This Author published in this journals
All Journal Sari Pediatri
Corry Wawolumaya, Corry
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Faktor–Faktor yang Berhubungan dengan Kualitas Hidup Pasien Thalassemia Mayor di Pusat Thalassemia Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM Aji, Daniel Nugraha; Silman, Christopher; Aryudi, Citra; Cynthia, Cynthia; Centauri, Centauri; Andalia, Damara; Astari, Desi; DMP, Diah Pitaloka; Wawolumaya, Corry; Sekartini, Rini; Amalia, Pustika
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.2.2009.85-9

Abstract

Latar belakang. Transfusi darah dan terapi kelasi yang diberikan seumur hidup pada anak dengan thalassemiamayor memberikan harapan hidup yang sama dengan anak sehat. Kualitas hidup menjadi hal yang pentingdengan bertambahnya angka harapan hidup pasien thalassemia.Tujuan. Mengetahui kualitas hidup anak dengan thalassemia mayor di Pusat Thalassemia Departemen IlmuKesehatan Anak FKUI-RSCM serta faktor-faktor yang berhubungan.Metode. Penelitian menggunakan rancangan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara konsekutifpada bulan Juli 2009. Subjek penelitian adalah anak berusia 13-18 tahun di Pusat Thalassemia DepartemenIlmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM yang datang selama periode penelitian. Penilaian kualitas hidupmenggunakan kuesioner baku PedsQL yang diisi sendiri oleh subjek. Analisis data dengan metode univariatdengan tingkat kemaknaan􀀀􀁁=0,05.Hasil. Dari 97 subjek, 49 (50,5%) memiliki kualitas hidup buruk. Sebaran usia, jenis kelamin, dan pendapatanorang tua berturut-turut didapatkan pada 53 subjek (54,6%) berusia 13-15 tahun, 49 subjek (50,5%) perempuan,dan 53 subjek (54,6%) memiliki orang tua berpendapatan menengah. Kelompok suku bangsa terbanyakadalah Sunda-Sunda (32%). Perubahan fisis dialami oleh 78% subjek yang terdiri dari facies Cooley (58%),hiperpigmentasi (64%), dan perut membuncit (26%). Faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup adalahtingkat pendapatan orang tua (p=0,037), suku bangsa (p=0,019), dan tampilan facies cooley (p=0,006).Kesimpulan. Separuh anak dengan thalassemia mayor di Pusat Thalassemia RSCM (50,5%) memiliki kualitashidup yang buruk. Kualitas hidup tersebut berhubungan dengan tingkat pendapatan orang tua, suku, dantampilan facies Cooley.
Prevalensi Anemia Defisiensi Besi pada Bayi Usia 4 – 12 Bulan di Kecamatan Matraman dan Sekitarnya, Jakarta Timur Sekartini, Rini; oedjatmiko, oedjatmiko; Wawolumaya, Corry; Yuniar, Irene; Dewi, Rismala; Nycane, Nycane; D, Imam; N, Imam; Adam, Adam
Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.1.2005.2-8

Abstract

Latar belakang: prevalensi anemia defisiensi besi masih tinggi terutama pada bayi. Deteksidini terhadap anemia pada bayi terutama bayi dengan risiko tinggi sangat diperlukanuntuk mencapai tumbuh kembang optimal.Tujuan: untuk mengetahui prevalensi anemia defisiensi besi.Bahan dan cara metode: studi deskriptif belah lintang dilakukan di empat Puskesmasdi Jakarta Timur. Populasi sampel adalah bayi umur 4-12 bulan yang tinggal di wilayahKecamatan Matraman dan sekitarnya pada bulan Maret 2004. Sampling diambil denganmetode convenient, pengumpulan data dengan pengisian kuesioner oleh ibu bayi secaraterpimpin. Pengukuran di lakukan pada panjang badan, berat badan, lingkar kepalabayi. Pemeriksaan kadar hemoglobin menggunakan Hemocue®, sedangkan serum feritindiperiksa di laboratorium SEAMEO-TROPMED FKUI.Hasil: sampel terdiri dari 55 bayi, 63,6% laki-laki, 58,2% berumur 8-12 bulan, dan87,3% berasal dari keluarga dengan pendapatan per kapita per bulan rendah. Sebagianbesar berstatus gizi kurang (60%), 96,4% lahir cukup bulan, 3,6% bayi lahir denganberat badan rendah pemberian ASI ekslusif 94,5%. Diantara 55 bayi 38,2% mengalamianemia dan 71,4% bayi anemia tersebut menderita anemia defisiensi besi. Prevalensianemia defisiensi besi lebih besar pada bayi 8-12 bulan daripada bayi yang lebih muda,yaitu 73,3%.Kesimpulan: tidak didapatkan hubungan bermakna antara anemia defisiensi pada bayidengan jenis kelamin, umur, tingkat pendapatan orang tua, usia gestasi, berat lahir,pemberian ASI ekslusif, susu formula yang difortifikasi besi, dan makanan pendampingASI, serta infeksi yang diderita bayi.
Pengetahuan Sikap, dan Perilaku Ibu Terhadap Sirkumsisi pada Anak Perempuan Milasari, Dian; Tunjungsari, Dyah; Harlean, Elisa; Wonggokusuma, Erick; Adam, Faisal; Riyanto, Henry; Sekartini, Rini; Wawolumaya, Corry
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.242-5

Abstract

Latar belakang. Situasi mengenai pola sirkumsisi (sunat) perempuan di Indonesia masih belum banyak diketahui, sehingga mengakibatkan kurang pengetahuan masyarakat Indonesia. Beberapa tahun terakhir WHO telah menyatakan menentang segala bentuk medikalisasi sirkumsisi perempuan.Tujuan. Mengetahui pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu mengenai sirkumsisi pada perempuan di Jakarta.Metode. Desain penelitian cross-sectional dengan menggunakan metode convenient sampling. Data diperoleh dari kuesioner yang diisi sendiri oleh para ibu (self administered questionnaire).Hasil. Hampir seluruh responden melakukan sirkumsisi pada anak perempuan mereka 97,2% dari 106 orang responden. Agama merupakan alasan utama melakukan sirkumsisi 61,2%. Surat edaran dari Departemen Kesehatan RI mengenai larangan bagi tenaga medis untuk melakukan sirkumsisi pada anak perempuan tidak diketahui oleh sebagian besar responden (83%). Orang tua atau teman menjadi sumber yang paling berkesan untuk melakukan sirkumsisi 34%. Sedangkan dari tenaga medis, informasi yang paling berkesan datang dari perawat atau bidan 21,7%. Sebagian besar sirkumsisi dilakukan pada usia di bawah 5 tahun. Bidan merupakan pelaku sirkumsisi pada sebagian besar anak 73,9%. Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan rendah (87,7%), sikap kurang (90,6%), dan perilaku kurang (78,3%).Kesimpulan. Hampir seluruh anak perempuan responden disirkumsisi (97,1%). Mayoritas responden memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang kurang mengenai sirkumsisi pada anak perempuan (87,7%, 90,6%, dan 78,3%). Sirkumsisi dilakukan seluruhnya pada usia di bawah 5 tahun, terutama karena alasan agama. Pelaku sunat pada anak perempuan adalah bidan. Delapanpuluhtiga persen responden tidak mengetahui tentang surat edaran Departemen Kesehatan mengenai larangan medikalisasi sunat pada perempuan.