Articles

Found 37 Documents
Search

PERAN BAITUL MAL DALAM DAULAH ISLAM SEBAGAI SENTRAL PEREKONOMIAN NEGARA Zahro’, Khurun’in; Ghozali, Mohammad
Jurnal Al-Ashlah Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : STAI Ma'arif Jambi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.84 KB)

Abstract

Di Indonesia Baitul Mal sebagai salah satu Lembaga Keuangan Syariah(LKS) yang sudah lama tersebar dalam daerah-daerah dan keberadaannya sudahditerima oleh masyarakat luas. Baitul Mal dalam peradaban Islam merupakansuatu lembaga yang mengelola keluar dan masuknya harta dalam tatananpemerintahan. Namun, dalam prakteknya Baitul Mal di masyarakat pada zamansekarang ini sangatlah berbeda dengan Baitul Mal yang telah dipraktekkan dalamsejarah Islam sejak masa Rasulullah SAW. kemudian diteruskan oleh paraKhalifah sesudahnya hingga kehancuran Khilafah di Turki pada tahun 1924.Pemahaman yang selama ini terjadi secepat mungkin harus diubah, belajar dariapa yang dilakukan pada masa Rasulullah SAW.Pada saat itu, Baitul Mal memegang andil bagian yang sangat penting,karena tidak hanya bermanfaat dari aspek ekonomi saja, tapi juga dari semuaaspek kehidupan negara. Maka, faktor terbesar untuk memajukan danmengembangkan Baitul Mal adalah daulah atau negara itu sendiri. Tanpa adanyasuatu negara yang menjunjung tinggi akan pentingnya Baitul Mal dengan tandakutip seperti Baitul Mal pada zaman Nabi dan Khulafaurrasyidin, maka akanmenyulitkan praktisi atau akademi untuk mengembalikan fungsi Baitul Malsebagai sentral perekonomian negara. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui fungsi Baitul Mal dalam daulah Islam yaitu sebagai sentralperekonomian Negara.Kata Kunci: Baitul Mal, Khalifah, Ekonomi.
ANALISIS SISTEM LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH DAN LEMBAGA KEUANGAN KONVENSIONAL Syauqoti, Roifatus; Ghozali, Mohammad
IQTISHODUNA IQTISHODUNA (Vol 14, No. 1, 2018)
Publisher : Fakultas Ekonomi, UIN Maliki Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.691 KB)

Abstract

For holding the banking system, Indonesia applied dual banking system based on institutional regulation Number 10, 1998. The existence of dual banking system was realized by monetary crisis on 1998, that caused bankrupt impact of conventional banking system for the high ratio of the debt interest. Dual banking system means that Indonesia applied both sharia and conventional banking system. For this matter we use qualitative method and analysis descriptive method, by describing and analyzing sharia financial foundation and conventional financial foundation system. both are same in money receiving technic, transfer mechanism, computer technology, and general terms to obtain the credit. Both sharia financial foundation and conventional financial foundation have more differences. The main different between them is in the profit gaining system obtain. Sharia bank applied profit sharing system which is oriented for blessed life here and the day after, in other case conventional bank applied interest system which is oriented for gaining profit as much as possible in this world. Moreover, sharia bank is watched by the sharia supervising council, in order to revive the pure sharia, not same as conventional bank.
Tingkat Pengetahuan dan Respon Peternak Kambing Perah terhadap Penyakit Hewan Studi Kasus: Kelompok Tani “Simpay Tampomas” Cimalaka, Sumedang Widyastuti, Rini; Wira, Dwi Wahyudha; Ghozali, Mohammad; Winangun, Kikin; Syamsunarno, Mas Rizky Anggun Adipurna
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.952 KB)

Abstract

Peternakan kambing perah merupakan mata pencaharian utama masyarakat Kecapatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang. Pengelolaan peternakan masih dilakukan dengan cara tradisiona, sehingga perlu dilakukan upaya peningkatkan pengetahuan kelompok peternak kambing perah mengenai pengelolaan manajemen kesehatan kambing perah serta mencegah terjadinya kerugian akibat dampak penyakit.  Salah satunya adalah melalui kegiatan penyuluhan mengenai penyakit-penyakit pada ternak terutama dari aspek klinis. Kegiatan diawali dengan survei lokasi, pemberian vitamin pada kambing perah, penyuluhan, pengisian kuesioner, pengolahan hasil kuesioner. Pada tahap akhir, dilakukan timbal balik (feedback) pada peternak atas hasil yang didapatkan dari pengobatan dan kuesioner. Hasil menunjukkan bahwa tangka pengetahuan peternak terhadap penyakit hewan dan cara pencegahannya sudah cukup baik. Kasus yang banyak berkembang di daerahpeternakan tersebut adalh Scabies, mastitis dan Bloat dengan gejala umum berkurangnya nafsu makan dan demam. Peternak biasanya memberikan pertolongan pertama dengan memberikan air asam dan obat cacing. Berdasarkan hasil tersebut, dapat bahwa peternak telah memiliki tingkatpengetahuan penyakit yang baik tetapi belum memiliki pengetahuan untuk penangann penyakit secara memadai. 
PARADIGMA FILSAFAT EKONOMI SYARIAH SEBAGAI SUATU SOLUSI KEHIDUPAN MANUSIA Ghozali, Mohammad; Sari, Tryas Titi
DIKTUM: Jurnal Syariah dan Hukum Vol 16 No 2 (2018): Diktum: Jurnal Syariah dan Hukum
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.658 KB)

Abstract

    Abstrak:  Filsafat ekonomi Syariah atau ilmu ekonomi Islam sesungguhnya  telah muncul sejak adanya agama Islam, yaitu sejak zaman Rasulullah SAW. Tujuannya untuk membawa manusia kepada kebahagian di dunia dan akhirat dan mengangkat manusia sebagai khalifah yang diberi titipan oleh Allah untuk memanfaatkan apa yang ada di bumi dengan sebaik-baiknya. Sistem kapitalis maupun sosialis  tidak mampu menjawab permasalahan manusia karena menyisakan banyak problem kehidupan. Hal itu terbukti bahwa sistem ini tidak mampu memberikan kesejahteraan kepada manusia secara menyeluruh, tetapi hanya untuk kalangan tertentu saja. Faktor ini menjadi salah satu bukti bahwa ekonomi Islam lebih memiliki konsep yang tepat dan dapat memberikan kesejahteraan secara menyeluruh kepada manusia. Hal itu dapat dilihat dari operasionalisasi sistem ekonomi Islam sejak zaman Rasulullah SAW, yang telah memberikan dampak yang baik bagi masyarakat yang ada pada zaman tersebut. Pada perkembangan berikutnya, ketika sistem itu diturunkan ke generasi selanjutnya, terbukti dapat diaplikaskan dengan baik dan memberikan solusi bagi permasalahan yang ada. Maka dari itu filsafat ekonomi Islam memegang peranan penting dalam pembangunan perekonomian manusia untuk meraih cita-cita kebahagiaan.
SKRINING THALASSEMIA BETA MINOR PADA SISWA SMA DI JATINANGOR alyumnah, putri; Ghozali, Mohammad; Dalimoenthe, Nadjwa Zamalek
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 3 (2016): Volume 1 Nomor 3 Maret 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.88 KB)

Abstract

Jenis Thalassemia yang paling banyak ditemukan adalah Thalassemia beta. Tercatat 10% penduduk Indonesia merupakan pembawa gen Thalassemia beta. Thalassemia beta minor sulit dideteksi karena bersifat asimtomatik sehingga peranan skrining sebagai deteksi dini sangat diperlukan. Sampai dengan saat ini di Indonesia belum dilakukan program skrining rutin Thalassemia.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui frekuensi Thalassemia beta minor pada siswa- siswi SMA di Jatinangor. Metode Penelitan deskriptif kuantitatif, dengan teknik pengambilan data cross sectional telah dilakukan sejak bulan September sampai dengan Oktober 2015. Subyek penelitian terdiri dari siswa-siswi di 5 SMA kelas 10 dan 11 yang terregistrasi di Jatinangor. Hasil Dari seluruh siswa-siswi kelas 10 dan 11 SMA di Jatinangor, hanya ada 292 yang hadir saat penyuluhan, dan hanya 130 orang di antaranya yang bersedia mengikuti penelitian. Pada penelitian ini ditemukan 12 (9,3%) orang sebagai thalassemia beta minor. Pembahasan pada penelitian ini ditemukan 12 (9,3%) orang sebagai thalassemia beta minor. Pada penelitian lain di Banyumas didapatkan 8%.Kata kunci: Skrining,Thalassemia,Thalassemia beta minor
Tingkat Pengetahuan dan Respon Peternak Kambing Perah terhadap Penyakit Hewan Studi Kasus: Kelompok Tani “Simpay Tampomas” Cimalaka, Sumedang Widyastuti, Rini; Wira, Dwi Wahyudha; Ghozali, Mohammad; Winangun, Kikin; Syamsunarno, Mas Rizky Anggun Adipurna
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.952 KB)

Abstract

Peternakan kambing perah merupakan mata pencaharian utama masyarakat Kecapatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang. Pengelolaan peternakan masih dilakukan dengan cara tradisiona, sehingga perlu dilakukan upaya peningkatkan pengetahuan kelompok peternak kambing perah mengenai pengelolaan manajemen kesehatan kambing perah serta mencegah terjadinya kerugian akibat dampak penyakit.  Salah satunya adalah melalui kegiatan penyuluhan mengenai penyakit-penyakit pada ternak terutama dari aspek klinis. Kegiatan diawali dengan survei lokasi, pemberian vitamin pada kambing perah, penyuluhan, pengisian kuesioner, pengolahan hasil kuesioner. Pada tahap akhir, dilakukan timbal balik (feedback) pada peternak atas hasil yang didapatkan dari pengobatan dan kuesioner. Hasil menunjukkan bahwa tangka pengetahuan peternak terhadap penyakit hewan dan cara pencegahannya sudah cukup baik. Kasus yang banyak berkembang di daerahpeternakan tersebut adalh Scabies, mastitis dan Bloat dengan gejala umum berkurangnya nafsu makan dan demam. Peternak biasanya memberikan pertolongan pertama dengan memberikan air asam dan obat cacing. Berdasarkan hasil tersebut, dapat bahwa peternak telah memiliki tingkatpengetahuan penyakit yang baik tetapi belum memiliki pengetahuan untuk penangann penyakit secara memadai. 
Characteristics of Anemia in Children with HIV Infection Ghozali, Mohammad; Adhi Sunjaya, Al Farizi; Indrati, Agnes Rengga
Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.509 KB)

Abstract

Anemia is a hematologic complication commonly encountered in HIV patients. Although the severity of anemia is generally mild, anemia has been shown to be a strong risk factor for disease progression, particularly in HIV infected person. With different severity and types of anemia in HIV patients, it is necessary to identify the severity and type of anemia in HIV-infected children, thus helping to determine the prognosis and management of their anemia. The purpose of this study was to describe HIV patient staging infection, co-morbidities, and type of anemia in HIV-infected children based on their therapy. A descriptive quantitative research was conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Data were collected from patients’ medical records diagnosed with HIV between 2015–2017. The severity of anemia was set according to World Health Organization standards in 2011 and the types of anemia were identified from the erythrocyte index on routine hematologic examination. Forty-seven of 73 children had anemia. Based on the severity of anemia, 26% mild anemia, 60% moderate anemia, and 15% severe anemia were found. Subsequently, hypochromic microcytic (40%), macrocytic (32%), and normocytic normochromic (28%) anemia were identified. Considering the direct and indirect mechanism to yield anemia in HIV-infected patients, this double sword symptom becomes the most common complication burdened the growth and development of HIV-infected children. This study made it even more pronounced. Key words: Anemia, Children, HIV Karakteristik Anemia pada Anak Terinfeksi HIVAnemia adalah komplikasi hematologi paling sering ditemukan pada pasien HIV. Meskipun tingkat anemia pada umumnya ringan, anemia telah terbukti menjadi faktor risiko kuat terhadap perkembangan penyakit. Terdapat perbedaan tipe anemia pada pasien HIV dengan etiologi yang berbeda pula sehingga perlu dilakukan identifikasi mengenai tingkat dan tipe anemia pada pasien HIV anak, yang pada akhirnya dapat membantu menentukan prognosis dan penatalaksanaan anemia pada pasien ini. Suatu penelitian deskriptif kuantitatif ini bertujuan mengetahuitingkat dan tipe anemia dengan mengklasifikasikannya berdasarkan komorbiditas pada pasien HIV/AIDS anak di RSHS tahun 2015–2017 menggunakan data rekam medik pasien pemeriksaan hematologi rutin. Tingkat anemia ditetapkan berdasar atas standar WHO, sementara jenis anemia dilihat dari indeks eritrosit. Sebanyak 73 pasien anak terinfeksi HIV, didapatkan 47 anak mengalami anemia. Tingkat anemia ditemukan anemia ringan (26%), anemia sedang (60%), dan anemia berat (15%). Tipe anemia yang ditemukan adalah normositik normokromik (28%), makrositik (32%), dan mikrositik hipokromik (40%). Tingkat anemia pada pasien HIV anak di RSHS pada umumnya adalah anemia sedang. Tipe anemia terbanyak pada penelitian adalah mikrositik hipokromik. Kata kunci: Anak, anemia, HIV
Aplikasi Krioprotektan Ekstraseluler Tunggal Secara Efektif Mempertahankan Kualitas Sperma Manusia Pascavitrifikasi Widyastuti, Rini; Syamsunarno, Mas Rizky A. A.; Ghozali, Mohammad
Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 4 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.359 KB)

Abstract

Pemilihan jenis krioprotektan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam mempertahankan motilitas dan viabilitas sperma pascavitrifikasi. Secara konvensional, vitrifikasi menggunakan konsentrasi krioprotektan dan laju kecepatan pembekuan yang tinggi untuk menghindari pembentukan kristal es intra dan ekstraseluler yang menyebabkan kerusakan dan kematian pada sel. Berdasar atas kemampuan menembus membran sel, krioprotektan dibedakan menjadi krioprotektan ekstra dan intraseluler. Sperma manusia memiliki struktur morfologi yang sangat padat dan sedikit mengandung sitoplasma sehingga perpindahan cairan selama proses vitrifkasi sangat kecil. Selain itu, sperma manusia juga mengandung beberapa jenis protein yang dapat berfungsi sebagai krioprotektan intraseluler. Berdasar atas kondisi tersebut, penggunaan krioprotektan pada vitrifkasi sperma manusia memerlukan studi lebih lanjut. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Sentral Universitas Padjadjaran dan dilaksanakan pada bulan Desember 2017–Januari 2018.Penelitian ini bertujuan mengetahui motilitas dan viabilitas sperma pascavitrifikasi dengan menggunakan tipe krioprotektan yang berbeda dan kombinasi keduanya. Earle’s balanced salt solution digunakan sebagai krioprotekan ekstraseluler, sementara EG 0,57% sebagai krioprotektan intraseluler. Sampel yang telah ditambahkan medium vitrifikasi diequilibrasi selama 10 menit, kemudian dikemas di dalam straw 0,25 mL dan langsung dipaparkan ke dalam nitrogen cair. Evaluasi dilakukan dengan melakukan thawing setelah 24 jam penyimpanan. Hasil menunjukkan bahwa motilitas dan viabilitas sperma tertinggi pada kelompok yang menggunakan media vitrifikasi krioprotektan ekstraseluler, walaupun secara statistik tidak berbeda nyata dengan kelompok lainnya (34%; 50%; p<0,05). Sebagai simpulan, krioprotektan ekstraseluler merupakan media vitrifikasi terbaik untuk menjaga motilitas dan viabilitas sperma pascavitrifikasiKata kunci: Krioprotektan, sperma manusia, vitrifikasi  Single Extracellular Cryoprotectant Application Effectively Maintain Post-Vitrification Human Sperm QualitySelection of cryoprotectant is one of the keys to maintain sperm motility and viability after vitrification. Conventionally, vitrification uses cryoprotectants with high concentration and cooling rate to avoid the formation of intra- and extra-cellular ice crystals that can induce cell damage and cell death. Morphology structure of human sperm is very dense and contain less cytoplasm compartment; therefore mobilization of fluid is minimum during vitrification. In addition, human sperm also contains several types of protein that function as intracellular cryoprotectants. Based on this condition, the use of cryoprotectants in human sperm vitrification needs a further study. This study was conducted at the Central Laboratory of Universitas Padjadjaran in December 2017–January 2018. The aim was to determine the motility and viability of post-vitrification sperm by using different types of cryoprotectants. Samples that had been mixed with vitrification medium were equilibrated for 10 minutes, packed in a 0.25 mL straw, and directly exposed to liquid nitrogen. The evaluation was conducted  by thawing after 24 hours of storage. The results showed that the highest sperm motility and viability was  found in the group that used extracellular cryoprotectant vitrification media although it was not statistically different ( 34%; 50%, p <0.05) In conclusion, extracellular cryoprotectants are the best vitrification medium for maintaining motility and viability of post-vitrification sperm.Key words: Cryoprotectant, sperm, vitrification  
24-Hour Proteinuria Weakly Correlated with Estimated Glomerular Filtration Rate in Lupus Nephritis Patients Praptama, Suhendra; Aini, Yulia Hayatul; Ghozali, Mohammad; Hamijoyo, Laniyati
Indonesian Journal of Rheumatology Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Rheumatology Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.775 KB)

Abstract

Background: Lupus Nephritis (LN) is still the most frequent complication in Systemic Lupus Erythematous (SLE) patients which causing the major and significance morbidity and mortality. Proteinuria and Glomerular Filtration Rate (GFR) serves as objective and routine examinations to assessrenal function. 24-hour proteinuria still regarded as gold standard to quantify amount protein in urine. Estimated GFR (eGFR) is preferably used due its convenient. On the hand, estimated GFR (eGFR) is preferably used due its convenient. However, both of them should be measured in order to determine renal progression and prognosis. Only few studies have been conducted to find out the correlation between 24-hour proteinuria and eGFR in lupus nephritis patients as both of them serve as potential marker in progression of renal involvement. Thisstudy addressed to find out correlation between 24-hour proteinuria and eGFR in lupus nephritis patients.Method: Analytic-correlation study with cross-sectional approach at Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung was done. Secondary data was used and paralleled with previous study entitled “Correlation of Random Urine Protein Creatinine (P-C) Ratio with 24-Hour Protein Urinein Lupus Nephritis Patients” carried out from October to December 2014.Correlation coefficient was analyzed by Spearmans’ correlation test.Results: Forty five samples were obtained based on inclusion criteria. Spearmans’ correlation test revealed non significant and very weak correlation between 24-hour proteinuria and eGFR (r=-0.095) with p>0.05.Conclusion: The 24-hour proteinuria and eGFR are weakly correlated. Despite the weak  correlation, these examinationsshould be considered as important markers to monitor prognosis of renal involvement in lupus nephritis patients Keywords: Estimated glomerular filtration rate (eGFR),Lupus Nephritis (LN), Proteinuria, Systemic Lupus Erythematosus (SLE).
Overview of Anemia among Systemic Lupus Erythematosus Patients in Reproductive Age Women based on Reticulocyte Hemoglobin Equivalent (RET-He) Level and Reticulocyte Count Modjaningrat, Ismiana Fatimah; Oehadian, Amaylia; Ghozali, Mohammad; Hamijoyo, Laniyati
Indonesian Journal of Rheumatology Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Rheumatology Association

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.978 KB)

Abstract

Background: Anemia is a common manifestation found among patients with Systemic Lupus Erythematosus (SLE). It may be caused by iron-deficiency, autoimmune hemolytic, and chronic inflammation. Each anemia has different therapy approachments. Without adequatemanagement, anemia may lead to poor prognosis. By identifying the etiology of anemia, appropriate management could be conducted. Reticulocyte Hemoglobin Equivalent (RET-He) and reticulocyte count test may distinguish anemia based on its etiology. This study aimed to give scientific portrayed of the proportion of anemia based on its etiology among patients with SLE using RET-He and reticulocyte count.Method: This study involved women diagnosed with SLE underwent outpatient treatment in Rheumatology Clinic, Dr. Hasan Sadikin General Hospital during SeptemberOctober 2016. Data were collected from blood exam using 35-parameters hematology Sysmex by calculating levels of hemoglobin, RET-He, and reticulocyte count.Results: Seventy four female patients were volunteered as subject in this study with median of age was 29.5 (16-70) years old. Thirty four (46%) of 74 subjects weresuffering from anemia and 12 (35%) of them were between 25-34 years old. Proportion of iron-deficiency anemia, autoimmune hemolytic anemia, and chronic inflammatory anemia were 14 ( 41%), 13 (38%), and 7 (21%), respectively.Conclusion: Based on hemoglobin, RET-He, and reticulocyte count, iron-deficiency anemia is the most common anemia among patients with SLE in repoductive age.Keyword: Age, Anemia, Reticulocyte, RET-He, Systemic Lupus Erythematosus (SLE)