ardini raksanagara, ardini
Unknown Affiliation

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KEJADIAN DEMAM BERDARAH DI JAWA-BARAT

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 1 (2015): Volume 1 Nomor 1 September 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.711 KB)

Abstract

Lingkungan merupakan determinan kesehatan yang dapat memengaruhi kesehatan masyarakat selain faktor perilaku, pelayanan kesehatan dan genetik serta kependudukan. Pada saat terjadi perubahan lingkungan termasuk perubahan iklim global yang menjadi isu sangat penting. Perubahan iklim tersebut dipicu oleh terjadinya pemanasan global (global warming) dan efek rumah kaca (greenhouse effect). Perubahan iklim yang terjadi dapat berupa peningkatan suhu, kelembaban, peningkatan curah hujan yang menjadi faktor risiko terhadap derajat kesehatan masyarakat karena timbulnya  penyakit menular yang ditularkan melalui udara, air dan vektor. Penyakit Demam Berdarah merupakan penyakit menular yang ditularkan melalui perantara vektor nyamuk dan erat kaitannya dengan perubahan iklim. Tempat perindukan nyamuk ini sangat dipengaruhi oleh ketinggian tempat (altitude), kemiringan lereng (slope) dan penggunaan lahan (land use), sedangkan unsur cuaca memengaruhi metabolisme, pertumbuhan, perkembangan dan populasi nyamuk tersebut. Curah hujan dengan penyinaran yang relatif panjang turut memengaruhi habitat perindukan nyamuk. Tujuan penelitian ini adalah mengumpulkan informasi awal untuk mengukur keterkaitan perubahan iklim khususnya perubahan curah hujan dengan terjadinya demam berdarah di Jawa Barat.  Metode yang digunakan untuk analisis kerentanan masalah kesehatan yang disebabkan oleh perubahan iklim ini (curah hujan) yang merupakan faktor determinan kesehatan yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit tular vektor (demam berdarah). Data yang didapat dianalisis berdasarkan teori derajat kesehatan masyarakat (Henrik L Blum) yang menyatakan bahwa lingkungan, dalam hal ini adalah perubahan suhu, curah hujan, kelembaban akan memengaruhi kejadian penyakit yang ditularkan oleh vektor seperti  demam berdarah. Dari data awal yang dikumpulkan dapat dikatakan  bahwa Curah hujan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian DBD, di mana curah hujan mempunyai nilai prediksi yang berhubungan dengan terjadinya demam berdarah. Walaupun demikian, terdapat perbedaan waktu (time lag) antara peningkatan curah hujan dan peningkatan kasus. Perubahan  iklim berpengaruh terhadap kerentanan kesehatan, sehingga perubahan iklim ini harus dihadapi. Oleh karena itu, melindungi diri dari perubahan iklim dibagi atas upaya mitigasi (minimalisasi penyebab dan dampak) dan adaptasi (menanggulangi risiko kesehatan). Early warning system terhadap kejadian luar biasa DBD harus dilaksanakan di setiap daerah dengan memperhatikan kecenderungan perubahan faktor iklim. Selain itu diperlukan perbaikan lingkungan yang harus disertai dengan perubahan faktor lain seperti perilaku dan pelayanan kesehatan.Kata kunci: Curah Hujan, Demam Berdarah, Perubahan Iklim, Penyakit Tular, Vektor

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT SEBAGAI DETERMINAN KESEHATAN YANG PENTING PADA TATANAN RUMAH TANGGA DI KOTA BANDUNG

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 1 (2015): Volume 1 Nomor 1 September 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.48 KB)

Abstract

Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah upaya promosi kesehatan yang bertujuan agar orang-orang Indonesia tinggal di lingkungan yang bersih dan sehat. Program ini diimplementasikan dalam beberapa tatanan yaitu, Tatanan Fasilitas Kesehatan, Rumah Tangga, Tempat Kerja, Fasilitas Umum dan Sekolah. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di tatanan rumah tangga memiliki peran yang sangat penting dalam kejadian penyakit menular dan penyakit tidak menular. Kota Bandung merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia. Saat ini, penyakit menular atau tidak menular baik di daerah perkotaan maupun kumuh perkotaan di Kota Bandung tetap tinggi. Pada Program PHBS terdapat 10 indikator yang dapat menjadi penyebab kejadian penyakit menular. Pada saat ini, di berbagai belahan bumi mengalami berbagai masalah akibat perubahan iklim. Dampak perubahan iklim terhadap masalah kesehatan adalah terjadinya penyaki tmenular. Dapat dikatakan bahwa perubahan iklim in imenjadi faktor risiko untuk terjadinya penyakit menular,  diantaranya diare dan penyakit tular vector seperti demam berdarah. Agar masyarakat terhindar dari penyakit menular ini, maka berbagai indikator yang terdapat pada Program PHBS perlu dilaksanakan. Dapat dikatakan bahwa PHBS merupakan determinan kesehatan yang penting pada tatanan rumah tangga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hubungan antara pelaksanaan Program PHBS di tatanan rumah tangga dengan kejadian penyakit diare dan demam berdarah yang diduga sebagai akibat dampak perubahan iklim di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di wilayah Kota Bandung BagianBarat, program PHBS berhubungan dengan kejadian Diare, Demam Berdarah dan angka bebas larva dalam rumah tangga. Semakin tinggi nilai PHBS, semakin rendah kejadian penyakit diare, demam berdarah dan angka bebas larva. Hasil studi ini dapat digunakan oleh para pembuat kebijakan kesehatan untuk menempatkan Program PHBS sebagai faktor penentu dan menjadi program utama dalam pengendalian penyakit menular dan mitigasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakatKata kunci: Determinan Kesehatan, Perubahan Iklim, Perilaku Hidup Bersih dan   Sehat                   (PHBS)

Studi Kontaminasi Makanan di Instalasi Gizi dan Kantin Rumah Sakit X Kota Bandung Tahun 2015-2017

HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 4, No 1 (2018): Kesehatan Lingkungan
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.697 KB)

Abstract

Makanan berpotensi sebagai perantara penularan penyakit dan keracunan makanan. Pengelolaan makanan di rumah sakit (RS) bagian dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit untuk upaya penyembuhan dan pemulihan pasien melalui penyelenggaraan makanan higiene dan sehat. Kegiatan higiene sanitasi makanan adalah upaya menjamin kualitas makanan dari pencemaran selama proses pengolahannya. Persyaratan higiene sanitasi makanan harus dipenuhi baik secara fisik, kimia dan mikrobiologi.Metode penelitian kuantitatif dengan cross sectional design, jenis penelitian observasional dari data sekunder. Tujuan penelitian unttuk mengetahui agka kejadian kontaminasi makanan di RS X Kota Bandung. Teknik sampling data primer dilakukan oleh sanitarian, dimana pemeriksaan mikrobiologi dilakukan secara aseptik sesuai dengan SPO Pengambilan Sampel Makanan secara Mikrobiologi dan Kimiawi. Instansi yang berwenang melaporkan data food safety Instalasi Kesehatan Lingkungan.Hasil tahun 2015-2017 terdapat kontaminasi E. Coli pada makanan di Instalasi Gizi dan kantin di RS X Kota Bandung. Kontaminasi E. Coli pada makanan tahun 2015 di pantry sebanyak 3 kasus (4,4%), 7 kasus (7%) kasus yaitu 6 kasus di pantry dan 1 kasus di kantin tahun 2016, sebanyak 3 kasus (2,9%) di Instalasi Gizi tahun 2017. Bahan makanan yang mengandung formalin pada tahun 2015 terdapat 1 kasus (7,7%) dan tahun 2016 terdapat 2 kasus (12,5%). Kandungan boraks pada tahun 2016 terdapat 3 kasus (23,1%), tahun 2017 sebanyak 2 kasus (20%). Kandungan pestisida golongan organo karbamat 1 kasus dan organo klorin 1 kasus.Upaya preventif kontaminasi E. Coli telah dilakukan oleh Instalasi Gizi dan kantin dengan menerapkan HACCP. upaya deteksi dini kandungan formalin dan boraks belum dilakukan karena belum adanya food kit  dan sanitarian belum mampu melakukan pemeriksaan skala lapangan. Kata kunci : E. Coli, boraks, formalin, pestisida

Factors Influencing Private Practitioners to Report Tuberculosis Cases

Pharmacology and Clinical Pharmacy Research Vol 1, No 1
Publisher : Universitas Padjadjaran, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.969 KB)

Abstract

One of the key elements in tuberculosis (TB) management is a system for recording and reporting, in which every health care provider needs to report every TB case to an authorized primary health center (PHC) to support effective treatment. This study was conducted to investigate the present condition of TB recording and reporting system and evaluate several factors that might influence PP behavior regarding the reporting of TB cases to a PHC in Bandung, Indonesia. Face-to-face interviews with PP and the head of the PHC were performed. Data were coded, categorized, and analyzed statistically by Fischer’s exact test. We found that there were four factors influencing the reporting of TB cases by PP to PHC, including self-awareness, ignorance, lack of time, and poor implementation of recording and reporting system. The level of PP self-awareness was significantly associated with the reporting of TB cases (p<0.05). Private sector involvement, improvement in the recording of treatment follow-up, and the use of electronic based reporting were considered important by participants to construct a well-established recording and reporting system for TB cases. In conclusion, there are still room for improvement in the reporting and recording system of TB cases in PHC.Keywords: recording, reporting, tuberculosis, self-awareness, practitioners

Pilihan dan Persepsi Risiko terhadap Jenis Sumber Air Minum pada Masyarakat Kumuh Perkotaan di Bantaran Sungai Cikapundung Kota Bandung

Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.773 KB)

Abstract

Sistem penyaluran air di wilayah kumuh perkotaan sangat terbatas dan tidak dapat diandalkan baik kuantitas dan kualitas terutama di negara-negara berkembang. Pilihan terhadap jenis sumber air dan tipe pengolahan akan berdampak pada status kesehatan masyarakat. Penelitian ini bermaksud menggali hubungan faktor demografi dan persepsi risiko terhadap pilihan sumber air minum pada masyarakat kumuh perkotaan. Studi potong lintang dilaksanakan pada bulan September–Oktober 2015 pada masyarakat kumuh perkotaan di 20 RW yang berada di bantaran sungai Cikapundung Kota Bandung. Sampel dipilih dengan metode acak sistematis. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan kualitas sampel air minum diperiksa dengan Suncoli test kit untuk mendeteksi dan menghitung jumlah bakteri Coliform. Jenis air minum yang dikonsumsi masyarakat kumuh perkotaan adalah merebus air minum yang bersumber air sumur dan air perpipaan atau membeli air minum dalam kemasan. Faktor yang berhubungan dengan pilihan jenis air minum yang dikonsumsi adalah faktor status ekonomi, ketersediaan jenis sumber air bersih yang dimiliki, dan faktor pendidikan kepala keluarga (p<0,001). Persepsi terhadap risiko keamanan sumber air bersih berhubungan dengan pilihan jenis sumber air minum yang dikonsumsi (p<0,001). Upaya promosi kesehatan mengenai cara pengolahan air minum perlu ditingkatkan dan perbaikan penyediaan air perpipaan harus diupayakan. Choice and Risk Perception on Drinking Water source among Urban Slum Dwellers Living on Cikapundung River Basin in Bandung CityWater supply system in urban slum area is often unreliable in terms of water quality and quantity, particularly in developing countries. Choices on the type of water source and water treatment may be associated with public health outcomes. This study aimed to investigate correlation between demographic factors and risk perception on the choice of water source type in urban slum area. A cross-sectional study was conducted during September–October 2015 in 20 neigborhood (Rukun Warga, RW) living on Cikapundung river basin in Bandung City. Households were sampled using systematic random sampling method. Data were collected through a questionnaire and water quality was assessed using Suncoli test kit to examine total Coliform level in drinking water. Drinking water consumed by the urban slum dweller included boiled water from ground well and piped water as well as commercial drinking water. Factors influencing the choice of drinking water were economic status, availability of clean water source, and education level of head of household (p<0.001). Perception towards health risks carried by clean water correlates with the choice of drinking water to be consumed (p<0.001). Health promotion efforts on how to process drinking water need to be improved and piped water provision should be improved.

Model Program Demam Berdarah Dengue. Peran Serta Masyarakat, serta Sanitasi Dasar di Kota Bandung

Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.6 KB)

Abstract

Munculnya kembali demam berdarah sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama menunjukkan sulitnya mempertahankan kelangsungan program pencegahan dan pemberantasan penyakit ini. Pengetahuan yang memadai mengenai demam berdarah dengue (DBD) dan metode untuk mencegahnya harus dapat dimengerti oleh masyarakat sebelum mereka mau berpartisipasi aktif. Penelitian ini bertujuan menggambarkan faktor-faktor yang memengaruhi DBD berdasar atas peran serta masyarakat, sanitasi dasar, dan program pencegahan dan pemberantasan demam berdarah dengue  Penelitian ini adalah survei pada 2.035 rumah tangga di 12 kecamatan dan 16 kelurahan di Kota Bandung pada bulan Mei – Juni 2015 yang dilakukan dengan metode stratified random sampling. Kuesioner digunakan untuk mengetahui karakteristik, pengetahuan mengenai DBD, pengalaman, persepsi risiko dan sikap dalam kejadian DBD, program DBD yang tersedia, serta fasilitas sanitasi dasar. Analisis data menggunakan partial least square (PLS). Hasil menunjukkan bahwa DBD dipengaruhi oleh keberadaan tempat perindukan nyamuk, fasilitas sanitasi dasar terutama sistem pembuangan air limbah (SPAL), Program DBD serta peran serta masyarakat terutama mengenai pengetahuan. Upaya paling efektif untuk mengurangi tempat perindukan ini adalah dengan menyediakan sarana sanitasi dasar yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat serta upaya pemberantasan sarang nyamuk PSN yang sebaiknya dilakukan secara serentak.  Dengue Hemorrhagic Fever Program Model, Community Participation, and Basic Sanitation in Bandung CityThe reemergence of dengue fever as a major public health problem presents difficulties in the sustainability of prevention and eradication programs for this disease. Community must have adequate knowledge on dengue hemorrhagic fever (DHF) and methods to prevent it before they have the willingness to participate actively. This study aimed to describe factors that influence DHF program  ased on community participation, basic sanitation, and prevention and eradication. This was a survey on 2,035 households in 12 sub-districts and 16 villages in Bandung City in May - June 2015. Sampling was perfomed using stratified random sampling method. The questionnaire was used to determine the characteristics, knowledge on DHF, experience, risk perception, and attitudes towards the incidence of DHF; available DHF programs; and basic sanitation facilities. Data analysis was performed using Partial Least Square (PLS). The results showed that DHF was affected by the presence of mosquito breeding sites, basic sanitation facilities, especially sewage disposal systems (SPAL), DHF programs, and community participation especially knowledge. The most effective effort to reduce the breeding place is by providing basic sanitation facilities accessible to the entire community along with simultaneous efforts to eradicate mosquito breeding places.   

Model Program Demam Berdarah Dengue. Peran Serta Masyarakat, serta Sanitasi Dasar di Kota Bandung

Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Munculnya kembali demam berdarah sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama menunjukkan sulitnya mempertahankan kelangsungan program pencegahan dan pemberantasan penyakit ini. Pengetahuan yang memadai mengenai demam berdarah dengue (DBD) dan metode untuk mencegahnya harus dapat dimengerti oleh masyarakat sebelum mereka mau berpartisipasi aktif. Penelitian ini bertujuan menggambarkan faktor-faktor yang memengaruhi DBD berdasar atas peran serta masyarakat, sanitasi dasar, dan program pencegahan dan pemberantasan demam berdarah dengue  Penelitian ini adalah survei pada 2.035 rumah tangga di 12 kecamatan dan 16 kelurahan di Kota Bandung pada bulan Mei – Juni 2015 yang dilakukan dengan metode stratified random sampling. Kuesioner digunakan untuk mengetahui karakteristik, pengetahuan mengenai DBD, pengalaman, persepsi risiko dan sikap dalam kejadian DBD, program DBD yang tersedia, serta fasilitas sanitasi dasar. Analisis data menggunakan partial least square (PLS). Hasil menunjukkan bahwa DBD dipengaruhi oleh keberadaan tempat perindukan nyamuk, fasilitas sanitasi dasar terutama sistem pembuangan air limbah (SPAL), Program DBD serta peran serta masyarakat terutama mengenai pengetahuan. Upaya paling efektif untuk mengurangi tempat perindukan ini adalah dengan menyediakan sarana sanitasi dasar yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat serta upaya pemberantasan sarang nyamuk PSN yang sebaiknya dilakukan secara serentak.  Dengue Hemorrhagic Fever Program Model, Community Participation, and Basic Sanitation in Bandung CityThe reemergence of dengue fever as a major public health problem presents difficulties in the sustainability of prevention and eradication programs for this disease. Community must have adequate knowledge on dengue hemorrhagic fever (DHF) and methods to prevent it before they have the willingness to participate actively. This study aimed to describe factors that influence DHF program  ased on community participation, basic sanitation, and prevention and eradication. This was a survey on 2,035 households in 12 sub-districts and 16 villages in Bandung City in May - June 2015. Sampling was perfomed using stratified random sampling method. The questionnaire was used to determine the characteristics, knowledge on DHF, experience, risk perception, and attitudes towards the incidence of DHF; available DHF programs; and basic sanitation facilities. Data analysis was performed using Partial Least Square (PLS). The results showed that DHF was affected by the presence of mosquito breeding sites, basic sanitation facilities, especially sewage disposal systems (SPAL), DHF programs, and community participation especially knowledge. The most effective effort to reduce the breeding place is by providing basic sanitation facilities accessible to the entire community along with simultaneous efforts to eradicate mosquito breeding places.   

Pilihan dan Persepsi Risiko terhadap Jenis Sumber Air Minum pada Masyarakat Kumuh Perkotaan di Bantaran Sungai Cikapundung Kota Bandung

Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem penyaluran air di wilayah kumuh perkotaan sangat terbatas dan tidak dapat diandalkan baik kuantitas dan kualitas terutama di negara-negara berkembang. Pilihan terhadap jenis sumber air dan tipe pengolahan akan berdampak pada status kesehatan masyarakat. Penelitian ini bermaksud menggali hubungan faktor demografi dan persepsi risiko terhadap pilihan sumber air minum pada masyarakat kumuh perkotaan. Studi potong lintang dilaksanakan pada bulan September–Oktober 2015 pada masyarakat kumuh perkotaan di 20 RW yang berada di bantaran sungai Cikapundung Kota Bandung. Sampel dipilih dengan metode acak sistematis. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan kualitas sampel air minum diperiksa dengan Suncoli test kit untuk mendeteksi dan menghitung jumlah bakteri Coliform. Jenis air minum yang dikonsumsi masyarakat kumuh perkotaan adalah merebus air minum yang bersumber air sumur dan air perpipaan atau membeli air minum dalam kemasan. Faktor yang berhubungan dengan pilihan jenis air minum yang dikonsumsi adalah faktor status ekonomi, ketersediaan jenis sumber air bersih yang dimiliki, dan faktor pendidikan kepala keluarga (p<0,001). Persepsi terhadap risiko keamanan sumber air bersih berhubungan dengan pilihan jenis sumber air minum yang dikonsumsi (p<0,001). Upaya promosi kesehatan mengenai cara pengolahan air minum perlu ditingkatkan dan perbaikan penyediaan air perpipaan harus diupayakan. Choice and Risk Perception on Drinking Water source among Urban Slum Dwellers Living on Cikapundung River Basin in Bandung CityWater supply system in urban slum area is often unreliable in terms of water quality and quantity, particularly in developing countries. Choices on the type of water source and water treatment may be associated with public health outcomes. This study aimed to investigate correlation between demographic factors and risk perception on the choice of water source type in urban slum area. A cross-sectional study was conducted during September–October 2015 in 20 neigborhood (Rukun Warga, RW) living on Cikapundung river basin in Bandung City. Households were sampled using systematic random sampling method. Data were collected through a questionnaire and water quality was assessed using Suncoli test kit to examine total Coliform level in drinking water. Drinking water consumed by the urban slum dweller included boiled water from ground well and piped water as well as commercial drinking water. Factors influencing the choice of drinking water were economic status, availability of clean water source, and education level of head of household (p<0.001). Perception towards health risks carried by clean water correlates with the choice of drinking water to be consumed (p<0.001). Health promotion efforts on how to process drinking water need to be improved and piped water provision should be improved.

Spatial Distribution of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in Urban Setting of Bandung City

Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The proximity of urban area provides fertile ground for the exchange of bacteria, virus and other health problem. One of the diseases which have a close relationship with the environment and people interaction is dengue. At present, it still is one of the major health problems for Indonesia. One method to understand the disease is by using spatial analysis that the prevention program can be focusing on the area most affected. This study aims to analyze the spatial distribution of dengue cases in Bandung city. The method used was the mapping of dengue cases using geographic information system (GIS) with ArcView software. Data were collected from August 2015 to March 2016 in Bandung city. Results showed that dengue cases increased with fluctuated hyperendemic years especially in the year 2009, 2012, and 2013. Spreading pattern of the disease was from north of Bandung to east. The conclusion of this study dengue cases in Bandung city showed an increased trend with fluctuated hyperendemic year especially in the year 2009, 2012, and 2013. Pockets of highest reported cases were found in north to middle and east for the whole year. The spread of this disease, especially in east Bandung, showed wider affected areas in the observed year. Land usage for residential purposes without good development plan might be on factors that increase the disease transmission. DISTRIBUSI SPASIAL KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE DI DAERAH URBAN KOTA BANDUNGKedekatan dalam wilayah urban memberikan kemudahan dalam pertukaran bakteri, virus, dan masalah kesehatan lainnya. Salah satu penyakit yang erat hubungannya dengan kedekatan pemukiman, lingkungan, dan interaksi manusia adalah demam berdarah dengue (DBD). Sampai saat ini DBD masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Pencegahan suatu penyakit akan lebih mudah dilakukan apabila pemahaman mengenai penyakit tersebut sudah dapat dilakukan dengan baik. Dengan pemetaan (distribusi spasial), kasus DBD akan lebih mudah dimonitor sehingga program pencegahan dapat difokuskan pada wilayah dengan angka kejadian yang tinggi. Penelitian ini bertujuan melihat distribusi spasial kasus DBD mempergunakan geografic information system (GIS) di Kota Bandung. Metode penelitian ini adalah pemetaan kasus di wilayah tertentu dengan GIS menggunakan ArcView software menggunakan data kasus DBD dan data spasial dilaksanakan pada tahun 2015 di Kota Bandung. Hasil penelitian kasus DBD di Kota Bandung menunjukkan peningkatan dengan pola tahun hiperendemik berfluktuasi terutama pada tahun 2009, 2012, dan 2013. Pola pergerakan kasus tampak berawal dari arah utara menuju timur. Kantong wilayah dengan kasus DBD yang tinggi terkumpul di daerah utara menuju timur Kota Bandung sepanjang tahun. Simpulan penelitian ini, penyebaran kasus di wilayah Bandung menunjukkan daerah sebaran yang semakin besar dari tahun ke tahun. Pemanfaatan lahan sebagai pemukiman memiliki keterkaitan terhadap kejadian DBD.