Articles

Found 10 Documents
Search

PENENTUAN INDEKS KERENTANAN AIRTANAH PESISIR JAWA DI WILAYAH SELAT SUNDA DENGAN MENGGUNAKAN METODE GALDIT Lubis, Rachmat Fajar; Purwoarminta, Ananta; Bakti, Hendra; Kusumah, Gunardi W
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 28, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1298.261 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2018.v28.554

Abstract

Kerentanan airtanah pesisir merupakan salah satu isu yang sangat penting dalam perkembangan pembangunan saat ini. Antisipasi dan upaya mengurangi dampak negatif kualitas airtanah wilayah pesisir akibat faktor antropogenik dan perubahan iklim, memerlukan upaya penentuan indikasi daerah yang memiliki kerentanan tinggi. Upaya pembobotan diperlukan berdasarkan faktor-faktor yang paling penting dalam memahami kerentanan airtanah wilayah pesisir. Metode GALDIT merupakan salahsatu sistem peringkat numerik untuk menilainya. Tiga komponen penting dari sistem ini adalah kriteria bobot, rentang data dan peringkatnya. Fokus dari penelitian ini adalah pada penerapan dan metode GALDIT untuk mengakses kerentanan airtanah pesisir di wilayah Pulau Jawa sepanjang Selat Sunda. Kesimpulannya, metode ini perlu diintegrasikan dengan faktor kerentanan lokal dan dibandingkan dengan metode lainnya agar dapat diaplikasikan dengan lebih akurat.Groundwater coastal vulnerability is one of the most important issues in the human development today. Anticipation to mitigate negative impacts of groundwater coastal quality due to climate change impacts and anthropogenic activities, required to indicate the zonation with high vulnerability index. The GALDIT method is a one of numerical rating system for assessing the susceptibility of groundwater coastal vulnerability. Three important parts of this system were weighting criteria, range of data and ratings. The focus of this research is to applied GALDIT method to access groundwater coastal vulnerability in Jawa Island along the Sunda Strait. In conclusion, this method needs to be integrated with local vulnerability factors and compared with other methods to be applied more accurately.
The Ancient Borobudur Lake, History, and Its Evidences to Develop Geo-archeotourism in Indonesia Murwanto, Helmy; Purwoarminta, Ananta
Indonesian Journal on Geoscience Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17014/ijog.6.1.103-113

Abstract

DOI: 10.17014/ijog.6.1.103-113In 2015, the number of international tourists who visited Borobudur temple declined and did not reach the government target. It was because there was only one attraction in the temple. After visiting Borobudur, most of tourists move to another place such as Yogyakarta. They know about the temple, but not its past environment when the temple was built. The history and past environment of Borobudur temple could be developed as additional tourist attractions to make them stay longer in that area. Geological condition and the evidences of an ancient lake could be developed as tourist objects. It is very interesting and could be developed to educate visitors in geo-archeology. The aim of this research is to develop archeological (temple) tourism based on geology and past environment. Although many researches on geo-archeology have been done, the results which relate to tourism are still not widely applied yet. The methods used are secondary data analysis and a field survey to investigate the potential of tourist stop sites. The potential tourist attractions were determined by geomorphology, lithology outcrops, stratigraphy, environment, and accessibility. The result is ten stop sites which could be used to describe the paleoenvironment in Borobudur based on geosciences. These tourist objects could explain the environment in the past related to the temple reliefs and ancient human activities.
The Ancient Borobudur Lake, History, and Its Evidences to Develop Geo-archeotourism in Indonesia Murwanto, Helmy; Purwoarminta, Ananta
Indonesian Journal on Geoscience Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17014/ijog.6.1.103-113

Abstract

DOI: 10.17014/ijog.6.1.103-113In 2015, the number of international tourists who visited Borobudur temple declined and did not reach the government target. It was because there was only one attraction in the temple. After visiting Borobudur, most of tourists move to another place such as Yogyakarta. They know about the temple, but not its past environment when the temple was built. The history and past environment of Borobudur temple could be developed as additional tourist attractions to make them stay longer in that area. Geological condition and the evidences of an ancient lake could be developed as tourist objects. It is very interesting and could be developed to educate visitors in geo-archeology. The aim of this research is to develop archeological (temple) tourism based on geology and past environment. Although many researches on geo-archeology have been done, the results which relate to tourism are still not widely applied yet. The methods used are secondary data analysis and a field survey to investigate the potential of tourist stop sites. The potential tourist attractions were determined by geomorphology, lithology outcrops, stratigraphy, environment, and accessibility. The result is ten stop sites which could be used to describe the paleoenvironment in Borobudur based on geosciences. These tourist objects could explain the environment in the past related to the temple reliefs and ancient human activities.
HUBUNGAN ANTARA AIR TANAH DAN AIR SUNGAI BERDASARKAN 222RADON DAN KANDUNGAN NUTRIEN DI SUNGAI CIMANUK, INDRAMAYU Purwoarminta, Ananta; Bakti, Hendra
LIMNOTEK - Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol 26, No 1 (2019)
Publisher : Research Center for Limnology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan air tanah dengan air sungai mempunyai peran terhadap ekosistem dan lingkungan. Sekitar Sungai Cimanuk telah berkembang menjadi perkotaan dan sebagian besar masyarakatnya menggunakan airtanah untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu air sungai mempunyai peran penting terhadap pertanian, pangan, dan perikanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara airtanah dengan air sungai Cimanuk dimana keduanya mempunyai peran penting. Analisis kandungan nutrient juga dilakukan untuk mengetahui sebarapa besar nutrient yang ada baik pada airtanah maupun air sungai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pengukuran 222radon, analisis kondisi fisik air, dan analisa nutrien. Pengukuran radon bertujuan untuk mengetahui apakah air sungai dipengaruhi oleh aliran airtanah. Pengukuran ini dilakukan di sungai dengan membagi alur sungai cimanuk menjadi 4 segmen. Pembagian tersebut didasarkan pada keberadaan bendung karena dengan adanya bendung tersebut berpengaruh terhadap aliran sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada segmen 1 (Jatibarang-Bendung Bangkir) terdapat aliran airtanah mengisi sungai yang diindikasikan berdasarkan nilai radon. Sedangkan pada segmen lain cenderung air sungai mengisi airtanah. Kandungan nutrient pada 12 sampel air sungai dan 1 sampel air hujan cukup rendah.
Hidrokimia Mata Air Karst untuk Irigasi Studi Kasus Desa Ligarmukti, Kabupaten Bogor Maria, Rizka; Purwoarminta, Ananta; Lubis, Rachmat Fajar
Jurnal Irigasi Vol 13, No 1 (2018): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1464.316 KB) | DOI: 10.31028/ji.v13.i1.1-10

Abstract

Desa Ligarmukti di Kabupaten Bogor merupakan kawasan perbukitan karst yang kaya sumber mata air sehingga mampu memasok kebutuhan air untuk keperluan domestik maupun pertanian. Sifat hidrokimia yang berasal dari batuan gamping memiliki karakter tersendiri yang dapat saja berdampak pada kualitas hasil pertanian. Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hidrokimia mata air karst untuk irigasi. Metode penelitian yang dilakukan yaitu inventarisasi data sekunder, pengamatan hidrogeologi, dan analisis laboratorium. Sodong adalah mata air terbesar dengan debit 314,42 l/s pada musim hujan dan 154,38 l/s pada musim kemarau. Luas lahan persawahan kurang lebih 300 ha. Debit mata air tersebut dapat mengaliri sawah seluas 314,14 ha pada musim hujan dan 154,38 ha pada musim kemarau. Selain debit, faktor hidrokimia juga menentukan hasil pertanian. Hidrokimia air tanah termasuk fasies Ca-HCO3, sistem aliran air tanah dikontrol oleh autogenic recharge yang menunjukkan jenis air pada mata air berasal dari air hujan secara langsung terinfiltrasi pada daerah tersebut. Klasifikasi air untuk irigasi termasuk tipe C2-S1 yang menunjukkan mata air memiliki kualitas air tanah yang baik, risiko salinitas menengah dan risiko sodium yang rendah. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan pada pemerintah untuk mempertahankan Desa Ligarmukti sebagai lumbung pertanian.
HYDROGEOLOGICAL STUDY TO SUPPORT SIGANDUL BRIDGE CONSTRUCTION AT PARAKAN, TEMANGGUNG, CENTRAL JAVA Utomo, Edi prasetyo; Purwoarminta, Ananta
Teknologi Indonesia Vol 38, No 2 (2015)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.054 KB) | DOI: 10.14203/jti.v38i2.167

Abstract

The plan of making bridge on the Sigandul river in Parakan, Temanggung regency is to improve the quality access roads in the Province of Central Java. The first step was to make the construction of the bridge pillars as the foundation of the bridge. For that purpose it was done drilling with planning a depth of 18 m, but at a depth of 12 m there was out of groundwater in a large discharge. This large groundwater discharge has disturbed the bridge construction process. The aim of this research is to analyze the causes of groundwater discharge and to provide a recommendation on counter measure of disturbance in the process of bridges construction based upon the hydrogeological condition. The methods used in this research were conducting a geological observation on ground surface and geoelectrical measurement with a dipole-dipole electrode arrangement. The results showed that the subsurface of research area is the site of groundwater accumulation and steep slope of its surrounding makes the groundwater came out with high pressure. Discharge rate of groundwater outflow in the area was 91.42 liters per second. Based on these conditions, it is recommended that the process of making a bridge construction should be done by first reducing the groundwater pressure or otherwise moving the foot of bridge the east side.
Hidrokimia Mata Air Karst untuk Irigasi Studi Kasus Desa Ligarmukti, Kabupaten Bogor Maria, Rizka; Purwoarminta, Ananta; Lubis, Rachmat Fajar
Jurnal Irigasi Vol 13, No 1 (2018): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1464.316 KB) | DOI: 10.31028/ji.v13.i1.1-10

Abstract

Desa Ligarmukti di Kabupaten Bogor merupakan kawasan perbukitan karst yang kaya sumber mata air sehingga mampu memasok kebutuhan air untuk keperluan domestik maupun pertanian. Sifat hidrokimia yang berasal dari batuan gamping memiliki karakter tersendiri yang dapat saja berdampak pada kualitas hasil pertanian. Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hidrokimia mata air karst untuk irigasi. Metode penelitian yang dilakukan yaitu inventarisasi data sekunder, pengamatan hidrogeologi, dan analisis laboratorium. Sodong adalah mata air terbesar dengan debit 314,42 l/s pada musim hujan dan 154,38 l/s pada musim kemarau. Luas lahan persawahan kurang lebih 300 ha. Debit mata air tersebut dapat mengaliri sawah seluas 314,14 ha pada musim hujan dan 154,38 ha pada musim kemarau. Selain debit, faktor hidrokimia juga menentukan hasil pertanian. Hidrokimia air tanah termasuk fasies Ca-HCO3, sistem aliran air tanah dikontrol oleh autogenic recharge yang menunjukkan jenis air pada mata air berasal dari air hujan secara langsung terinfiltrasi pada daerah tersebut. Klasifikasi air untuk irigasi termasuk tipe C2-S1 yang menunjukkan mata air memiliki kualitas air tanah yang baik, risiko salinitas menengah dan risiko sodium yang rendah. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan pada pemerintah untuk mempertahankan Desa Ligarmukti sebagai lumbung pertanian.
Jejak erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah Murwanto, Helmy; Siregar, Darwin A.; Purwoarminta, Ananta
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3615.915 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v4i2.54

Abstract

ABSTRAKKabupaten Magelang merupakan kawasan yang paling sering terlanda bencana erupsi Gunung Merapi. Sejarah kejadian bencana tersebut menarik untuk diteliti, terutama daerah yang pernah terlanda aliran piroklastika dan aliran lahar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sebaran material gunung api dan alur sungaipurba. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan survei lapangan, analisis laboratorium, dan wawancara dengan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kabupaten Magelang terdapat banyak lembah sungai yang berhulu di Gunung Merapi dan berfungsi sebagai tempat aliran piroklastika dan aliran lahar. Keberadaan lembah sungai antara masa lampau dengan sungai sekarang telah mengalami perubahan. Indikasi adanya sungai purba adalah di sepanjang jalur lembahnya ditemukan bongkahbongkahmaterial gunung api. Bekas alur sungai tersebut saat ini digunakan oleh masyarakat setempat untuk permukiman, lahan pertanian, dan perikanan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa alur-alur sungai purba banyak ditemukan di Kabupaten Magelang dan berpotensi terlanda bencana erupsi Gunung Merapi.Kata Kunci: Kabupaten Magelang, Gunung Merapi, aliran piroklastika, sungai purbaABSTRACTMagelang regency is the area most which commonly affected by Merapi volcanic eruption disaster. History of Merapi volcanic disasters caused by pyroclastic flows and lahars is interesting to be studied. The purpose of this study is todetermine the distribution of volcanic material and the ancient river channel. Method used in this research are field surveys, laboratory analyses and interviews with the community. The results showen, that Magelang regency rivervalleys are tipped at the top of Merapi Volcano and as pyroclastic flow and lahar deposits. The river basins of the  ancient to the present river has changed. Indications channel of the ancient river valleys are found along channel of the blocks volcanic material. This condition is supported by the results of interviews with local people. Ancient river channel is currently used by local people for housing, agriculture and fisheries. From this study shown that ancient river channels are found in Magelang regency, and its potentially affected by Merapi volcanic eruption disaster.Keywords: Magelang regency, Merapi volcano, pyroclastic flows, ancient river.
Pengaruh tektonik dan longsor lahan terhadap perubahan bentuklahan di bagian selatan Danau Purba Borobudur Murwanto, Helmy; Purwoarminta, Ananta; Siregar, Darwin A.
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1353.548 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i2.70

Abstract

ABSTRAKBerbagai penelitian menyatakan bahwa Candi Borobudur dikelilingi oleh danau dan telah berubah menjadi dataran. Selama ini diketahui bahwa penyebab pendangkalan danau adalah aktivitas Gunung Merapi. Namun pada bagian selatan Danau Borobudur yang dibatasi oleh Pegunungan Menoreh, tidak ditemukan material Gunung Merapi tetapi ditemukan material batuan Old Andesite Formations (OAF) dari Pegunungan Menoreh. Data aktivitas tektonik terekam baik pada lembah-lembah sungai di bagian selatan dataran Borobudur. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis penyebab perubahan bentuklahan di sisi selatan Danau Purba Borobudur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan pengukuran dan pengamatan lapangan yang didukung dengan data citra satelit, topografi, stratigrafi, dan analisis 14C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sisi selatan dataran bekas Danau Borobudur tepatnya di lembah Sungai Sileng banyak ditemukan singkapan batuan OAF dan endapan lempung hitam yang terpotong dan terangkat akibat aktivitas sesar. Berdasarkan pengamatan stratigrafi diketahui bahwa endapan lempung hitam tertutup oleh material hasil longsoran Pegunungan Menoreh. Hasil pengujian radiokarbon 14C menunjukkan bahwa endapan danau berumur 22,140 BP. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pada sisi selatan Danau Purba Borobudur pendangkalannya disebabkan oleh aktivitas tektonik yang mengakibatkan pengangkatan dan pensesaran memicu terjadinya longsor lahan.Kata kunci: tektonik, longsor, perubahan bentuk lahan, Danau Purba Borobudur, Pegunungan MenorehABSTRACTMany studies suggest the Borobudur Temple surrounded lakes and shallowed by materials from volcanic activities. In the southern part of Borobudur Lake didn’t find volcano material but founded Old Andesite Formations (OAF) material, thats come from Menoreh Mountain. Tectonic activities and avalanche material found on the Sileng river at southern of Borobudur plains. Purpose of this study are identify and analyze causes of landform changes in the  southern part of Borobudur Ancient Lake. The methods used are field measurements and observations, support by satellite imagery data, topography, stratigraphy, and radiocarbon 14C analysis. The results are in the southern part of Borobudur lake, found OAF materials and blackclay outcrops were cut and lifted by tectonics activities. Based on stratigraphy observations, known that blackclay deposits covered by the avalanche material results of Menoreh Mountains. Radiocarbon 14C test showed that lacustrine ages is 22,140 BP. The conclusion are in the southern part of Borobudur Ancient Lake, shallowed by tectonics activities than triggered by landslides.Keywords: tectonics, landslides, landform changes, Borobudur Ancient Lake, Menoreh Mountains
Imbuhan Airtanah Buatan untuk Konservasi Cekungan Airtanah Bandung-Soreang Purwoarminta, Ananta; Lubis, Rachmat Fajar; Maria, Rizka
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 29, No 1 (2019)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/risetgeotam2019.v29.1004

Abstract

Airtanah saat ini telah menjadi isu di dunia dan Indonesia akibat terjadinya degradasi airtanah. Tingginya pertumbuhan penduduk dan industri di wilayah kota telah meningkatkan eksploitasi airtanah, sementara laju pengisian airtanah (infiltrasi) terus menurun. Penurunan laju infiltrasi diakibatkan oleh adanya perubahan tutupan lahan. Berdasarkan permasalahan ini maka konservasi airtanah harus dilakukan untuk menjaga ketahanan air. Cekungan Bandung-Soreang sebagai wilayah perkotaan telah mengalami penurunan muka airtanah sebagai akibat adanya pengambilan airtanah yang berlebih. Tulisan ini adalah telaah dari berbagai metode teknis yang telah diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut di atas khususnya metode imbuhan buatan untuk konservasi airtanah di Cekungan Bandung. Berbagai teknik telah diterapkan baik oleh masyarakat, industri maupun pemerintah dengan sumber utama adalah air hujan. Namun penurunan muka airtanah masih terus terjadi meskipun upaya-upaya tersebut telah dilakukan. Hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa metode imbuhan buatan hanya mampu mengurangi penurunan muka airtanah. Jika hasil yang diharapkan adalah kembalinya muka airtanah ke kondisi awal maka diperlukan pengembangan metode dan atau penambahan jumlah imbuhan buatan yang sangat banyak. Groundwater becomes an issue globally due to groundwater degradation. The high population and industry growth in the cities had increased the exploitation of groundwater. On the other hand, the rate of infiltration is lower due to city development. Therefore, groundwater conservation is required to maintain water resistance. The Bandung-Soreang Basin, as an urban area, has experienced a decline in groundwater as a result of excessive groundwater extraction. This paper presented a review of various technical methods that have been applied to overcome the problem. Artificial recharge method for groundwater conservation in the Bandung-Soreang Basin has been used by the community, industry, and government, with rainwater as the main source. The most recent condition indicated that the groundwater level has been still decreasing despite these efforts. The results of the latest research suggested that artificial recharge has only  reduced the groundwater depletion. To restore the groundwater to its initial condition, we need to develop a new method or simply add a lot more artificial recharges.