Articles

Found 12 Documents
Search

PENENTUAN KADAR BORAKS PADA KURMA (Phoenix dactylifera) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Kresnadipayana, Dian; Lestari, Dwi
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.703 KB)

Abstract

Latar belakang: Kurma merupakan salah satu bahan pangan yang cukup digemari di Indonesia, terlebih saat bulan Dzulhijah (musim haji) dan saat bulan Ramadhan. Di industri biasanya menyimpan kurma pada suhu -30 C selama 1 tahun. Setelah masa pengemasan tersebut, kurma diedarkan ke pasaran. Buah kurma memiliki umur simpan 2 tahun pada suhu kamar 250 C. Kualitas kurma dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan, karena karakteristik pada kurma dapat berbeda setelah ditangan konsumen. Di tangan produsen nakal  agar kurma bisa tahan lebih  lama mereka menyalahgunakan boraks sebagai pengawet. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar boraks pada kurma dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Metode: Ekstraksi boraks dari sampel kurma dengan cara disentrifuse dengan kecepatan 3000 rpm selama 2 menit kemudian diambil bagian supernatannya. Identifikasi boraks dalam supernatan tersebut dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan uji reaksi warna yaitu uji nyala dengan menggunakan asam sulfat dan kurkumin, dan secara kuantitatif menggunakan Spektrofotometer UV-vis. Hasil: Hasil penelitian kadar boraks pada sampel kurma A, B, C, D dan  berturut-turut adalah 2,624 µg/gram, 3,574 µg/gram, 2,016 µg/gram, 18,796 µg/gram. Simpulan dan saran: Sampel kurma D mempunyai kadar boraks yang paling besar. Perlu dilakukan penelitian untuk menurunan kadar boraks juga pada sampel kurma.
Pemberdayaan Masyarakat UKM Keripik Singkong Rasa Gadung Sebagai Produk Unggulan Daerah Desa Sidomukti Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar Kresnadipayana, Dian
WARTA WARTA LPM, Vol. 21, No. 1, Maret 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/warta.v21i2.5254

Abstract

 Desa Sidomukti Jenawi Kab. Karanganyar Jawa Tengah, terdapat  produksi keripik singkong namun memiliki rasa gadung bahwa proses pembuatan kripik singkong rasa gadung. Ibu Warti merupakan perintis UKM Keripik Singkong Rasa Gadung di mana UKM tersebut mempunyai kelompok yang banyak memiliki anggota yang banyak salah satunya adalah Kelompok Sri Rejeki yang berdiri pada tahun 2006. Mitra yang kedua pada pengabdian ini adalah Kelompok Wanita Tani Mukti Rahayu di Desa Sidomukti Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar di mana berdiri pada tahun 2009 dengan pengurus antara lain; Ibu Yani sebagai Ketua, Ibu Suharni sebagai Sekretaris dan Ibu Darsimi sebagai Bendahara.Beberapa permasalahan mitra yaitu kurangnya bahan baku, kurangnya alat penunjang produksi, lemahnya sistem pemasaran dan promosi, lemahnya manajemen keuangan. Beberapa solusi yang ditawarkan adalah penggunaan pupuk organik yang tepat (probiotik), kerja sama dengan pemerintah daerah maupun swasta, pengadaan alat produksi dan pelatihan pengelolaan keuangan berbasis aplikasi program/software keuangan.Mitra juga berpartisipasi dalam hal pendanaan untuk menunjang program-program yang telah kita sepakati bersama. Pendanaan tersebut merupakan sebagai wujud swadaya masyarakat sehingga adanya kepedulian terhadap kemajuan khususnya daerah Desa Sidomukti, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar dan pada umumnya untuk bangsa dan negara. Mitra Kelompok Sri Rejeki memberikan swadana sebesar Rp 12.000.000,- per tahun selama 3 tahun.
Penentuan Kadar Boraks pada Karak Berkode Registrasi dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis Setianingsih, Diah Anggraheni; Kresnadipayana, Dian
Jurnal Biomedika Vol 11 No 2 (2018): Jurnal Biomedika
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.373 KB) | DOI: 10.31001/biomedika.v11i2.398

Abstract

Boraks sejak lama digunakan masyarakat Indonesia untuk pembuatan karak. Karak yang beredar di masyarakat terdapat dalam dua bentuk yakni karak berkode registrasi berupa nomor P-IRT (Produk Industri Rumah Tangga) dan tanpa kode registrasi. Karak berkode registrasi diasumsikan bebas dari penggunaan boraks karena telah melalui pengujian oleh dinas kesehatan kabupaten atau kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar boraks pada karak berkode registrasi dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Ekstraksi boraks dari sampel karak berkode registrasi dengan cara disentrifuse dengan kecepatan 3000 rpm selama 2 menit kemudian diambil bagian supernatannya. Identifikasi boraks dalam supernatant tersebut dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan pereaksi kurkumin dan secara kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar boraks pada sampel karak berkode registrasi A, B, dan C berturut-turut adalah 1,988 mg/gram, 1,975 mg/gram dan 1,438 mg/gram. Menurut PERMENKES RI Nomor 033 tahun 2012 tentang bahan tambahan pangan, bahwa boraks digolongkan dalam bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam makanan. Kata kunci: karak berkode registrasi, boraks, spektrofotometri UV-Vis
Heavy Metal Removal from Aqueous Solution Using Biosurfactants Produced by Pseudomonas aeruginosa with Corn Oil as Substrate Suryanti, Venty; Hastuti, Sri; Wahyuningsih, Tutik Dwi; Mudasir, Mudasir; Kresnadipayana, Dian; Wiratna, Inge
Indonesian Journal of Chemistry Vol 18, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.083 KB) | DOI: 10.22146/ijc.28805

Abstract

The batch removal of Cu(II), Cd(II) and Pb(II) from individual heavy metal ion aqueous synthetic solution using biosurfactants produced by Pseudomonas aeruginosa with corn oil as substrate was investigated. The metal ion removal process of crude preparation biosurfactants (CPB) was established to be dependent on the initial pH and contact time. The optimum metal removal was observed at pH 6.0 of the initial metal solution and 10 min of contact time. The affinity sequence for metal ion removal was Pb(II)>Cd(II)>Cu(II). The removal capacity value of biosurfactant for Cu(II), Cd(II) and Pb(II) from single metal ions solution were 0.169, 0.276 and 0.323 mg/g, respectively. The removal capacity value of biosurfactant for Cu(II), Cd(II) and Pb(II) from multi metal ions solution were 0.064, 0.215 and 0.275 mg/g, respectively. The removal capacity of individual metal ion was diminished by the presence of other metal ions in multi metal ions from synthetic aqueous solution. The removal capacity value of biosurfactant for Cu(II), Cd(II) and Pb(II) from silver industry wastewater were 0.027, 0.055 and 0.291 mg/g, respectively. The results indicated that biosurfactants have potential to be used in the remediation of heavy metals in industrial wastewater.
Pengaruh Konsentrasi Glutaraldehida Terhadap Aktivitas Transesterase Enzim Lipase Terimobilisasi pada Proses Pembuatan Biodiesel dari Minyak Goreng Bekas Primadevi, Susan; Kresnadipayana, Dian
Jurnal Biomedika Vol 10 No 1 (2017): Jurnal Biomedika
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.415 KB) | DOI: 10.31001/biomedika.v10i1.228

Abstract

Penggunaan lipase sebagai biokatalis mempunyai beberapa kelemahan yaitu lipase tidak dapat digunakan kembali karena terlarut dalam media reaksi, struktur lipase sangat tidak stabil terhadap adanya perubahan lingkungan (suhu, pH, kekuatan ionik), sehingga menyebabkan enzim terdenaturasi. Solusi untuk mengatasi kelemahan penggunaan enzim tersebut adalah dengan imobilisasi enzim pada chitosan beads dengan metode crosslinking. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh variasi konsentrasi glutaraldehida terhadap aktivitas transesterase enzim lipase terimobilisasi pada proses pembuatan biodiesel . Penelitian diawali dengan pembuatan kitosan dari limbah cangkang rajungan. Kitosan serbuk kemudian dimodifikasi bentuknya melalui proses swelling menjadi chitosan beads. Tahap kedua adalah pemurnian minyak goreng bekas melalui tahap despicing, netralisasi dan bleaching. Tahap ketiga yaitu imobilisasi enzim lipase pada chitosan beads dengan metode crosslinking dengan menggunakan variasi konsentrasi glutaraldehida. Tahap terakhir adalah pembuatan biodiesel dari minyak goreng bekas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kitosan yang dihasilkan memiliki rendemen sebesar 39,43%, derajat deasetilasi 83,83%, kadar abu 0,73%, kadar air 4,74% dan kadar nitrogen 7,18%. Chitosan beads yang dihasilkan memiliki diameter sebesar 3,55±0,38 mm. Konsentrasi metil ester tertinggi dihasilkan pada saat konsentrasi glutaraldehida 2%.
Biosorpsi Logam Cr (VI) pada Limbah Cair Batik dengan Limbah Padat Kayu Aren (Arenga pinnata) sebagai Biosorben Kresnadipayana, Dian; Sutarno, Sutarno; Masykuri, Mohammad
Jurnal Biomedika Vol 7 No 2 (2014): Jurnal Biomedika
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/biomedika.v7i2.182

Abstract

Limbah kayu aren diaktivasi secara fisika dengan pemanasan pada suhu 105 oC dan aktivasi secara kimia dengan HNO 0.6 M dan NaOH 0.1 M. Variasi isian matrik adsorben pada kolom digunakan untuk mengetahui perbandingan 3 besarnya adsorpsi dengan variasi panjang unggun (cm). Kadar logam Cr(VI) pada sampel limbah cair sebesar 14,68 ppm. Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah no. 10 tahun 2004, limbah tersebut telah melebihi baku mutu air limbah. Hasil elusi satu kali dengan larutan K2 Cr2 O7 80 ppm pada kolom adsorpsi LKA-10, LKA-15 dan LKA-20 berturut-turut sebesar 98,07 %; 99,23 %; dan 99,96 %. Hasil elusi satu kali dengan sampel limbah cair batik kadar logam Cr(VI) 14,68 ppm pada kolom adsorpsi LKA-10, LKA-15 dan LKA-20 berturut-turut sebesar 98,45 %; 99,54 %; dan 99,97 %. Limbah cair batik setelah perlakuan telah memenuhi kriteria baku mutu air limbah ditinjau dari kandungan logam Cr(VI).
ADSORPSI LOGAM Cr(VI) PADA LIMBAH CAIR BATIK DENGAN ZEOLIT ALAM TERAKTIVASI Kresnadipayana, Dian; Sutarno, Sutarno; Masykuri, Mohammad
Jurnal Biomedika Vol 7 No 1 (2014): Jurnal Biomedika
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31001/biomedika.v7i1.491

Abstract

ABSTRAK   Zeolit alam mempunyai potensi sebagai penjerap logam berat dalam pengolahan limbah cair yang disebabkan oleh kapasitas penjerapan, selektivitasnya yang tinggi, dan jumlahnya melimpah di Indonesia. Zeolit alam diaktivasi secara fisika dengan pemanasan pada suhu 150 oC dan secara kimia dengan HCl 6 M dan NH4NO3 2 M. Variasi isian matrik adsorben pada kolom digunakan untuk mengetahui perbandingan besarnya adsorpsi dengan panjang unggun 10, 15, dan 20 cm. Kadar logam Cr(VI) pada sampel limbah cair sebesar 14,68 ppm. Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah no. 10 tahun 2004, limbah tersebut telah melebihi baku mutu air limbah. Hasil elusi satu kali dengan larutan K2Cr2O7 80 ppm pada kolom adsorpsi ZA-10, ZA-15 dan ZA-20 berturut-turut sebesar 98,07 %; 99,23 %; dan 99,96 %. Hasil elusi satu kali dengan sampel limbah cair batik kadar logam Cr(VI) 14,68 ppmpada kolom adsorpsi ZA-10, ZA-15 dan ZA-20 berturut-turut sebesar 98,45 %; 99,54 %; dan 99,97 %. Limbah cair batik setelah perlakuan telah memenuhi kriteria baku mutu air limbah ditinjau dari kandungan logam Cr(VI).   Kata kunci: limbah cair batik, logam Cr(VI), adsorpsi, zeolit alam.     ABSTRACT   Nature zeolite are capable of removing quantities of heavy metals from wastewaters, that they have potential properties as adsorbent for capacity and selectivity. Meanwhile, Indonesia has wide and large-scale distribution of zeolite. It give easy access to these minerals for characterization with respect to their function as adsorbent. The naturalzeolite was activated physically by heating it at temperature of 150° C andchemically using 6 M HCl and NH4NO3 2 M. The variations of adsorbent matrix entry in the column were used to determine the ratio of the amount of adsorption  with a bed length of 10, 15, and 20 cm. The value of metal Cr(VI) was found that in wastewater samples of 14,68 ppm. Based on Regulation of Central Java Province no. 10 of 2004, the wastewater has been passed the standards of quality wastewater. The one-time elution showed that a solution of 80 ppm K2Cr2O7 in each adsorption column ZA-10, ZA-15 and ZA-20 with value adsorption of 98,07%; 99,23 %; dan 99,96 % for the adsorbent adsorption, respectively. The one-time elution showed that wastewater samples the value of the metal Cr(VI) content of 14.68 ppm in each adsorption column ZA-10, ZA-15 and ZA-20 with value adsorption for 99.97%, 98.39% and 99.39 %98,45 %; 99,54 %; and 99,97 % for the adsorbent adsorption, respectively. The liquid waste of batik manufacturing after processing showed to meets the criteria of wastewater quality standard in terms of the metal Cr(VI) content.   Key words: liquid waste of batik manufacturing, metal Cr(VI), adsorption,natural zeolite.
Penetapan Kadar Etanol pada Minuman Beralkohol Berbagai Merk Melalui Pengukuran Berat Jenis Primadevi, Susan; Kresnadipayana, Dian
Jurnal Biomedika Vol 9 No 1 (2016): Jurnal Biomedika
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.212 KB) | DOI: 10.31001/biomedika.v9i1.265

Abstract

Minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung etanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa destilasi. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.86/1977, minuman beralkohol dibedakan menjadi 3 golongan yaitu Golongan A dengan kadar alkohol 1-5%, Golongan B dengan kadar alkohol 5-20%, dan Golongan C dengan kadar alkohol 20-55%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar etanol di dalam minuman beralkohol berbagai merk. Penentuan kadar etanol dalam minuman beralkohol diawali dengan proses destilasi untuk memisahkan etanol dari air dan komponen lainnya. Sebelum proses destilasi campuran ditambahkan dengan serbuk MgO atau CaO yang berfungsi sebagai zat pengering karena dapat menghilangkan 5% air dari etanol dan dapat bereaksi dengan air membentuk etanol-kalsium hidroksida yang sukar larut. Berat jenis etanol diukur dengan menggunakan piknometer. Berat jenis etanol hasil pengukuran kemudian dikonversi menjadi kadar etanol menggunakan tabel farmakope. Hasil menunjukkan bahwa kadar etanol dalam minuman beralkohol merk A sebesar 9,61%, merk B 7,01%, merk C 6,56%, merk D 5,59%, dan merk E 9,09%. Kelima merk minuman tersebut dikategorikan ke dalam minuman beralkohol golongan B.
Biosorpsi Cu(II) oleh Limbah Padat Kayu Aren (Arenga pinnata) Teraktivasi Kresnadipayana, Dian; Pratiwi, Reny; Primadevi, Susan
Jurnal Biomedika Vol 9 No 1 (2016): Jurnal Biomedika
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.046 KB) | DOI: 10.31001/biomedika.v9i1.268

Abstract

Penggunaan adsorben dari bahan organik (biosorben) akhir-akhir ini sangat banyak dikembangkan sebagai biosorpsi logam berat. Limbah kayu aren dari pohon aren (Arenga pinnata) yang digunakan untuk industri soon mengandung bahan organik berupa pati, lignin dan serat selulosa baik terlarut maupun partikel tersuspensi. Metode yang akan digunakan eksperimen, dengan sistem batch. Limbah kayu aren yang diperoleh dibersihkan dan od icuci dengan akuades serta diayak dengan ukuran 100 mesh dan dipanaskan pada 105 C selama 3 menit. Aktivasi biosorben menggunakan HNO3 dan NaOH. Untuk kemampuan maksimum biosorpsi dilakukan variasi waktu kontak dan konsentrasi. Karakterisasi biosorben dianalisis menggunakan spektrofotometri Infra Red (FTIR) dan untuk mengetahui karakteristik biosorpsi ion logam berat oleh biosorben melalui uji isoterm adsorpsi Langmuir dan isoterm adsorpsi Freundlich. Biosorben yang berupa limbah padat kayu aren setelah diaktivasi dapat menurunkan kadar logam Cu(II) adalah 46,43 % pada pH optimum 6 atau 7 dengan waktu kontak maksimum 48 jam. Biosorpsi logam Cu(II) mengikuti pola adsorpsi isoterm adsorpsi Langmuir dan Freundlich. Berdasarkan analisis spektrofotometri Infra Red (FTIR) bahwa gugus aktif yang berikatan dengan ion logam Cu(II) adalah gugus karbonil (C=O) dari hemiselulosa dan lignin sedangkan gugus OH berasal dari selulosa dan lignin.
The concentration of NaCl soaking to decreasing cyanide levels in Gadung (Dioscorea hispida Dennst) Kresnadipayana, Dian; Waty, Helmy Indra
Jurnal Teknologi Laboratorium Vol 8 No 1 (2019): 2019 (1)
Publisher : POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.726 KB) | DOI: 10.29238/teknolabjournal.v8i1.156

Abstract

Umbi gadung termasuk tanaman umbi yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti makanan pokok. Sianida merupakan salah satu komponen yang terdapat dalam umbi gadung. Mengkonsumsi umbi gadung yang mengandung sianida lebih dari 1 ppm dapat menimbulkan rasa mual, dan mabuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi perendaman NaCl terhadap penurunan kadar sianida pada umbi gadung. Penelitian ini mengunakan sampel umbi gadung dengan perlakuan perendaman NaCl (0%, 1%, 3%, 5%) selama 3 hari. Metode yang dipakai adalah spektrofotometri UV-VIS dimana filtrat sampel ditambahkan Ninhidrin 0,1% dalam Na2CO3 2% dan NaOH 0,1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar sianida pada umbi gadung sebelum perlakuan perendaman NaCl adalah 4,42 ppm dan setelah direndam NaCl (0%, 1%, 3%, 5%) didapatkan hasil berturut- turut sebesar 3,52; 2,53; 0,43 dan 0,01 ppm.