Articles
5
Documents
PENGARUH VARIASI TEMPERATUR TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKA, KIMIA, DAN BIOLOGI YOGHURT SUSU JAGUNG

Biosfer: Jurnal Tadris Biologi Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung manis (Zea mays L. Saccharata) atau sweet corn merupakan jenis jagung yang belum lama dikenal dan baru dikembangkan di Indonesia. Selama ini masyarakat mengolah jagung menjadi jagung rebus, jagung bakar, atau dibuat kue. Penganekaragaman produk makanan dengan bahan baku jagung perlu dilakukan untuk memberi nilai tambah bagi jagung. Untuk itu dalam penelitian ini jagung akan diolah menjadi yoghurt. Agar dapat diterima dipasaran yoghurt susu jagung yang dihasilkan harus memenuhi syarat mutu berdasarkan kriteria Standar Nasional Indonesia (SNI 2981:2009). Temperatur merupakan salah satu faktor penting dalam proses fermentasi. Dalam penelitian ini menggunakan variasi temperatur untuk menemukan temperatur yang paling tepat untuk pembuatan yoghurt yang berkualitas. Berdasarkan penelitian yoghurt susu jagung yang paling memenuhi syarat mutu berdasarkan kriteria SNI adalah yoghurt yang difermentasi pada temperatur 44°C. Yoghurt yang dihasilkan memiliki tekstur yang agak kental, bau khas yoghurt, rasa asam, dan warna kuning. Yoghurt yang dihasilkan memiliki kadar protein 2,052 % - 2,072 dan aman dari kontaminasi coliform.

PENGARUH VARIASI TEMPERATUR TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKA, KIMIA, DAN BIOLOGI YOGHURT SUSU JAGUNG

Biosfer: Jurnal Tadris Biologi Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Pendidikan Biologi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Jagung manis (Zea mays L. Saccharata) atau  sweet corn merupakan jenis jagung yang belum lama dikenal dan baru dikembangkan di Indonesia. Selama ini masyarakat mengolah jagung menjadi jagung rebus, jagung bakar, atau dibuat kue. Penganekaragaman produk makanan dengan bahan baku jagung perlu dilakukan untuk memberi nilai tambah bagi jagung. Untuk itu dalam penelitian ini jagung akan diolah menjadi yoghurt. Agar dapat diterima dipasaran yoghurt susu jagung yang dihasilkan harus memenuhi syarat mutu berdasarkan kriteria Standar Nasional Indonesia (SNI 2981:2009). Temperatur merupakan salah satu faktor penting dalam proses fermentasi. Dalam penelitian ini menggunakan variasi temperatur untuk menemukan temperatur yang paling tepat untuk pembuatan yoghurt yang berkualitas. Berdasarkan penelitian yoghurt susu jagung yang paling memenuhi syarat mutu berdasarkan kriteria SNI adalah yoghurt yang difermentasi pada temperatur 44°C. Yoghurt yang dihasilkan memiliki tekstur yang agak kental, bau khas yoghurt, rasa asam, dan warna kuning. Yoghurt yang dihasilkan memiliki kadar protein 2,052 % - 2,072 dan aman dari kontaminasi coliform.

Analisis Perbedaan Jumlah Bakteri Pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Budidaya

Biospecies Vol 11 No 2 (2018): Volume 11, No.2, July, 2018
Publisher : University of Jambi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan mempunyai prospek cukup baik untuk dikembangkan karena memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Namun, persentase penyakit ikan akibat bakteri mencapai 33,9%. Ikan nila (O. niloticus) termasuk yang  sering terserang bakteri. Hasil TPC dari ikan nila kolam budidaya I, II, dan III secara berturut-turut adalah sebesar 1,32 X 105 Cfu/g; 1,7 X 105 Cfu/g; 1,14 X 105 Cfu/g. Dari hasil parameter pengukuran fisika ketiga kolam budidaya masih sesuai dengan klasifikasi mutu air, namun jika ditinjau dari hasil parameter pengukuran kimia kolam budidaya II tergolong air tercemar.

ANALISIS SEKUEN NUKLEOTIDA E/NS1 GENE JUNCTION VIRUS DENGUE SEROTIPE 2 ASAL DKI JAKARTA, INDONESIA

JURNAL DUNIA KESMAS Vol 1, No 1 (2012): Volume 1 Nomor 1
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam dengue atau demam berdarah dengue merupakan salah satu masalahkesehatan di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue(genus flavivirus, famili flaviviridae). Vektor pembawa virus dengue adalah nyamukAedes aegypti dan Aedes albopictus. Genom virus dengue tersusun atas tiga proteinstruktural (protein nukleokapsid, protein envelope, dan protein pre-membran) dan tujuhprotein nonstruktural (NS1, NS2a, NS2b, NS3, NS4a, NS4b, dan NS5). Usaha untukmengontrol penyakit ini tergantung pada pemahaman patogenesis virus dengue. Tetapipengetahuan mengenai patogenesis virus dengue masih belum banyak diketahui karenabelum adanya model yang cocok baik in vitro maupun in vivo. Sehingga dilakukananalisis sekuen nukleotida E/NS1 gene junction virus dengue tipe 2 asal DKI Jakarta,Indonesia untuk mengetahui hubungan filogeni virus dengue yang beredar saat ini.Sekuen nukleotida (240 bp) dari E/NS1 gene junction merupakan segmen yang biasadigunakan untuk analisis perbandingan sekuen. Hasil analisis menunjukkan strain virusyang diteliti berkerabat dengan virus DEN-2 asal Asia yaitu Myanmar, Pakistan, SriLanka, Brunei, dan Malaysia. Tetapi kelima virus ini berada dalam kelompok yangberbeda dengan virus asal Amerika latin (Brazil). Virus Dengue dari Asia diduga lebihvirulen dibandingkan virus dengue dari daerah lain. Sehingga kemungkinan terjadipeningkatan kasus DBD di Indonesia.Kata kunci: Virus Dengue, E/NS1 gene junction, serotype, filogeni, DEN-2

hubungan paritas dan usia

HOLISTIK JURNAL KESEHATAN Vol 12, No 4 (2018)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

hbfgxcuybcyqqnxgc xffhwsvdttrycqwedqr