Rahayu Robiana, Rahayu
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Identifikasi potensi kerawanan tsunami di wilayah Kabupaten Jember, Jawa Timur Maemunah, Imun; Sulaeman, Cecep; Robiana, Rahayu
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3452.869 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i2.27

Abstract

SARIKarakteristik pantai di Kabupaten Jember dapat dibagi menjadi tiga tipe. Tipe 1 merupakan pantai berteluk yang sempit dengan litologi pasir halus hingga kasar meliputi daerah Payangan, Seruni, Watu Ulo, dan Tanjung Papuma. Tipe 2 merupakan pantai berbentuk lurus dan lebar dengan litologi pasir halus hingga kasar meliputi Pantai Puger dan Paseban. Tipe 3 merupakan pantai berelief curam dan terjal dengan litologi batuan dasar berumur Tersier meliputi daerah Watu Ulo, Tanjung Papuma, Puger, Bandealit, Meru Betiri, Teluk Pisang, dan Teluk Permisan. Secara umum, Tipe 1 merupakan daerah yang berisiko tinggiterhadap bahaya tsunami. Berdasarkan tingkat kerawanan terhadap bahaya tsunami, wilayah pantai di Kabupaten Jember dibagi menjadi tiga kawasan yaitu kawasan rawan tsunami tinggi, kawasan rawan tsunami menengah, dan kawasan rawan tsunami rendah. Kawasan rawan tsunami tinggi merupakan kawasan yangberpotensi terlanda tsunami dengan tinggi genangan mencapai lebih dari 4 m dan jarak landaan maksimal sejauh 365 m dari garis pantai. Kawasan rawan tsunami menengah merupakan kawasan yang berpotensi terlanda tsunami dengan tinggi genangan 1 hingga 3 m, dan jarak landaan mencapai 980 m dari garis pantai, sedangkan kawasan rawan tsunami rendah merupakan kawasan yang berpotensi terlanda tsunami dengan tinggi genangan kurang dari 1 m, dan jarak landaan mencapai 2,7 km dari garis pantai.Kata kunci: karakteristik pantai, tsunami, kawasan rawan tsunami, tinggi genanganABSTRACTCharacteristics of the coastal areas in Jember is divided into three types. Type 1 is a narrow bay coast with fine to coarse sand lithology covering the area of Payangan, Seruni, Watu Ulo, and Tanjung Papuma. Type 2 is a wide and straight coast consists of fine to coarse sand lithology covering the area of Puger beach and Paseban. Type 3 is a steep coast consists of basement rock of Tertiary age covering the area of Watu Ulo, Tanjung Papuma, Puger, Bandealit, Meru Betiri, Pisang bay, and Permisan bay. In general, type 1 is a high risk zone against tsunami hazards. Based on the level of vulnerability to tsunami hazards, the coastal areas in Jember is divided into three zones, namely: high vulnerability zone, moderate vulnerability zone and low vulnerability zone against tsunami hazards. High vulnerability zone is an area potentially affected by tsunami with flow depth of higher than 4 m and the maximum inundation of 365 m from the coast line. Moderate vulnerability zone is an area potentially affected by tsunami with flow depth of about 1 – 3 meters, and the maximum inundation of 980 m at Payangan. Low vulnerability zone is an area potentially affected by tsunami with flow depth of lesser than 1 m and the maximum inundation of 2.7 km from the coast line.Keywords: Coastal characteristic, tsunami, tsunami vulnerability, flow depth
THE INFLUENCE OF COASTAL CONDITIONS TO TSUNAMI INUNDATION OF BIMA BAY, WEST NUSA TENGGARA Yudhicara, Yudhicara; Robiana, Rahayu
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 29, No 1 (2014)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3944.628 KB) | DOI: 10.32693/bomg.29.1.2014.63

Abstract

Area along the coast that includes the territorial waters of the Bima Bay, West Nusa Tenggara, is prone to tsunamis, evidenced by the historical tsunamis record in 1815 due to the volcanic eruption of Tambora, 1818, 1836 and 1992 caused by earthquakes associated with tectonic system in the north of the island of Sumbawa, and 1892 were sourced from a distant source. Based on the coastal characteristics, the research area was divided into four types of beaches, namely: Steep rocky beach; Coastal walled plain; Flat coastal mangroves; and Flat sandy beaches. According to the lateral measurement, houses were built in the plains with a minimum height difference of 0.04 m at Rababuntu beach and a maximum of 22.63 m in New Asakota area. The settlement closest distance to the coastline is 10.3 m in Rababuntu, while the farthest extent is at Kawananta 194.58 m from the shoreline. The local bathymetry range between 1 and 42.5 m, where the inside of the very shallow waters of the Bay of Bima, gradually steeper at the mouth of the bay to the open sea. This conditions will influence the wave when entering the bay. It will come with large enough speed at the mouth of the bay, spread along the coastal waters of the eastern and continue spreading to all parts with the diminishing velocity, but the height increasing when it reaches shallow water, especially in the waters of the western Gulf of Bima. Several factors can affect the amount of risk that would be caused by the tsunami, in the research area include are: (1) The research area is located in an enclosed bay; (2) The local sea floor depths around the bay is relatively shallow waters; (3) Coastal characteristics of the research area is dominated by a gently sloping beach morphology with low relief, especially in the area of ??Bajo, Rababuntu and Bontokape and other beaches in the city of Bima; (4) Residential location very close to the shoreline; (5) Minimal vegetation cover; and (6) The presence of the artificial protective are inadequate. Based on tsunami modeling using the 1992 Flores earthquake parameter which is placed perpendicular to the research area obtain the maximum tsunami height around 4-5 m at Sowa and Kolo, near to the mouth of Bima Bay, while the minimum is at Kalaki, about 0,2 m which is at the inner bay. Keywords: Tsunami, coastal characteristics, bathymetry, factors influenced to tsunami inundation. Lokasi di sepanjang pantai yang mencakup wilayah Perairan Teluk Bima, Nusa Tenggara Barat, rentan terhadap tsunami, dibuktikan oleh catatan sejarah tsunami tahun 1815 karena letusan gunung berapi Tambora, 1818, 1836 dan 1992 disebabkan oleh gempa bumi yang terkait dengan tektonik sistem di bagian utara pulau Sumbawa, dan 1892 yang bersumber dari sumber yang jauh. Berdasarkan karakteristik pantai, daerah penelitian dibagi menjadi empat jenis pantai, yaitu: Pantai terjal berbatu; Pantai datar berdinding; Pantai datar berbakau; dan Pantai datar berpasir. Berdasarkan hasil pengukuran kemiringan pantai secara lateral, rumah dibangun di dataran pantai dengan perbedaan ketinggian minimal 0,04 m di Rababuntu dan maksimal 22,63 m di daerah Asakota Baru. Jarak terdekat bangunan terhadap garis pantai adalah 10.3 m di Rababuntu, sedangkan jarak terjauh adalah di Kawananta 194,58 m dari garis pantai. Rentang batimetri di perairan Teluk Bima berkisar antara 1 dan 42,5 m. Bagian dalam Perairan Teluk Bima sangat dangkal, secara bertahap makin alam dan curam di mulut teluk hingga ke laut terbuka. Kondisi ini akan mempengaruhi gelombang ketika memasuki Teluk. Gelombang akan datang dengan kecepatan yang cukup besar di mulut teluk, tersebar di sepanjang perairan pantai timur dan terus menyebar ke seluruh bagian dengan kecepatan berkurang, namun ketinggian meningkat saat mencapai perairan dangkal, terutama di perairan barat Teluk Bima. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi jumlah risiko yang akan disebabkan oleh tsunami, di daerah penelitian meliputi: (1) Daerah penelitian terletak di teluk tertutup; (2) Kedalaman dasar laut di sekitar Teluk adalah perairan yang relatif dangkal; (3) Karakteristik Pantai daerah penelitian didominasi oleh pantai morfologi landai dengan relief rendah, terutama di daerah Bajo, Rababuntu dan Bontokape dan pantai-pantai lainnya di Kota Bima; (4) Lokasi perumahan sangat dekat dengan garis pantai; (5) Minimalnya vegetasi penutup; dan (6) Keberadaan pelindung buatan tidak memadai. Kata Kunci: Tsunami, karakteristik pantai, batimetri, faktor yang mempengaruhi landaan gelombang tsunami.
PEMETAAN MIKROZONASI DAERAH RAWAN GEMPABUMI MENGGUNAKAN METODE HVSR DAERAH PAINAN SUMATERA BARAT Wulandari, Asri; Suharno, Suharno; Rustadi, Rustadi; Robiana, Rahayu
Jurnal Geofisika Eksplorasi Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Geofisika Eksplorasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Daerah Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu daerah yang memiliki tingkat resiko rawan bencana yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menzonasikan daerah rawan bencana di daerah Painan berdasarkan nilai frekuensi dominan, periode dominan, Vs30, PGA dan amplifikasi serta untuk mengetahui nilai PGA (Peak Ground Acceleration) daerah tersebut. Dengan menggunakan metode HVSR (Horizontal to Vertical Spectra Ratio) diharakan dapat membantu dalam penzonasian daerah penelitian ini. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka diketahui bahwa daerah Painan, Sumatera Barat, memiliki nilai nilai frekuensi dominan antara 0,6-12,07 Hz. Sedangkan untuk nilai Vs30 antara 73,08-1449 m/s dan nilai amplifikasinya antara 0,47-6,01. Nilai PGA untuk daerah Painan antara 0,034-0,063 g. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dengan mengkorelasikan keempat peta zonasi, diketahui bahwa daerah yang memiliki tingkat resiko bencana gempabumi yang tinggi diperkirakan adalah daerah pesisir pantai. Hal ini didukung dengan nilai frekuensi yang rendah dan nilai Vs30 yang kecil serta nilai PGA yang besar. Nilai amplifikasi daerah ini terbagi menjadi tiga zona yaitu daerah yang memiliki amplifikasi tinggi tersebar disekitar pantai dan tersusun atas batuan alluvial sedangkan sisanya memiliki nilai amplifikasi yang sedang dan rendah  karena berdasarkan peta geologinya daerah tersebut tersusun atas dua jenis batuan yaitu batuan alluvial dan Formasi Painan.   ABSTRACT Regional Painan, the distric of Pesisir Selatan, the province of west Sumatera is one of the areas with high risk disaster prone. This study aims attempts to maped the disaster prone area of the Painan region based on the dominant frequency value, Vs30, PGA and amplification and to know the value of ground movement from the area. By using the HVSR method (Horizontal to Vertical Spectra Ratio) expected to assist to zone the regions. Based on the research that has been done, it is known that the Painan area, West Sumatera, have values of dominant frequency between 0.6 to 12.07 Hz. As for the value Vs30 between 73.08 to 1449 m/s and the amplification values between 0.47 to 6.01. The PGA value for Painan region between 0.034 to 0.063 g. Based on the analysis that has been done by correlating the four zoning map, it is known that the area which has a high risk of earthquake disaster that is estimated to coastal areas. This is supported by the dominant low frequency value and the value Vs30 small and PGA of high value. The amplification value of this region is divided into four zones, areas that have amplification is very high being around the beach and composed by rock alluvial, the value of amplification of high contained in nearly all the regions Painan while amplification medium and low are the small area of Painan and the small area of Bungo Pasang Salido because based on the geological map of the area is composed of two types of rocks are alluvial and rock Painan Formations.  Keywords— Painan, HVSR, Microzonation, PGA