Eny Heriyati, Eny
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Pengaruh Kedalaman Perairan Dan Pemotongan Capit Terhadap Laju Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla Serrata) Yang Dibudidayakan Dalam Battery Cell Dengan Sistem Silvofishery Bonar, Bonar; Wijaya, Nirmalasari Idha; Heriyati, Eny
Jurnal Pertanian Terpadu Jurnal Pertanian Terpadu Jilid III nomor 2 Desember 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.154 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di perairan Pulau Bingkar, Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kedalaman perairan yang berbeda, terhadap laju pertumbuhan kepiting bakau yang dibudidayakan dalam Battery Cell dengan sistem Silvofishery serta untuk mengetahui apakah pemotongan capit dan kaki jalan pada bagian (merus) maupun tanpa dilakukan pemotongan mampu mempercepat laju pertumbuhan kepiting bakau. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok-Fatorial (RAK-F) dua factor, faktor A yaitu tingkat kedalaman (4 taraf : A1, A2, A3, A4) dan faktor B yaitu pemotongan capit (B2) dan tanpa pemotongan (B1) dengan dua kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan pada kedalaman perairan yang berbeda menunjukkan adanya peningkatan laju pertumbuhan harian pada tiap-tiap kedalaman. Pada kedalaman 40 cm, menunjukkan hasil yang terbaik, kemudian disusul berturut-turut kedalaman 60 cm, dipermukaan dan 20 cm. Pada kedalaman 40 cm, menunjukkan hasil yang optimal serta memiliki kualitas lingkungan yang cukup baik, Hal ini dibuktikan dengan adanya pengaruh kedalaman yang signifikan (P<0.05) terhadap laju pertumbuhan kepiting bakau. Sedangkan pada perlakuan pemotongan capit menunjukkan persentase yang relatif tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan tanpa pemotongan, namun dari kedua perlakuan tersebut tidak menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan (P>0.05) terhadap laju pertumbuhan kepiting bakau pada kedalaman perairan yang berbeda.
Pengaruh Perbedaan Salinitas Terhadap Pertumbuhan Benur Udang Windu (Penaeus Monodon Fabricius) Pada Stadia Mysis Ke Post Larva Paonganan, Silva; Heriyati, Eny; Imanuddin, Imanuddin
Jurnal Pertanian Terpadu Jurnal Pertanian Terpadu Jilid III nomor 1 Juni 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.209 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan salinitas terhadap pertumbuhan benur udang windu sebagai dasar perbaikan sistem penyediaan larva udang windu ( Penaeus monodon Fabricius). Penelitian menggunakan Rancangan  Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan terdiri dari S1 (15 ‰), S2 (20‰), S3 (25‰),S4 (30‰) dan S5 (35‰). Selama penelitian dikumpulkan data kelangsungan hidup, pertambahan panjang dan dan kualitas air. Parameter kualitas air yang diukur adalah suhu,salinitas,dan pH. Data dianalisis dengan sidik ragam dan di lanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa salinitas yang berbeda tidak berpengaruh  terhadap pertambahan panjang larva udang windu dimana dari uji (BNT) diketahui  bahwa F hitung lebih kecil dari pada F tabel pada taraf 5%. Pertambahan panjang rata-rata dari tiap perlakuan yang tertinggi adalah perlakuan S3 salinitas 25‰ (74,77%) kemudian diikuti dengan perlakuan S4 salinitas 30‰ (60,07%), S2 salinitas 20‰ (44,97%), S5 salinitas 35‰ (31,97%) dan S1 salinitas 15‰ (1,78%). Dari penelitian ini diketahui  bahwa perlakuan yang berbeda akan memberikan pertambahan panjang benur yang berbeda pula. Parameter tersebut masih layak untuk mendukung kehidupan larva udang windu.
Sex Reversal Ikan Nila Menggunakan Tiga Jenis Madu Heriyati, Eny
Jurnal Pertanian Terpadu Jurnal Pertanian Terpadu Jilid I nomor 2 November 2013
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.298 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh perendaman larva ikan nila menggunakan tiga sumber madu berbeda terhadap persentase ikan jantan. Pada penelitian ini, 30 larva ikan nila berumur 12 hari setelah menetas direndam masing-masing  menggunakan madu hutan, madu ternak dan madu bakau, dengan dosis 10 mL.L-1 air selama 10 jam. Ikan dipelihara dalam kondisi yang sama selama dua bulan. Kualitas air berupa suhu dan pH dilakukan pengukuran pada saat perlakuan perendaman larva, pada saat dipelihara di akuarium dan pada saat dipelihara di kolam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase ikan jantan yang direndam dalam madu hutan, madu ternak, dan madu bakau dihasilkan persentase tertinggi pada perendaman menggunakan madu bakau, namun ketiga jenis madu tersebut menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (p>0,05), tetapi semua perlakuan berbeda nyata terhadap kontrol (p<0,05). Selanjutnya, respons perendaman terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup dan biomassa ikan pada perlakuan madu hasilnya tidak berbeda nyata antar perlakuan dan dengan kontrol (p>0,05). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketiga jenis madu mempunyai keefektifan yang sama terhadap hasil sex reversal, pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila.
Analisis Bakteri Escherichia Coli Pada Ikan Kakap Putih (Latescal carifer) di Muara Kenyamukan Kabupaten Kutai Timur Heriyati, Eny; Rudiyanto, Rudiyanto; Sapitri, Cici
Jurnal Pertanian Terpadu Jurnal Pertanian Terpadu Jilid IV nomor 1 Juni 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.755 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kontaminasi bakteri E. colisebagai indikator pencemaran pada ikan kakap putih (lates calcarifer) di perairan Muara Kenyamukan Kabupaten Kutai Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2015 di perairan Muara Kenyamukan Kabupaten Kutai Timur. Pengambilan sampel ikan kakap putih yang berasal dari Muara Kenyamukan dengan mengambil  3 stasiun pengamatan yaitu stasiun I terletak di perairan yang berdekatan dengan pemukiman penduduk, stasiun II terletak pada perairan muara sungai, dan stasiun III terletak pada perairan laut terbuka. Sampel ikan kakap putih dianalisis dengan mengunakan metode MPN (Most Probable Number) seri 3 tabung di Laboratorium Mikrobiologi Perairan Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman. Hasil analisis sampel pada insang, daging, saluran pencernaan ikan kakap putih menunjukan bahwa pada wilayah perairan muara sungai kenyamukan jumlah kandungan bakteri E. colipada insang 56 MPN/g, daging 21 MPN/g dan pencernaan 7 MPN/g. Wilayah laut lepas jumlah bakteri E. coli pada air 2.400 MPN/100 mL, muara Kenyamukan 150 MPN/100 mL, dan di bawah Pemukiman Penduduk  jumlah kandungan bakteri E. coli 40 MPN/100 mL.  Hasil inokulasi menunjukan bahwa bakteri yang tumbuh pada saat isolasi merupakan bakteri E. coli. Nilai total bakteri E. colidi setiap titik  pengamatan berada diatas baku mutu keamanan pangan yang dipersyaratkan oleh 7388 : 2009 dan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) tentang batas cemaran maksimum dalam pangan sebesar 10 MPN/g pada daging segar.
Analisis Tingkat Penerimaan Konsumen Terhadap Naget ikan Tuna di Sangatta Heriyati, Eny
Jurnal Pertanian Terpadu Jurnal Pertanian Terpadu Jilid V nomor 1 Juni 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.971 KB)

Abstract

Naget adalah produk olahan daging yang memiliki rasa enak dan khas. Penelitian ini menggunakan daging ikan tuna segar sebagai bahan baku. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat penerimaan konsumen terhadap naget ikan yang dibuat dari ikan tuna. Pelaksanaan penelitian di Laboratorium Ilmu Kelautan Stiper pada bulan Agustus 2016. Bahan yang dipakai adalah: daging ikan tuna lumat, tepung tapioka 6%, bawang merah 3%, Bawang putih 2%, minyak 2% , garam 1%, merica 0,5%,  butter dan tepung roti. Setelah naget selesai dibuat, selanjutnya dilakukan analisa organoleptik yang meliputi, rasa, aroma, warna, tekstur dan tingkat kesukaan. Produk naget ikan yang dihasilkan dibandingkan dengan produk naget ayam yang dijual di pasaran, sebagai pembanding dalam penilaian. Setelah data penilaian uji hedonik (kesukaan) pada masing-masing panelis ditabulasi maka nilai ditentukan dengan mencari hasil rata-rata setiap panelis pada taraf kepercayaan 95% .Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produk naget ikan tuna disukai dari segi rasa, tekstur dan tingkat kesukaan secara keseluruhan, dimana nilai yang dihasilkan termasuk pada kriteria suka yang mempunyai nilai yang sama dengan naget ayam.  Pada penilaian warna dan aroma naget yang dihasilkan panelis memberikan kriteria penilaian agak suka, sementara  naget ayam lebih disukai dari warna dan aroma. Tanggapan para panelis  pada penelitian ini sangat positif dan berharap agar produk dapat dipasarkan.
Ekspresi gen aromatase pada pengarahan diferensiasi kelamin ikan nila (Oreochromis niloticus Linnaeus 1758) menggunakan madu [Aromatase gene expression of sex reversal Nile tilapia (Oreochromis niloticus Linnaeus 1758) using honey] Heriyati, Eny; Alimuddin, nFN; Arfah, Harton; Sudrajat, Agus Oman
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 15, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.035 KB) | DOI: 10.32491/jii.v15i1.74

Abstract

In tilapia aquaculture, all male populations are preferred because they achieve higher growth rates and prevent uncontrolled reproduction. Sex reversal techniques are largely used for the control of sex in fish farming and in fundamental studies on sex determinism mechanisms. The study was conducted to determine the effect of immersion Nile tilapia larvae in water containing different honey source on male percentage and aromatase gene expression. In experiment I, a total of 30 tilapia larvae at 12 days post hatch were immersed in water containing honey derived from the forest, cultured and mangrove bees, at a dose of 10 ml L-1 for 10 hours. Fish were maintained in the same condition for two months. The results showed that percentage of male fish was similar among honey treatments (p>0.05), and they were significantly different with the control (p<0.05). In experiment II, fish were immersed in two bioactive compounds of honey, namely chrysin and potassium solution in a dose of 20 mg L-1 and 0.026 g L-1, respectively, to verify the bioactive affects sex differentiation. Aroma-g expression was analyzed by RT-PCR method. Tissue was collected at 1, 6, 12, 24 and 48 hours after immersion, and 2-month-old fish. Size fragment DNA aroma-g of female 200 bp. Chrysin and potassium immersion increased male percentage (p<0.1), this indicated that both materials were involved in Nile tilapia sex differentiation. RT-PCR analysis showed that honey, chrysin and potassium down-regulated aroma-g expression at 12 hours post immersion. Thus, honey can be used for sex reverse of Nile tilapia, and the mechanism is most likely as aromatase inhibitors. AbstrakBudi daya ikan nila dengan populasi jantan semua (monoseks) lebih memberikan keuntungan karena laju pertumbuhan-nya lebih cepat dan dapat mencegah pemijahan liar.Teknik pengarahan diferensiasi kelamin(sex reversal) digunakan untuk mengarahkan pembentukan jenis kelamin pada budi daya ikan.Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pe-ngaruh perendaman larva ikan nila menggunakan tiga sumber madu berbeda terhadap persentase ikan jantan dan ekspresi gen aromatase. Pada percobaan satu, 30 larva ikan nila berumur 12 hari setelah menetas direndam menggunakan madu hutan, madu ternak dan madu bakau, dengan dosis 10 ml L-1 air selama 10 jam. Ikan dipelihara dalam kondisi yang sama selama dua bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase ikan jantan tidak berbeda nyata antar perlakuan madu (p>0,05), tetapi semuanya berbeda nyata dengan kontrol (p<0,05). Pada percobaan kedua, larva ikan nila direndam dalam air mengandung dua bahan bioaktif madu, yakni chrysin dan kalium dengan dosis masing-masing 20 mg L-1 dan 0,026 g L-1. Ekspresi gen aromatase tipe gonad (aroma-g) dan tipe otak (aroma-o) dianalisis menggunakan metode RT-PCR. Sampel jaringan diambil pada waktu 1, 6, 12, 24, dan 48 jam pascaperlakuan madu, chrysin, dan kalium, serta setelah ikan berumur dua bulan.Ukuran fragmen DNA aromatase pada gonad betina sekitar 200 bp. Perendaman chrysin dan kalium meningkatkan persentase ikan jantan (p<0,1). Analisis RT-PCR menunjukkan bahwa madu, chrysin, dan kalium dapat menekan ekspresi gen aroma-g pada jam ke-12 pascaperendaman. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa madu, chrysin dan kalium dapat digunakan untuk pengarahan diferensiasi ikan nila, dan mekanis-menya seperti penghambat aromatase.
UJI KETAHANAN HIDUP IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DENGAN TEKNIK IMOTILISASI SUHU RENDAH DALAM TRANSPORTASI SISTEM KERING Heriyati, Eny; Kasman, Kasman
ZIRAA'AH MAJALAH ILMIAH PERTANIAN Vol 42, No 1 (2017)
Publisher : Pusat Penerbitan Ilmiah Universitas Islam Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.445 KB)

Abstract

Research aimed to determine survival of tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) in dry transportation system. The research was conducted at Beach Fish  Center of Tanjung Laut Indah bontang southern districts - East Kalimantan. Testing animals is a tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) amounted 12 fishes an average weight ranging 350 - 400 grams, which is the test animals are included in consumption level and ready to be marketed. The research method uses descriptive data analysis, with 3 treatments i.e. each treatment consisting 4 groupers fish and each one transported 6, 10, and 14 hours. Each treatment is packaged in same Styrofoam with sawdust and ice cube material content that has been wrapped in newspaper and plastic. Before packing the fish beforehand was adapted for ± 24 hours and immotilitation the fish that have been ready directly using temperature 15°C for 15 minutes and fish ready to be packed in styrofoam with temperature 15°C. Obtained result from all treatments for 6 hours transportation produce survival rate (SR) level 75%, 10 hours 50%, and 14 hours 25%.