Articles

Found 4 Documents
Search

SIMBOLISME DALAM TRADISI LISAN PASANG RI KAJANG: TINJAUAN SEMIOTIK Gising, Basrah
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.007 KB)

Abstract

Semiotics  is a set of analysis  that has been applied in linguistics  and anthropology.  This  article  is  focused  on  language  and  cultural  symbols  that  are stated in pasang ri Kajang and will be analyzed based on grand theory of semantics.This research used a qualitative research perspective. The validity of data is examined by collecting the data collecting through interview, recording, taking note, elicitation and Focus Group Study. The result of the research indicates that Pasang ri Kajang contains a holy ancestor messages that has been transferred in oral tradition. These messages contain some local wisdoms of sustainable environmental management.  The topic of this research is local knowledge  system that concerns with hydraulic cycle system that is stated in some matters of pasang ri Kajang. The relationship between the matters build a substantial concept that concerns with hydraulic cycle system in ecology.
SIMBOLISME DALAM TRADISI LISAN PASANG RIKAJANG: TINJAUAN SEMIOTIK Gising, Basrah
Kajian Linguistik dan Sastra Vol 23, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/kls.v23i2.4309

Abstract

Simbolisme adalah sebuah kerangka analisis yang banyak dikembangkan, baik dalam ilmu bahasa maupun ilmu-ilmu sosial, terutama antropologi. Tulisan ini lebih terfokus pada analisis simbol dalam ilmu bahasa dengan mengacu pada kerangka teori semiotika. Pasang Rikajang (pesan di Kajang) merupakan sebuah karya besar leluhur orang Kajang yang diturunkan secara turun temurun berupa tradisi lisan (oral traditions), yang di dalam penyampaiannya penuh dengan simbol-simbol bahasa. Simbol-simbol tersebut akan saya analisis dengan menggunakan dan mengkaji hubungan antara struktur permukaan (surface strusture) dan struktur dalam (deep structure). Tiga hal lain yang juga menjadi kerangka analisis dalam mengkaji simbolisme dalam tradisi lisan orang Kajang yaitu kosep (sign), simbol (signifie) dan referensi (significant). Tulisan ini sepenuhnya didukung oleh hasil penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan demikian, keseluruhan data di dalam tulisan ini keabsahannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.Kata Kunci: Simbolisme, Tradisi lisan, Semiotika
THE BELIEF SYSTEM OF THE PEOPLE OF KAJANG: A PERSPECTIVE IN RELIGION ANTHROPOLOGY Sistem Kepercayaan orang Kajang dalam Perspektif Antropologi Agama Gising, Basrah
Al-Qalam Vol 17, No 1 (2011)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.406 KB) | DOI: 10.31969/alq.v17i1.103

Abstract

Indigenous peoples of Kajang is an indigenous community that inhabit Kajang subsdistrict in Bulukumbaregency in South Sulawesi province. They adopt a belief system that called Jenne'Talluka'and SambajangTattappu. Jenne talluka means ablution water that never canceled, while sambajang tattappu meansalways remembering the God almighty oneKajang Indigenous peoples, especially those inhabited inside kajang (inside Embayya) still embrace andkeep up the belief system as mention above until now. Almost all of them do not carry out and shari'aandthe pillars of the Islam: uttering syahadat (confession) words, establishing prayer five times andthe Sunnah, fasting in Ramadan month, contribute to zakat, and fulfilling hajj worship.I use the Anthropology of Religion approach to study the belief system of such Kajang community.Through this approach, I will be focusing on a system of worship and religious behavior of Kajang indig-enous peoples.
AMBIGUITAS DALAM BAHASA BUGIS DIALEK SOPPENG: SUATU TINJAUAN SEMANTIK Gising, Basrah
SAWERIGADING Vol 17, No 1 (2011): Sawerigading, Edisi April 2011
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1284.524 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v17i1.341

Abstract

This article concerns with the usage of the ambiguity in Buginese, especially for the Buginese language of Soppengdialects.The research shows that the ambiguity is trend to use by the speaker with many purposes: the language values thatis stated in his mental image. Euphemism is another way to keep this language values to avoid forbidden or taboo. Thus,the speaker always tries to keep the feeling of his audience by bringing his concept or the audience cognition to theacceptable meaning or meaning domain that is accepted by the two parts. The research uses descriptive qualitative methodscombined with the semantics perspective to interpret surface structure (language) on to the deep structure (the meaning ofthe meaning) that is actualized by phonemes, morpheme, and sentences. AbstrakMakalah ini berkenaan dengan masalah ambiguitas, khususnya bahasa Bugis Dialek Soppeng. Hasilpenelitian menunjukkan, bahwa ambiguitas cenderung digunakan oleh penutur dalam berbagai tujuan,terutama berkaitan dengan nilai bahasa yang tersimpan di dalam mental imaginasinya. Penggunaaneufimisme merupakan cara lain untuk tetap menjaga nilai bahasa tersebut dalam rangka menghindari hal-hal yang dilarang atau sifatnya taboo. Dengan demikian, penutur selalu mencoba menjaga perasaanlawan tutur dengan cara membawa konsep atau koginisi audiensnya ke arah berterima atau kearahdomain arti yang berterima dari kedua belah pihak. Penelitian makalah ini menggunakan metodedeskriptif kualitatif dipadu dengan pendekatan semantik untuk menginterpretasi struktur permukaan(bahasa) kedalam struktur dalam (arti) yang diaktualisasikan melalui fonem, kata, frase dan kalimat.