Erna Setiawati, Erna
Unknown Affiliation

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

Pengaruh Latihan Hatha Yoga terhadap Kadar Nitric Oxide pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2

Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka kesakitan dan kematian akibat diabetes melitus di Indonesia cenderung berfluktuasi setiap tahunnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh latihan Hatha Yoga terhadap peningkatan kadar Nitric Oxide (NO) pada penderita diabetes melitus tipe 2. Metode penelitian adalah experimental dengan pre-post with control group design. Sebanyak 34 subjek diabetes melitus tipe 2 yang berusia antara 45-75 tahun dibagi menjadi 2 kelompok secara acak. Kelompok I mendapatkan latihan Hatha Yoga dan kelompok II tidak mendapat latihan Hatha Yoga. Subjek pada kelompok I melakukan 18 kali latihan dengan frekuensi tiga kali seminggu selama enam minggu dengan durasi 45 menit setiap sesi. Hasil menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna kadar NO setelah intervensi antara kedua kelompok (p=0,856). Terdapat perbedaan bermakna pada perubahan glukosa darah puasa (p=0,000) dan glukosa darah 2 jam post prandial (p=0,010) antara kedua kelompok, dengan perubahan pada kelompok intervensi lebih baik daripada kelompok kontrol. Latihan Hatha Yoga terbukti dapat memberikan perbaikan perubahan kadar glukosa darah puasa dan glukosa darah 2 jam post prandial namun dampak pada kadar NO belum terbukti.Kata Kunci: Diabetes melitus tipe 2, Hatha Yoga, glukosa darah 2 jam post prandial, glukosa darah puasa, Nitric Oxide 

HUBUNGAN ANTARA FUNGSI SISTOLIK DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Gagal jantung adalah sindrom klinis yang ditandai oleh sesak napas, fatigue, edema dan tanda objektif adanya disfungsi jantung dalam keadaan istirahat yang disebabkan oleh kelainan struktur atau fungsi jantung yang menyebabkan kegagalan jantung memompa darah sesuai dengan kebutuhan jaringan. Gagal jantung kronik dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi menjadi gagal jantung sistolik dan gagal jantung diastolik. Sebagai salah satu penyakit kronik, gagal jantung akan mempunyai dampak terhadap kualitas hidup pasien. Terdapat beberapa penelitian yang meneliti hubungan antara fungsi sistolik dengan kualitas hidup pasien, tetapi terdapat hasil yang bertolak belakang satu sama lain.Tujuan : Mengetahui bagaimana hubungan antara fungsi sistolik dengan kualitas hidup pada pasien gagal jantung kronik.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode cross sectional. Sampel sebanyak 32 pasien gagal jantung kronik yang memenuhi kriteria inklusi dengan metode consecutive sampling. Dari hasil ekokardiografi didapatkan nilai fraksi ejeksi ventrikel kiri dan penilaian kualitas hidup menggunakan kuesioner MLHF.Hasil : Hasil uji korelasi antara LVEF dengan skor kuesioner dimensi fisik, dimensi emosi dan skor keseluruhan MLHFQ tidak menunjukkan adanya korelasi karena p > 0,05. Pada uji korelasi LVEF dengan dimensi fisik dan MLHFQ total didapatkan arah korelasi negatif (-) dengan kekuatan korelasi sangat lemah (<0,2). Pada uji korelasi LVEF dengan dimensi emosi didapatkan arah korelasi positif (+) dengan kekuatan korelasi sangat lemah (<0,2).Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi sistolik dengan kualitas hidup pada pasien gagal jantung kronik, baik dari dimensi fisik, dimensi emosi, maupun secara keseluruhan.

HUBUNGAN ANTARA FUNGSI DIASTOLIK DENGAN DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KRONIK DENGAN FRAKSI EJEKSI NORMAL

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Gagal jantung kronik masih memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi walaupun telah ada beberapa penelitian mengkaji upaya peningkatan kualitas hidup. Fungsi diastolik merupakan salah satu siklus jantung yang dikatakan dapat dideteksi lebih awal sebelum muncul manifestasi klinik sehingga lebih berpengaruh terhadap kualitas hidup dibanding fungsi sistolik. Namun ada penelitian menyatakan tidak ada perbedaan antar keduanya.Tujuan : Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kualitas hidup dengan fungsi diastolik pasien gagal jantung kronik dengan fraksi ejeksi normalMetode : Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional menggunakan data primer yaitu kuesioner serta data sekunder yaitu rekam medis dan data ekokardiografi. Sampel sebanyak 32 pasien yang sudah didiagnosis gagal jantung kronik dengan fraksi ejeksi normal yang memenuhi kriteria tertentu. Dari hasil ekokardiografi didapatkan nilai E/e’ sebagai indiktor fungsi diastolik. Kemudian pasien mengisi kuesioner MLHF (Minnesota Living with Heart Failure) berisi 21 pertanyaan tentang aktivitas sehari-hari mereka. Uji statistik menggunakan uji korelasi pearsonHasil : Fungsi diastolik memiliki korelasi yang tidak bermakna dengan kualitas hidup (p>0,05). Didapatkan korelasi positif sangat lemah pada dimensi fisik (r=0,044; p=0,810), dimensi umum (r=0,057; p=0,757), dimensi emosi (r=0,003; p=0,988) dan skor total MLHFQ (r=0,042; p=0,820)Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara fungsi diastolik dengan kualitas hidup pada pasien gagal jantung kronik dengan fraksi ejeksi normal.

PENGARUH CIRCUIT TRAINING TERHADAP NILAI ARUS PUNCAK EKSPIRASI PADA ANAK OBESITAS

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Obesitas merupakan suatu kondisi dimana terdapat akumulasi lemak abnormal di jaringan adiposa yang mengganggu kesehatan, dimana dapat diketahui melalui Index Masa Tubuh (IMT). Seorang anak dapat dikatakan obesitas apabila IMT ≥ 95 persentil sesuai grafik pertumbuhan. Salah satu masalah yang dapat ditimbulkan dengan adanya obesitas adalah permasalahan sistem respirasi. Fungsi sistem respirasi dapat diketahui salah satunya dengan pengukuran arus puncak respirasi (APE). Untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh obesitas adalah dengan melakukan latihan salah satunya berupa latihan sirkuit. Belum ada penelitian tentang pengaruh latihan sirkuit terhadap APE.Tujuan : Menganalisa perbedaan nilai arus puncak ekspirasi sebelum dan setelah pemberian latihan sirkuit pada anak obesitas.Metode : Penelitian kuasi eksperimental ini menggunakan metode satu kelompok pretes postes dengan sampel sebanyak 17 anak obesitas. Subjek penelitian diberikan perlakuan dengan latihan sirkuit 2 kali dalam seminggu selama 6 minggu. Subjek penelitian diukur APE menggunakan peak flow meter sebelum dan sesudah 6 minggu pemberian latihan sirkuit.Hasil : Terdapat peningkatan nilai APE anak obesitas setelah melakukan latihan sirkuit selama 6 minggu dibandingkan dengan sebelum melakukan latihan sirkuit . Dimana APE sebelum melakukan latihan sirkuit 232,93 ± 22,29 L∕menit menjadi 257,06 ± 21,14 L∕menit setelah melakukan latihan sirkuit.Simpulan : Pemberian latihan sirkuit pada anak obesitas meningkatkan nilai APE

PENGARUH LATIHAN HATHA YOGA TERHADAP KUALITAS HIDUP DOMAIN FISIK YANG DIUKUR DENGAN KUESIONER WHOQOL-BREF PADA REMAJA OBESITAS

Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Prevalensi obesitas mulai meningkat di negara berkembang. Dampak negatif akibat obesitas menyebabkan penurunan kualitas hidup remaja. Remaja sangat berperan sebagai sumber daya manusia (SDM) yang diharapkan produktivitasnya dalam menentukan keberhasilan suatu negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan Hatha Yoga terhadap kualitas hidup domain fisik pada remaja obesitas.Metode: randomized controlled pre and post experimental. Tempat: SMA Negeri 14 Semarang. Subjek: 23 murid SMA Negeri 14 Semarang yang memenuhi kriteria penelitian. Perlakuan: Subyek dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok perlakuan diberi intervensi latihan Hatha Yoga  3 kali/ minggu selama 6 minggu, kelompok kontrol tidak diberi intervensi apapun. Kedua kelompok mengisi kuesioner WHOQOL-BREF domain fisik sebelum, setelah 3 dan 6 minggu perlakuan.Hasil: Perubahan rerata skor WHOQOL-BREF domain fisik. Tidak didapatkan peningkatan bermakna pada rerata skor WHOQOL- BREF domain fisik pada kelompok perlakuan setelah 3 minggu perlakuan (p=0,493) dan setelah 6 minggu perlakuan (p=0,083) maupun kelompok kontrol setelah 3 minggu perlakuan (p=0,094) dan 6 minggu setelah perlakuan (p=0,693). Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada rerata skor WHOQOL-BREF domain fisik antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol setelah 3 minggu perlakuan (p=0,087) namun setelah 6 minggu perlakuan didapatkan perbedaan yang bermakna (p=0,005). Tidak didapatkan perbedaan bermakna peningkatan rerata skor WHOQOL-BREF domain fisik antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol setelah 3 minggu perlakuan (p=0,684) dan setelah 6 minggu perlakuan (p=0,227).Simpulan: Latihan Hatha Yoga 3 kali/ minggu selama 6 minggu dapat meningkatkan kualitas hidup domain fisik remaja obesitas. Kata kunci: Latihan Hatha Yoga, kualitas hidup domain fisik, remaja obesitas

PERBEDAAN EFEKTIVITAS HATHA YOGA DAN TAI CHI TERHADAP KEBUGARAN KARDIORESPIRASI DAN KONDISI INFLAMASI PADA PENDERITA PPOK

Media Medika Muda Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia. Gangguan kebugaran kardiorespirasi penderita PPOK dan meningkatnya keadaan inflamasi pada penderita PPOK akan menyebabkan penurunan kualitas hidup bagi penderita PPOK. Latihan pernafasan berupa Hatha Yoga dan Tai Chi merupakan bentuk latihan pernafasan yang terbukti manfaatnya pada penderita gangguan fungsi paru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan efektivitas Hatha Yoga dan Tai Chi terhadap kebugaran kardiorespirasi dan kondisi inflamasi pada penderita PPOK.Metode: Penelitian berdesain randomized controlled pre and post experimental, dilakukan di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Semarang, dengan subyek 11 penderita PPOK di BKPM Semarang yang memenuhi kriteria inklusi. Subyek dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I berjumlah 5 orang diberi intervensi latihan Hatha Yoga 3 kali/ minggu selama 6 minggu, kelompok II berjumlah 6 orang diberi intervensi latihan Tai Chi 3 kali/ minggu selama 6 minggu. Kedua kelompok dilakukan pemeriksaan uji jalan 6 menit/ 6 MWT (6 minute walk test) dan pemeriksaan jumlah leukosit dan neutrofil sebelum dan setelah 6 minggu perlakuan.Hasil: Rerata VO2 max kelompok I dan II adalah 8,22± 1,24 dan 9,12 ± 1,62. Tidak didapatkan perbedaan VO2 max sebelum dan setelah latihan pada kelompok I dan II dengan p=0,33 dan p=0,78. Rerata jumlah leukosit dan neutrofil pada kelompok I dan II adalah 7.700 ± 2.137, 8.400 ± 2.520, 4.561 ± 2.069 dan 6.079 ± 1.823/ mm3. Tidak didapatkan perbedaan jumlah leukosit dan neutrofil sebelum dan setelah latihan pada kelompok I dan II dengan p=0,63 dan p=0,097.Simpulan: Tidak didapatkan perbedaan efektivitas Hatha Yoga dan Tai Chi terhadap kebugaran kardiorespirasi dan kondisi inflamasi pada pasien PPOK. Kata kunci: Hatha Yoga, Leukosit, Neutrofil, PPOK, Tai Chi, Uji jalan 6 menit

Pengetahuan dan Dukungan Sosial Mempengaruhi Perilaku Deteksi Dini Kanker Servik Metode Iva

Indonesian Journal of Midwivery (IJM) Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.074 KB)

Abstract

Kanker leher rahim masuk dalam kategori jenis kanker yang cukup membahayakan  bagi kelangsungan hidup wanita di dunia. Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk deteksi dini terhadap kanker tersebut. Cakupan pemeriksaan IVA masih tergolong rendah meskipun program ini sudah lama dilaksanakan di beberapa wilayah. Tujuan penelitian ini adalah mendiskripsikan dan mengetahui seberapa besar hubungan antara pengetahuan dan dukungan sosial dengan perilaku pemeriksaan IVA. Jenis penelitian deskriptif korelatif dengan pendekatan crossectional. Penelitian dilaksanakan bulan Oktober-Desember 2017 di wilayah kerja Puskesmas Tuntang Kab. Semarang. Sampel dipilih dengan teknik Purposif sampling sebesar 60 wanita usia subur. Variabel bebas: pengetahuan dan dukungan sosial. Variabel terikat: perilaku periksa IVA. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah Chi square. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 38 (63.3%) subjek penelitian tidak melakukan pemeriksaan IVA dan 22 (36.7%) melakukan pemeriksaan IVA. Sebagian besar subjek penelitian memiliki tingkat pengetahuan tinggi 39 (65.0%), sebagian besar subjek penelitian memiliki dukungan social yang baik yaitu dukungan baik dari suami 48 (80.0%) dan dukungan baik dari petugas kesehatan 32 (53.3%). Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku pemeriksaan IVA dengan OR= 2.47 dan p = 0.129. terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara dukungan social dengan perilaku pemeriksaan IVA yaitu dukungan suami OR = 8.55 dan p = 0.041 dan dukungan petugas kesehatan OR = 21.66 dan p = 0.000. Terdapat hubungan yang kuat dan siknifikan antar faktor dukungan sosial yaitu dukungan suami dan dukungan petugas kesehatan dengan perilaku pemeriksaan IVA pada wanita usia subur. Tidak terdapat hubungan antara faktor pengetahuan dengan perilaku pemeriksaan IVA pada wanita usia subur. Penelitian ini menyarankan kepada instansi pemerintah dapat menerapkan program  pemeriksaan IVA sebagai salah satu program untuk melakukan deteksi dini terhadap kanker servik pada wanita usia subur.

PENGARUH LATIHAN DEEP BREATHING TERHADAP SATURASI OKSIGEN PADA PEROKOK AKTIF

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.615 KB)

Abstract

Latar Belakang: Merokok mengganggu oksigenasi tubuh dan fungsi fisiologis paru akibat kandungan zat karbon monoksida (CO) dan zat-zat lain. Latihan deep breathing dapat meningkatkan fungsi vital paru yang mana dapat memperbaiki pertukaran gas dan mempengaruhi saturasi oksigen. Tujuan: Membuktikkan pengaruh latihan deep breathing terhadap perubahan SpO2 pada perokok aktif. Metode: Penelitian eksperimental dengan desain one group pre-test post-test. Sampel adalah 10 perokok dewasa aktif yang diseleksi dengan metode purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah timbangan, microtoise, dan pulse oximeter. Latihan deep breathing dilakukan 3 kali dalam seminggu selama 4 minggu dengan durasi 15 menit per latihan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Rerata SpO2 pre dan post latihan deep breathing akut adalah 96,9 ± 1,101 dan 98,2 ± 1,033; sedangkan rerata SpO2 post latihan deep breathing kronik adalah 98,4 ± 0,516. Pada analisis uji Wilcoxon didapatkan perbedaan bermakna pada analisis latihan akut (p=0,018) dan latihan kronik (p=0,010). Kesimpulan: Latihan deep breathing secara akut dan kronik memberikan peningkatan bermakna pada nilai saturasi oksigen perokok aktif.Kata kunci: Latihan deep breathing, SpO2, perokok aktif.

PENGARUH LATIHAN DEEP BREATHING TERHADAP NILAI ARUS PUNCAK EKSPIRASI PADA PEROKOK AKTIF

JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.762 KB)

Abstract

Latar Belakang: Merokok menyebabkan perubahan struktur, fungsi saluran pernapasan dan jaringan paru. Merokok aktif akan mempercepat penurunan faal paru. Salah satu cara untuk mengetahui fungsi faal paru adalah melalui pemeriksaan arus puncak ekspirasi (APE). Deep breathing dapat meningkatkan compliance paru dan mencegah kolaps sehingga memperbaiki pertukaran gas dan akhirnya memperbaiki nilai APE. Tujuan: Membuktikan perbedaan nilai APE sebelum dan setelah latihan deep breathing tipe akut maupun kronik pada perokok aktif. Metode: Penelitian eksperimen one group pre post test menggunakan 10 subjek penelitian dengan purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan timbangan, microtoise dan peak flow meter. Analisis data menggunakan uji t berpasangan. Hasil: Rerata APE tipe akut sebelum dan sesudah perlakuan adalah 546,0 ± 64,1 dan 553,0±63,9; sedangkan rerata APE tipe kronik sebelum dan sesudah perlakuan adalah 522,5±66,7 dan 553,0±63,9. Terdapat perbedaan bermakna pada uji analisis tipe akut maupun kronik ( tipe akut p=0,029; tipe kronik p=0,002). Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna nilai APE sebelum dan setelah latihan deep breathing tipe akut maupun kronik pada perokok aktif.Kata kunci: Latihan deep breathing, arus puncak ekspirasi, perokok aktif.

PEMILIHAN KONTRASEPSI BERDASARKAN EFEK SAMPING PADA DUA KELOMPOK USIA REPRODUKSI

Unnes Journal of Public Health Vol 6 No 3 (2017): Unnes Journal of Public Health
Publisher : Universitas Negeri Semarang in cooperation with Association of Indonesian Public Health Experts (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI))

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.441 KB)

Abstract

ABSTRACT Kelompok usia reproduksi terbagi dalam tiga fase yaitufase menunda kehamilan (<20 tahun), fase menjarangkan kehamilan (20-30 tahun) dan fase mengakhiri kehamilan (>30 tahun). Cara yang ditempuh yaitu dengan pemakaian kontrasepsi.baik  MKJPmaupunnon MKJP. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidak perbedaan pemilihan kontrasepsi MKJP dan non MKJP berdasarkan efek samping pada dua kelompok usia reproduksi. Penelitin ini menggunakan desain cross sectional, pengambilan data dengan kuesioner. Sampel dalam penelitian ini adalah akseptor KB baik MKJP maupun non MKJP pada bulan april sampai juni sebanyak 200 responden, dimana tekhnik pengambilan datanya dengan random sampling dan kuota sampling. Hasil penelitian kemudian diuji dengan mann-whitney test.Hasil penelitian dengan uji mann whitney test diperoleh p = 0.662 dengan kata lain p > α (0.05) yang berarti tidak ada perbedaan pemilihan MKJP dan non MKJP berdasarkan efek samping di Wilayah Kabupaten Semarang.      ABSTRACT Reproductive-age category can be divided into three groups which are the group of delayed interval pregnancy (less than 20 years old), the group of intervalcontrol pregnancy (20 to 30 years old), and the group of high risk pregnancy (more than 30 years old). An alternative to avoid high risk pregnancy is by using contraception tool namely long-term contraception (MKJP) and non long-term contraception (non MKJP).The purpose of this research is to analysedwhether there are differences in choosing MKJP and non –MKJP based on side effects in the two reproductive-age groups.This research was an explanatory research with cross-sectional design. The population were all women of contraception acceptors in Semarang Regency.The samples were 200 respondents, used simple random sampling and quota sampling. This research used quisionaire instrument and analyze used mann whitney test (α=0,05). Theresult showed thatP = 0,662 meaning P > α = 0.05 which means there is no difference in choosing MKJP and non-MKJP based on side effects in the two reproduction-age groups in Semarang regency.