitas. Perbedaan kesintasan kelompok pasien dengan status nutrisi baik, berisiko malnutrisi dan malnutrisi ditampilkan dalam kurva Kaplan-Meier, diuji dengan uji Log-rank, serta analisis multivariat dengan Cox proportional hazard regression model untuk menghitung adjusted Hazard Ratio dan interval kepercayaan 95% terjadinya mortalitas 30 hari dengan memasukkan variabel-variabel perancu sebagai kovariat.Hasil. Kesintasan antara subyek yang status nutrisinya baik, berisiko malnutrisi dan malnutrisi ialah 94,7% dengan 89,0% dan 80,7%, namun perbedaan kesintasan 30 hari tak bermakna dengan uji Log-rank (p=0,106). Pada analisis multivariat didapatkan adjusted HR setelah penambahan variabel perancu sebesar 1,49 (IK 95% 0,29 – 7,77) untuk kelompok berisiko malnutrisi dan 2,65 (IK 95% 0,47 – 14,99) untuk kelompok malnutrisi dibandingkan dengan pasien nutrisi baikSimpulan. Perbedaan kesintasan 30 hari pasien geriatri yang dirawat di rumah sakit yang menderita malnutrisi dan berisiko malnutrisi dibandingkan dengan status nutrisi baik pada awal perawatan belum dapat dibuktikan.
Hubungan Derajat Aktivitas Penyakit dengan Depresi pada Pasien Artritis Reumatoid Mudjaddid, E; Puspitasari, Myra; Setyohadi, Bambang; Dewiasty, Esthika
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 4 (2017)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Artritis Reumatoid (AR) merupakan penyakit kronik sistemik yang sering disertai dengan depresi pada 20-30% pasiennya. Derajat aktivitas penyakit AR dinilai dapat memengaruhi terjadinya depresi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proporsi depresi pada pasien AR dan hubungan antara derajat aktivitas penyakit dengan depresi pada pasien AR.Metode. Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang dilakukan dengan memeriksa pasien AR di Poliklinik Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam RS Cipto Mangunkusumo Jakarta yang memenuhi kriteria inklusi secara konsekutif pada bulan Januari sampai Maret 2017. Derajat aktivitas penyakit AR dinilai  dengan menggunakan Disease Activity Score - 28 (DAS 28) dan depresi dinilai dengan kuesioner Back Depression  Inventory (BDI). Analasis statistik dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 20.0.Hasil. Dari 145 subjek yang ikut dalam penelitian, sebanyak 90,3% adalah wanita (131 orang). Median usia subjek adalah 55 tahun (rentang 19-83 tahun). Sebanyak 45 subjek (31%) memiliki masalah psikososial (stresor). Hasil analisis menunjukkan bahwa proporsi depresi pada pasien AR sebesar 35,9% (IK 95%30–42%). Derajat aktivitas penyakit subjek yang diukur dengan DAS 28 menunjukkan bahwa proporsi subjek dengan derajat aktivitas AR ringan, sedang, dan berat secara berturut-turut yaitu 24 (82,8%), 52 (66,7%), dan 4 (23,5%). Hasil analisis chi- square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara derajat aktivitas penyakit dengan depresi  pada pasien AR (p = 0,001).Simpulan. Proporsi kejadian depresi pada pasien AR di RSCM adalah sebesar 35,9%. Derajat aktivitas penyakit memiliki hubungan yang bermakna dengan depresi pada pasien AR. Kata Kunci: Artritis Reumatoid, depresi, derajat aktivitas penyakit Association between Disease Activity and Depression in Rheumatoid Arthritis PatientsIntroduction. Rheumatoid Arthritis (RA) is a chronic, systemic disease that cause synovialinflammation and progressive destruction to cartilages and deformities. Prevalence of depressionin RA patients is 20 to 30%. Disease activity is considered to have association with depression. This study aims to identify the prevalence of depression in RA patients and the associationbetween disease activity index and depression in RA patients.Methods. A cross-sectional study of 145 RA patients that fulfilled the inclusion criteria was conducted in Rheumatology Outpatient Clinic at Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta from January to March 2017.Evaluation of Disease Activity Score - 28 (DAS 28) and Back Depression Inventory (BDI) was done to the patients. Statistical analysis was performed using SPSS version 20. Categorical variables were compared using chi-square test.Results. A total of 145 subjects were included in this study and most of them were female (90.3%). Median age of subjects was 55 years (range 19-83 years). Forty five subject (31%) were identified having psychosocial stressor. The proportion of depression in RA patients was 35.9% (95% CI 30-42%). Based on Disease Severity Score, it was found that subject with mild, moderate, and severe score were 24 (82.8%), 52 (66.7%), and 4 (23.5%), respectively. There was significant association between disease activity with depressionin rheumatoid arthritis patient  (p= 0.001).Conclusion. The proportion of depression in RA patients at RSCM is 35,9 %. There was significant association between disease activity with depression in RA patients.