Articles
5
Documents
Perbedaan Laju Filtrasi Glomerulus Berdasarkan Kadar Kreatinin dan Cystatin C Serum pada Sindrom Nefrotik Anak

Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Komplikasi sindrom nefrotik (SN) yang sering telambat terdeteksi adalah gangguan ginjalakut (GnGA). Cystatin C serum dipertimbangkan menjadi pemeriksaan potensial pengganti kreatinin sebagaipenanda fungsi ginjal. Kadar cystatin C lebih mendekati nilai laju filtrasi glomerulus (LFG) dibandingkandengan kreatinin serum.Tujuan. Menentukan perbedaan LFG berdasarkan kadar kreatinin dan cystatin C serum pada SN anak.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan dari Februari–Maret 2014 di unit rawat jalan dan rawat inapRSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUD Kota Bandung, dan RSUD Cibabat Kota Cimahi. Subjek SNusia 1–14 tahun. Pemeriksaan kadar kreatinin dengan metode Jaffe dan cystatin C serum dengan particleenhancedturbidimetric immunoassay (PETIA). Uji statistik menggunakan McNemar dan uji t berpasangandan kemaknaan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Terdapat 21 kasus SN yang terdiri atas 18 laki-laki dan 3 perempuan dengan rerata usia 6 tahun 3bulan. Nilai LFG berdasarkan kreatinin 137,86±27,07 ml/min/1,73 m2 dan LFG berdasarkan cystatin C73,59±12,49 ml/min/1,73 m2. Terdapat perbedaan signifikan antara LFG berdasarkan kadar kreatinin dancystatin C serum (p<0,01).Kesimpulan. Proporsi LFG cystatin C berdasarkan formula Filler lebih rendah dibandingkan kreatininberdasarkan formula Schwartz

Perbedaan Kadar Troponin T dan Troponin I Serum pada Berbagai Derajat Infeksi Virus Dengue Anak

Sari Pediatri Vol 19, No 4 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Perbedaan kadar troponin T diketahui berhubungan dengan derajat infeksi virus dengue, tetapi belum diketahui pada troponin I.Tujuan. Mengetahui perbedaan kadar troponin T dan I pada berbagai derajat infeksi virus dengue anak.Metode. Penelitian observasional analitik, rancangan potong lintang pada anak kelompok demam dengue (DD), demam berdarah dengue tanpa syok (DBD), dan sindrom syok dengue (SSD) di RSUP Dr.Hasan Sadikin, RSUD: Majalaya, Cibabat, dan Kota Bandung. Troponin T dan I diperiksa saat awal perawatan dan fase pemulihan. Analisis: uji Kruskal Wallis +analisis post hoc, dan uji Wilcoxon.Hasil. Didapat 49 anak infeksi virus dengue. Hasil pemeriksaan kelompok DD, DBD, dan SSD (berturut-turut) adalah troponin T awal: 3,32, 3,0, 9,01 pg/mL, pemulihan (kurang jelas, lebih baik disebutkan rerata hari ke berapa sakit): 3,0, 3,0, 6,21 pg/mL, Troponin I awal: 2,10, 2,25, 14,20 ng/L, pemulihan: 2,10, 1,50, 14,35 ng/L. Perbedaan kadar troponin T awal: p=0,015, pemulihan: p=0,009, troponin I awal: p=0,032, pemulihan: p=0,062. Perbedaan pemeriksaan awal dan fase pemulihan kelompok DD, DBD, dan SSD (berturut-turut): Troponin T: p=0,420, 0,055, 0,248, Troponin I: p=0,202, 0,077, 0,285.Kesimpulan. Terdapat perbedaan kadar troponin T dan I pada berbagai derajat infeksi virus dengue anak, kecuali kadar troponin I fase pemulihan. Tidak terdapat perbedaan kadar troponin T dan I antara awal perawatan dan fase pemulihan.

The prevalence of hyaline membrane disease and the value of shake test and lamellar body concentration in preterm infants

Paediatrica Indonesiana Vol 43 No 3 (2003): May 2003
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.689 KB)

Abstract

Background The morbidity and mortality of hyaline membrane dis-ease (HMD) are quite high due to delayed diagnosis and intervention.Commonly, HMD occurs in preterm infants with surfactant deficiencybecause of lung immaturity. Lung maturity test could be performedusing biochemical, biophysical, and amniotic fluid turbidity test.Objective To find out HMD prevalence and the value of shaketest and lamellar body concentration in diagnosing HMD in preterminfants.Methods This was a cross-sectional study carried out at HasanSadikin Hospital Bandung on preterm infants born during October-December 2001. The shake test was performed using gastric fluidand amniotic fluid while the lamellar body concentration was per-formed using amniotic fluid.Results During the 3-month period, 571 infants were born, of 64(11.2%) preterm infants, only 41 (64%) fulfilled the inclusion crite-ria; among those preterm infants, 14 (34%) suffered from respira-tory distress and 7 suffered from HMD (prevalence 17%). All HMDcases occurred in infants less than 32 weeks for gestational age.In 7 preterm infants with HMD, the shake test of gastric fluid ob-tained by lavage showed negative results in 3 and +1 in 4 infants;while the shake test of amniotic fluid revealed negative result in 5and +1 in 2 infants. Lamellar body concentration of amniotic fluidwas ≤18,000/ml in all HMD infants. Among three infants less than32 weeks for gestational age who did not suffer from HMD, +1shake test of gastric fluid was found in 2 infants and +2 in 1 infant;while shake test of amniotic fluid showed negative result in 1 infantand +1 in 2; the lamellar body concentration of amniotic fluid was≤18,000/ml in 2 infants and >18,000/ml in 1 infant.Conclusions We concluded that HMD occurred in 17% of preterminfants. The shake test of gastric and amniotic fluids revealed nega-tive or +1 results whereas lamellar body concentration had valueof less than or equal to 18,000/mL. More extensive studies arewarranted to assess the validity (sensitivity, specificity and predic-tive values) of these measurements

PENGARUH DURASI PENYIMPANAN ASI DALAM RUANGAN TERHADAP KUALITAS ASI (STUDI DI LINGKUNGAN KOMUNITAS)

Jurnal Kesehatan Prima Vol 13, No 1 (2019): Jurnal Kesehatan Prima
Publisher : poltekkes kemenkes mataram

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.859 KB)

Abstract

Air Susu Ibu (ASI) memiliki manfaat kekebalan bagi bayi, sehingga pemerintah merekomendasikan pemberian ASI ekslusif. Salah satu faktor penyebab rendahnya cakupan ASI Ekslusif adalah karena ibu bekerja. Memerah dan menyimpan ASI dalam ruangan dianggap tidak aman oleh keluarga karena takut basi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh durasi penyimpanan ASI pada 0, 4, 6, dan 8 jam dalam ruangan terhadap kualitas ASI yang dilakukan di lingkungan komunitas dengan melakukan uji laboratorium. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan melibatkan 35 ibu menyusui di Kelurahan Taman Sari Kota Bandung. Pengambilan sampel ASI 50 ml dari setiap subjek penelitian, dan dibagi menjadi 4 (ASI 0, 4, 6, dan 8 jam), kemudian dilakukan uji leboratorium Total Plate Count (TPC) mesofil aerob, enterobacter, jamur, dan identifikasi bakteri patogen. Analisis data dengan menggunakan uji Mc. Nemar untuk melihat pengaruh durasi waktu penyimpanan ASI dalam ruangan terhadap kualitas ASI. Hasil penelitian menunjukkan sampel ASI dengan jumlah total bakteri mesofil aerob > 10 pangkat 5 CFU/ml pada 0 dan 4 jam adalah 2,9%, pada 6 jam 5,7%, dan meningkat menjadi 8,6% pada penyimpanan 8 jam. Sampel ASI dengan jumlah total enterobacter > 10 CFU/ml pada sampel ASI 0 jam adalah 2,9%, pada 4 dan 6 jam 5,7%, dan meningkat menjadi 71,4 % pada penyimpanan ASI 8 jam. Hasil uji statistik menunjukkan ada nya pengaruh durasi penyimpanan terhadap penurunan kualitas ASI 0-4 jam (p=0,032), 0-6 jam (p=0,032), dan 0-8 jam (p=0,002). Kesimpulan : Pada komunitas ini, secara bakteriologis penyimpanan ASI perah aman untuk jangka waktu 6 jam. Semakin lama ASI disimpan dalam ruangan, semakin menurun kualitas ASI.

Perbedaan Status Gizi dan Perawakan Pendek pada Anak Sakit Perut Berulang dengan Helicobacter Pylori Positif dan Negatif

Sari Pediatri Vol 20, No 5 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.661 KB)

Abstract

Latar belakang. Sakit perut berulang (SPB) merupakan keluhan yang paling sering pada anak. Infeksi Helicobacter pylori (H. pylori) saat ini merupakan salah satu penyebab organik terbanyak pada anak SPB. Infeksi H. pylori dapat menyebabkan malnutrisi dan perawakan pendek, tetapi hal ini masih kontroversial.Tujuan. Mengetahui perbedaan status gizi dan perawakan pendek antara anak SPB dengan infeksi H. pylori positif dan negatif.Metode Penelitian potong lintang analitik dilakukan pada anak SMP dan SMA di Bandung yang mengalami SPB. Infeksi H. pylori berdasarkan pemeriksaan serologis menggunakan kit BioM pylori. Analisis perbedaan status gizi dan perawakan pendek antara anak SPB dengan infeksi H. pylori positif dan negatif menggunakan uji chi square.Hasil. Terdapat 224 subjek mengalami SPB dari 1658 subjek yang disurvey. Sebanyak 99 subjek memenuhi kriteria inklusi. H. pylori positif pada 45 subjek. Uji beda memperlihatkan perbedaan proporsi pada status gizi kurang dan infeksi H. pylori positif, namun belum bermakna secara statistik. Pada uji beda perawakan pendek dengan infeksi H. pylori positif tidak didapatkan perbedaan bermakna.Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan bermakna status gizi dan perawakan pendek pada anak SPB dengan infeksi H. pylori positif dan infeksi H. pylori negatif.