Novi Susetyo Adi, Novi Susetyo
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

ASSESSMENT OF MANGROVE FOREST DEGRADATION THROUGH CANOPY FRACTIONAL COVER IN KARIMUNJAWA ISLAND, CENTRAL JAVA, INDONESIA

Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning Vol 3, No 2 (2016): (October 2016)
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Karimunjawa Islands mangrove forest has been subjected to various direct and indirect human disturbances in the recent years. If not properly managed, this disturbance will lead to the degradation of mangrove habitat health. Assessing forest canopy fractional cover (fc) using remote sensing data is one way of measuring mangrove forest degradation. This study aims to (1) estimate the forest canopy fc using a semi-empirical method, (2) assess the accuracy of the fc estimation and (3) create mangrove forest degradation from the canopy fc results. A sample set of in-situ fc was collected using the hemispherical camera for model development and accuracy assessment purposes. We developed semi-empirical relationship models between pixel values of ALOS AVNIR-2 image (10 m pixel size) and field fc, using Enhanced Vegetation Index (EVI) as a proxy of the image spectral response. The results show that the EVI provides reasonable estimation accuracy of mangrove canopy fc in Karimunjawa Island with the values ranged from 0.17 to 0.96 (n = 69). The low fc values correspond to vegetation opening and gaps caused by human activities or mangrove dieback. The high fc values correspond to the healthy and dense mangrove stands, especially the Rhizophora sp formation at the seafront. The results of this research justify the use of simple canopy fractional cover model for assessing the mangrove forest degradation status in the study area. Further research is needed to test the applicability of this approach at different sites.

KARAKTERISTIK SEBARAN SEDIMEN DAN LAJU SEDIMENTASI PERAIRAN TELUK BANTEN

Jurnal Segara Vol 14, No 3 (2018): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teluk Banten di Utara Kota Serang, Banten, menampung berbagai muatan sedimen dari 7 (tujuh) sungai yang bermuara di teluk ini. Penelitian yang dilakukan pada Oktober 2008 di perairan teluk ini bertujuan untuk memahami karakteristik sebaran sedimen permukaan dan komposisi bahan organik serta laju sedimentasi sebagai bagian dari penelitian karbon laut di Indonesia. Metode yang dilakukan adalah metode deskriptif, dengan memeriksa sedimen yang diambil menggunakan grab sampler. Analisis sedimen meliputi pengukuran tekstur sedimen, bahan organik total atau Total Organic Matter (TOM) dan laju sedimentasi; analisis perairan meliputi bahan organik terlarut dan total padatan tersuspensi atau Total Suspended Solids (TSS). Dalam klasifikasi pasir, debu dan liat, sampel yang dikumpulkan dari Teluk Banten menunjukkan tekstur sedimen pasir rata-rata sebesar 54,86 %, sedangkan nilai TOM dan karbon organik berkisar 5,33 - 20,57 % dan 0,47 - 3,44 %. Laju sedimentasi tercatat berkisar antara 0,011 - 0,035 kg/m2/hari dengan komposisi tertinggi pada tekstur pasir.

PENGARUH ALIH FUNGSI KAWASAN MANGROVE PADA SIFAT SEDIMEN DAN KEMAMPUAN PENYIMPANAN KARBON

Jurnal Kelautan Nasional Vol 13, No 3 (2018): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekosistem mangrove memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan karbon. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa penyimpanan karbon terbesar di ekosistem ini ada di sedimen. Namun demikian, kapasitas penyimpanan ini akan menurun karena deforestrasi dan konversi lahan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa dampak alih fungsi lahan mangrove terhadap sifat sedimen serta kemampuannya dalam menyimpan karbon dengan membandingkan dua tipe mangrove yang dikategorikan sebagai mangrove alami dan degradasi/terkonversi. Penelitian dilakukan di empat lokasi yaitu di Kabupaten Berau - Kalimantan Timur dan Karimunjawa-Jawa Tengah yang mewakili daerah alami serta, Kabupaten Pati - Jawa Tengah dan  Kabupaten Indramayu - Jawa Barat yang mewakili mangrove yang pernah mengalami alih fungsi lahan dan telah direhabilitasi. Sedimen diambil minimal sampai pada kedalaman satu meter dengan menggunakan soil auger. Sebanyak empat sampel diambil pada setiap core sediment pada interval kedalaman 0-15, 15-30, 30-50 dan 50-100 cm. Hasil menunjukkan bahwa mangrove yang pernah mengalami alih fungsi lahan memiliki nilai prosentasi C (%), densitas C (mg cm-3) dan simpanan karbon (MgCha-1) yang lebih rendah dibandingkan dengan lokasi yang alami. Kisaran nilai prosentasi karbon, densitas dan simpanan karbon pada daerah rehabilitasi berturut-turut adalah sebesar 1,11 - 2,25 %, 0,01 - 0,02 mg cm-3 dan 94,92-265,26 Mgha-1, sementara untuk wilayah alami pada kisaran 12,54 - 17,14 %, 0,07 - 0,09 mg cm-3 dan 427,54 - 606,92 Mgha-1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa alih fungsi lahan mangrove menurunkan kemampuan penyimpanan karbon ekosistem.