This Author published in this journals
All Journal Sari Pediatri
Fiva A Kadi, Fiva A
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Kasus Kekerasan pada Anak Sekolah (School Bullying) Kadi, Fiva A; Fadlyana, Eddy
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.316-21

Abstract

Abstrak. School bullying atau kekerasan pada anak di sekolah adalah situasi/ keadaanyang seorang anak mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman atau kakakkelasnya berupa bentuk tindakan kekuasaan secara berulang dan intensif yangmenyebabkan nyeri atau ketidaknyamanan pada anak lain. Hal ini dapat terjadi diberbagai tingkat sekolah, mulai sekolah Taman Kanak-kanak sampai perguruan tinggi.Dilaporkan seorang anak perempuan berusia 7 tahun datang ke poli Tumbuh KembangPediatrik Sosial RS Hasan Sadikin dengan keluhan utama sering pusing pada pagi harisetiap akan pergi ke sekolah, yang mulai dirasakan dalam 3 bulan terkahir. Tidak disertaidengan keluhan demam, mual, muntah, kejang ataupun penurunan kesadaran dan tidakdidahului dengan trauma kepala. Pasien mengalami tekanan dari teman-temannya dikelasnya berupa ejekan atau perintah yang membuat penderita tidak nyaman, malaspergi ke sekolah, sering pusing jika di sekolah atau mau pergi ke sekolah, prestasi belajarmulai menurun. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien sadar dan kontak adekuat,tampak malu dan bergantung pada ibunya serta kurang percaya diri. Tidak ditemukankelainan neurologis. Pemeriksaan EEG dan CT scan dalam batas normal. Pemeriksaanpraskrining dengan KMME (kuesioner masalah mental emosional) didapatkan adanyamasalah mental emosional. Penderita dirujuk ke bagian psikiatri dan didapatkan bahwapenderita mengalami depresi. Depresi pada anak dapat disebabkan adanya kekerasanpada anak sekolah (school bullying). Penatalaksanaan harus dilakukan secarakomprehensif yang melibatkan keluarga dan lingkungan.
Kesetaraan Hasil Skrining Risiko Penyimpangan Perkembangan Menurut Cara Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP) dan Denver II pada Anak Usia 12-14 Bulan dengan Berat Lahir Rendah Kadi, Fiva A; Garna, Herry; Fadlyana, Eddy
Sari Pediatri Vol 10, No 1 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.1.2008.29-33

Abstract

Latar belakang. Penilaian perkembangan pada anak penting dilakukan, terutama sampai usia 1 tahununtuk deteksi dini, agar bila ditemukan kecurigaan penyimpangan dapat dilakukan stimulasi dan intervensidini sebelum terjadi kelainan. Depkes RI mengeluarkan revisi buku deteksi dini tumbuh kembang untukidentifikasi dini perkembangan di tingkat kecamatan berupa kuesioner praskrining perkembangan (KPSP)yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan ataupun nonkesehatan terlatih.Tujuan. Penelitian ini membandingkan kesetaraan hasil antara KPSP dan Denver II dalam mendeteksikecurigaan penyimpangan perkembangan.Metode. Penelitian dilakukan dengan metode evaluatif komparatif dan rancangan cross sectional, pada anakusia 12–14 bulan dengan berat lahir rendah di puskesmas Garuda Bandung pada bulan Februari sampaiMaret 2008. Dengan menggunakan metode KPSP skrining dilakukan oleh kader kesehatan terlatih kemudiandibandingkan dengan Denver II oleh dokter, dan dinilai kesetaraan dari dua hasil pemeriksaan tersebutmenggunakan perhitungan coefficient of agreement Kappa.Hasil. Delapan puluh lima subjek penelitian diperiksa status perkembangan oleh 10 orang kader kesehatan(dipilih random dan lolos uji inter dan intra-observer) kemudian oleh 2 dokter. Dari KPSP didapatkansebanyak 82,4% normal dan 17,6% curiga terganggu, menurut Denver II didapatkan sebanyak 77,6%normal dan 22,4% curiga terganggu. Nilai sensitifitas dan spesifisitas untuk KPSP dalam penelitian inimasing-masing adalah 95% dan 63%, dengan nilai Kappa 0,552 dan p<0,0001.Kesimpulan. Pemeriksaan KPSP setara moderate dengan Denver II dan dapat menjadi alat deteksi dini ditingkat Posyandu. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada usia dan tempat yang lebih bervariasi sertadengan jumlah kader yang lebih besar.