Sukarnen Sukarnen, Sukarnen
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Bahaya gas vulkanik Gunung Salak, Jawa Barat Sutaningsih, N. Euis; Nurnusanto, Isa; Sukarnen, Sukarnen; Suryono, Suryono
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2573.474 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i2.8

Abstract

SARIAktivitas Gunung Salak saat ini mengambil tempat di Kompleks Cikuluwung Putri yang terdiri dari Kawah Ratu, Kawah Hirup, dan Kawah Paeh. Aktivitasnya yang menonjol adalah emisi gas vulkanik dengan komponen utama adalah : H2O, CO2, SO2, H2S, NH3, HCl, H2, N2, dan O2+Ar. Dalam Juli 2007 sejumlah murid sekolah yang sedang berkemah meninggal dunia karena keracunan gas yang secara tiba-tiba meningkat konsentrasinya melampaui ambang batas normal. Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa yang menjadi penyebabnya adalah terjadi penurunan kadar air dan kenaikan gas belerang dioksida serta gas karbon dioksida yang tinggi sehingga mencemari udara sekitarnya. Udara yang mengandung racun tersebut kemudian terhirup oleh peserta perkemahan. Karena kawasan ini merupakan area perkemahan, maka pemantauan kimia gas vulkanik mutlak dilakukan secara menerus untuk menghindari jatuhnya korban berikutnya.Kata kunci: Cikuluwung Putri, gas vulkanik, keracunan gas, gas belerang dioksida, gas karbon dioksidaABSTRACTMt. Salak activities are currently located at the Putri Cikuluwung Complex which consists of Ratu Crater, Hirup Crater, and Paeh Crater. The dominant activity is the emission of volcanic gases with the major components consisting of H2O, CO2, SO2, H2S, NH3, HCl, H2, N2, and O2 + Ar. In July 2007 a group ofschool students who were camping died of gas poisoning in a sudden increase its concentration exceeded the normal threshold. Based on the research it is found that the cause is the decline of water levels and the increase in sulfur dioxide gas and carbon dioxide gas is so high that pollute the surrounding air. Aircontaining toxins are then inhaled by the participants of the camp. Cause this area is camp area, so the chemical monitoring of volcanic gases to be conducted continuously to prevent the next casualties.Kata kunci : Cikuluwung Putri, Volcanic gases, gas poisoning, Sulfur dioxide gas, carbon dioxide gas
PENERAPAN KONSEP REPRESENTATIF INTENSIF PADA DESAIN RUANG FASILITAS EDUKASI ANAK TUNALARAS DI SURABAYA Permatasari, Cindhi Dwi; Ratniarsih, Ika; Sukarnen, Sukarnen
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan Pendekatan Multidisiplin Menuju Teknologi dan Industri yang Berkelanjutan
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak tunalaras merupakan anak yang mengalami hambatan menyesuaikan diri (emosi), kurang “fokus”, kontrol sosial dan bertingkah laku menyimpang terhadap lingkungan. Jumlah anak penyandang tunalaras mengalami kenaikan yang signifikan pertahunnya dan tidak diimbangi dengan adanya sarana edukasi yang menaungi mereka. Hal ini disebabkan karena kurangnya wawasan bagaimana menciptakan suasana ruang edukasi yang aman, nyaman dan kondusif bagi anak tunalaras,juga suasana ruang yang menekankan pada pembentukan karakter  anak tunalaras dalam berbaikan kepribadiannya. Manfaat Fasilitas Edukasi Anak Tunalaras ini diharapkan adanya usaha pemerataan kesempatan belajar serta memberikan wadah bagi mereka mengembangkan bakat dan keterampilannya. Metoda penelitian yang dipakai adalah penelitian deskritif kualitatif dengan memperoleh data sumber data dari studi lapangan, pustaka dan wawancara. Lokasi tapak Fasilitas ini berada di jalan Arief Rachman Hakim Surabaya, total luas 1.2 Ha. Rancangan ruang fasilitas Edukasi berkonsep representatif intensif. Penerapan konsep tersebut sebagai wujud dari pengenalan karakteristik anak tunalaras yang berbeda serta menciptakan suasana ruang yang menekankan pembentukan karakter anak tunalaras menjadi lebih baik. Desain ruang diharapkan dapat memotivasi keinginan anak tunalaras untuk memperbaiki diri, seperti perilaku anak tunalaras yang kurang bisa “fokus” dengan merancang suasana ruang yang dapat menyita perhatiannya, dengan pemberian aksentualitas desain dan ukuran luas ruangan, sehingga dapat membuat mereka aman, nyaman serta bersuasana yang kondusif.