Articles

Potensi Interaksi Obat Resep Pasien Geriatri: Studi Retrospektif pada Apotek di Bandung Annisa, Nurul; Abdulah, Rizky
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.853 KB)

Abstract

Usia geriatri merupakan kelompok usia yang rentan terhadap masalah-masalah yang terkait denganpenggunaan obat, salah satunya adalah kejadian interaksi obat-obat. Dalam penelitian ini dilakukan studi untuk mengetahui interaksi potensial obat-obat. Data diproses melalui www.drugs.comdatabase.Evaluasi ini memaparkan prevalensi dan mengklasifikasikan jenis interaksi potensial berdasarkan level interaksi dan spesialisasi medik. Dari total 29.839 resep dari tujuh apotek di kota Bandung diperoleh 334 lembar resep geriatri (1,12%). Dari resep geriatri tersebut, tedapat 4 lembar resep (1,20%) dengan jumlah 1 R/ yang artinya pada resep ini tidak berpotensi untuk terjadi interaksi. Sedangkan jumlah R/pada lembar resep yang mengandung lebih dari 1 R/ adalah 1.136 dengan rata-rata jumlah R/ pada setiap lembar resep adalah 3,40. Sebanyak 131 lembar resep terdapat interaksi potensial obat-obat sebesar 39,22%. Total interaksi potensial yang terjadi adalah 210 interaksi. Interaksi potensial moderate adalah sebanyak 187 (89,05%) sedangkan severe sebanyak 23 (10,95%). Kejadian potensi interaksi moderate dan severe pada kelompok spesialisasi medik umum adalah sebanyak 85,00%, penyakit dalam 8,40%, kardiologi 2,30%, THT 2,30%, syaraf 0,76% dan gigi 0,76%.Kata kunci: Interaksi obat-obat, apotek, geriatri Potency of Drugs Interaction among Geriatric Patients Prescribing: Retrospective Study in Pharmacies in BandungAbstractGeriatric age is an age group that vulnerable to the problems which associated with drug use, one of them is the incidence of drug-drug interactions. This research, conducted to determine potential drugdruginteractions. Data processed through www.drugs.comdatabase. This evaluation explain the prevalence and classify types of potential interactions based on the level of interactions and medical specialities. Based on the total of 29.839 prescriptions from seven pharmacies in the Bandung city obtained 334 prescription sheet of geriatrics (1.12%) and from that geriatric prescriptions, there are 4 prescriptionssheets (1.20 %) that contain 1 R/, which means that in this prescriptions is do not have any potential forinteraction. The number of R/ on prescription sheets which contain more than 1 R / is 1.136 with an average number of R/ on each sheet prescriptions is 3.40. Total of 131 (39.22%) sheets of prescriptionscontain potential drug-drug interaction. Total potential interactions that occur are 210 interactions. Themoderate interaction potential is 187 (89.05%), while severe as much as 23 (10.95%). The incidence ofmoderate and severe potential interaction in the group of medical specialities are 85.50% interactionsin general practitioners, 8.40% in internist, 2.30% in cardiologist, 2.30% in ENT, 0.76% in neurologistsand 0.76% in dentist.Key words: Drug-drug interactions, community pharmacies, geriatrics
MASA DEPAN FARMAKOEPIDEMIOLOGI MEILANI, DEVI; Abdulah, Rizky
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Farmakoepidemiologi dapat didefinisikan sebagai studi tentang penggunaan serta efek obat yang telah diuji pada manusia. Pharmacovigilance adalah cabang ilmu farmakologi yang mempelajari tentang deteksi, penilaian, pemahaman dan pencegahan efek samping obat. Pencarian  acuan artikel review ini dilakukan dengan menyadur referensi berupa artikel ilmiah yang berkaitan dengan masa depan farmakoepidemiologi. Situs Google scholar (http://www.scholar.google.co.id) digunakan untuk mencari beberapa kata kunci dalam pencarian artikel ilmiah terkait. Digunakan 10 artikel utama dari 19 artikel yang diperoleh terkait farmakoepidemiologi. Masa depan farmakoepidemiologi dapat dilihat dari tiga sudut pandang yaitu sudut pandang akademisi, industri, dan pemerintahan. Selain memiliki peran dalam pendidikan dan pengembangan tenaga kerja, akademisi memberikan kontribusi dalam pengembangan penelitian. Peran industri mengevaluasi obat sebelum dan sesudah dipasarkan. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa produk yang telah disetujui memiliki efikasi dan keamanan seperti yang ditunjukan dalam data. Di masa depan, farmakoepidemiologi dapat berkontribusi untuk pengobatan yang lebih baik terutama dalam mengatasi hambatan dalam pemberian obat yang lebih efektif terhadap pasien. Farmakoepidemiologi di masa yang depan diharapkan dapat membawa banyak peluang. Farmakoepidemiologi masih dan akan terus berkembang karena farmakoepidemiologi merupakan bidang penelitian yang dinamis.Kata kunci:, masa depan farmakoepidemiologi, akademisi, industri, pemerintah.
Kualitas Hidup Pasien Kanker Payudara dengan Terapi Kombinasi Fluorouracil, Doxorubicin, dan Cyclofosfamide Agustini, Dewi D.; Surahman, Emma; Abdulah, Rizky
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.775 KB)

Abstract

Pengobatan pada kanker payudara dengan kemoterapi kombinasi Fluorouracil, Doxorubicin, dan Cyclofosfamide (FAC) menimbulkan perbedaan kualitas hidup pasien yang penting untuk diketahui karena dapat menunjang keefektifan pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur perbedaan dan mengetahui dimensi yang memengaruhi kualitas hidup pasien kanker payudara dari setiap siklus kemoterapi di RS Hasan Sadikin Bandung. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pedekatan potong lintang. Sebanyak 200 pasien kanker payudara dipilih secara purposive dan dipisahkan berdasarkan siklus terapi. Penilaian kualitas hidup dilakukan secara multidimensional menggunakan instrumen EORTC QLQ (European Organization for Research and Treatment of Cancer Quality of Life Questionnaire) C30 dan BR23. Analisis data dihitung menggunakan uji t independen dan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kualitas hidup yang sangat signifikan antara skala fungsi QLQ-C30 baseline dengan terapi ke-5, skala gejala QLQ-C30 baseline dengan terapi ke-5, skala fungsi QLQ-BR23 baseline dengan terapi ke-1, 2, 3, 4, dan 5, skala gejala QLQ-BR23 baseline dengan terapi ke-4, kemudian perbedaan signifikan antara skala gejala QLQ-BR23 baseline denganterapi ke-1, 3, dan 5. Dimensi yang berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup adalah fungsi sosial, mual dan muntah, gangguan pernapasan, gangguan tidur, dan kesulitan keuangan.Kata kunci: BR23, EORTC QLQ C30, kanker payudara, kualitas hidupQuality of Life Patients with Breast Cancer Therapy Combination Fluorouracil, Doxorubicin, and CyclofosfamideTreatment of breast cancer with combination chemotherapy Florouracil, doxorubicin, and Cyclofosfamide (FAC) lead to differences in the quality of life of patients is important to know because it can support the effectiveness of patient treatment. The aim of the study was to measure the difference and know the dimensions that affect the quality of life of breast cancer patients from each cycle of chemotherapy in Hasan Sadikin Hospital. This research is an observational analytic cross sectional approach. A sample of 200 breast cancer patients who were selected purposively and separated based on cycles of therapy. Assessment of quality of life of patients is done using a multidimensional instrument EORTC QLQ (European Organization for Research and Treatment of Cancer Quality of Life Questionnaire) C30 and BR23. Data analysis was calculated using independent t test and linear regression. The results showed that there are differences in quality of life is very significant between QLQ-C30 functioning scale baseline with treatment 5, the QLQ-C30 symptom scale baseline therapy 5th, QLQ-BR23 function scale baseline with therapy 1st, 2nd, 3rd, 4th, and 5th, QLQ-BR23 symptoms scale baseline with therapy 4th, then a significant difference between scale symptoms of QLQ-BR23 baseline therapy with the 1st, 3rd, and 5th. Dimensions have a significant effect on quality of life is a social function, nausea and vomiting, dyspnea, sleep disorders and financial difficulties.Key words: BR23, breast cancer, EORTC QLQ C30, quality of life
Pengaruh Pelayanan Informasi Obat terhadap Keberhasilan Terapi Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Insani, Widya N.; Lestari, Keri; Abdulah, Rizky; Ghassani, Salma K.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 2, No 4 (2013)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.955 KB)

Abstract

pemahaman mengenai instruksi pengobatan merupakan permasalahan utama dalam pengobatan DMT2. Ketidakpatuhan pasien terhadap regimen obat hipoglikemik oral yang kompleks serta ketidaktepatan dalam cara dan waktu pengonsumsiannya merupakan barrier tercapainya keberhasilan terapi DMT2. Hal ini sangat berkaitan dengan kualitas pelayanan kefarmasian yang diberikan kepada pasien, khususnya pelayanan informasi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh intervensi pelayanan informasi obat terhadap parameter keberhasilan terapi diabetes yaitu glukosa 2 jam postprandial, HDL dan trigliserida. Penelitian ini merupakan nonrandomized concurrent control trial secara prospektif. 14 subjek uji direkrut selama 4 bulan selama Mei–Agustus 2013 kemudian dibagi menjadi dua grup. Kedua grup mendapat terapi pengobatan diabetes berupa hipoglikemik oral. Grup intervensi mendapatkan pelayanan informasi obat dan edukasi mengenai diabetes, sedangkan grup kontrol tidak mendapatkannya. Data dianalisis menggunakan uji t independen dengan α 0,05. Walau belum berbeda signifikan, nilai keberhasilan terapi dengan intervensi pelayanan informasi obat pada parameter glukosa 2 jam postprandial, HDL dan trigliserida memberikan hasil yang lebih tinggi 17,01%; 6,73%; dan 6,31% untuk masing-masing parameter dibandingkan terapi tanpa pelayanan kefarmasian tersebut.Kata kunci: Pelayanan informasi obat, diabetes, obat hipoglikemik oral Effect of Pharmaceutical Information Care on Clinical Outcomes of Patients With Type 2 Diabetes MellitusPoor adherence to medication and lack of understanding about medication instructions are the main problems in the treatment of type 2 diabetes mellitus. Poor adherence to oral hypoglicemic drugs which have complex regiment and unappropriate consumption of them are the obstacles to reach good clinical outcomes. These problems are highly related to the quality of pharmaceutical care given to patients. The aim of this study was to evaluate the effect of pharmaceutical information care towards the outcome of type 2 diabetes mellitus including 2 hours postprandial glucose, HDL and tryglicerides. This study used nonrandomized concurrent control trial prospectively. 14 subjects were recruited during 4 months from May–August 2013 and were divided into two groups. Both of group were given oral hypoglycemic drugs. The intervention group received pharmaceutical information care and diabetes education, whilecontrol group did not receive these. Data were then analysed with independent t test using α 0,005. Although the difference were not significant yet, pharmaceutical information care intervention on diabetes treatment gave higher improvement by 17,01%; 6,73%; and 6,31% respectively in 2 hours postprandial glucose, HDL and tryglicerides parameters, compared with the treatment without pharmaceutical care.Key words: Pharmaceutical information care, diabetes, oral hypoglicemic drugs
Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Kombinasi Antipsikotik pada Pasien Rawat Inap Skizofrenia Abdulah, Rizky; Siregar, Riska F; Alfian, Sofa D.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.456 KB)

Abstract

Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa dengan biaya tinggi dan risiko morbiditas seumur hidup. Studi farmakoekonomi pada pasien skizofrenia perlu dilakukan untuk mengetahui efisiensi pemilihan kombinasi antipsikotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas biaya (cost-effectiveness) penggunaan kombinasi antipsikotik klozapin-haloperidol dan klozapin-risperidon pada pasien skizofrenia rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat tahun 2012–2013. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dari rekam medis pasien yang meliputi komponen biaya langsung, antara lain biaya terapi antipsikotik, biaya penunjang, biaya tindakan medis, biaya rawat inap, dan biaya administrasi. Rata-rata rasio efektivitas biaya pada kombinasi antipsikotik klozapin-haloperidol sebesar Rp126.898/hari sedangkan pada kombinasi klozapin-risperidon sebesar Rp132.781/hari. Dengan mempertimbangkan waktu rawat inap sebagai efektivitas terapi, kombinasi antipsikotik klozapin-haloperidol lebih cost-effective dibandingkan klozapin-risperdion.
Penggunaan Obat yang Berpotensi Tidak Tepat pada Populasi Geriatri di Kota Bandung Abdulah, Rizky; Barliana, Melisa I.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.855 KB)

Abstract

Analisis penggunaan penggunaan obat yang berpotensi tidak tepat pada populasi geriatri penting dilakukan untuk mengidentifikasi strategi manajemen risiko di populasi tersebut. Analisis ini masih sedikit dilakukan di negara-negara Asia, terutama di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengestimasi prevalensi penggunaan obat yang berpotensi tidak tepat pada pasien geriatri di Kota Bandung, dengan melakukan studi potong lintang secara retrospektif pada 11 apotek. Prevalensi penggunaan obat yang berpotensitidak tepat dianalisis menggunakan kriteria eksplisit Beers dan McLeod dengan seting komunitas untuk populasi geriatri. Dengan menggunakan kriteria tersebut, ditemukan bahwa dari total 1.445 resep untuk pasien geriatri yang masuk ke dalam kriteria inklusi pada studi ini, terdapat 203 (14%) resep mengandung Paling tidak 1 pengobatan yang tidak tepat. Selain itu dari total 3.808 obat yang diresepkan, terdapat 218 obat (5.7%) tidak tepat untuk digunakan pada populasi geriatri. Studi ini merupakan studi pertama tentang penggunaan penggunaan obat yang berpotensi tidak tepat untuk pasien geriatri di Indonesia, sehingga hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan kewaspadaan regulator dan tenaga profesional kesehatan tentang penggunaan penggunaan obat yang berpotensi tidak tepat populasi geriatri.Kata Kunci: Evaluasi penggunaan obat, geriatri, IndonesiaPotentially Inappropriate Medication Use for Geriatric Population in Bandung CityAnalysis of potentially inappropriate medication in geriatric population is important to identify specific target risk-management strategies. This, however, is rarely conducted in Asian countries, especially in Indonesia. Thus this study was conducted to estimate the prevalence of potentially inappropriate medication use among geriatric patients in Bandung City, Indonesia. In this study, we conducted a retrospective cross sectional study at 11 selected community pharmacies. Prevalence of potentially inappropriate medication use was documented using Beers and McLeod criterias for geriatrics in community setting. Combining all 3 sets of criteria for potentially inappropriate medication, we found that from total of 1.445 prescriptions for geriatric patients that match to the research inclusion criteria, 203 (14%) prescription contain at least 1 inappropriate medication. Furthermore, from total of 3.808medicines prescribed, 218 (5.7%) was inappropriate for geriatric used. To our knowledge, this is the first study on the prevalence of inappropriate medication for geriatric population in Indonesia. The result of this study should increase the awareness of regulators and healthcare professionals about potentially inappropriate medications in geriatric population.Keywords: Drug use evaluation, geriatric, Indonesia
Analisis Minimalisasi Biaya Penggunaan Antibiotik Meropenem dan Ceftazidime pada Terapi Febrile Neutropenia Abdulah, Rizky; Kumamba, Raine D.; Sinuraya, Rano K.; Rahayu, Cherry; Barliana, Melisa I.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.998 KB)

Abstract

Antibiotik dibutuhkan sebagai salah satu terapi dalam menunjang keberhasilan terapi febrile neutropenia. Beragamnya alternatif terapi antibiotik, menjadikan studi farmakoekonomi diperlukan agar didapatkan terapi yang efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui antibiotik yang lebih efisien dari segi biaya, yang digunakan dalam terapi febrile neutropenia di salah satu rumah sakit rujukan di kota Bandung selama periode 2011–2013. Penelitian ini merupakan studi observasi analisis, dengan pengambilan data secara retrospektif yang dilakukan pada bulan Februari 2014, melalui data rekam medis pasien rawat inap febrile neutropenia yang mendapatkan terapi antibiotik meropenem atau ceftazidime. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan bermakna, rata-rata total biaya terapi menggunakan antibiotik meropenem adalah sebesar Rp11.094.147, sedangkan rata-rata biaya total perawatan kelompok antibiotik ceftazidime sebesar Rp7.082.523. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu tenaga profesional kesehatan dalam manajemen terapi febrile neutropenia.Kata kunci: Ceftazidime, farmakoekonomi, febrile neutropenia, meropenemCost Minimization Analysis of the Use of Meropenem and Ceftazidime in Febrile Neutropenia Therapy Use of antibiotics is required in febrile neutropenia therapy. The variety choice on the use of antibiotics has increased the role of pharmacoeconomics study to determine the most effective and efficient antibiotic in a specific area. The purpose of this study was to investigate the lowest cost antibiotic between meropenem and ceftazidime that were used as one of febrile neutropenia treatments at one of referral hospitals in West Java province during 2011–2013. This study was a retrospective, observational and analytical study that was performed on February 2014 by collecting medical record data related to febrile neutropenia inpatient who received meropenem or ceftazidime therapy. The result showed that although it was not statistically significant, the total cost for ceftazidime therapy was IDR7,082,523, which was lower than meropenem therapy (IDR11,094,147). Hopefully, this result can assist the health professionals in the management of febrile neutropenia therapy.Keywords: Ceftazidime, febrile neutropenia, meropenem, pharmacoeconomics
Cytotoxic Assay From Stem Bark Aglaia minahassae and Aglaia simplicifolia Against HeLa Cervical Cancer Cell Lines Kurniasih, Nunung; Milawati, Hersa; Fajar, Mohamad; Abdulah, Rizky; Putri Huspa, Desi Harneti; Supratman, Unang
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Suppl 1, No. 1 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.03 KB)

Abstract

Cervical cancer ranks as the 2nd leading cause of female cancer in Indonesia. One of healing methods is chemotherapy, but this method still has many side e ects and also expensive treatment. Therefore, natural products discoveries need to be developed due to its important role as an alternative for anti- cancer drug. The aim of this research was to get IC50 value from methanol, n-hexane, ethyl acetate, and n-buthanol from stem bark of A. minahassae dan A. simplicifolia. Stem bark of A. minahassae (1.6 kg) and A. simplicifolia (1.1 kg) was grounded by methanol and its extract is successively extracted by n-hexane, ethyl acetate, and n-buthanol. Their extract’s cytotoxicity was then evaluated against HeLa cell lines. This research showed that A. minahassae’s most cytotoxic extract against HeLa cell lines was n-hexane (IC50 = 27.4190 μg/mL) and n-buthanol (IC50 = 4.3924 μg/mL). Meanwhile, A. sim- plicifolia most cytotoxic extract extract against HeLa cell lines was n-hexane (IC50 = 23.3098 μg/mL). Key words: A. minahassae, A. simplicifolia, cytotoxic assay, HeLa cell lines
Monitoring Penggunaan Antibiotik dengan Metode ATC/DDD dan DU90% di RSUD Abepura Jayapura, Indonesia Hasrianna, Hasrianna; Annisa, Nurul; Milanda, Tiana; Pradipta, Ivan S.; Abdulah, Rizky
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.914 KB)

Abstract

Tingginya penggunaan antibiotik akan meningkatkan potensi penggunaannya yang tidak rasional dan berdamPak pada tingkat mortalitas, biaya, dan resistensi khususnya dalam lingkungan rumah sakit. Studi observasi dengan data retrospektif telah dilakukan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik dari April 2013–Maret 2014 menggunakan metode ATC/DDD dan DU 90%. Hasil penelitian menunjukkan antibiotik yang masuk ke dalam segmen DU 90% pada periode I adalah kotrikmoksazol 480 mg tablet(40,34 DDD/kunjungan) dan amoksisilin 500 mg tablet (4,53 DDD/kunjungan), periode II adalah sefiksim sirup kering (0,68 DDD/kunjungan), amoksisilin 500 mg tablet (0,41 DDD/kunjungan), siproflokasain 500 mg tablet (0,31 DDD/kunjungan), doksisiklin 100 mg (0,26 DDD/kunjungan), sefiksim 100 mg kapsul (0,15 DDD/kunjungan), sefadroksil 500 mg kapsul (0,12 DDD/kunjungan),seftriakson 1 gr injeksi (0,08 DDD/kunjungan), dan periode III adalah kotrimoksazol 480 mg tablet (74,85 DDD/kunjungan). Tingginya penggunaan antibiotik setiap kunjungan pada penggunaan kotrimoksasol merupakan sebuah tanda ketidakrasionalan dalam penggunaan antibiotik. Diperlukan studi kualititaf untuk mengetahui pola ketidakrasionalan dalam penggunaan antibiotik pada rumah sakit tersebut danmengembangkan model intervensi yang tepat.Kata kunci: Antibiotik, ATC/DDD, DU 90%, rumah sakitMonitoring Use of Antibiotics with ATC/DDD and DU90% Method in Abepura Hospital Jayapura, IndonesiaThe high use of antibiotics will increase its irrational use, affect the mortality rates, costs and resistance, especially in a hospital. We conducted an observational study with retrospective data to evaluate the use of antibiotics from April 2013–March 2014 using the ATC/DDD and DU90% methods. The results showed the antibiotic included DU 90% segment in the first 4 months period were cotrimoxazole tablets 480 mg (40.34 DDD per encounter) and amoxicillin tablets 500 mg (4.53 DDD per encounter), in the second period were cefixime dry syrup (0.68 DDD per encounter), amoxicillin tablets 500 mg (0.41 DDD per encounter), ciprofloxacin tablets 500 mg (0.31 DDD per encounter), doxycycline tablets 100 mg (0.26 DDD per encounter), cefixime tablets 100 mg capsules (0.15 DDD per encounter), cefadroxil tablets 500 mg capsule (0.12 DDD per encounter), ceftriaxone injection 1 g (0.08 DDD per encounter), and during the third period was cotrimoxazole tablets 480 mg (74.85 DDD per encounter). The data showed that cotrimoxazole has the highest rate of utilization per visit which is a signal for irrational use. Qualitative study is needed to describe irrational use of antibiotics in the hospital and to find the appropriate intervention model.Key words: Antibiotics, ATC/DDD, DU 90%, hospital
Analisis Minimalisasi Biaya Penggunaan Antibiotik Empirik Pasien Sepsis Sumber Infeksi Pernapasan Purwanti, Okky S.; Abdulah, Rizky; Pradipta, Ivan S.; Rahayu, Cherry
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.947 KB)

Abstract

Terapi antibiotik empirik merupakan salah satu penunjang keberhasilan dalam pengobatan sepsis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi antibiotik empirik yang paling efisien secara biaya (cost minimization) di antara sefotaksim-eritromisin dan sefotaksim-metronidazol yang digunakan pada sepsis sumber infeksi pernapasan yang dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Bandung. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif tahun 2010–2012. Data diambil dari rekam medis pasien rawat inap sepsis sumber infeksi pernapasan yang mendapat terapi antibiotik empirik sefotaksim-metronidazol atau sefotaksim-eritromisin dan daftar biaya dari bagian akuntansi rumah sakit. Biaya dihitung dari mulai pasien masuk rumah sakit dengan diagnosis sepsis sumber infeksi pernapasan sampai pasien sembuh dari sepsis. Antibiotik efotaksimmetronidazoldan sefotaksim-eritromisin diasumsikan memiliki efek yang sebanding. Pasien dengan terapi empirik sefotaksim-metronidazol memiliki waktu tinggal di rumah sakit lebih lama (25 ibanding11) dan memiliki total biaya rata-rata terapi lebih murah (Rp16.641.112,04 dibandingkan dengan Rp21.641.678,02) daripada pasien dengan terapi empirik sefotaksim-eritromisin. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi antibiotik sefotaksim-metronidazol lebih efisien secara biaya dibandingkan dengan kombinasi sefotaksim-eritromisin.Kata kunci: Antibiotik empirik, cost minimization, eritromisin, metronidazol, sefotaksim, sepsisCost Minimization Analysis of Empiric Antibiotic Used by Sepsis Patient Respiratory Infection SourceEmpirical antibiotics plays an important role in the therapy of sepsis. The aims of this study was to estimate and compare the cost of treating inpatient sepsis with respiratory infection, with cefotaximemetronidazole or cefotaxime-erythromycin antibiotics. Observational study of cost minimization analysis was conducted by retrospective data from 2010 until 2012. Data were collected from medical records of inpatients sepsis with respiratory infection and received empirical therapy cefotaximemetronidazole or cefotaxime-erythromycin and treatment’s pricelist from department of accounting. Direct medical cost was calculated from empirical antibiotic costs, costs of medical treatment, medical expenses, hospitalization costs, and administrative costs. The study considered the cost from preadmission because sepsis until the patient was fully recovered of sepsis. Cefotaxime-metronidazole and cefotaxime-erythromycin are assumed to have equivalent efficacy. Patients with empirical cefotaxime -metronidazole were found have longer length of stay (25 versus 11) and average total cost of treatmentwas cheaper (16.641.112,04 IDR versus 21.641.678,02 IDR). The findings demonstrate that combination of empirical antibiotic of cefotaxime–metronidazole is more efficient than cefotaxime-erythromycin.Key words: Cost minimizing, cefotaxime, empirical antibiotic erythromycin, metronidazole, sepsis