Yuyun Fitriana, Yuyun
Unknown Affiliation

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

KEANEKARAGAMAN ARTHROPODA PADA PERTANAMAN TOMAT DENGAN SISTEM PERTANAMAN BERBEDA DI KABUPATEN TANGGAMUS, LAMPUNG Danti, Herlinda Rama; Fitriana, Yuyun; Hariri, Agus Muhammad; Purnomo, Purnomo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1550.13 KB) | DOI: 10.23960/jat.v6i3.2921

Abstract

Keberagaman organisme yang saling berinteraksi dalam suatu ekosistem menentukan stabilitas ekosistem tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemelimpahan dan keanekaragaman Arthropoda pada sistem pertanaman tomat monokultur dan polikultur di Pekon Gisting Permai, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Penelitian menggunakan metode purposive sampling atau ditentukan secara sengaja pada tiga blok monokultur serta tiga blok polikultur. Pertanaman polikultur terdiri dari tanaman tomat dan cabai. Setiap blok berukuran 20 m x 20 m. Pengambilan sampel Arthropoda dengan menggunakan tiga perangkap sumuran yang diletakkan secara diagonal serta menggunakan lima tanaman sampel untuk pengamatan tajuk pada setiap blok pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan seluruh Arthropoda yang ditemukan adalah2.559 individu terdiri dari 1.371 individu pada pertanaman monokultur dan 1.188 individu pada pertanaman polikultur. Pada pertanaman monokultur ditemukan sembilan ordo dan 16 famili, sedangkan pada pertanaman polikultur ditemukan sembilan ordo dan 22 famili. Rata-rata nilai Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener, Kemerataan dan Kekayaan Jenis pada pertanaman polikultur lebih tinggi dari pada pertanaman monokultur.
THE WHITE-BELLIED PLANTHOPPER (HEMIPTERA: DELPHACIDAE) INFESTING CORN PLANTS IN SOUTH LAMPUNG, INDONESIA Susilo, Franciscus Xaverius; Swibawa, I Gede; ., Indriyati; Hariri, Agus Muhammad; ., Purnomo; Hasibuan, Rosma; Wibowo, Lestari; Suharjo, Radix; Fitriana, Yuyun; Dirmawati, Suskandini Ratih; ., Solikhin; ., Sumardiyono; Rwandini, Ruruh Anjar; Sembodo, Dad Resiworo; ., Suputa
JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA Vol 17, No 1 (2017): MARET, JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.494 KB) | DOI: 10.23960/j.hptt.11796-103

Abstract

The White-Bellied Planthopper (Hemiptera: Delphacidae) Infesting Corn Plants in South Lampung, Indonesia. Corn plants in South Lampung were infested by newly-found delphacid planthoppers. The planthopper specimens were collected from heavily-infested corn fields in Natar area, South Lampung. We identified the specimens as the white-bellied planthopper Stenocranus pacificus Kirkaldy (Hemiptera: Delphacidae), and reported their field population abundance.
UJI EFIKASI EKSTRAK GULMA SIAM TERHADAP MORTALITAS HAMA PENCUCUK BUAH KAKAO (HELOPELTIS SPP.) DI LABORATORIUM Fitriana, Yuyun; Purnomo, .; Hariri, Agus M.
JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA Vol 12, No 1 (2012): Maret, Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.164 KB) | DOI: 10.23960/j.hptt.11285-91

Abstract

This research was aimed  to investigate the effect of siam weeds (C. odorata) extract on the mortality of Helopeltis spp., the effect of the addition of emulsifier on the toxicity of siam weed extract, and to find out a potential concentration of the siam weeds extract that can be used as bioinsecticide for Helopeltis spp. Six concentration levels of C. odorata were used as treatments: 0% (control), 20%, 30%, 40%, 50% and 60%  by adding 0.3% or no emulsifier. Data collected were mortality  of  nymphs and adults of Helopeltis spp. The results showed that the application of the siam weeds (C. odorata) extract was able to kill of nymph and adult of Helopeltis spp. The mortality of nymph ranged  from 26.6% to 50.0% without emulsifier and 78.8% to 85.0%  with emulsifier, and for adult range 15.00% - 46.67% without emulsifier and 31.67% - 71.67% with emulsifier  for adult. The results confirm by adding emulsifier can enhance toxicity of siam weed extract to Helopeltis spp.. There was no significant effect of concentration level of siam weed on cocoa mirid mortality, therefore concentration level of 20% seems to be the potential concentration of siam weed extract that can be used as bioinsecticide of Helopeltis spp..
KEANEKARAGAMAN ARTHROPODA PERMUKAAN TANAH PADA PERTANAMAN UBIKAYU (MANIHOT UTILISSIMA POHL.) SETELAH PERLAKUAN OLAH TANAH DAN PENGELOLAAN GULMA Elhayati, Nia; Hariri, Agus; Wibowo, Lestari; Fitriana, Yuyun
Jurnal Agrotek Tropika Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.217 KB) | DOI: 10.23960/jat.v5i3.1823

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman arthropoda permukaan tanah pada pertanaman ubikayu setelah perlakuan olah tanah dan pengelolaan gulma. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Keempat perlakuan tersebut ialah olah tanah minimum dan pengelolaan gulma secara manual (non herbisida), olah tanah minimum dan pengelolaan gulma dengan herbisida, olah tanah intensif dan pengelolaan gulma dengan herbisida, serta olah tanah intensif dengan pengelolaan gulma non herbisida. Herbisida yang digunakan berbahan aktif glifosat dan 2,4 D dengan dosis 160 ml Bimastar 240/120 SL dalam 1 liter air per ha diaplikasikan pada awal tanam. Pengambilan sampel arthropoda dengan pitfall trap (diameter 9 cm, tinggi 12 cm) dilakukan sebanyak 8 kali dengan selang waktu 1 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemelimpahan total arthropoda permukaan tanah pada lahan pertanamanubikayu dengan perlakuan pengolahan tanah dan pengelolaan gulma ialah sebanyak 8910 ekor, yang tercakup dalam 10 ordo dan 27 – 29 famili. Diantara ordo dan famili yang diperoleh, dua ordo dan famili dengan kemelimpahan dan kepadatan populasi relatif tertinggi berturut-turut ialah ordo Collembola dan Hymenoptera, serta famili Paronellidae dan Formicidae. Baik perlakuan pengolahan tanah maupun pengelolaan gulma yang dilakukan pada awal tanam tidak berpengaruh terhadap keanekaragaman arthropoda. Besarnya nilai-nilai indeks Shannon-Wiener dan indeks Simpson tergolong dalam kategori sedang. Selain itu juga diketahui bahwa pada keseluruhan lahan perlakuan, arthropoda permukaan tanah yang didapatkan didominasi oleh arthropoda yang berperan sebagai dekomposer dan predator.
PATOGENISITAS EMPAT ISOLAT JAMUR Beauveria bassiana (Bals.) Vuill. TERHADAP ULAT API (Setothosea spp.) DI LABORATORIUM Anggraini, Windari; Fitriana, Yuyun; Hariri, Agus M.; Purnomo, Purnomo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.53 KB) | DOI: 10.23960/jat.v6i2.2602

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter empat isolat jamur B.bassiana (Bbyf 22, Bbyf 24, Bbyf, dan BbTa) dalam pertambahan diameter koloni, kerapatan spora, dan perkecambahan sporaserta kemampuan tiga isolat jamur B. bassiana dalam menimbulkan mortalitas terhadap ulat api (Setothosea spp.).Penelitian inidilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, dari bulan Juli 2016 sampai Januari 2017. Penelitian ini terdiri dari dua set percobaan, yaitu percobaan pertama untuk mengetahui pertambahan diameter koloni, kerapatan spora, dan perkecambahansporasecara in vitrodengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan diulang lima kali. Percoban kedua uji patogenisitas jamur B. bassiana terhadap ulat api (Setothosea spp.) dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan diulang tiga kali dengan konsentrasi 10 6 , 10 7 , dan 10 8 . Pengamatan dilakukan terhadap diameter koloni, kerapatan spora, perkecambahan spora, dan mortalitas. Data diuji dengan analisis ragam dan nilai tengah perlakuan diuji dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf5%.Keempat isolat jamurB. bassiana memiliki pertambahan koloni, kerapatan spora dan daya berkecambah (viabilitas) yang berbeda-beda, dari keempat jamur tersebut isolat Bbyf 24 yang memiliki pertambahan koloni, kerapatan spora dan daya berkecambah (viabilitas) yang paling baik dibandingkanB. bassiana asal Tanggamus.Tiga isolat B. bassiana dari tiga tingkat pengenceran mampu menimbulkan mortalitas pada ulat api, namun isolat yang mampu menimbulkan mortalitas ulat api denganbaik yaitu isolat Bbyf danBbyf24 mencapai 33% dengan tingkat pengenceran 10^8
INFLUENCE OF CULTURE MEDIUM ON THE SPORULATION AND VIABILITY OF ASPERGILLUS SPP. AND TALAROMYCES SPP. ENTOMOPATHOGENIC FUNGI Fitriana, Yuyun; Suharjo, Radix; Swibawa, I Gede; ., Purnomo; Lestari, Puji; Merdiana, Eryka
JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA Vol 18, No 1 (2018): MARCH, JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1523.082 KB) | DOI: 10.23960/j.hptt.11812-22

Abstract

Influence of Culture Medium on the Sporulation and Viability of Aspergillus spp. and Talaromyces spp. Entomopathogenic Fungi. The purpose of this study was to determine the effect of three kinds of cultures media on the spore production and viability of Aspergillus spp. (AS1, 6, 7, 9) and Talaromyces spp. (AS2–5, 8, 10) entomopathogenic fungi. This study was arranged using Factorial-Completely Randomized Design (CRD) with 2 factors and 3 replications. The first factor was three kinds of cultures media (potato dextrose agar (PDA), corn meal agar (CMA), and sabouraud dextrose agar (SDA)) and the second one was isolates of Aspergillus spp. Or Talaromyces spp.. Data of spore production and spore viability were tested using ANOVA and if there was significantly difference, the data then further analyzed using Tukey‘s Honestly Significant Difference (HSD) test at 5% of significant level. The spore production of Aspergillus spp. were in the range of 0.58 - 14.27 x 108 spores mL-1 (PDA); 0.28 – 2.68 x 108 spores mL-1 (SDA) and 1.85 - 5.33 x 108 spores mL-1 (CMA). The highest spore production was achieved by AS1 isolate that was grown on PDA media. The spore produced by Talaromyces spp. were in the range of 2.15 – 28.62 x108 spores mL-1 (PDA); 0.28 – 29.43 x108 spores mL-1 (SDA); and 1.88 – 16.63 x108 spores mL-1 (CMA). The highest spore production was produced by AS8 isolate which were cultured on PDA. The spore viability among isolates of the two entomopathogenic fungi were not significantly different. The spore viability of Aspergillus spp. was in the range of 95.10 – 97.66% (PDA), 94.02 – 98.45% (SDA) and 92.86 – 98.20% (CMA). The spore viability of Talaromyces spp. was in the range of 95.83 – 100% (PDA), 85.83 – 100% (SDA), and 90.75 – 100% (CMA). Culture medium influenced spore production but not the spore viability. The best culture media used for spore production of both of the entomopathogenic fungi was PDA media.
EFEKTIFITAS METIL EUGENOL TERHADAP PENANGKAPAN LALAT BUAH PADA PERTANAMAN CABAI DI KABUPATEN TANGGAMUS Mayasari, Indah; Fitriana, Yuyun; Wibowo, Lestari; Purnomo, Purnomo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.396 KB) | DOI: 10.23960/jat.v7i1.2987

Abstract

Produksi cabai merah di Provinsi Lampung terus mengalami penurunan. Kendala yang sering dihadapi dalam peningkatan produksi tanaman cabai ialah gangguan hama, salah satunya lalat buah. Serangan lalat buah dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar hingga 30%-60%. Salah satu pengendalian yang aman bagi lingkungan dan cukup efektif adalah penggunaan metil eugenol sebagai atraktan nabati lalat buah. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dosis metil eugenol yang efektif dalam mengendalikan hama lalat buah, mengetahuiperbedaan populasi tangkapan lalat buah berdasarkan perbedaan waktu pemasangan perangkap lalat buah, mengetahui interaksi antara dosis dan waktu pemasangan serta mengetahu jenis-jenis lalat buah yang ada pada tanaman cabai. Perlakuan disusun dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial. Faktor pertama adalah beberapa taraf dosis metil eugenol dan faktor kedua yaitu perbedaan waktu pemasangan perangkap lalat buah (pagi dan siang). Hasil penelitian menunjukkan dosis metil eugenol yang efektif untuk mengendalikan hama lalat buah pada tanaman cabai ialah 1,5 ml/perangkap. Pemasangan perangkap lalat buah saat pagi lebih efektif dibandingkan saat siang hari. Perangkap akan lebih efektif bila dipasang dengan dosis 1,5 ml/perangkap dan diaplikasikan saat pagi hari karena dengan dosis dan waktu pemasangan tersebut menghasilkan jumlah tangkapan tertinggi. Selain itu ditemukan 2 jenis lalat buah yaitu Bactrocera dorsalis dan Bactrocera umbrosa.
Uji Patogenisitas Jamur Metarhizium sp. Isolat Salatiga dan Lampung Selatan terhadap Larva Oryctes rhinoceros di Laboratorium Widiarti, Dewi Gusti; Wibowo, Lestari; Hariri, Agus M.; Fitriana, Yuyun
Jurnal Agrotek Tropika Vol 7, No 2 (2019): JAT Mei 2019
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1562.911 KB) | DOI: 10.23960/jat.v7i2.3254

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui patogenisitas jamur Metarhizium sp. isolat Salatiga dan isolat Lampung Selatan terhadap larva Oryctes rhinoceros. penelitian ini dilakukan di Laboratorium Hama danPenyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian dimulai bulan Mei – Oktober. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri dari lima perlakuan yaitu tanpa aplikasi jamur Metarhizium sp. terhadap larva O. rhinoceros, aplikasi jamur Metarhizium sp. isolat Salatiga terhadap larva O. rhinoceros dengan dosis 25 g/500 g media hidup larva O. rhinoceros, aplikasi jamur Metarhizium sp. isolat Salatiga terhadap larva O. rhinoceros dengan dosis 50 g/500 g media hidup larva O. rhinoceros, aplikasi jamur Metarhizium sp. isolat Lampung Selatan terhadap larva O. rhinoceros dengan dosis 25 g/500 g media hidup larva O. rhinoceros, aplikasi jamur Metarhizium sp. isolat Lampung Selatan terhadap larva O. rhinoceros dengan dosis 50 g/500 g media hidup larva O. rhinoceros dengan perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett, jika asumsi terpenuhi data dianalisis dengan sidik ragam menggunakan Uji F. Perbedaan nilai tengah perlakuan akan diuji dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jamur Metarhizium sp. isolat Salatigadan isolat Lampung Selatan mampu menginfeksi dan menyebapkan kematian larva O. rhinoceros yang berada di Lampung. Aplikasi jamur Metarhizium sp. Lampung Selatan mampu menyebabkan kematian 100% larva O. rhinoceros pada 17 hsa, sedangkan aplikasi jamur Metarhizium sp. Salatiga mampu menyebabkan kematian 100% larva O. rhinoceros pada 19 hsa.
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN IN VITRO JAMUR Beauveria bassiana MUTAN SERTA VIRULENSINYA TERHADAP HAMA PENGISAP POLONG KEDELAI (Riptortus linearis) DI LABORATORIUM Sari, Lita Aprianda; Susilo, F.X.; Fitriana, Yuyun; Wibowo, Lestari
Jurnal Agrotek Tropika Vol 7, No 3 (2019): JAT September 2019
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v7i3.3550

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pertumbuhan dan perkembangan in vitro jamur Beauveria bassiana mutan serta virulensinya terhadap hama pengisap polong kedelai, R. linearis. Penelitian dilakukan di LaboratoriumBioteknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung dan dilaksanakan bulan Januari - Juni 2017. Uji pertumbuhan B. bassiana secara in vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan. Uji virulensi jamur B. bassiana terhadap R. linearis menggunakan analisis probit. Virulensi diindikasikan dengan LT 50 atau lethal time 50, yaitu waktu yang dibutuhkan jamur ini untuk mematikan 50% larva uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat Bbyf22 dan Bbyf24 (mutan) mampu tumbuh dan berkembangdengan normal seperti isolat Bbyf (wildtype). Jamur B. bassiana terbukti virulen terhadap hama R. linearis dengan LT 50 = 3,7 hari (isolat Bbyf22, mutan); 4,9 hari (isolat Bbyf24, mutan); dan 3,5 hari (isolat Bbyf, wildtype).
PENGUJIAN EFIKASI CENDAWAN Metarhizium anisopliae s.l. PADA HAMA ULAT API (Setothosea asigna) DI LABORATORIUM Dzulhia, Yuni; Susilo, F. X.; Hariri, Agus M.; Fitriana, Yuyun
Jurnal Agrotek Tropika Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v7i1.2988

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan M.anisopliae s.l.dan efikasi cendawan M.anisopliae s.l. terhadap ulat api. Penelitian dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Metode penelitian meliputi uji pertumbuhan dan perkembangan M. anisopliae s.l. secara in vitro dan uji efikasi M. anisopliae s.l. pada ulat api. Percobaan uji pertumbuhan dan perkembangan M.anisopliae s.l. secara in vitromenggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan diulang 4 kali. Uji efikasiM. anisopliae s.l. pada ulat api menggunakan analisis probit untuk menentukan nilai LC 50 dan LT 50 dari isolat Myf 51 dan Myf B. Perlakuan terdiri dari M.anisopliae s.l. B (wildtype), M.anisopliae s.l.1 (mutan), M.anisopliae s.l.42 (mutan), dan M.anisopliae s.l. 51 (mutan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat mutan Myf 51, Myf 42, dan Myf 1 mampu tumbuh dan berkembang normal sebagaimana isolat Myf B (wildtype). Isolat Myf 51 (mutan) dan Myf B (wildtype) efektif mengendalikan 50% ulat api dengan nilai LC 50 Myf 51 sebesar 1,06 x 10 5 konidia/ml dan LC 50 Myf B sebesar 2,92 x 10 5 konidia/ml. LT 50 Myf 51 dan Myf B terhadap ulat api relatif sama, yaitu pada kisaran 4,6 - 6,6 hari setelah aplikasi (hsa).