Articles

Found 10 Documents
Search

Hypoglycemic Effect of Aquatic Extract of Stevia in Pancreas of Diabetic Rats: PPARγ – Dependent Regulation or Antioxidant Potential: Review

Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obat tradisional dengan efek antidiabetes dianggap cocok untuk mengobati diabetes. Di antara tanaman-tanaman herbal, Stevia rebaudiana (Bert.) terkenal karena rasa manis dan efek yang menguntungkan dalam pengaturan glukosa. Namun, sedikit yang diketahui tentang mekanisme yang tepat dari stevia di jaringan pankreas. Oleh karena itu, studi ini meneliti efek yang mungkin dari stevia pada pankreas dalam mengontrol hiperglikemia yang dilihat dengan metode uji toleransi glukosa, induksi streptozotocin, dan aloksan menggunakan tikus Sprague-Dawley dan tikus Wistar. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa stevia bekerja pada jaringan pankreas untuk meningkatkan kadar insulin dan memberikan efek hipoglikemia yang menguntungkan melalui mekanisme yang tergantung PPARγ dan sifat antioksidan stevia.

Identifikasi Pola Penggunaan Antibiotik sebagai Upaya Pengendalian Resistensi Antibiotik

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1013.467 KB)

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menetapkan jumlah dan pola penggunaan antibiotik pada pasien rawat inap di salah satu rumah sakit swasta di Bandung. Data penggunaan antibiotik diperoleh dari instalasi farmasi pada Februari–September 2011. Data diolah dengan metode ATC/DDD dan DU90%. Terdapat 390,98 DDD/100 hari rawat dan 381,34 DDD/100 hari rawat pada total penggunaan antibiotik tahun 2009 dan 2010. Sebanyak 39 jenis antibiotik dikonsumsi pada tahun 2009 dan terdapat 11 jenis antibiotik yang masuk segmen 90% penggunaan (seftriakson, amoksisilin, sefotaksim,  iprofloksasin, levofloksasin, metronidazol, sefiksim, doksisiklin, tiamfenikol, sefodoksim, sefaleksin). Tahun 2010 terdapat 44 jenis antibiotik yang dikonsumsi, 18 jenis antibiotik yang masuk segmen 90% penggunaan (seftriakson, siprofloksasin, amoksisilin, sefiksim, levofloksasin, sefadroksil, sefotaksim, metronidazol, tiamfenikol,doksisiklin, klindamisin, kloramfenikol, amikasin, sulbaktam, gentamisin, streptomisin, sefoperazon, kanamisin). Terdapat penurunan penggunaan antibiotik yang diikuti penurunan jumlah hari rawat pada tahun 2009–2010, tetapi jenis dan jumlah antibiotik yang masuk ke dalam segmen 90% penggunaan meningkat.Kata kunci: Penggunaan antibiotik, ATC/DDD, DU90%, resistensi antibiotikIdentification of Antibiotic Use Pattern as an Effort to ControlAntibiotic ResistanceAbstractThe objective of this study is to determine quantity and pattern of antibiotic use in hospitalized patients at one of Bandung’s private hospital that can give benefit in control of antibiotic resistance andprocurement planning of antibiotic. Data of antibiotic consumption were obtained from hospital pharmacy department on February–September 2011. Data were processed using the ATC/DDD and DU90% method. There were 390,98 DDD/100 bed days and 381,34 DDD/100 bed days total of an-tbiotic use in 2009 and 2010. Thirty nine antibiotic were consumed in 2009 within 11 kind of antibiotics in DU90% segment (ceftriaxone, amoxicillin, cefotaxime, ciprofloxacin, levofloxacin, metronidazole, cefixime, doxycycline, thiamphenicol, cefodoxime, cefalexin) and 44 antibiotic were consumed in 2010 within 18 kind of antibiotics in DU90% segment (ceftriaxone, ciprofloxacin, amoxicillin, cefixime, levofloxacin, cefadroxil, cefotaxime, metronidazole, thiamphenicol, doxycycline, clindamycin, chloramphenicol, amikacin, sulbactam, gentamycin, streptomycin, cefoperazone, canamycin). There were decline of antibioticuse that followed decline number of bed days/year in 2009–2010, but in both antibiotic kind and quantity of DU90% antibiotic group were increased.Key words: Antibiotic utilization, ATC/DDD, DU90%, antibiotic resistance

Pola Peresepan Rawat Jalan: Studi Observasional Menggunakan Kriteria Prescribing Indicator WHO di Salah Satu Fasilitas Kesehatan Bandung

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.754 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan sebagai tahap awal evaluasi peresepan obat di salah satu fasilitas kesehatan yang akan dilakukan berkala untuk meningkatkan kualitas pengobatan pasien dengan menggunakan lima indikator peresepan berdasarkan guideline World Health Organization (WHO) yaitu jumlah obat per lembar resep, penggunaan obat generik, antibiotik, obat injeksi, dan obat esensial. Pengumpulan data resep rawat jalan diambil secara retrospektif pada periode April 2015–Maret 2016 di salah satu fasilitas kesehatan di Bandung. Sebanyak 1.814 lembar resep dengan 3.886 obat yang termasuk kriteria inklusi, diperoleh rata-rata jumlah obat per lembar yaitu 2,13 obat. Penggunaan obat generik sebesar 57,47% dari 3.886 obat. Persentase penggunaan antibiotik sebesar 15,52% dan sediaan injeksi 0,41% dari 1.814 lembar resep, sedangkan penggunaan obat esensial sebesar 39,49% dari 3.886 obat yang diresepkan. Berdasarkan hasil tersebut penggunaan obat generik dan esensial masih sangat jauh dari standar WHO (100%) sedangkan penggunaan antibiotik dan obat injeksi memiliki nilai rendah dibandingkan dengan nilai rujukan World Health Organization. Kata kunci: Indikator peresepan, obat, WHO Prescribing of Outpatient: Observational Study Using WHO Prescribing Indicator in One of Health Care Facilities in Bandung This study was held to evaluate drug pattern in one of the health facilities in Bandung using five World Health Organization guideline for prescribing indicators, which include average number of drugs per encounter, percentage of drugs prescribed by generic name, percentage of encounters with an antibiotic, injection prescribed, and drugs prescribed from essential drugs list or formulary. Outpatient prescriptions were collected retrospectively from April 2015–March 2016. Average number of drugs per encounter 2.13 was gained by dividing 3,886 drugs with 1,814 prescriptions. Percentage of using generic drugs were 57.47%, antibiotics were 15.52 % and 0.41% for injections per encounters, whereas percentage of drugs prescribed from essential drugs list was 39.49%. The result showed that usage of generic and essential drugs were still far from WHO standard (100%) while the usage of antibiotics and injections were lower than World Health Organization recommendation.Keywords: Drug, prescribing indicators, WHO

AKTIVITAS ANALGESIK EKSTRAK, FRAKSI N-HEKSAN, ETIL ASETAT, DAN AIR BUAH PANDAN LAUT (Pandanus tectorius) PADA MENCIT DENGAN METODE GELIAT

Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumbuhan pandan laut (Pandanus tectrorius) biasa digunakan oleh masyarakat secara tradisional sebagai pereda nyeri. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah pandan laut memiliki aktivitas analgesik pada mencit namun belum diketahui aktivitas analgesik dari fraksi-fraksinya. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas analgesik ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi air dari buah pandan laut dengan metode geliat dengan penginduksi nyeri asam asetat 0,7%. Dosis yang digunakan untuk ekstrak dan ketiga fraksi itu adalah 125 mg/kg berat badan (BB) dan aspirin sebagai kontrol positif adalah 65 mg/kg BB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi buah pandan laut memberikan aktivitas analgesik. Ekstrak etanol buah pandan laut memberikan efek analgesik paling tinggi dengan daya proteksi sebesar 70,05% diikuti dengan fraksi air (60,25%), fraksi n-heksan (32,14%), dan fraksi etil asetat (13,02%). 

Binding Modes of Doxorubicin Compared to Estratetrol and Tamoxifen

Pharmacology and Clinical Pharmacy Research Vol 2, No 1
Publisher : Universitas Padjadjaran, Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.283 KB)

Abstract

Doxorubicin, a compound isolated from Streptomyces peucetius var Caesius, is commonlyused in the treatment of breast cancer. This drug works by interacting on human nucleicacids. This work was aimed to study the binding modes of doxorubicin with estrogen receptoralpha (ERα). Estratetrol and tamoxifen were used as natural ligand and standard drug,respectively. Molecular docking simulations was performed by AutoDock v.3.05 using minimumcoordinates -34, -6, -15 (x, y, z) and the maximum coordinates -13, 13, 3 (x, y, z).Tamoxifen formed one hydrogen bond with Glu353 (Ki=3.78 μM); estratetrol binds to Glu-353, Arg394, Gly521, and His524 (Ki=0.01 μM). Doxorubicin only formed one hydrogenbond with Ser317 (Ki=N/A). In conclusion, doxorubicin could not interact appropriatelywith ERα due to its voluminioues structure which hinder its entrance to binding pocket ofthe macromolecule.Keywords: doxorubicin, estrogen receptor alpha.

REVIEW ARTIKEL: TINJAUAN AKTIVITAS FARMAKOLOGI EKSTRAK DAUN SALAM (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp)

Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obat herbal telah banyak digunakan dan dipercaya oleh masyarakat. Salah satu tumbuhan yang sering digunakan sebagai obat herbal adalah daun salam. Daun salam memiliki banyak aktivitas farmakologi terutama jika berada dalam bentuk ekstraknya. Aktivitas farmakologi daun salam diantaranya antijamur, antibakteri, antimalaria, antidiare, antiinflamasi, antioksidan, antikolesterol, antidiabetes, dan antihiperurisemia, serta dapat digunakan sebagai penghambat pembentukan plak dan karies pada gigi. Kandungan utama daun salam adalah flavonoid. Pelarut yang paling banyak digunakan sebagai pelarut ekstrak daun salam yaitu etanol, air dan metanol. Pada review ini, pencarian data primer dilakukan dengan secara online, berupa jurnal nasional maupun jurnal internasional, buku maupun ebook. Hasil yang didapatkan dari beberapa jurnal dan sumber lainnya dapat diketahui berbagai macam aktivitas farmakologi dari ekstrak daun salam.Kata kunci: Aktivitas Farmakologi, Ekstrak, Daun Salam, Syzygium polyanthum

Review : Edible Film Antimikroba

Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Edible film adalah sediaan lapisan tipis yang dibuat dari bahan yang dapat dimakan. Saat ini, edible film telah banyak diproduksi di berbagai industri, seperti industi makanan, industri farmasi, industri kosmetik, dan industri pertanian. Pengolahan edible film dapat dilakukan dengan empat teknik dasar, salah satunya adalah teknik solvent casting. Teknik ini telah digunakan sejak 100 tahun yang lalu, metode yang dilakukan dalam teknik ini yaitu dengan meratakan larutan edible film di atas piring akrilik, silikon, ataupun teflon, kemudian dikeringkan pada suhu yang terkendali. Komponen utama penyusun edible film dikelompokkan menjadi tiga, yaitu hidrokoloid, lipida, dan komposit. Bahan lain yang sering dijumpai dalam pembuatan edible film adalah antimikroba, antioksidan, flavor, dan pewarna. Edible film yang mengandung bahan antimikroba dapat digunakan pada sediaan penyegar nafas untuk menghentikan pertumbuhan bakteri penyebab bau mulut dan pada sediaan pengemas untuk meningkatkan daya tahan dan kualitas bahan pangan selama penyimpanan. Antimikroba yang dapat ditambahkan pada edible film berasal dari ekstrak tanaman seperti ekstrak buah manggis, ekstrak minyak cengkeh, dan minyak atsiri jahe. Tujuan dari review artikel ini adalah untuk memberikan pengetahuan mengenai edible film, pengenalan  aplikasi edible film, metode produksinya, serta karakterisasi edible film yang mengandung bahan antimikroba.Kata kunci: Edible film, Metode Produksi, Formulasi, Antimikroba

Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Anak Penderita Demam Tifoid di Rumah Sakit Al Islam Bandung

Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Hingga saat ini demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan di negara-negara tropis termasuk Indonesia. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional akan menimbulkan dampak negatif seperti masalah resistensi dan potensi terjadinya kejadian efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien anak demam tifoid di RS Al Islam Bandung tahun 2017 sebanyak 40 pasien. Penelitian ini merupakan jenis penelitian noneksperimental dengan pengumpulan data secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif dengan parameter tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, dan tepat dosis (4T). Berdasarkan hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa parameter tepat pasien sebesar 100%, tepat indikasi sebesar 100%, tepat obat saat rawat inap dan rawat jalan sebesar 100% dan 95%, serta tepat dosis pada saat rawat inap dan jalan sebesar 30% dan 17,5%.

AKTIVITAS HIPOGLIKEMIK EKSTRAK KULIT BATANG MATOA (Pometia pinnata J.R. Forster & J.G. Forster) PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR DENGAN METODE TOLERANSI SUKROSA

Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula dalam darah (hiperglikemia) karena tidak terdapatnya insulin dalam tubuh, terjadi penurunan sekresinya, dan/atau fungsi insulin tersebut terganggu. Matoa (Pometia pinnata J.R.Forster & J.G. Forster) merupakan tanaman yang telah dimanfaatkan oleh Bangsa Asia sebagai salah satu tanaman obat tradisional. Kulit batang matoa juga merupakan salah satu tanaman yang digunakan oleh masyarakat di Tobelo dalam mengobati diabetes. Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit batang matoa memiliki aktivitas dalam menghambat enzim α-glukosidase, yang berperan dalam memecah mono/disakarida menjadi glukosa. Berdasarkan uraian tersebut, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui aktivitas hipoglikemik dari ekstrak kulit batang matoa secara in vivo pada tikus putih jantan galur Wistar dengan metode toleransi sukrosa. Penelitian dilakukan melalui tahap pengumpulan dan determinasi tanaman, penyiapan simplisia, ekstraksi, penapisan fitokimia, pengujian parameter ekstrak serta pengujian aktivitas hipoglikemik dengan metode toleransi sukrosa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dengan taraf kepercayaan 95% dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan pemberian ekstrak etanol kulit batang matoa dengan dosis 150 mg/200g BB, 300 mg/200g BB, serta 600 mg/200g BB tidak memberikan perbedaan kadar glukosa darah yang signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Namun, pada kelompok uji 2, pada menit ke-120, terdapat perbedaan kadar glukosa darah yang signifikan dari perlakuan yang diberikan dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif.

PENETAPAN KADAR PSEUDOEFEDRIN HCL DAN LORATADIN DALAM KOMBINASI SEDIAAN KAPSUL MENGGUNAKAN METODE KLT VIDEO DENSITOMETRI

JURNAL FARMASI GALENIKA Vol 4 No 3 (2017): Jurnal Farmasi Galenika Volume 4 No. 3, 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sediaan pseudoefedrin HCl dan loratadine tersedia di perdagangan dalam bentuk kombinasi campuran. Sediaan yang berupa campuran, memerlukan metode analisis dengan perlakuan lanjut sebelum dilakukan pengukuran dikarenakan adanya perbedaan sifat farmakokimia dari zat yang terkandung di dalamnya. Oleh sebab itu diperlukan metode analisis yang akurat, jika memungkinkan sederhana dan murah, untuk menganalisis kandungan sediaan kombinasi tersebut. Salah satu metode yang sederhana yang mampu memberikan hasil yang akurat adalah KLT video densitometri. Tujuan dari penelitian ini untuk memvalidasi metode dalam menetapkan kadar pseudoefedrin HCl dan loratadine dalam sediaan kapsul menggunakan metode KLT video densitometri. Tahapan penelitian meliputi uji kesesuaian sistem menggunakan fase diam plat silika gel GF254 dan fase gerak campuran pelarut metanol-amonia (10mL : 4 tetes, v/v); validasi metode analisis, dan penetapan kadar dalam sediaan yang beredar di pasar. Perekaman gambar dilakukan dibawah lampu UV 255nm menggunakan alat video densitometri dan pengukuran luas dibawah kurva (AUC) dari gambar bercak menggunakan perangkat lunak TLC Analyzer. Penotolan sampel dilakukan secara manual menggunakan pipa kapiler. Hasil pengujian uji kesesuaian sistem diperoleh nilai Rf pseudoefedrin HCl dan loratadine berturut-turut adalah 0,35 dan 0,84. Persamaan kurva kalibarasi untuk pseudoefedrin HCl dan loratadine berturut-turut adalah Y = 0,3003X – 715,94 dan Y = 6,8705X + 222,86. Setelah semua parameter validasi memenuhi persyaratan, diperoleh persen kadar pseudoefedrin HCl dan loratadine dalam sediaan kapsul berturut-turut adalah sebesar 99,42% dan 101%, memenuhi syarat yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia. Nilai-nilai parameter validasi tersebut memenuhi syarat yang telah ditetapkan sehingga metode KLT video densitometri layak untuk digunakan.