Articles

Found 12 Documents
Search

TREND IN PRECIPITATION OVER SUMATERA UNDER THE WARMING EARTH Iskandar, Iskhaq; Irfan, Muhammad; Syamsuddin, Fadli; Johan, Akmal; Poerwono, Pradanto
International Journal of Remote Sensing and Earth Sciences (IJReSES) Vol 8, (2011)
Publisher : National Institute of Aeronautics and Space of Indonesia (LAPAN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.415 KB) | DOI: 10.30536/j.ijreses.2011.v8.a1737

Abstract

A long-term climate variations in the western Indonesian region (e.g. Sumatera) were evaluated using precipitation data as a proxy. The result showed that there was a long-term climate variation over Sumatera region indicated by a decreasing trend in precipitation (drying trend). Moreover, the long-term precipitation trend has a strong seasonality. Remarkable decreasing trend at a rate of 3.9 cm/year (the largest trend) was observed during the northwest monsoon (DJF) season, while the smallest decreasing trend of 1.5 cm/year occurred during the southeast monsoon (JJA) season. This result suggested that the Sumatera Island experienced a drying trend during the northwest monsoon season, and a dryer condition will be more frequently observed during the southeast monsoon season. The long-term precipitation over the Sumatera Island was linked to coupled air-sea interactions in the Indian and Pacific oceans. The connection between the seasonal climate trends and sea surface temperature (SST) in the Indian and Pacific oceans was demonstrated by the simultaneous correlations between the climate indices (e.g. Dipole Mode Index (DMI) and the Niño3.4 index) and the precipitation over the Sumatera Island. The results suggested that both the Indian Ocean Dipole (IOD) and the El Niño-Southern Oscillation Index (ENSO) have significant correlation with precipitation. However, remarkable correlations were observed during the fall transition of the IOD event. Keywords: Climate variations, Dry season, Precipitation, Sumatera and Kalimantan, Wet season.
Analisis Bahan Magnet Nanokristalin Barium Heksaferit (BaO•6Fe2O3) dengan Menggunakan High-Energy Milling Johan, Akmal
Jurnal Penelitian Sains Vol 14, No 1 (2011)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1746.27 KB)

Abstract

Telah disintesis bahan magnet nanokristalin barium heksaferit dengan menggunakan high-energy milling. Secara sistematis waktu milling dilakukan selama 5, 10, 15, 20 dan 30 jam disertai dengan proses annealing dari temperatur ruang hingga temperatur 400_C, 600_C, 800_C dan 1000_C selama 3 jam. Hasil pengukuran pola difraksi sinar-X sebelum dan setelah proses milling menunjukkan deformasi struktur kristal yang ditandai dengan tinggi puncak difraksi yang semakin menurun serta semakin melebar dan ditandai oleh penurunan sifat kemagnetan bahan. Dari pengukuran sifat kemagnetan sebelum dan sesudah proses milling selama 30 jam masing-masing nilai koersivitas intrinsik adalah 1,68 kOe dan 1,13 kOe, sedangkan nilai magnetisasi remanen diperoleh masing-masing 42,5 emu/gram dan 8,16 emu/gram. Proses pemanasan (annealing) pada temperatur 1000_C selama 3 jam terhadap bahan yang telah di milling, menunjukkan perbaikan sifat magnet bahan terutama nilai koersivitas intrinsik naik hingga 4,39 kOe, serta nilai magnetisasi remanen yang kembali seperti sebelum di milling sekitar 40,8 emu/gram. Terkait dengan peningkatan koersivitas magnet intrinsik dari 1,68 kOe (origin) menjadi 4,39 kOe setelah rekristalisasi dengan ukuran kristalit yang semakin halus, maka dapat disimpulkan bahwa peningkatan sifat magnet intrinsik ini akibat perubahan ukuran kristalit yang menurun dalam rentang nanometer yaitu sekitar ukuran 40-60 nm dibandingkan sebelum proses milling sekitar 1 μm (1 mikron).
Karakterisasi Konduktivitas, Porositas dan Densitas Bahan Keramik Na-Β”-Al2O3 dari Komposisi Na2O 13% dan Al2O3 87% Dengan Variasi Waktu Penahanan Johan, Akmal; Ramlan, Ramlan
Jurnal Penelitian Sains Vol 11, No 3 (2008)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5470.632 KB)

Abstract

Telah dilakukan karakterisasi bahan keramik Na-β”-Al2O3 dimana keramik ini sebagai bahan elektronik padat pada baterai kering. Karakterisasi dilakukan dari bahan dasar Na2CO3, MgCO3 dan Al2O3 melalui penentuan konduktivitas listrik, porositas, densitas, pengaruh waktu panahanan (6 jam, 8 jam dan 10 jam) dan fasa setelah disintering. Hasil penelitian pada keramik Na-β”-Al2O3 dengan panahanan selama 6 jam, porositas lebih kecil dan densitasnya lebih besar yaitu 51,1195% dan 1,5349 gr/cm3, untuk penahanan 8 jam porositasnya meningkat dan densitasnya menurun sebesar 55,4781% dan 1,4608 gr/cm3, sedangkan untuk penahanan selama 10 jam porositasnya bertambah besar dan densitasnya semakin menurun yaitu 57,3142% dan 1,4405 gr/cm3. Untuk konduktivitas pada saat penahanan 6 jam lebih besar yaitu 77X10-6 (Ohm.cm)-1, sedangkan untuk penahanan 8 jam dan 10 jam yaiyu 8,98X10-6 (Ohm.cm)-1 dan 5,04X10-6 (Ohm.cm)-1. Serta analisa XRD dengan sintering pada suhu 1159°C dan waktu penahan selama 6 jam fasa β” telah terbentuk.
Prediksi Suhu Atmosfer Bumi Berdasarkan Model Transfer Radiasi Termal 1-Dimensi Johan, Akmal
Jurnal Penelitian Sains No 13 (2003)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1100.21 KB)

Abstract

Terbentuknya profil distribusi vertikal suhu atmosfer bumi ingin dipahami secara teori melalui model lapisan atmosfer dengan mekanisme transfer radiasi antar lapisan dimaksud. Hasil perhitungan dengan menggunakan data nilai solar constant S = 1370 W/m2, albedo r0 = 0,3 serta reflektivitas dan transmisivitas optik dari komponen gelombang pendek (SW) dan gelombang panjang (LW) yang terukur, diperoleh keseauaian kualitatif dengan pola profil suhu yang diperoleh dari hasil pengukuran sebagaimana tercantum dalam literatur standar. Selain dari pada itu, secara kuantitatif diperoleh kesesuaian dengan data hasil perhitungan perataan horizontal model GCM (General Circulation Model), hingga ketinggian ~400 hPa (~7000 meter) dari permukaan bumi. Model transfer radiasi ini juga memberi gambaran tentang profil suhu untuk beberapa skenario menyangkut kondisi iklim global.
Analisa Tingkat Energi Spektrum Atom Merkuri (Hg) Dengan Spektrometer Optik Johan, Akmal
Jurnal Penelitian Sains Vol 11, No 1 (2008)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7913.797 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang analisa tingkat energi spektrum atom merkuri (Hg) dengan spektroskopi optik. Dari penelitian didapatkan garis-garis warna spektrum atom yaitu pada jangkauan cahaya tampak yang panjang gelombangnya berkisar antara 4000Å sampai 7000 Å. Dari hasil ini jelas bahwa transisi-transisi atomik tertentu yang diizinkan dimana transisi-transisi tertentu ini mengindikasikan kediskritan dari tingkat energi atom merkuri, dengan kata lain energi emisi berupa paket-paket kuanta (energinya terkuantisasi). Pada atom merkuri berperan dalam emisi radiasi adalah dua elektron pada kulit terluar, karena ini praktis spektrumnya adalah spektrum dua elektron. Meskipun demikian, karena atom ini merupakan atom berat, maka terdapat penyimpangan dalam kopling L-S dari momentum sudut. Penyimpangan ini ditunjukkan oleh beberapa garis spektral yang melanggar kaidah seleksi DS=0.
Pembuatan dan Karakterisasi Keramik Na-Β”-Al2O3 Berbasis 86% AL2O3 – 14% Na2O Dengan Panambahan MgO Ramlan, Ramlan; Johan, Akmal
Jurnal Penelitian Sains Vol 11, No 3 (2008)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6204.653 KB)

Abstract

Telah dilakukan pembuatan keramik Na-β”-Al2O3 yang dimanfaatkan sebagai elektrolit padat pada baterai kering Sodium Sulfur. Pembuatan keramik Na-β”-Al2O3 dilakukan melalui reaksi padatan (solid reaction), pembuatan pelet/sampel dan pemanasan (sintering). Paduan bahan baku Na2O-Al2O3 dilakukan sesuai dengan diagram fasa sistem Na2O-Al2O3 De Vries dan Roth dengan penambahan MgO (0%, 2% dan 4% berat). Pembuatan pelet dilakukan dengan metode cetak kering (dry pressing) dengan kuat tekan ±40.000 kPa. Proses pemanasan pada suhu pemanasan 1150°C selama 6 jam. Untuk mengetahui pangaruh MgO terhadap fasa yang terbentuk dan sifat bahan yang dibuat maka dilakukan karakterisasi yang meliputi analisa XRD, konduktivitas ion, densitas dan porositas. Dari hasil analisa XRD diketahui bahwa pembuatan keramik Na-β”-Al2O3 telah berhasil dilakukan. Pemambahan MgO hampir tidak mempengaruhi fasa yang terbentuk, karena semua komposisi dominan membentuk fasa Na-β”-Al2O3. Konduktivitas ion yang diuji pada suhu ruang untuk sampel A (0% MgO) sebesar 4,43X10-7 (Ohm.cm)-1, sampel B (2% MgO) sebesar 1,32X10-6 (Ohm.cm)-1 dan 2,69X10-6 (Ohm.cm)-1 untuk campel C (4% MgO). Sampel A, B dan C masing-masing memiliki densitas 1,54 gr/cm2; 1,56  gr/cm3 dan 1,63 gr/c,3 dengan porositas 53,85%; 53,51 dan 51,95%.
Karakterisasi Sifat Fisik dan Mekanik Bahan Refraktori _-Al2O3 Pengaruh Penambahan TiO2 Johan, Akmal
Jurnal Penelitian Sains Vol 12, No 2 (2009)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1149.78 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian terhadap sifat fisik dan mekanik bahan refraktori _-Al2O3 terhadap pengaruh penambahan TiO2. Serbuk kering -Al2O3 dicampur dengan serbuk TiO2 dengan variasi penambahan 0 - 5 % berat, kemudian ditambahkan PVA sebagai pengikat sebanyak 2% berat. Setiap sampel dikompaksi dengan tekanan sebesar 9 ton dan dipanaskan dengan variasi suhu pemanasan 1300_C, 1400_C, 1500_C dan 1600_C. Hasil karakterisasi dengan XRD menunjukkan bahwa dengan penambahan TiO2 tidak berpengaruh pada struktur kristal alumina, dan tidak terdeteksi fasa hasil reaksi antara TiO2 dengan alumina. Dari kurva hasil pengamatan dengan DTA dapat diketahui bahwa suhu transisi dari fasa  ke _ terjadi pada suhu 1176,33_C dan menyerap energi dari luar, dengan massa hilang sebesar 0,047%. Dari hasil pengukuran kerapatan dan kekerasan, didapatkan bahwa penambahan TiO2 ternyata meningkatkan nilai kerapatan dan kekerasan bahan alumina. Nilai kerapatan maksimum adalah 3,9043 gr.cm−3, diperolah pada sampel dengan penambahan TiO2 sebanyak 4% berat setelah dipanaskan pada suhu 1400_C. Sedangkan nilai kekerasan maksimum yaitu 1136,6 kg.mm−2, diperoleh pada sampel dengan penambahan TiO2 sebanyak 4% berat setelah dipanaskan pada suhu 1500_C.
Identifikasi Keramik Na-β”-Al2O3 dengan Penambahan Variasi Komposisi (0%, 3% dan 6%) Berat MgO Ramlan, Ramlan; Johan, Akmal
Jurnal Penelitian Sains Vol 12, No 1 (2009)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3146.413 KB)

Abstract

Telah diidentifikasi keramik Na-β”-Al2O3 sebagai bahan elektrolit padat pada baterai Sodium Sulfur (Na-S) Cell. Sampel di buat dengan teknik cetak kering (dry pressing), pada kuat tekan 40.000 kPa. Karakterisasi yang meliputi analisis struktur fasa, konduktifitas ionik, porositas dan densitas. Paduan bahan baku Al2O3-Na2O berdasarkan Diagram Biner De Vries dan Roth serta Diagram Tersier Al2O3-Na2O-MgO, pada komposisi 87% mol Al2O3 dan 13% mol Na2O dengan penambahan variasi aditif (0%, 3% dan 6%) berat MgO serta bahan perekat PVA 4% berat. Proses sintering dilakukan pada temperatur 1150_C selama ±6 jam. Hasil pengujian terbaik didapatkan pada penambahan 3% berat MgO dengan konduktifitas ionik pada temperatur ruang sebesar 2, 8998×10−6 (.cm)−1, porositas 56,4196% dan densitas 1,4728 gr/cm3, sedangkan fasa β”-Al2O3 lebih dominan terbentuk pada penambahan 6% berat MgO.
EFEK HIGH ENERGY MILLING TERHADAP KOERSIVITAS MAGNET INTRINSIK BaO.6Fe2O3 Ridwan, Ridwan; Johan, Akmal; Mujamilah, Mujamilah; Adi, Wisnu Ari
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 7, No 1: OKTOBER 2005
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Material - National Nuclear Energy Agency of

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.522 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2005.7.1.5011

Abstract

EFEK HIGH ENERGY MILLING TERHADAP KOERSIVITAS MAGNET INTRINSIK BaO.6Fe2O3. Studi mengenai sifat magnet serbuk bahan BaO.6Fe2O3 akibat proses penghalusan menggunakan higgh-energy milling yang diikuti oleh perlakuan annealing pada suhu 400 ºC, 600 ºC, 800 ºC, 1000 ºC dan 1100 ºC telah dilakukan. Penurunan sifatmagnet bahan setelah di milling selama 30 jam disebabkan telah terjadi deformasi kristal bahan. Proses annealing terhadap serbuk hasil milling di bawah suhu 800 ºC selama 3 jam belum dapat mengembalikan sistem fasa sepenuhnya. Setelah suhu anneal ditingkatkan hingga 1000 ºC, fasa BaO.6Fe2O3 tumbuh kembali dengan koersivitas intrinsik meningkat hingga Hci = 4,4 kOe, dibandingkan dengan koersivitas serbukmagnet sebelumproses milling Hci yang hanya 1,7 kOe. Peningkatan koersivitas intrinsik ini sangat terkait dengan ukuran partikel yang jauh lebih halus dibandingkan dengan yang tidak dimilling. Annealing pada suhu 1100ºC, menunjukkan terjadi penurunan kembali koersivitas intrinsik Hci = 3,7 kOe, ini diperkirakan akibat adanya pertumbuhan kristalit.
PENGARUH ADITIF MgO DAN PERLAKUAN PANAS TERHADAP MATERIAL ELEKTRO KERAMIK BERBASIS BETA ALUMINA (β”-ALUMINA) Ramlan, Ramlan; Johan, Akmal; Arsali, Arsali; Soegijono, Bambang
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 9, No 3: JUNI 2008
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.463 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2008.9.3.4728

Abstract

PENGARUH ADITIF MgO DAN PERLAKUAN PANAS TERHADAP MATERIAL ELEKTRO KERAMIK BERBASIS BETA ALUMINA (β”-ALUMINA). Telah dilakukan pembuatan β”-Alumina menggunakan metode metalurgi serbuk dengan paduan komposisi α-Alumina 83 %, Na2O 10 % dan variasi MgO masing-masing 5,5 %; 6,7%; 7,9 %; 8,9%dan 10%. Proses pencampuran dilakukan dengan menggerus selama 4 jam. Kemudian bahan paduan di bentuk pelet menggunakan hydroulic press dengan tekanan 3 ton. Sampel disinter pada suhu 1500 oC selama 5 jam. Untuk 7,9 % bahan diberikan perlakuan panas untuk 3 kali perlakuan panas pada suhu yang berbeda yaitu pada 1300 oC, 1400 oC dan 1500 oC. Karakterisasi meliputi analisis fasa dengan XRD, identifikasi fasa menggunakan perangkat lunak Match dan GSAS serta analisis struktur mikro dengan SEM. Hasil dari analisis fasa memperlihatkan telah terbentuknya β”-Alumina dan masih adanya β-Alumina pada semua variasi MgO yang digunakan. Dengan kata lain fasa β”-Alumina tidak terbentuk 100%. Variasi MgO juga memberikan densitas yang relatif tinggi begitu juga dengan fraksi berat. Pembentukan fasa β”-Alumina tidak mencapai 100 %, tetapi dengan penambahan MgO maka dapat diperoleh fasa stabil.