Articles

Found 10 Documents
Search

KEGIATAN PENGHIJAUAN DI SUB DAS CITARIK DAS CITARUM HULU DESA CIBIRU WETAN Saribun, Daud Siliwangi; Hudaya, Ridha; Arifin, Mahfud; Herdiansyah, Ganjar
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1600.889 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v6i2.14813

Abstract

DAS Citarum termasuk salah satu dari 15 DAS Super Prioritas Indonesia dalam yang perlu ditangani pemulihannya. Upaya rehabilitasi hutan dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan upaya penghijauan. Selain untuk merehabilitasi lahan upaya ini dimaksudkan untuk menambah nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kegiatan Penanaman meliputi perencanaan penanaman, persiapan  penanaman dan penanaman. Perencanaan penanaman  antara lain: Rencana teknik penetapan calon lokasi, teknik pengumpulan data dan informasi, kebutuhan jumlah bibit, teknik rancangan penanaman, cara menentukan penanam pohon, cara menentukan kebutuhan alat dan bahan dan cara menyusun tata waktu. Hasil yang dicapai dari kegiatan program kerja penghijauan lahan di Sub DAS Citarik tepatnya di desa Cibiru Wetan Kec. Cileunyi adalah Tersedianya pohon albasia dan mahoni di Sub DAS Citarik, desa Cibiru Wetan Kec. Cileunyi; Survey lahan untuk penentuan titik-titik penanaman ditentukan oleh kegiatan survey tersebut; Dimasa mendatang dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai kayu bakar dan keperluan lain; Meningkatkan kuantitas dan kualitas air di Sub DAS Citarik; Mengurangi kegersangan lahan di Sub DAS Citarik; Mengurangi potensi terjadinya bencana longsor.
GERAKAN PENGHIJAUAN DAS CITARUM HULU DI DESA CIKONENG KECAMATAN CILEUNYI KABUPATEN BANDUNG Harryanto, Rachmat; Sudirja, Rija; Saribun, Daud Siliwangi; Herdiansyah, Ganjar
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1534.312 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v6i2.14858

Abstract

Penghijauan merupakan salah satu kegiatan penting yang harus dilaksanakan secara konseptual dalam menangani krisis lingkungan. Desa Cikoneng merupakan salah satu desa yang cukup aktif dalam mendukung program penghijauan di DAS Hulu Citarum. Dalam upaya penyelamatan lingkungan, masyarakat bersama stakeholder terkait telah melakukan berbagai kegiatan penghijauan. Kegiatan bertujuan untuk mengkaji tentang bagaimana bentuk keterlibatan masyarakat dalam upaya penghijauan pada kawasan DAS Hulu Citarum. Masyarakat sebetulnya telah terlibat dalam proses perencanaan, penyediaan, pemeliharaan, serta pengawasan kegiatan penghijauan. Namun, masyarakat menilai kondisi ruang hijau di Hulu DAS Citarum saat ini sudah sangat minim. Kegiatan penghijauan dilakukan dengan berbagai tujuan, antara lain : untuk menambah nilai ekologi, manambah nilai estetika, mendapatkan manfaat ekonomi, serta alasan untuk mendukung program pemerintah. Keberadaaan stakeholder yang terdiri dari Pemerintah Kota, Pemerintah Kelurahan, Lembaga Non Pemerintah, Swasta/CSR, dan Komunitas/Akademisi telah berkontribusi besar membantu perkembangan kegiatan penghijauan di wilayah pengabdian.
KEGIATAN PENGHIJAUAN DI SUB DAS CITARIK DAS CITARUM HULU DESA CIBIRU WETAN Saribun, Daud Siliwangi; Hudaya, Ridha; Arifin, Mahfud; Herdiansyah, Ganjar
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1600.889 KB)

Abstract

DAS Citarum termasuk salah satu dari 15 DAS Super Prioritas Indonesia dalam yang perlu ditangani pemulihannya. Upaya rehabilitasi hutan dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan upaya penghijauan. Selain untuk merehabilitasi lahan upaya ini dimaksudkan untuk menambah nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kegiatan Penanaman meliputi perencanaan penanaman, persiapan  penanaman dan penanaman. Perencanaan penanaman  antara lain: Rencana teknik penetapan calon lokasi, teknik pengumpulan data dan informasi, kebutuhan jumlah bibit, teknik rancangan penanaman, cara menentukan penanam pohon, cara menentukan kebutuhan alat dan bahan dan cara menyusun tata waktu. Hasil yang dicapai dari kegiatan program kerja penghijauan lahan di Sub DAS Citarik tepatnya di desa Cibiru Wetan Kec. Cileunyi adalah Tersedianya pohon albasia dan mahoni di Sub DAS Citarik, desa Cibiru Wetan Kec. Cileunyi; Survey lahan untuk penentuan titik-titik penanaman ditentukan oleh kegiatan survey tersebut; Dimasa mendatang dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai kayu bakar dan keperluan lain; Meningkatkan kuantitas dan kualitas air di Sub DAS Citarik; Mengurangi kegersangan lahan di Sub DAS Citarik; Mengurangi potensi terjadinya bencana longsor.
GERAKAN PENGHIJAUAN DAS CITARUM HULU DI DESA CIKONENG KECAMATAN CILEUNYI KABUPATEN BANDUNG Harryanto, Rachmat; Sudirja, Rija; Saribun, Daud Siliwangi; Herdiansyah, Ganjar
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1534.312 KB)

Abstract

Penghijauan merupakan salah satu kegiatan penting yang harus dilaksanakan secara konseptual dalam menangani krisis lingkungan. Desa Cikoneng merupakan salah satu desa yang cukup aktif dalam mendukung program penghijauan di DAS Hulu Citarum. Dalam upaya penyelamatan lingkungan, masyarakat bersama stakeholder terkait telah melakukan berbagai kegiatan penghijauan. Kegiatan bertujuan untuk mengkaji tentang bagaimana bentuk keterlibatan masyarakat dalam upaya penghijauan pada kawasan DAS Hulu Citarum. Masyarakat sebetulnya telah terlibat dalam proses perencanaan, penyediaan, pemeliharaan, serta pengawasan kegiatan penghijauan. Namun, masyarakat menilai kondisi ruang hijau di Hulu DAS Citarum saat ini sudah sangat minim. Kegiatan penghijauan dilakukan dengan berbagai tujuan, antara lain : untuk menambah nilai ekologi, manambah nilai estetika, mendapatkan manfaat ekonomi, serta alasan untuk mendukung program pemerintah. Keberadaaan stakeholder yang terdiri dari Pemerintah Kota, Pemerintah Kelurahan, Lembaga Non Pemerintah, Swasta/CSR, dan Komunitas/Akademisi telah berkontribusi besar membantu perkembangan kegiatan penghijauan di wilayah pengabdian.
ANALISIS POTENSI LAHAN PERTANIAN PANGAN UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN KOTA BANDUNG Rizal, Fahmi; Herdiansyah, Ganjar
Jurnal Teknotan Vol 10, No 1 (2016): Jurnal Teknotan, Agustus 2016
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.203 KB)

Abstract

Program ketahanan pangan di Kota Bandung saat ini dihadapkan pada semakin berkurangnya ketersediaan lahan petanian akibat tingginya laju konversi lahan ke non pertanian akibat pembangunan permukiman dan industri. Walaupun konsep pertanian kota mensyaratkan praktek berbasis teknologi, namun ketersediaan lahan juga tetap tidak bisa diabaikan keberadaannya. Tulisan ini mencoba untuk mengkaji potensi lahan pertanian, yaitu lahan yang sesuai peruntukannya bagi komoditas tanaman pangan di Kota Bandung. Metode penelitian menggunakan teknik analisis deskiptif melalui prosedur penilaian evaluasi kesesuaian lahan dengan aplikasi pemetaan yaitu Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menemukan bahwa dibandingkan dengan kota-kota di Jawa Barat, luas lahan pertanian Kota Bandung masih cukup luas, namun laju konversi cukup tinggi mencapai 577.2 Ha per tahun selama periode Tahun 2010-2015. Potensi lahan yang sesuai peruntukannya untuk sawah dengan kategori S1 (sangat sesuai) mencapai 804.18 Ha, sedangkan untuk tanaman pangan (ubi jalar, ubi kayu, jagung, kacang tanah) termasuk kelas kesesuaian lahan S2 (sesuai) dan S3 (sesuai maginal) masing-masing seluas 37 Ha dan 3.95 Ha. Dengan demikian, ketersediaan lahan potensial untuk pertanian di Kota Bandung tidak mencukupi untuk menyokong ketahanan pangan. Hal ini terbukti hingga saat ini kebutuhan pangan masyarakat Kota Bandung 80% tergantung pasokan dari luar Kota Bandung.Kata Kunci: Ketahanan Pangan, Pertanian Kota, Kesesuaian Lahan, Ketersediaan Lahan
DAMPAK BEBERAPA PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP EROSI DAN TINGKAT BAHAYA EROSI DI SUB DAS CISANGKUY Suriadikusumah, Abraham; Herdiansyah, Ganjar
Agrin : Jurnal Penelitian Pertanian Vol 18, No 1 (2014): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2014.18.1.208

Abstract

Penelitian ini didasari oleh semakin berkurangnya lahan hutan di Sub DAS Cisangkuy, yang berubah menjadi lahan pertanian. Luas Sub DAS Cisangkuy yaitu 34.024 Ha.Tujuan dari penelitian ini untuk : 1) mengetahui perubahanluas dari setiap jenis penggunaan lahan di Sub DAS Cisangkuy, 2) Mengetahui perubahan penggunaan lahan yang dapat meningkatkan laju erosi rata-rata dan tingkat bahaya erosi di Sub DAS Cisangkuy.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, deskriptif, dan survai lapangan menggunakan metode survai fisiografis secara bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama kurun waktu 15 tahun (1997-2011),terjadi penurunan luas jenis penggunaan lahan hutan 9.849Ha (65,76%) dan sawah 2.221 Ha (11,6%) dari area total Sub DAS Cisangkuy, terjadi peningkatan pada luas jenis penggunaan lahan perkebunan 8.172 Ha (73,57%), ladang 66 Ha (1,17%), kebun campuran 1.431 Ha (45,94%), permukiman 2.401 Ha (59,24%). Terjadi peningkatan besar erosi rata-rata dari 45,24ton/ha/tahun pada tahun 1997 menjadi 303 ton/ha/tahun pada tahun 2010,terjadi peningkatan tingkat bahaya erosi dengan indeks bahaya erosi dari 1,84 (sedang) pada tahun 1997 menjadi 14,03 (sangat tinggi) pada tahun 2010 di Sub DAS Cisangkuy. Kata kunci : penggunaan lahan, erosi, tingkat bahaya erosi, sub Das Cisangkuy ABSTRACTThe research was based on the diminishing of land forest in the Cisangkuy Sub Watershed converted to land agricultural. Area in the Cisangkuy Sub Watershed is 34.024 ha. The research aims to : 1) know the area change of each type of land use in the Cisangkuy Sub Watershed, 2) Knowing the changes in land use can increase the average erosion rate and erosion rate in the Cisangkuy Sub Watershed. This research used qualitative methods, descriptive and field survey by physiographic approach survey. The result showed that during the period of 15 years (1997-2011), there were a decreasing in land use forest area of 9.849 ha (65,76%) and rice field area of 2.221 ha (30,93%) of the total in theCisangkuy Sub Watershed, an increasing in land use plantation area of 8.172 ha (73,57%), field area of 66 ha (1,17%), garden area of 1.431 ha (45,94%), village area of 2.401 ha (59,24%). An increase in the erosion ofthe average of 45,24 tonnes/ha/year in 1997 to 303 tonnes/ha/year in 2010, an increase in the rate of erosion with erosion hazard index of 1.84 (average) in 1997 to14.03(very high) in 2010 in the Cisangkuy Sub Watershed. Keywords: land use, erosion, the level of erosion hazard, Cisangkuy sub watershed
ANALISIS POTENSI LAHAN PERTANIAN PANGAN UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN KOTA BANDUNG Rizal, Fahmi; Herdiansyah, Ganjar
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2016): Teknotan, Agustus 2016
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.203 KB)

Abstract

Program ketahanan pangan di Kota Bandung saat ini dihadapkan pada semakin berkurangnya ketersediaan lahan petanian akibat tingginya laju konversi lahan ke non pertanian akibat pembangunan permukiman dan industri. Walaupun konsep pertanian kota mensyaratkan praktek berbasis teknologi, namun ketersediaan lahan juga tetap tidak bisa diabaikan keberadaannya. Tulisan ini mencoba untuk mengkaji potensi lahan pertanian, yaitu lahan yang sesuai peruntukannya bagi komoditas tanaman pangan di Kota Bandung. Metode penelitian menggunakan teknik analisis deskiptif melalui prosedur penilaian evaluasi kesesuaian lahan dengan aplikasi pemetaan yaitu Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menemukan bahwa dibandingkan dengan kota-kota di Jawa Barat, luas lahan pertanian Kota Bandung masih cukup luas, namun laju konversi cukup tinggi mencapai 577.2 Ha per tahun selama periode Tahun 2010-2015. Potensi lahan yang sesuai peruntukannya untuk sawah dengan kategori S1 (sangat sesuai) mencapai 804.18 Ha, sedangkan untuk tanaman pangan (ubi jalar, ubi kayu, jagung, kacang tanah) termasuk kelas kesesuaian lahan S2 (sesuai) dan S3 (sesuai maginal) masing-masing seluas 37 Ha dan 3.95 Ha. Dengan demikian, ketersediaan lahan potensial untuk pertanian di Kota Bandung tidak mencukupi untuk menyokong ketahanan pangan. Hal ini terbukti hingga saat ini kebutuhan pangan masyarakat Kota Bandung 80% tergantung pasokan dari luar Kota Bandung.Kata Kunci: Ketahanan Pangan, Pertanian Kota, Kesesuaian Lahan, Ketersediaan Lahan
Absorption of N, P and K Nutrients of Sweet Corn Plants (Zea Mays Saccharata Sturt) Due to the Application of Urea, Sp-36, Kcl Fertilizers and Biofertilizer on Fluventic Eutrudepts from Jatinangor Sofyan, Emma Trinurani; Machfud, Yuliati; Yeni, Hilma; Herdiansyah, Ganjar
Jurnal Agrotek Indonesia Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Agrotek Indonesia
Publisher : Faculty of Agriculture University of Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.526 KB) | DOI: 10.33661/jai.v4i1.1690

Abstract

Availability of nutrients in the soil greatly affect the condition of plants' growth and development. Fertilization is one of the exact ways to increase nutrients in the soil. Usage of inorganic fertilizer intensively and routinely can decrease soil fertility level and create residual that will damage to the environment. This research aims to determine the effect of fertilizer dose combination of N, P, K, and Biofertilizer to uptake N, P and K on sweet corns (Zea mays Saccharata Sturt) in Fluventic Eutrudepts from Jatinangor. Dose combination was expected can reduce fertilizer dose N, P, K without decreasing productivity and crop yields. This research was performed from January until April 2018 at Experimental Field Faculty of Agriculture, Padjajaran University, Jatinangor, Sumedang, West Java at 725 m asl. Experimental design used in this research is Randomized Block Design (RBD) with 10 treatments and 3 replications which consist of treatments 0 N, P, K + 0 biofertilizer; 1 N, P, K + 0 biofertilizer; 0 N, P, K + 1 biofertilizer; 1/4 N, P, K + 1 biofertilizer; 1/2 N, P, K + 1 biofertilizer; 3/4N, P, K + 1 biofertilizer; 1 N, P, K + 1 biofertilizer; 3/4 N, P, K + 1/4 biofertilizer; 3/4 N, P, K + 1/2 PHC; 3/4 N, P, K + 3/4 biofertilizer. Recommended dosage was 300 kg of urea, 150 kg of SP 36, and 50 kg KCl ha-1 and 5 L ha-1 biofertilizer. The results showed a significant effect of the combination N, P, K fertilizer and biofertilizer to uptake N, P, K, and best dose combination was showed by treatment 1/2 N P K + 1 biofertilizer
Pedogenesis Dan Klasifikasi Tanah Yang Berkembang Dari Dua Formasi Geologi Dan Umur Bahan Erupsi Gunung Tangkuban Perahu Arifin, Mahfud; Devnita, Rina; Hudaya, Ridha; Sandrawati, Apong; Saribun, Daud Siliwangi; Harryanto, Rachmat; Herdiansyah, Ganjar
SoilREns Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.926 KB) | DOI: 10.24198/soilrens.v15i1.13341

Abstract

The efforts to utilize the agricultural land need a proper understanding of the soil characteristics. The soil characteristics themselves are influenced by the factors that regulate and control the soil forming and pedogenesis processes. The main soil forming factors in this study was the different ages and composition of parent materials from the eruption of Mt. Tangkuban Parahu in West Java. This research was done to comprehend the pedogenesis and to figure out the soil classifications that developed in two geological formations (Qyd and Qvu) and two ages of eruption (Holocene and Pleistocene) of Mt. Tangkuban Parahu. The study was conducted in Ciater, Subang Regency and Jatinangor, Sumedang Regency in West Java Province. The study consisted of four stages: preparation, field survey and soil sampling, laboratory analysis and presenting the report. The results showed that Pedon of Jatinangor consisted of three different stratifications of ages. The clay mineralogical composition was dominated by kaolinite, whereas mineralogical composition of the sandy fractions (heavy fractions) was augite-hypersthene. Pedon of Ciater also consists of three different stratifications of age. The clay mineralogical composition was dominated by allophane, while mineralogical compositions of the sandy fractions (heavy fractions) were green amphibole-hypersthene in the overlying horizons and amphibole-augite in the underlying horizons. The stage of soil formation on both pedon were cambic or viril. The soil classification according to Soil Taxonomy were Acrudoxic Durudands, medial over loamy-skeletal, isohyperthermic in Ciater Pedon and Fluventic Eutrudepts, fine, kaolinitic, isohyperthermic in Jatinangor Pedon.Key words: slow sand filter, activated carbon, silica sand, sand, gravel, zeolite
Identifikasi Taksa Tanah di Situs Megalitik Gunung Padang Kabupaten Cianjur Arifin, Mahfud; Hudaya, Ridha; Sandrawati, Apong; Solihin, Muhammad Amir; Herdiansyah, Ganjar
SoilREns Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.28 KB) | DOI: 10.24198/soilrens.v14i2.11128

Abstract

Mount Padang was famous megalith sites placed in Cianjur District. Mani discipline of science studied Mount Padang sites in order to find out the truth of histories. Based on geological studies, Mount Padang sites constructed by andesitic rock, this argument need more fact for get the real data. This research aimed to analysis pedological proses in Mount Padang sites. The result of study was soil classification which description by soil profile. Based on result of reseach the soil in Mount Padang formed in Qv rock formation. The result of soil profile analized with 2 meters depth, there was 10 layer formed e.g Ap, AB, Bw1, Bw2, BC1, BC2, CB1, CB2, C1, and C1. The genesis of Mount Padang soil was in viril levels, due to molic epipedon and cambic that found as below horizon diagnostics. Based on soil taxonomy, this pedon were classified as Typic Dystrudepts.Key words: megalith sites, andesitics rock, soil profile, viril, cambic