Tjetjep Rohendi Rohidi, Tjetjep Rohendi
Unknown Affiliation

Published : 20 Documents
Articles

Found 20 Documents
Search

TOPENG SENI BARONGAN DI KENDAYAKAN TEGAL: EKSPRESI SIMBOLIK BUDAYA MASYARAKAT PESISIRAN

Catharsis Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehadiran seni dalam kehidupan manusia menjadi salah satu kebutuhan bagi manusia. Salah satunya topeng seni barongan di Kendayakan Tegal. Bentuk topeng mengarah pada keislaman dan masih mempertahankan bentuk terdahulu. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini: (1) bagaimana bentuk topeng dalam seni barongan di Kendayakan Tegal?; (2) mengapa bentuk topeng dalam seni barongan di Kendayakan Tegal mengekspresikan secara simbolik budaya pesisiran?. Metode dan pendekatan penelitian adalah kualitatif dengan kajian interdisiplin. Analisis data seni dengan intra dan ekstraestetik. Hasil penelitian yang pertama, topeng seni barongan terdiri dari Capluk, Gendruwo Lanang, Gendruwo Wadon, Singa, dan Buroq. Bentuk visual topeng memiliki gaya imajinatif dan stilaisi dengan corak sederhana serta variatif. Warna topeng cerah dan tegas. Topeng juga terkait dengan nilai kosmologis, klasifikasi simbolik, dan orientasi kehidupan. Kedua, topeng seni barongan sebagai praktik budaya masyarakat Desa Kendayakan berada di kawasan pesisir menghasilkan produk budaya berupa topeng seni barongan yang mengekspresikan secara simbolik budaya pesisiran. Topeng seni barongan dahulu memiliki unsur-unsur budaya Hindu bergeser menjadi budaya dan simbol Islam sebagai legitimasi yang kuat pada masyarakat Kendayakan serta bertujuan sebagai media syiar Islam.

YEN ING TAWANG ANA LINTANG: KASUS BENTUK MUSIK KERONCONG GROUP CONGROCK 17 DI SEMARANG

Catharsis Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Group Congrock 17 merupakan sebuah group musik yang mengembangkan musik keroncong menjadi sebuah karya musik kontemporer. Sejak tahun 1983, Congrock 17 telah melakukan inovasi-inovasi baru terhadap musik keroncong, yaitu dengan mengembangkan alat musik yang digunakan, harmonisasi atau progresi akord yang pastinya semua keluar dari pakemnya keroncong. Permasalah penelitian, yaitu: (1) bagiamana profil group Congrock 17 di Semarang?; (2) bagaimana bentuk musik keroncong Yen Ing Tawang Ana Lintang group Congrock 17 di Semarang? Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan kritik seni holistic. Teknik pengumpulan data dengan: wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik analisis data ini diarahkan untuk: mendapatkan informasi secara menyeluruh tentang bentuk musik keroncong yang dikembangkan oleh group Congrock 17. Hasil penelitian menunjukan bahwa: pengembangan musik keroncong yang dilakukan oleh Congrock 17 ini berhasil menghasilkan suatu permainan keroncong yang nge-beat dan dinamis, sehingga tidak monoton dan melodi lagu menjadi lebih variatif dengan rentangan nada atau range yang sangat luas. Dan Bentuk lagu Yen Ing Tawang adalah A-A’-B’A’. Group Congrock 17 telah melakukan pengembangan pada iringan musik langgam Yen Ing Tawang Ana Lintang, hal itu dapat dilihat dari melodi, sistem nada, interval, harmonisasi atau progresi akornya, dan motif asimetris. Musik keroncong memiliki potensi yang cukup besar untuk beradaptasi dengan dinamika zaman. Saran yang dikemukakan peneliti adalah hendak adanya suatu campur tangan dari pemerintah dalam mendukung segala kegiatan seniman keroncong (HAMKRI) sebagai bentuk kerjasama dalam melestarikan keroncong. Melakukan pembelajaran keroncong di sekolah sebagai bentuk pemahaman akan pelestarian keroncong kepada generasi muda.

CERAMICS ENCULTURATION OF ARTISANS’ COMMUNITY IN MAYONG LOR VILLAGE: ADAPTATION STRATEGIES IN THE PRESERVATION AND CONTINUATION OF LOCAL CULTURE CREATIVE POTENTIAL

The Journal of Educational Development Vol 3 No 2 (2015): November 2015
Publisher : The Journal of Educational Development

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The facts showed that traditional ceramic arts are one of the local cultural heritages in which their existence is not easily maintained and continued because of competition with modern industrial products in market. The opposite condition occurs in Mayong Lor village that this local cultural heritage is still well maintained and developed from generation to generation for about six centuries in communities. Thus, a fundamental question arises why and how this phenomenon occurs. This study examines ceramics enculturation problems of crafters in Mayong Lor village communities, Jepara as the manifestation of adaptation strategies in the preservation and continuation of local culture creative potential. Two approaches used as the basis of assessment strategies. First, the theoretical approach was applied through the approach of culture, aesthetics, structural functionalism, adaptation, and education. Next, the methodological approach was used through anthropological research approach operated by using qualitative research method. The results show that the ceramics enculturation of artisans’ in Mayong Lor village communities naturally appear to function as a cultural mechanism of ceramics traditional activities in the environment of crafter families. This cultural mechanism is the form of informal education as the manifestation of adaptation strategies in maintaining and continuing creative potential of ceramics culture in the community, across generations since 15th to 21th century. The local culture stakeholders are recommended to adopt or adapt the findings of this study as a model in determining policies for the development of conservation programs and local culture potential in their respective regions.

FUNGSI DAN MAKNA BIDE DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT DAYAK KANAYATN DI KABUPATEN LANDAK KALIMANTAN BARAT

Catharsis Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bide merupakan bagian dari perlengkapan atau sarana yang digunakan dalam upacara ritual adat suku Dayak Kanayatn, tikar Bide mampu memberi kepuasan spiritual atau emosional lewat penampilan yang indah dan artistik. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini; (1) Fungsi apa yang terkandung dalam Bide?; dan (2) Bagaimana makna simbolik yang terkandung dalam Bide?. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan interdisiplin (antropologi, sosiologi, seni rupa dan semiotika). Teknik pengumpulan data dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, dengan prosedur analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil Penelitian menunjukan bahwa, tikar Bide bagi masyarakat Dayak Kanayatn adalah sebagai alat perekat tali persaudaraan. Dalam upacara adat, Bide sebagai alas tempat duduk dalam mempersatukan masyarakat, sehingga dengan kesatuan dapat tercipta suasana yang damai, adat merupakan aturan yang berlaku disetiap kehidupan mereka. Makna simbolik Bide adalah lambang kebersamaan dan pemersatu suatu kelompok masyarakat, dengan tujuan supaya masyarakat tetap menjaga solidaritas, kebersamaan, dan tanggung jawab. Sesuai dengan fungsinya, ketika ditempatkan dalam kontek budaya, Bide menjadi suatu identitas, karakter dan bisa juga harga diri.

GURITAN: MAKNA SYAIR DAN PROSES PERUBAHAN FUNGSI PADA MASYRAKAT MELAYU DI BESEMAH KOTA PAGARALAM

Catharsis Vol 5 No 1 (2016)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guritan adalah salah satu jenis sastra daerah masyarakat Besemah yang eksistensinya ditampilkan dalam bentuk teater tutur. artinya ia dituturkan secara monolog oleh seorang penutur cerita dalam bahasa Besemah dengan lagu atau syair tertentu dan memakai alat bantu sambang.  Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah makna syair guritan di Besemah Kota Pagaralam dan bagaimanakah perubahan fungsi   guritan pada masyarakat melayu di Besemah Kota Pagaralam? Pendekatan yang diterapkan penelitian ini adalah interdisiplin yang melibatkan disiplin ilmu semiotika dan sosiologi. Metode yang digunakan kualitatif. Lokasi penelitian di Kota Pagaralam. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi dokumen. Teknik keabsahan data secara utama menggunakan triangulasi sumber. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis isi dan analisis data interaktif. Hasil penelitian yang pertama yaitu terdapat makna berupa nasehat-nasehatt anjuran berbuat baik dan tolong menolong serta selalu menghormati kedua orang tua dan pembahsan kedua ditemukan adanya perubahan fungsi guritan yang di sebabkan oleh pengaruh budaya luar yang masuk di Kota Pagaralam yaitu kebudayaan islam hal tersebut menyebabkan perubahan prilaku masyarakat Kota Pagaralam yang harus mengikuti  norma  dan nilai  yang belaku  pada  budaya  yang  baru  yang  berdampak pada perubahan fungsi pada guritan.

Makna Simbolis dan Fungsi Tenun Songket Bermotif Naga pada Masyarakat Melayu di Palembang Sumatera Selatan

Catharsis Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tenun Songket Palembang Sumatera Selatan merupakan salah satu songket terbaik di Indonesia. Motif naga divisualkan kedalam tenun songket karena diyakini memiliki makna simbolis. Tujuan penelitian ini adalah (1) ingin mengetahui motif naga dijadikan unsur utama dalam kerajinan tenun songket (2) ingin menganalisis visualisasi naga dalam tenun songket, (3) ingin memahami makna simbolis dan fungsi tenun songket bermotif naga pada masyarakat Melayu di Palembang Sumatera Selatan. Metode penelitian yang digunakan metode kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui, observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa: Pertama, Tenun songket bermotif naga dijadikan sebagai motif utama karena motif tersebut yang pertama dibuat oleh Gede Munyang masa dulu (nenek moyang) sebelum adanya motif-motif tiga negeri dan kenanga dimakan ulat; Kedua, bentuk visual naga yang ada pada tenun songket merupakan visualisasi pengaruh naga Cina; Ketiga, makna simbolis tenun songket bermotif naga merupakan unsur kepercayaan masyarakat Sumatera Selatan yang terkandung pemahaman kehidupan dilihat dari makna unsur satu kesatuan dan merujuk pada tatanan dalam berkehidupan yang berisi pemahaman terhadap konsep pengharapan, kesucian, perlindungan, kemakmuran, jati diri, dan ajaran dalam ruang lingkup kehidupan sosial. Berkaitan dengan fungsinya, masyarakat Palembang menggunakan tenun songket bermotif naga dalam tradisi pernikahan. Weaving Songket Palembang South Sumatra is one of the best songket in Indonesia. Visualize them into a dragon motif on songket as it is believed to have symbolic significance. Problems examined in this study are: (1) want to know the dragon motif used as a key element in the craft of weaving songket (2) wants to analyze the visualization of a dragon in songket, (3) to understand the symbolic meaning and function of songket weaving patterned dragon on the Malay community in Palembang in South Sumatra. The method used qualitative methods. The data source is the people of Palembang in South Sumatra and patterned songket weaving dragon. Analysis technique used is data collection, data reduction, data presentation and conclusion. The research shows. First, patterned songket weaving dragon serve as the main motive for the first motif created by Gede Munyang first period (ancestor) before any other motives. Second, the visual form of the dragon that is in the weaving songket is a visualization of the influence of the Chinese dragon. Third, the symbolic meaning of the dragon patterned songket is an element of public confidence in South Sumatra. Contained in the understanding of the meaning of the elements of life seen a whole and refers to the order in life which provides an understanding of the concept of hope, purity, protection, prosperity, identity, and the teachings within the scope of social life. In connection with the public function Palembang songket weaving patterned using dragon in their marriage tradition.

Proses Kreasi Tari Alusu’ sebagai Tari Penyambutan di Kabupaten Bone

Catharsis Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk  menggambarkan proses kreasi sebagai tari penyambutan di Kabupaten Bone. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik analisis data secara menyeluruh menggunakan prosedur analisis Miles dan Huberman yang dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan, untuk teknik analisis tari menggunakan prosedur Jannet Adshead yaitu Discerning dan Describing. Hasil penelitian ditemukan bahwa proses kreasi dilakukan pada tahun 2005 oleh koreografer Abdul Muin, dan dibantu oleh Andi Youshand selaku budayawan dan Andi Mappasissi selaku pemangku adat dalam hal menemukan ide. Melalui proses kreasi yakni eksplorasi, improvisasi dan komposisi, tari Alusu’ terbentuk menjadi delapan ragam gerak di antaranya, Mappakaraja, Sere Alusu’, Sere Bibbi’, Sere Mangkok, Sere Massampeang, Sere Maloku, Sere batita, dan Pabbitte. Gerakan yang dihasilkan dengan karakter gaya gerak Abdul Muin sebagai penari Bissu, dan dipengaruhi oleh keadaan geografis Kabupaten Bone, sehingga menghasilkan gerak yang lebih dinamis. Di sisi lain, elemen pendukung tari Alusu’ seperti musik iringan, kostum, tata rias, properti, dan desain lantai disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. This study aims at describing creation process as a welcoming dance in Bone Subdistrict. This study is qualitative in nature. The data are collected through observations, interviews, and documentations study. The data analysis techniques apply Miles and Huberman’s procedures, starting from data collection; data reduction; data presentation; and data verification or drawing conclusion. Meanwhile, dance analysis techniques utilize Jannet Adshead’s ones which are discerning and describing. The results show that creation process was done in 2005 by Abdul Muin as the choreographer, collaborated with Andi Youshand as cultural observer and Andi Mappasissi as local custom leader in finding ideas. Through the creation process covering exploration, improvisation, and composition, Alusu’ dance was formed in eight moves that are Mappakaraja, Sere Alusu’, Sere Bibbi’, Sere Mangkok, Sere Massampeang, Sere Maloku, Sere batita, and Pabbitte. The moves are characterised by the style of Abdul Muin’s as Bissu dancer, also influenced by Bone’s geographical condition, which finally make those more dynamic. Besides, some other additional elements such as music, costume, make up, properties, and floor design are adjusted by current people’s need.

Extracurricular Learning of Dance with Local Wisdom Basis

Catharsis Vol 6 No 2 (2017)
Publisher : Catharsis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia’s education system directs that the curriculum of every education level should insert local wisdom education, especially in arts subject. Every area in Indonesia has various performing arts. One of the arts in Kendal is Barongan dance which is able to be used as the learning source. This research aims to analyse the extracurricular learning process with local wisdom materials in SMA PGRI 1 Kendal. This research was a qualitative research. The technique of data collection consists of observation, interview, and documentation. The technique of data analysis used data reduction, data delivery, and data verification. The result of the research showed that the learning consisted of three stages, the beginning, main materials, and closing. The steps were in line to Gagne’s theory of learning phases motivation, introduction, acquisition, performance, and feedback. The beginning consisted of motivation and performance. The main part included the knowledge and the performance. Meanwhile, the closing dealt with the performance and feedback. The learning process also involved interaction. The learning of extracurricular in SMA PGRI 1 Kendal used local wisdom of Barongan with materials focusing on developing the arts. The formation of the dance consisted of lampah seblak, sembahan, jengkeng manggut,menthang tangan, and loncat jaran.

PATTERNS OF PUBLIC SPACES BASED ON ‘SPORT FOR ALL’ AND PEOPLE’S ADAPTATION PROCESS IN SEMARANG CITY

The Journal of Educational Development Vol 5 No 1 (2017): February 2017
Publisher : The Journal of Educational Development

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

As part of the culture, sport has a variety of forms and meaning that undergo changes from time to time and from society to society. This study is intended to describe the accessability of public spaces, the adaptation patterns of the use of public spaces by participants of ‘sport for all’, forms of interaction, communication and image of “sport for all”, and sociocultural factors that support “sport for all” within the car free day program in Simpang Lima Complex. A phenomenologic naturalistic approach by using a multi-site design was used. The subjects consisted of heads of Semarang City Services, and users of car free day activities. The data were collected by using observation, documents, and interviews.The results show that first, public spaces are external and accessible by all people and consist of parks, city square, roads, and sidewalks. Second, the users of “sport for all” adapt to the available spaces through car free day activities. Third, the symbols of interaction, communication and image of “sport for all” are similar including accessories, fashion and identities to visually demonstrate their community or group existence. Fourth, physical, social, ecologic, and economic aspects of the sociocultural factors support “sport for all”.

BATIK WADASAN MOTIF, PAST AND PRESENT

-
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.59 KB)

Abstract

Batik motif in Indonesia has now undergone a change, the rapid demand of world batik products of Indonesia is now the design of batik motifs following market demand. Batik in Indonesia has increased quite rapid sales. Product innovation and marketing performance innovation have a positive effect on excellence in competition. Innovation from batik company in Indonesia is more on the creation of new motive product than continuing or continuing the existing classic motif product. Talking about the creation of new products, can not be separated from aspects of technology shifts, paradigms, skills and market structure. These aspects affect the company's strategy for its products to compete in the market. Hermeunitic Phenomenology Approach in this research will be used to examine the phenomena of the ongoing phenomenon in batik companies in Indonesia. This study aims to determine the process of shifting the visual form of traditional batik motifs after the market hegemony. After determining the puposeful sample, the researcher conducts the research by observing the role by involving himself in the event of the phenomenon, interviewing the phenomenon perpetrator, recording the events that occur in the batik industry environment outside the palace. The research finds the concept of problem solving in the creativity phenomenon of batik crafters to the wadasan motif by giving creative response form of innovation of new batik motif in order to meet market demand.