Articles

Found 11 Documents
Search

Review Aromaterapi Asli Indonesia Sebagai Alternatif Pengobatan

Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia kaya akan tanaman yang memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai sumber bahan aromaterapi. Aromaterapi banyak digunakan sebagai terapi alternatif dan komplementer yang sedang berkembang pesat. Salah satu kandungan dari produk aromaterapi adalah minyak esensial. Tanaman asli Indonesia yang mengandung minyak esensial antara lain cengkeh, kenanga, sirih, kemukus, jeruk nipis, dan pala. Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa minyak esensial ini dapat digunakan untuk beberapa pengobatan tambahan, kosmetik serta pengharum. Aromaterapi juga berperan dalam pengaturan emosional. Belakangan ini Indonesia telah melakukan impor produk minyak esensial secara berlebihan sedangkan Indonesia sendiri memiliki potensi untuk mengembangkan produksi minyak esensial tersebut. Review ini berisi tentang tanaman asli Indonesia yang berpotensi sebagai aromaterapi dan sebagai pengobatan alternatif untuk beberapa penyakit. Diharapkan dengan adanya review ini, Indonesia mampu mengembangkan aromaterapi dan produksi tanaman yang mengandung minyak esensial.Kata kunci : Aromaterapi, minyak esensial, Indonesia, alternatif, pengobatan

Review Artikel: Potensi dan Zat Aktif dari Tanaman Ashitaba (Angelica keiskesi Koidz.)

Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angelica keiskei Koidzumi dengan nama lain ashitaba merupakan salah satu tanaman yang termasuk ke dalam famili Umbelliferae. Telah diidentifikasi kandungan kimia antara lain khalkon, kumarin, dan flavanon. Senyawa khalkon utama yang terkandung dalam tanaman ini adalah 4-hydroxyderricin (4HD) dan xanthoangelol (XAG) dengan manfaat sebagai antidiabetes, antiplatelet, antiinflamasi, serta antidepresan. Mekanisme ashitaba sebagai antiplatelet yaitu melalui modulasi intraseluler Ca2+ masuknya melalui jalur PLCgamma. Mekanisme 4-hydroxyderricin dan xanthoangelol menghambat diabetes yaitu dengan menginduksi diferensiasi dari preadiposit ke adiposit kecil yang dapat meningkatkan penyerapan glukosa dengan rangsangan insulin. Mekanisme antiinflamasi berkaitan dengan regulasi PAI-1 dalam tubuh. 4-hydroxyderricin dan xanthoangelol memiliki aktivitas antidepresan dengan mekanisme seperti MAO-inhibitor baik selektif maupun nonselektif. Review ini dimaksudkan untuk melihat potensi dari kandungan utama tanaman ashitaba sehingga dapat dijadikan obat alternatif. Penelitian lanjut perlu dilakukan untuk menemukan formula agar tanaman ashitaba dapat dijadikan suatu sediaan farmasi.Kata kunci: Ashitaba, 4-hydroxyderricin, xanthoangelol, antiplatelet, antidiabetes, antiinflamasi, antidepresan.

AKTIVITAS ANTIDIABETES EKSTRAK ETANOL DAUN ILER (Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br.) PADA TIKUS PUTIH GALUR WISTAR DENGAN METODE INDUKSI ALOKSAN

Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Based on WHO data, in 2014  total of diabetic patient in Indonesia reach 9 million. In addition to synthetic drugs, traditional medicine widely used by diabetic patients. Research of several species from Plectranthus genus showed that Plectranthus amboinicus and P. esculentus have antidiabetic activity in rat. Therefore, it is necessary to do antidiabetic activity research and its effective dose of plants iler (Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br) which derived from the same genus and has been used empirically as oral antidiabetic. Antidiabetic activity test conducted using white male Wistar rats which given diabetogen alloxan. Rat who had developed diabetes later given different dose of iler leaves ethanol extract and glibenclamide 0,5 mg/kgBB as a positive control. Blood glucose level was measured using amperometric method utilizing enzymatic reaction of glucose dehydrogenase which measured by glucometer. As a result, a dose of 200 mg / kg dose had the highest antidiabetic activity, followed by a dose of 300 mg / kg, the percentage decrease in relative blood glucose are 21,52% and 3,64% respectively, but a dose of 100 mg / kg didn’t have antidiabetic activity. Antidiabetic activity of 200 mg/kg dose of extract didn’t have any significant difference with glibenclamide, which has percentage decrease in relative blood glucose 21,35%.

AKTIVITAS FARMAKOLOGI DAUN ILER (Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br.)

Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Iler merupakan salah satu tanaman yang berasal dari famili Lamiacaea. Di Indonesia, tanaman ini umumnya dikenal dengan nama daerah jawer kotok. Secara etnofarmakologi telah digunakan dalam berbagai pengobatan seperti postpartum, dermatitis, sakit perut, batuk, nyeri pada otot, asma, gangguan pencernaan dan lain-lain. Berdasarkan studi farmakognosi dan kegunaannya secara tradisional, P. scutellarioides berpotensi secara terapetik dalam pengembangan obat herbal. Review ini menjelaskan aktivitas farmakologi. P scutellarioides pada studi in vitro mapun in vivo. Aktivitas farmakologi tersebut yaitu antiinflamasi, imunomodulator, antioksidan, antihistamin dan antidiabetes.

POTENSI TANAMAN GANDARIA (Bouea macrophylla Griff) SEBAGAI OBAT HERBAL YANG BERAKTIVITAS ANTIOKSIDAN

Farmaka Vol 15, No 3 (2017): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is a country that has many medicinal plants that can be used as herbal medicine. Gandaria plant (Bouea macrophylla Griff) is one of the plants that began to be developed as  herbal medicine. Gandaria plant contains saponin and phenolic compounds. Testing of antioxidant activity on gandaria fruit juice showed IC50 value of 36.3 mg / ml, while in extract of gandaria seed showed IC50 value of 2.25 mg / ml. This review contains the chemical content of gandaria plants and their activity as antioxidants that have been studied. With this review, it is expected that people will start to cultivate this gandaria plant so that it can improve the economy and give an opportunity to the researchers to export the efficacy of this plant, especially its therapeutic potential. In addition it is expected this plant can be utilized by the herbal medicine industry into herbal medicine preparation. Keywords: Bouea macrophylla Griff, chemical content, antioxidant, herbal medicine

Potensi Tumbuhan Sebagai Anti Aging

Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produk kosmetik sebagai anti aging (anti penuaan) banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia karena dapat berpengaruh terhadap perubahan tekstur kulit, menjadi lebih kencang dan halus, serta menyamarkan kerutan. Tetapi, bahan kimia yang digunakan dapat menimbulkan efek samping seperti gatal-gatal dan kemerahan. Oleh karena itu, tumbuhan dapat digunakan sebagai alternatif anti aging karena dapat meminimalkan efek samping yang ditimbulkan. Studi literature dilakukan untuk menentukan tumbuhan yang berpotensi sebagai anti aging  karena memiliki aktivitas antioksidan. Hasil yang didapatkan diantaranya tumbuhan yang memiliki aktivitas antioksidan seperti Bunga Lavender (Lavandula angustifolia), Kulit Buah Langsat (Lansium domesticum Corr), Buah Pepaya (Carica papaya), Spesies Rumput Laut Coklat (Sargassum polycystum, Padina minor, dan Turbinaria conoides), Daun Kelor (Moringa oleifera), Rimpang Laja Gowah (Alpinia maleccensis), Ginseng (Panax ginseng Meyer), Bunga Rosella (Hibiscus sabdarifa L.), Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.), Daun Kopi Arabika (Coffea Arabica), Bawang Putih (Allium sativum), dan  Biji Labu Kuning (Cucurbita moschata). Berdasarkan hasil pengujian dan ketersediaannya di Indonesia, tumbuhan rimpang laja goah dapat dianjurkan untuk dikembangkan menjadi kosmetik anti aging

POTENSI TUMBUHAN SEBAGAI WHITENING AGENT

Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

REVIEW OF NATURAL REMEDIES FOR ACCELERATE DIABETIC WOUND HEALING

Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol 4 No 3 (2018): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetic is a metabolic disorder disease leading to hyperglycemia because of lack of insulin secretion or inadequate of insulin activity. Indonesia has 9.600 plant species that have been used for health care and treatment of various diseases. Diabetic patients can experience a problem in the form of foot blood vessels disorders and if not treated properly will become wounds that are difficult to heal and easily develop into gangrene which is high risk of amputation. Therefore, this journal will discuss about natural remedies that can be used as a treatment in patients with diabetic wounds and several pharmacological testing performed for testing the diabetic wound healing activity . Various kinds of natural remedies such as Andredera cordifolia, Centella asiatica, Curcuma longa, Carica papaya and hone are proven to accelerate diabetic wound healing through various mechanisms.

Aktivitas Antioksidan Daun Iler Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br.

JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT : Antioxidants are the compounds capable to inhibit free radical reactions in the human body. This research was aimed to identify the antioxidant potency of ethanolic extract of Plectranthus scutellaroides leaves in vitro by using spectrophotometric methods with DPPH (1,1-diphenyl-2-picryl hydrazyl) using vitamin C as reference. Concentrations of samples used were 75, 100, 115, 125 and 135 ppm. The antioxidant activity was measured by visible spectrophotometry at three wavelengths of 498, 518 and 538 nm. The result showed that the n-hexane fraction gave the highest antioxidant activity with IC50 of 52.5 ppm, 15 times lower than that of vitamin C (IC50 of 3.33 ppm). Phytochemical screening of the Plectranthus scutellaroides leaves indicated the presence of flavonoids, polyphenolic, monoterpenoids, sesquiterpenoids, steroids and triterpenoids. Keywords: antioxidant, Plectranthus scutellaroides, leaves, DPPH ABSTRAK Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi radikal bebas dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya antioksidan dari daun Plectranthus scutellarioides (L.) R.Br., secara in vitro dengan metode spektrofotometri menggunakan pereaksi 1,1-difenil 2-pikrilhidrazil (DPPH) dengan vitamin C sebagai pembanding. Daun diekstrak menggunakan etanol lalu difraksinasi dengan n-heksana, etil asetat dan air. Variasi konsentrasi sampel uji yang digunakan pada pengujian ini adalah 75, 100, 115, 125 dan 135 ppm. Aktivitas antioksidan diukur secara spektrofotometri pada tiga panjang gelombang yaitu 498, 518 dan 538 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-heksana pada konsentrasi tersebut memberikan aktivitas antioksidan paling kuat dengan nilai IC sebesar 52.5 ppm, 15 kali lebih lemah dibandingkan dengan vitamin C (IC50 = 3.33 ppm). Hasil penapisan fitokimia terhadap daun Plectranthus scutellaroides menunjukkan adanya senyawa golongan flavonoid, polifenolat, monoterpenoid, sesquiterpenoid, steroid dan tritertenoid. Kata kunci: antioksidan, Plectranthus scutellaroides, daun, DPPH

Formulasi Tablet Hisap Yang Mengandung Ekstrak Akar Ginseng Korea (Panax ginseng C. A. Meyer) Dan Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB.)

JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT: The aims of this research is to find the best organoleptically acceptable formula of lozenges that contain ginseng and curcuma extract. Lozenges were prepared using wet granulation method with variation in concentration of sweetener (aspartame) and citric acid, i.e. for formula I aspartame 1% and citric acid 3%, formula II aspartame 0,75% and citric acid 4%, formula III aspartame 0,5% and citric acid 5%, and formula IV without aspartame and citric acid. The result of quality test of the tablets showed that tablets have a good quality and complied with the requirement. Thin Layer Chromatography indicated that all formulas still contain active ingredients from ginseng and curcuma extract after formulation process. Organoleptic test showed that formula II is the most suitable compared to the other three formulas. Keywords: formulation, lozenges, ginseng, temulawak, Panax ginseng, Curcuma xanthorrhiza ABSTRAK : Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan formula tablet hisap yang mengandung ekstrak Ginseng Korea (Panax ginseng C. A. Meyer) dan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB.) yang dapat diterima oleh masyarakat. Tablet dibuat dengan metode granulasi basah dengan variasi konsentrasi pemanis (aspartam) dan asam sitrat, yaitu untuk formula I aspartam 1% dan asam sitrat 3%, formula II aspartam 0,75% dan asam sitrat 4%, formula III aspartam 0,5% dan asam sitrat 5%, dan formula IV tanpa aspartam dan asam sitrat. Pengujian kualitas tablet menunjukan bahwa tablet memiliki kualitas yang baik dan memenuhi persyaratan. Hasil uji kromatografi lapis tipis menunjukan bahwa senyawa aktif yang terdapat dalam ekstrak ginseng dan temulawak masih terdapat dalam tablet hisap. Hasil uji kesukaan yang dilakukan terhadap 30 responden menunjukan bahwa formula II lebih disukai dibandingkan ketiga formula lainnya. Kata kunci: formula, tablet hisap, ginseng, temulawak, Panax ginseng, Curcuma xanthorrhiza