Nadimin Nadimin, Nadimin
Unknown Affiliation

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN PENGGUNAAN GARAM BERYODIUM TINGKAT RUMAH TANGGA DI SULAWESI SELATAN Nadimin, Nadimin
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 11, No 4 (2015): MKMI DESEMBER 2015
Publisher : Media Kesehatan Masyarakat Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.512 KB)

Abstract

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) mengakibatkan gangguan pertumbuhan fisik dan mental  sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia. Upaya pencegahan GAKY dilakukan melalui penggunaan garam beryodium. Tingkat penggunaan garam beryodium di Sulawesi Selatan belum memenuhi target garam beryodium untuk semua rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dengan penggunaan garam beryodium tingkat rumah tangga di Sulawesi Selatan. Data dikumpulkan melalui kegiatan Pemantauan Status Gizi (PSG) Sulawesi Selatan tahun 2014 yang dirancang secara cross sectional survey, menggunakan sampel keluarga yang memiliki balita usia 0-59 bulan yang dipilih secara klaster. Data tingkat pendidikan dikumpulkan melalui wawancara, sedangkan data penggunaan garam beryodium dikumpulkan dengan metode beryodium tes. Hasil penelitian menunjukkan jumlah rumah tangga yang menggunakan garam beryodium sebanyak 77,4%. Jenis garam  yang terbanyak digunakan adalah garam curah (55%) dengan pertimbangan utama dalam pemilihan jenis garam yang terbanyak karena harganya yang murah (47,5%). Masih banyak orang tua yang memiliki tingkat pendidikan hanya sampai  tamat SD, baik untuk ayah (36,4%) maupun ibu (34.4%). Ada hubungan yang bermakna antara penggunaan garam beryodium di rumah tangga dengan tingkat pendidikan ayah (p=0,000) dan tingkat pendidikan ibu (p=0,000). Rumah tangga yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi cenderung menggunakan garam beryodium. Perlu ditingkatkan promosi penggunaan garam beryodium dan memberikan subsidi atau penyediaan garam beryodium secara gratis terutama bagi keluarga prasejahtera dan rumah tangga di daerah endemis gondok.Kata kunci: Tingkat pendidikan, garam beryodium
OBESITAS PADA ORANG DEWASA ANGGOTA KELUARGA MISKIN DI KECAMATAN LEMBANG KABUPATEN PINRANG Nadimin, Nadimin; Ayumar, Ayumar; Fajarwati, Fajarwati
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 11, No 3 (2015): MKMI SEPTEMBER 2015
Publisher : Media Kesehatan Masyarakat Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.537 KB)

Abstract

Saat ini, masalah obesitas ternyata tidak hanya terjadi pada masyarakat dengan keadaan ekonomi menengah ke atas, tetapi tidak sedikit yang ditemukan pada keluarga keluarga miskin. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian obesitas pada anggota keluarga miskin. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional study, dilaksanakan di Kelurahan Tadokkong Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang. Sampel penelitian adalah anggota keluarga miskin berumur >18 tahun dipilih secara purposive sampling. Penentuan obesitas menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), pola makan dikumpulkan dengan metode food frekuensi, dan data aktivitas fisik dikumpulkan menggunakan kuesioner aktivitas fisik (Global Physical Activity Questionnaire/ GPAQ) dari WHO. Proporsi penderita obesitas pada keluarga miskin di tempat penelitian mencapai 22,4%. Kebanyakan penderita obesitas berjenis kelamin perempuan (88,25%), umur >25 tahun (100%), memiliki orang tua yang obesitas (88,25%), pola makan kurang baik (32.9%), dan aktivitas fisik ringan (88,25%). Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara obesitas dengan jenis kelamin (p=0,049), umur (p=0,000), keturunan (p=0,000), pola makan (p=0,000), dan aktivitas fisik (0,000). Kesimpulannya, yaitu faktor jenis kelamin, umur, keturunan, pola makan dan aktivitas fisik merupakan penyebab terjadinya obesitas pada anggota keluarga miskin di Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan.Kata kunci: Obesitas, orang dewasa, keluarga miskin
OBESITAS PADA ORANG DEWASA ANGGOTA KELUARGA MISKIN DI KECAMATAN LEMBANG KABUPATEN PINRANG Nadimin, Nadimin; Ayumar, Ayumar; Fajarwati, Fajarwati
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 11, No 3: SEPTEMBER 2015
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.537 KB)

Abstract

Saat ini, masalah obesitas ternyata tidak hanya terjadi pada masyarakat dengan keadaan ekonomi menengah ke atas, tetapi tidak sedikit yang ditemukan pada keluarga-keluarga miskin. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian obesitas pada anggota keluarga miskin. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional study, dilaksanakan di Kelurahan Tadokkong Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang. Sampel penelitian adalah anggota keluarga miskin berumur >18 tahun dipilih secara purposive sampling. Penentuan obesitas menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), pola makan dikumpulkan dengan metode food frekuensi, dan data aktivitas fisik dikumpulkan menggunakan kuesioner aktivitas fisik (Global Physical Activity Questionnaire/ GPAQ) dari WHO. Proporsi penderita obesitas pada keluarga miskin di tempat penelitian mencapai 22,4%. Kebanyakan penderita obesitas berjenis kelamin perempuan (88,25%), umur >25 tahun (100%), memiliki orang tua yang obesitas (88,25%), pola makan kurang baik (32.9%), dan aktivitas fisik ringan (88,25%). Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara obesitas dengan jenis kelamin (p=0,049), umur (p=0,000), keturunan (p=0,000), pola makan (p=0,000), dan aktivitas fisik (0,000). Kesimpulannya, yaitu faktor jenis kelamin, umur, keturunan, pola makan dan aktivitas fisik merupakan penyebab terjadinya obesitas pada anggota keluarga miskin di Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan.
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN PENGGUNAAN GARAM BERYODIUM TINGKAT RUMAH TANGGA DI SULAWESI SELATAN Nadimin, Nadimin
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 11, No 4: DESEMBER 2015
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.512 KB)

Abstract

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) mengakibatkan gangguan pertumbuhan fisik dan mental sehingga menurunkan kualitas sumber daya manusia. Upaya pencegahan GAKY dilakukan melalui penggunaan garam beryodium. Tingkat penggunaan garam beryodium di Sulawesi Selatan belum memenuhi target garam beryodium untuk semua rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dengan penggunaan garam beryodium tingkat rumah tangga di Sulawesi Selatan. Data dikumpulkan melalui kegiatan Pemantauan Status Gizi (PSG) Sulawesi Selatan tahun 2014 yang dirancang secara cross sectional survey, menggunakan sampel keluarga yang memiliki balita usia 0-59 bulan yang dipilih secara klaster. Data tingkat pendidikan dikumpulkan melalui wawancara, sedangkan data penggunaan garam beryodium dikumpulkan dengan metode beryodium tes. Hasil penelitian menunjukkan jumlah rumah tangga yang menggunakan garam beryodium sebanyak 77,4%. Jenis garam yang terbanyak digunakan adalah garam curah (55%) dengan pertimbangan utama dalam pemilihan jenis garam yang terbanyak karena harganya yang murah (47,5%). Masih banyak orang tua yang memiliki tingkat pendidikan hanya sampai tamat SD, baik untuk ayah (36,4%) maupun ibu (34.4%). Ada hubungan yang bermakna antara penggunaan garam beryodium di rumah tangga dengan tingkat pendidikan ayah (p=0,000) dan tingkat pendidikan ibu (p=0,000). Rumah tangga yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi cenderung menggunakan garam beryodium. Perlu ditingkatkan promosi penggunaan garam beryodium dan memberikan subsidi atau penyediaan garam beryodium secara gratis terutama bagi keluarga prasejahtera dan rumah tangga di daerah endemis gondok.
Pengaruh Kebiasaan Konsumsi Sayur, Buah dan Perokok Pasif terhadap Kapasitas Antioksidan Total Ibu Hamil Nadimin, Nadimin
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 14, No 2: JUNI 2018
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.543 KB)

Abstract

Ketersediaan antioksidan selama kehamilan mengalami penurunan seiring dengan peningkatan umur kehamilan dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti paparan asap rokok dan kebiasaan konsumsi sayur dan buah. Penelitian dilaksanakan secara cross sectional study dengan menggunakan sampel ibu hamil (umur kehamilan 20-26 bulan) non-anemia sebanyak 70 orang yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data Kapasitas Antioksidan Total (KAT) menggunakan metode Elisa (Enzyme-liked immunosorbent assay), kebiasaan konsumsi sayur dan buah dikumpul dengan Food Frequency Questionaire (FFQ) dan kebiasaan merokok menggunakan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan 37,1% ibu hamil tergolong perokok pasif dan jarang mengonsumsi sayuran dan buah-buah (>60%). Rerata KAT ibu hamil mencapai 2,73+1,48 mmol/l.KAT ibu hamil perokok pasif lebih rendah secara signifikan dibandingkan ibu hamil non-perokok pasif (p=0,038). Umumnya ibu hamil yang “sering” konsumsi sayuran dan buah memiliki KAT yang lebih tinggi. Namun, KAT yang lebih tinggi secara signifikan ditemukan pada ibu hamil yang sering mengonsumsi sawi hijau (p=0,049), daun kacang hijau (p=0,002), apel (p=0,007) dan pepaya (p=0,029). Paparan asap rokok dan kurang mengonsumsi sayura dan buah menurunkan KAT pada ibu hamil. Sebaiknya ibu hamil meningkatkan konsumsi sayuran dan buah dan menghindari paparan asap rokok.
Education by Peer to Improve Knowledge About Anemia in Female Student Nadimin, Nadimin
Health Notions Vol 2 No 4 (2018): April 2018
Publisher : Humanistic Network for Science and Technology (Address: Cemara street 25, Ds/Kec Sukorejo, Ponorogo, East Java, Indonesia 63453)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.694 KB)

Abstract

Girls at high risk for anemia. One cause of anemia is the lack of knowledge about how to prevent anemia. Efforts to prevent anemia in adolescents can be done by their peers. This study aimed to determine the influence of counseling by peers on the knowledge of adolescent about anemia. Research carried out by using pretest-posttest without control group design. Data were collected through questionnaires. The results showed an increase in knowledge about anemia and how to prevent it. Before the activity, the proportion of girls who were knowledgeable only 58.8%, then increased to 75%. Suggested extension activities by peers can be developed in other schools, in order to prevent anemia in girls. Keywords: Peers, Knowledge, Anemia
Hubungan Asupan Natrium dan Status Gizi Terhadap Tingkat Hipertensi Pada Pasien Rawat Jalan Di RSUD Kota Makassar Darmawan, Hasbullah; Tamrin, Abdullah; Nadimin, Nadimin
Media Gizi Pangan Vol 25, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.078 KB)

Abstract

Hypertension is a big problem, not only in western countries but also in Indonesia. Every year hypertension or high blood pressure contributes to the deaths of nearly 9.4 million people due to heart disease and stroke and if combined these two diseases are the number one cause in the world.This study aims to analyze the relationship between sodium intake and nutritional status to the level of hypertension in outpatients in RSUD Makassar City. This study used cross sectional study design. The sample is outpatient of RSUD Makassar City. Data of sodium intake and nutritional status were obtained by recall 1x24 hours and anthropometry measurement, while blood pressure data were obtained from patient rekammedic data. The results showed that samples with normal sodium intake tended to have mild hypertension that was 12 people (85,7%) while sample with sodium intake was more likely to have moderate hypertension that is 12 people (75%). Samples of normal nutritional status with mild hypertension tends to be 12 people (80%) while the sample with abnormal nutritional status tend to have moderate hypertension is 11 people (73,3%). The relationship between sodium intake and nutritional status to hypertension level. It is recommended to hospital nutritionists to provide further consultation on low-salt diet as well as improved nutritional status. In addition there is also a further understanding of hypertensive patients about the cause of hypertension to be more vigilant against hypertension disease.
Education by Peer to Improve Knowledge About Anemia in Female Student Nadimin, Nadimin
Health Notions Vol 2, No 4 (2018): April
Publisher : Humanistic Network for Science and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.694 KB)

Abstract

Girls at high risk for anemia. One cause of anemia is the lack of knowledge about how to prevent anemia. Efforts to prevent anemia in adolescents can be done by their peers. This study aimed to determine the influence of counseling by peers on the knowledge of adolescent about anemia. Research carried out by using pretest-posttest without control group design. Data were collected through questionnaires. The results showed an increase in knowledge about anemia and how to prevent it. Before the activity, the proportion of girls who were knowledgeable only 58.8%, then increased to 75%. Suggested extension activities by peers can be developed in other schools, in order to prevent anemia in girls.Keywords: Peers, Knowledge, Anemia
Daya terima terhadap jajanan lokal Sulawesi Selatan subtitusi tepung ikan gabus (Channa striata) Nadimin, Nadimin; Nurjaya, Nurjaya; Lestari, Retno Sri
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 2 (2018): AcTion Vol 3 No 2 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.332 KB)

Abstract

Generally, local snacks only have a high amount of carbohydrates and imbalanced nutrient compounds. In addition, South Sulawesi has abundant snakehead fish (Channastriata) which was nutritions. The study aims to determine the acceptability of local snacks in South Sulawesi which substitute snakehead fish flour (SFF). This research is an experimental study using the static group comparison design and aimed to identify acceptability of the local nack with 0%, 5%, 10%, and 15%of SFF concentration. The result showed that preference in the color of local snacks with 5% of SFF was better than 0% of SFF, particularly in “BangkeKelapa”. There were no significant differences in acceptability of the texture throughout the concentration of SFF; Bolu (p=0.243), Bangke Sagu (p=0,204), and PutriSalju (p=0,198). Conversely, there was a significant correlation on the concentration of SFF in the aroma and taste of local Bolu, Bangke Sagu, Putri Salju, and Bangke Kelapa. In conclusion, the substitution of SFF more than 5% affected the acceptability of the product. Furthermore, substitution from 5% of SFF could maintain the acceptability of local snacks from South Sulawesi. SFF substitution into local snacks should not exceed 5% in order to maintain acceptance.Jajanan lokal memiliki kandungan zat gizi yang tidak seimbang, umumnya hanya mengandung sumber energi. Disisi lain, Sulawesi Selatan banyak tersedia ikan gabus yang kaya zat gizi. Penelitian bertujuan mengetahui daya terima jajanan local Sulawesi Selatan yang subtitusi tepung ikan gabus (TIG). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunaan rancangan Static group comparison design, yaitu daya terima jajanan lokal dari beberapa konsentrasi tepung ikan gabus 0%, 5%, 10% dan 15%.Rerata skor kesukaan pada aspek warna jajanan lokal TIG 5% lebih baik dari  kosentrasi 0%, terutama pada Bangke kelapa. Tidak ada perbedaan skor daya terima pada aspek tekstur antar kosentrasi TIG pada Bolu (p=0,243), Bangke Sagu (p=0,204), Putri salju (p=0,198). Terdapat pengaruh kosentrasi TIG pada kesukaan aroma dan rasa jajanan lokal bolu, bangke sagu, putri salju dan bangke kelapa.Penambahan TIG di atas 5% dapat mempengaruhi daya terima. Penambahan TIG pada konsentrasi 5% dapat mempertahankan daya terima terhadap produk jajanan lokal. Subtitusi TIG ke dalam jajanan local sebaiknya tidak melebihi 5% guna mempertahankan daya terima.
DAYA TERIMA DAN UJI KADAR PROTEIN PADA ES KRIM DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG TEMPE Kartini, Thresia Dewi; Nadimin, Nadimin; Agung, Agung
Media Gizi Pangan Vol 26, No 1 (2019): januari 2019
Publisher : Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK  Es krim adalah makanan semi padat yang mempunyai nilai gizi tinggi yang berasal dari susu. Beberapa konsumen di Indonesia  intoleransi terhadap susu sehingga santan dapat dijadikan alternatif untuk mengganti susu. Penggunaan santan dalam pembuatan es krim belum memenuhi komposisi kimia sehingga perlu menambahkan tepung tempe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya terima dan analisis kandungan protein pada es krim dengan penamabahan tepung tempe. Jenis penelitian ini adalah penelitian pra eksperimen dengan desain post test group desaign, membandingkan es krim standar dengan es krim penambahan tepung tempe. Hasil penelitian uji organoleptik berdasarkan aspek warna, aroma, tekstur dan rasa yang sangat disukai panelis adalah F0 (konsentrasi 0%) dengan total skor 348. Hasil uji Kruskal Wallis menunjukan terdapat perbedaan pada setiap formula.   Hasil analisis Es krim F1 meningkatkan nilai protein sebesar 4.02% dari F0 sebesar 3.06%. Disarankan dalam pembuatan es krim dengan penambahan tepung tempe selanjutnya untuk menambahkan bahan tambahan lain untuk menghilangkan aroma langu tempe dan  membuat warna menjadi menarik serta memakai ayakan 80 mesh.