Articles

Found 3 Documents
Search

PRODUKSI REKOMBINAN SEFALOSPORIN ASILASE SEBAGAI BIOKATALIS UNTUK PRODUKSI ASAM 7-AMINOSEFALOSPORANAT

Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 4, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1087.024 KB)

Abstract

Production of Cephalosporin Acylase Recombinant as Biocatalyst for 7-Aminocephalosporanic Acid Production7-aminocephalosporanic acid (7-ACA) is a precursor for the production of semisynthetic cephalosporin derivatives. The enzymatic 7-ACA production can use two-stage and one-step enzymatic methods. Two-stage enzymatic method uses D-amino acid oxidase (DAAO) enzyme to produce glutaryl-7-aminocephalosporanic acid (GL-7-ACA) in the first stage and glutaryl-7-aminocephalosporanic acid acylase to produce 7-ACA in the second stage. The one-stage enzymatic method using cephalosporin acylase (CPC acylase) converts the CPC to 7-ACA directly. The aim of this research was to produce recombinant CPC acylase in Escherichia coli BL21(DE3). Transformantion culture E. coli BL21(DE3) was induced with concentrations of IPTG 0; 0.25; 0.5; 0.75; 1; 2 mM for 5 hours. The induction time of IPTG was determined at 0, 1, 2, 3, 4, and 5 hours. The results showed that CPC acylase produced by E. coli BL21(DE3) with optimum condition of CPC acylase production was 0.5 mM IPTG and optimal induction time of IPTG was 5 hours.Keywords: Cephalosporin, cephalosporin acylase, 7-ACA, protein expression, Escherichia coli BL21(DE3) ABSTRAKAsam 7-aminosefalosporanat (7-ACA) merupakan prekursor untuk produksi turunan sefalosporin semisintetik. Produksi 7-ACA secara enzimatik dapat menggunakan metode dua tahap dan satu tahap enzimatik. Metode enzimatik secara dua tahap menggunakan enzim asam D-amino oksidase (DAAO) untuk menghasilkan asam glutaril-7-aminosefalosporinat (GL-7-ACA) pada tahap pertama dan menggunakan asam glutaril-7-aminosefalosporinat asilase untuk menghasilkan 7-ACA pada tahap kedua. Metode enzimatik satu tahap dengan sefalosporin asilase (CPC asilase) mengubah CPC menjadi 7-ACA secara langsung. Tujuan penelitian adalah memproduksi rekombinan CPC asilase di dalam sel Escherichia coli BL21(DE3). Kultur Transforman E. coli BL21(DE3) diinduksi dengan konsentrasi IPTG 0; 0,25; 0,5; 0,75; 1; 2 mM selama 5 jam. Waktu induksi IPTG ditentukan pada 0, 1, 2, 3, 4 dan 5 jam. Hasil penelitian menunjukan bahwa CPC asilase diproduksi oleh E. coli BL21(DE3) dengan kondisi optimal produksi CPC asilase adalah konsentrasi IPTG 0,5 mM dan waktu induksi IPTG optimal adalah 5 jam.

BIOKONVERSI SEFALOSPORIN C MENJADI ASAM 7-AMINOSEFALOSPORANAT DENGAN SEFALOSPORIN ASILASE

Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 3, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.244 KB)

Abstract

Cephalosporins are the most widely used class of β-lactam antibiotic in the world and clinically active against gram positive and gram negative bacteria. Cephalosporin C (CPC) is naturally produced by fungus Cephalosporiun acremonium. CPC has moderate antibacterial activity with minimum inhibitory concentration values of 25-100 µg/mL and 12-25 µg/mL for gram-positive and for gram-negative bacteria, respectively. CPC can be converted into 7-aminocephalosporonic acid (7-ACA) as intermediate compound for cephalosporin derivatives by two-steps or one-step enzymatic method. Two-step enzymatic method uses D-amino acid oxidase (DAAO) to produce glutaryl-7-amino cephalosporanic acid (GL 7-ACA) for the first step and GL-7-ACA acylase to produce 7-ACA for the second step. One-step enzymatic method uses CPC acylase to convert CPC into 7-ACA directly. Some microorganisms produce CPC acylase, such as Pseudomonas sp., Bacillus megaterium, Aeromonas sp., dan Arthrobacler. A natural CPC acylase has low activity and genetic engineering was used to increase its activity.Keywords: Cephalosporin, cephalosporin acylase, 7-ACA, genetic engineering, mutation ABSTRAKSefalosporin merupakan antibiotik golongan β-laktam yang paling banyak digunakan di dunia dan secara klinis aktif terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Sefalosporin C merupakan sefalosporin alami yang dihasilkan oleh kapang Cephalosporium acremonium. Sefalosporin C mempunyai aktivitas antibakteri moderat dengan nilai konsentrasi hambat minimum 25-100 µg/mL untuk bakteri gram positif dan 12-25 µg/mL untuk bakteri gram negatif. Sefalosporin C dapat diubah menjadi asam 7-aminosefalosporanat (7-ACA) sebagai senyawa antara untuk pembuatan turunan sefalosporin dengan metode enzimatik secara dua atau satu tahap. Produksi 7-ACA secara enzimatik dapat menggunakan metode dua tahap dan satu tahap enzimatik. Metode enzimatik secara dua tahap menggunakan enzim asam D-amino oksidase (DAAO) untuk menghasilkan asam glutaril-7-aminosefalosporinat (GL-7-ACA) pada tahap pertama dan menggunakan asam glutaril-7-aminosefalosporinat asilase untuk menghasilkan 7-ACA pada tahap kedua. Metode enzimatik secara satu tahap menggunakan sefalosporin asilase untuk mengubah CPC menjadi 7-ACA secara langsung. Beberapa mikroorganisme penghasil sefalosporin asilase yaitu Pseudomonas sp., Bacillus megaterium, Aeromonas sp., dan Arthrobacter. Aktivitas CPC asilase alami sangat rendah dan rekayasa genetik digunakan untuk meningkatkan aktivitasnya.Kata kunci : Sefalosporin, sefalosporin asilase, 7-ACA, rekayasa genetik, mutasi

Biodiversitas Semut di Wilayah Gading Serpong, Tangerang

Surya Octagon Interdisciplinary Journal of Science and Technology Vol 1 No 2 (2016): SOIJST
Publisher : Surya University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.476 KB)

Abstract

Nowadays, ants have become a very interesting research subject due to their roles in environments, including as ‘ecosystems engineers’ and predators. Nonetheless, ant research in Indonesia is still rare, and hence it needs to be encouraged. Here we present the results of our investigation on ant biodiversity in Gading Serpong, Tangerang, which was conducted in the early of 2016.The investigation was done by collecting ants from 20 spots, and followed by the identification of ant species based on their morphological characteristics. Overall, we uncovered that there are 26 ant species from 7 subfamilies in Gading Serpong area. The most abundant species wasForelius mccooki, which has been known for their likeness to dry and hot environment. In addition, the Shannon-Wiener index of 2.72 indicates that the ant biodiversity atGading Serpong area isat moderate level, andthus the pollution level in Gading Serpong area is still of moderate impact.