Badarwan Badarwan, Badarwan
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Dinamika Sekolah Pinggiran dalam Perspektif Kepemimpinan Krisis di Kota Kendari Badarwan, Badarwan
Shautut Tarbiyah Vol 39, No 24 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehadiran pemimpin dalam penyelenggaraan organisasi merupakan aspek yang sangat menentukan. Kegagalan dan keberhasilan lembaga sangat bergantung pada kepiawaian pemimpin dalam mengatur irama organisasi, melakukan inovasi, dan menguatkan visi. Lembaga pendidikan yang saat ini tidak lagi murni non profit, juga mendapatkan tuntutan yang sama dalam kepemimpinan. Tinjauan ini menarik dibawa dalam mengkaji keberadaan sekolah-sekolah pinggiran di Kota Kendari, salah satunya di Yayasan Al Muhajirin, Baruga. Yayasan ini bergulat dalam persaingan antar sekolah yang sangat ketat, namun dengan kondisi sumber daya yang sangat terbatas. Hasilnya, sekolah ini hanya menjadi pelabuhan masyarakat pinggiran. Kata Kunci: Sekolah Daerah Pinggiran, Kepemimpinan Krisis Abstract            The presence of leaders in organizing the organization is a very decisive aspect. The failure and success of the institution is very dependent on the expertise of the leader in managing the rhythm of the organization, innovating, and strengthening the vision. Educational institutions that are currently not purely non-profit, also get the same demands in leadership. This interesting review was taken in reviewing the existence of suburban schools in Kendari City, one of which was at the Al Muhajirin Foundation, Baruga. This foundation is struggling in a very tight competition between schools, but with very limited resources. As a result, this school has only become a port of suburban communities. Keywords: Suburban Regional Schools, Crisis Leadership
Perilaku Sukarela di Pesantren: Karakter Langka di tengah Pusaran Pragmatisme SDM Lembaga Pendidikan Badarwan, Badarwan
Shautut Tarbiyah Vol 24, No 1 (2018): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di nusantara memiliki berbagai kearifan yang tetap relevan dalam menjawab persoalan pada lembaga pendidikan. Tumbuhnya berbagai lembaga pendidikan, yang mengusung tema-tema kemajuan, membuat pesantren mendapat stigma sebagai pendidikan masyarakat pinggiran atau disebut juga fenomena desa. Tetapi secara perlahan pesantren dapat beradaptasi dengan perkembangan terkini, dan mampu bersaing dengan lembaga pendidikan lain. Bahkan muncul fenomena "arus balik" masyarakat modern yang berlomba menitipkan anak mereka ke pesantren ataupun sekolah sehari penuh. Sisi lain pesantren yang unik dan menarik adalah sikap sukarelawan yang banyak ditunjukkan oleh pengelola pondok maupun lulusan pondok. Hal ini dapat dilihat paling tidak pada dua pesantren di Sulawesi Tenggara, yakni PM Gontor 7 Putera Riyadhatul Mujahidin dan Pondok Pesantren Darul Mukhlisin. PM Gontor 7 yang mengusung tema modernitas yang dipersepsikan  kalangan terntu sebagai pesantren "mahal", tetap menunjukkan jati diri sebagai pesantren yang memiliki tanggungjawab memajukan umat Islam dan mencari ridha Allah. Sikap sederhana ditunjukkan oleh pimpinan pondok dan jajaran guru, dan terutama dalam kajian ini adalah semangat menyerahkan diri untuk mengabdi kepada pesantren, dengan imbalan yang tidak menentu. Hal ini juga diamalkan oleh Pesantren Darul Mukhlisin. Dalam kondisi penuh sahaja, segenap pengasuh pesantren berupaya memberikan kinerja terbaik dalam melayani santri. Sikap dari dua pesantren ini terbangun di atas nilai dasar yang kuat, yaitu nilai teo-sosiologis. Nilai-nilai itu terus direproduksi dari generasi ke generasi, sehingga berdampak sikap empati pada pekerjaan, kinerja terbaik, terlibat penuh, dan menerima keterbukaan.   Kata Kunci: Perilaku Sukarela, Pengelolaan PesantrenPesantren as the oldest educational institution in the archipelago has various wisdom that remains relevant in answering the problems at educational institutions. The growth of various educational institutions, which carries the themes of progress, make pesantren get stigma as suburban society education or also called village phenomenon. But slowly pesantren can adapt to the latest developments, and able to compete with other educational institutions. Even emerging phenomenon of "backflow" modern society who race to entrust their child to boarding school or school all day. The other side of the unique and interesting pesantren is the volunteer attitude shown by the cottage managers and the cottage graduates. This can be seen in at least two pesantren in Southeast Sulawesi, namely PM Gontor 7 Putera Riyadhatul Mujahidin and Pondok Pesantren Darul Mukhlisin. PM Gontor 7, which carries the theme of modernity perceived by terntu as an "expensive" pesantren, still shows identity as a boarding school which has the responsibility of advancing Muslims and seeking Allah's approval. Simple attitude is shown by the leadership of the hut and the ranks of teachers, and especially in this study is the spirit of surrender to serve pesantren, with uncertain rewards. It is also practiced by Darul Mukhlisin Pesantren. In full condition, all pesantren caregivers strive to provide the best performance in serving students. Attitudes of these two pesantrens awakened on a strong foundation value, namely the theo-sociological value. Those values are continuously reproduced from generation to generation, impacting empathy on work, best performance, full engagement, and openness.Keywords: Voluntary behavior, Pesantren Management
Mewujudkan Keadilan Distributif (Distributive Justice) Sebagai Upaya dalam Mengatasi Kemangkiran (Abseenteism) Pegawai Badarwan, Badarwan; Syamsuddin, Syamsuddin
Shautut Tarbiyah Vol 22, No 2 (2016): Pendidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article was prepared with the aim to assess the steps that can be taken to realize distributive justice as countermeasures for employee absenteeism. Distributive justice in general diandang as perceptions about the fairness perceived by a person based on the ratio of the individual results obtained for his contribution as compared to the ratio of the result of the contributions of others. Employee perceptions is strongly associated with the comparison an employee of the results obtained for the work that has been accomplished with the results obtained other employees who generally had a load and performance are considered equivalent. If the result is obtained after dikomparasikan with others differ primarily considered inferior it will bring the perception of unfair behavior towards leadership. The results of employee perceptions is what can menimbulkann correlations and relationships with other employees work behavior is very important in maintaining the effectiveness and efisiens agencies. One aspect that could be affected is absenteeism. In the sense that if an employee discount perssepsi good against distributive justice better then kemangkirannya level will be low and vice versa pleasan.Key Words: Distributive Justice, Absenteeism
THE EFFECT OF SELF-EFFICACY ON ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR (OCB) EMPLOYEES OF INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KENDARI Syamsuddin, Syamsuddin; La Ringgasa, La Ringgasa; Badarwan, Badarwan
Langkawi: Journal of The Association for Arabic and English Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The problem studied in this research is whether self-efficacy has direct effect on Organizational Citizenship Behavior. The research method was done by using quantitative approach through survey method by collecting data through research instrument, and spreading questionnaire to the employee which the result then processed through SPSS program to know the influence between variables. The population in this study amounted to 103 people and a sample of 82 employees and lecturers who received additional duties as structural officials IAIN Kendari. Based on the results of this study, it is found that there is a direct positive effect of self-efficacy on IAIN Kendari organizational Citizenship Behavior (OCB) of 0.471 or self-efficacy had an effect on Organizational Citizenship Behavior (OCB) IAIN employees Kendari with 47.1%. Therefore, it is concluded that empowerment and self-efficacy have a direct positive and significant impact on IAIN Kendari Organizational Citizenship Behavior (OCB).
Dokumen Mutu dan Penyelenggaraan Lembaga Pendidikan Ardin, Ardin; Badarwan, Badarwan
Shautut Tarbiyah Vol 23, No 1 (2017): Pendidikan dan Sosial Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak            Pengelolaan lembaga pendidikan mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. Lembaga pendidikan yang ingin kompetitif berupaya merumuskan langkah-langkah strategis dalam penataan lembaganya, baik perangkat keras maupun perangkat lunak. Dokumen mutu merupakan bentuk perangkat lunak yang mesti disediakan oleh lembaga sebagai wujud terkelolanya lembaga secara baik dan terorganisir. Tujuannya adalah membangun keyakinan publik, membangun kepercayaan pengguna pendidikan, dan peningkatan layanan lembaga pendidikan. Dokumen mutu yang baik dalam penyelenggaran lembaga pendidikan sejatinya mencakup manual mutu, prosedur mutu, instruksi kerja, dan record kegiatan yang telah dilakukan.Kata Kunci: Dokumen Mutu, Lembaga Pendidikan, ISO
Landscape Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam (Kajian di MAN 1 Konawe Selatan) Badarwan, Badarwan
Shautut Tarbiyah Vol 25, No 1 (2019): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/str.v25i1.1355

Abstract

Lembaga pendidikan, pada jalur dan jenjang apapun, tidak berada pada ruang kosong. Meskipun bersifat statis, tetapi keberadaan manusia di dalamnya menyebabkannya menjadi sangat dinamis. Pada lembaga pendidikan, dinamika sudah dimulai ketika melakukan perintisan, yaitu menangkap kebutuhan-kebutuhan terkini dari pelanggan. Semakin tinggi lagi dinamikanya ketika menghadapi kompetisi dengan sekolah-sekolah lain dalam merebut kepercayaan masyarakat. Karenanya pengembangan lembaga pendidikan merupakan sebuah keharusan, termasuk yang dilakukan di MAN 1 Konawe Selatan. Kajian sederhana ini mendeskripsikan berbagai hal yang terjadi dalam proses pengembangan kelembagaan MAN 1 Konawe Selatan, antara lain: profil dan perkembangan, sarana prasarana, peserta didik dan mutu pendidikan, biaya pendidikan, kepemimpinan kepala sekolah, dan budaya sekolah. Penelusuran empirik menggunakan pendekatan kualitatif-deksriptif, dengan melakukan wawancara, mengamati, dan membaca dokumen. Data dianalisis dengan melakukan reduksi, display, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan MAN 1 Konawe Selatan merupakan hasil perjuangan panjang dari masyarakat, yang dimulai dari status swasta hingga menjadi sekolah negeri. Sarana prasarana senantiasa ditingkatkan untuk menjawab kebutuhan peserta didik. Demikian juga guru menunjukkan komitmen dalam perbaikan mutu pendidikan. Keberadaan kepala sekolah menjadi titik simpul dari berbagai upaya yang dilakukan warga sekolah, terutama dalam membangun budaya sekolah yang menunjukkan ciri khas MAN 1 Konawe Selatan. Kata Kunci: Pengembangan Organisasi, Tranformasi, Madrasah
Kepemimpinan Krisis dalam Pengelolaan Sekolah Sastramayani, Sastramayani; Badarwan, Badarwan
Shautut Tarbiyah Vol 25, No 2 (2019): Kependidikan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/str.v25i2.1507

Abstract

Dinamika kepemimpinan pada lembaga pendidikan sejatinya berjalan beriringan dengan perkembangan-perkembangan eksternal. Respons yang tinggi terhadap perubahan-perubahan lingkungan menyebabkan organisasi melakukan adaptasi dan melakukan percepatan-percepatan. Sebaliknya, respon yang rendah terhadap fenomena luar lembaga pendidikan menyebabkan perlambatan. Pemimpin selalu memegang peran kunci dalam setiap peristiwa keorganisasian. Pemimpin dituntut untuk memiliki kepekaan yang tinggi terhadap masalah-masalah yang dihadapi lembaganya. Tulisan ini bertujuan memberi gambaran konseptual tentang kepemimpinan yang dibutuhkan lembaga pendidikan dalam menghadapi perubahan yang sangat cepat. Melalui telaah pustaka ditemukan bahwa kepemimpinan krisis merupakan kompetensi yang mesti dimiliki oleh lembaga pendidikan. Kemampuan organisasi dalam melalui transisi maupun transformasi sangat ditentukan oleh kompetensi ini. Pemimpin yang peka terhadap krisis telah menyadari lebih awal tentang berbagai potensi yang dapat mengganggu aktifitas organisasi. Karenanya mereka memiliki perkiraan-perkiraan sebelum krisis tiba, menyiapkan diri untuk melakukan pengelolaan lembaga pada masa krisis, dan melakukan perbaikan-perbaikan, serta pengembangan-pengembangan setelah krisis berlalu. Siklus ini akan terus berjalan di tangan seorang pemimpin krisis, sehingga lembaga pendidikan dapat terus menyesuaikan diri di tengah gerak perubahan yang sangat cepat. Kata Kunci: Kepemimpinan Krisis, Sekolah, Pengelolaan