Tanti Ajoe Kesoema, Tanti Ajoe
Universitas Diponegoro

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

Comparison Between Taichi Chuan and Jacobson’s Progressive Muscular Relaxation in Decreasing Cortisol Concentration on Pre-Hypertension Patients

Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 12, No 1 (2016): JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (KEMAS) JULY 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nowadays, the prevalence of hypertension and its concomitant risk of cardiovascular and kidney disease development is increasing as the disability evidence in the society also rises. One of the potential risk factors of prehypertension is anxiety and it has already well-known that cortisol is a marker of anxiety. There are some nonpharmacologic methods to relieve anxiety: exercise and relaxation. Taichi Chuan is a low intensity aerobic exercise that also gives a relaxation effect.This study is organised to find out the effect of Taichi Chuan (TCC) and Jacobson’s Progressive Muscular Relaxation (JPMR) on cortisol level in pre hypertension patients. This is a pre and post-test design study with a total of 26 pre hypertension patients included. They were randomly divided into 2 groups. Group I performed Taichi Chuan exercise, while group II performed JPMR for 18 times. The intervention frequency was 3x/week for 6 weeks with 30 minutes duration for each session. In the study, which was held in April-June 2015, there was a decrease but no significant difference of cortisol concentration in both group.The comparison between groups also did not show statistical difference. However there were significant difference noted on the blood pressure before and after intervention in both groups.

PERBANDINGAN HASIL APLIKASI TENS DAN LATIHAN VOLUNTER TERHADAP KEMAMPUAN DAN DURASI KONTRAKSI MAKSIMAL OTOT DASAR PANGGUL PADA WANITA LANSIA

Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Kelemahan otot-otot panggul, khususnya pada wanita lanjut usia dapat menyebabkan timbulnya bermacam-macam gangguan atau keluhan. Salah satu cara penanganannya adalah dengan memperkuat otot-otot tersebut. Penguatan otot dapat dihasilkan melalui latihan dengan kontraksi volunter metode Kegel atau kontraksi pasif dengan stimulasi listrik. Stimulasi listrik dapat diberikan pada individu yang tidak mampu melakuan kontraksi volunter oleh berbagai sebab. TENS (Transkutaneus Electrical Nerve Stimulation) merupakan salah satu modalitas elektrostimulasi yang dapat digunakan untuk membangkitkan kontraksi otot melalui stimulasi saraf. Sehingga kontraksi otot secara pasif dapat membantu meningkatkan kekuatan otot dasar panggul bagi para wanita lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil aplikasi TENS dan latihan volunter terhadap kemampuan dan durasi kontraksi maksimal otot dasar panggul.Metode: Penelitian ini adalah Pre and post test design yang terdiri dari 34 wanita lansia berusia 60–65 tahun. Subyek dibagi menjadi 2 kelompok secara random. Kelompok pertama adalah kelompok yang melakukan latihan volunteer dan kelompok kedua adalah kelompok yang mendapatkan intervensi TENS. Hasil: Sesudah perlakuan, baik pada kelompok latihan volunter maupun kelompok TENS terdapat peningkatan kemampuan kontraksi maksimal otot dasar panggul secara bermakna (p<0,05). Kemampuan kontraksi otot dasar panggul pada kelompok latihan volunter secara bermakna lebih besar daripada kelompok TENS (p<0,05). Durasi kontraksi maksimal pada kelompok latihan memperlihatkan peningkatan yang bermakna (p=0,000) sedangkan pada kelompok TENS tidak (p=0,188). Dibanding kelompok TENS, latihan volunter menghasilkan durasi kontraksi maksimal yang lebih besar secara bermakna (3,78 vs. 1,63).Simpulan: Dibandingkan dengan aplikasi TENS, latihan volunter otot dasar panggul memberi manfaat yang lebih besar dalam meningkatkan kemampuan dan durasi kontraksi maksimal otot dasar panggul. Kata kunci: lansia, otot dasar panggul, TENS, Kegel.

Comparison Between Taichi Chuan and Jacobsons Progressive Muscular Relaxation in Decreasing Cortisol Concentration on Pre-Hypertension Patients

KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nowadays, the prevalence of hypertension and its concomitant risk of cardiovascular and kidney disease development is increasing as the disability evidence in the society also rises. One of the potential risk factors of prehypertension is anxiety and it has already well-known that cortisol is a marker of anxiety. There are some nonpharmacologic methods to relieve anxiety: exercise and relaxation. Taichi Chuan is a low intensity aerobic exercise that also gives a relaxation effect.This study is organised to find out the effect of Taichi Chuan (TCC) and Jacobsons Progressive Muscular Relaxation (JPMR) on cortisol level in pre hypertension patients. This is a pre and post-test design study with a total of 26 pre hypertension patients included. They were randomly divided into 2 groups. Group I performed Taichi Chuan exercise, while group II performed JPMR for 18 times. The intervention frequency was 3x/week for 6 weeks with 30 minutes duration for each session. In the study, which was held in April-June 2015, there was a decrease but no significant difference of cortisol concentration in both group.The comparison between groups also did not show statistical difference. However there were significant difference noted on the blood pressure before and after intervention in both groups.

PENGARUH LATIHAN FLEKSI DAN EKSTENSI LUMBAL TERHADAP FLEKSIBILITAS LUMBAL PADA DEWASA MUDA

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.44 KB)

Abstract

Latar Belakang: Kebiasaan duduk yang salah dan terlalu lama saat perkuliahan pada mahasiswa menyebabkan kekakuan punggung bawah yang mengakibatkan nyeri, untuk mencegahnya diperlukan program back exercises. Metoda back exercise yang sering digunakan adalah Williams’ flexion dan McKenzie exercises. Belum diketahui mana yang lebih efektif untuk meningkatkan fleksibilitas lumbal. Fleksibilitas lumbal dapat diukur dengan Modified modified schober test. Metode: Penelitian eksperimen pada 30 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama dengan intervensi Williams’ dan kelompok kedua dengan McKenzie. Pengukuran fleksibilitas secara manual sebelum dan sesudah intervensi menggunakan MMST. Analisis data dengan SPSS. Hasil: Rerata MMST fleksi antara sebelum dan sesudah perlakuan Williams’ dan McKenzie mengalami peningkatan. Rerata MMST ekstensi antara sebelum dan sesudah perlakuan Williams’ mengalami penurunan, sedangkan pada perlakuan McKenzie mengalami peningkatan. Terdapat perbedaan bermakna pada uji analisis MMST pada kedua perlakuan( Williams’ p=0,000; McKenzie p=0,000). Nilai rerata selisih MMST fleksi dan ekstensi pada perlakuan Williams’ dan McKenzie adalah 1,74 ± 1,18 dan -0,02 ± 1,31 serta 1,65 ± 0,78 dan 0,91 ± 1,46. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada uji analisis selisih MMST fleksi dan ekstensi pada kedua perlakuan (p=0,823;dan p=0,051) Simpulan: Williams’ flexion exercises, dan McKenzie exercises dapat meningkatkan fleksibilitas lumbal tetapi tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari kedua perlakuan tersebut.Kata Kunci : Latihan back exercise, Williams’ flexion, McKenzie extension, MMST

NILAI DIAGNOSTIK OSTEOPOROSIS SELF-ASSESMENT TOOL FOR ASIANS TERHADAP DUAL ENERGY X-RAY ABSORBTIOMETRY DALAM PENAPISAN OSTEOPOROSIS STUDI PADA WANITA POST MENOPAUSE

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Osteoporosis merupakan salah satu penyakit tidak menular terbanyak di dunia. Prevalensi osteoporosis pada wanita di atas usia 50 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Osteoporosis meningkatkan resiko terjadinya fraktur. Gold standard dalam penegakkan diagnosis osteoporosis adalah pemeriksaan Bone Mineral Density (BMD) dengan alat Dual Energy X-ray Absorptiometry (DXA). Jumlah perangkat DXA di Indonesia masih terbatas, dan untuk periksa butuh biaya yang mahal, maka dibutuhkan alat penapisan osteoporosis yang mudah digunakan. Salah satu alat penapisan yang praktis adalah Osteoporosis Self-assessment Tools for Asians (OSTA).Tujuan: Mengetahui nilai diagnostik OSTA terhadap DXA untuk penapisan osteoporosis pada wanita post menopause di Rumah Sakit Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan uji diagnostik. Dilakukan pemeriksaan OSTA dan hasilnya dibandingkan dengan hasil pemeriksaan DXA pada 97 catatan medik (CM) wanita pasca menopause. Hasil yang diperoleh di uji dengan tabel 2x2 untuk memperoleh hasil sensitivitas, spesifisitas, positive predictive value (PPV), dan negative predictive value (NPV).Hasil: Hasil pemeriksaan OSTA yang dibandingkan dengan DXA memperoleh hasil sensitivitas 92,5%, spesifisitas 42,1%, PPV 52,9%, dan NPV 88,9%.Simpulan: OSTA merupakan alat penapisan yang efektif untuk osteoporosis pada wanita post menopause di RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang.