Tjipta Bahtera, Tjipta
Unknown Affiliation

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

Faktor Risiko Bangkitan Kejang Demam pada Anak Fuadi, Fuadi; Bahtera, Tjipta; Wijayahadi, Noor
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Kejang demam dapat mengakibatkan gangguan tingkah laku, penurunan nilai akademik dansangat mengkhawatirkan orang tua anak. Bila faktor risiko diketahui lebih awal dapat dilakukan pencegahansedini mungkin akan terjadinya bangkitan kejang demam pada anak.Tujuan. Membuktikan dan menganalisis faktor demam, usia, riwayat keluarga, riwayat prenatal (usia ibusaat hamil), dan perinatal (usia kehamilan, asfiksia dan berat lahir rendah) sebagai faktor risiko bangkitankejang demam pada anak.Metode. Studi kasus kontrol pada 164 anak dipilih secara consecutive sampling dari pasien yang berobat diRS. Dr. Kariadi Semarang periode bulan Januari 2008-Maret 2009. Pasien kejang demam sebagai kelompokkasus 82 anak dan demam tanpa kejang sebagai kelompok kontrol 82 anak. Pengambilan data dari catatanmedik dan dilanjutkan wawancara dengan orang tua anak.pada kunjungan rumah. Analisis data dengantes chi square dan uji multivariat regresi logistik.Hasil. Didapatkan hubungan yang bermakna antara faktor risiko dengan terjadinya bangkitan kejang demamyaitu faktor demam lebih dari 39oC dan faktor usia kurang 2 tahun.Kesimpulan. Demam lebih dari 39oC dan usia kurang dari 2 tahun merupakan faktor risiko bangkitankejang demam.
Korelasi Kadar Seng Serum dan Bangkitan Kejang Demam Iva-Yuana, Iva-Yuana; Bahtera, Tjipta; Wijayahadi, Noor
Sari Pediatri Vol 12, No 3 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Kejang demam merupakan kelainan saraf tersering pada anak. Sekitar 2%-5% anak di bawahumur 5 tahun pernah mengalami kejang demam. Prognosis kejang demam baik, namun mengkhawatirkanorang tua. Penelitian tentang hubungan kadar seng serum dengan bangkitan kejang demam belum banyakdilakukan.Tujuan. Membuktikan korelasi kadar seng serum dan bangkitan kejang demam.Metode. Penelitian kasus kontrol dengan subyek penelitian anak berumur 3 bulan-5 tahun di RS Dr.Kariadipada April 2009–Maret 2010, kelompok kasus dengan bangkitan kejang demam dan kelompok kontroldengan demam tanpa kejang. Kadar seng serum diperiksa di laboratorium GAKI FK UNDIP denganmetode atomic absorption spectrophotometry. Data dianalisis dengan uji Chi-square, korelasi Spearman,dan analisis determinan.Hasil. Subyek penelitian 72 pasien, 36 kelompok kasus dan 36 kelompok kontrol. Rerata kadar seng kelompokkasus 111,73 􀁍g/mL dan kelompok kontrol 114,56 􀁍g/mL (p=0,33). Tidak terdapat korelasi antara kadarseng serum dengan bangkitan kejang demam (r=0.114;p>0,05). Analisis determinan menunjukkan urutanbesarnya kontribusi faktor genetik (0,548), infeksi berulang (0,493), riwayat penyulit kehamilan-persalinan(0,364), suhu (0,309), gangguan perkembangan otak (0.141), kadar seng serum (-0,102), umur (-0,041)dengan confusion matrix 81,9% untuk prediksi.Kesimpulan. Rerata kadar seng serum pada bangkitan kejang demam lebih rendah dibanding tanpa kejangdemam, namun tidak bermakna. Tidak terdapat korelasi antara kadar seng serum dengan bangkitan kejangdemam. Kadar seng serum bersama faktor genetik, infeksi berulang, penyulit dalam kehamilan maupunpersalinan, suhu badan, gangguan perkembangan otak, dan umur dapat digunakan sebagai prediktorbangkitan kejang demam meskipun memiliki peranan kecil.
Faktor Genetik Sebagai Risiko Kejang Demam Berulang Bahtera, Tjipta; Wibowo, Susilo; Hardjojuwono, AG Soemantri
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.098 KB)

Abstract

Latar belakang. Sepertiga pasien kejang demam pertama mengalami bangkitan ulang kejang demam. Riwayat keluarga adalah pernah kejang demam dan mutasi gen merupakan faktor risiko bangkitan kejang demam berulang.Tujuan. Membuktikan faktor genetik sebagai risiko terjadi kejang demam berulang.Metode. Rancangan penelitian kohort prospektif. Subjek pasien kejang demam pertama, selama 18 bulan diamati terjadi bangkitan ulang kejang demam. Amplifikasi DNA dengan teknik PCR dan sequencing untuk melihat mutasi gen pada kanal ion Natrium. Pengujian hipotesis memakai regresi logistik, dan uji korelasi memakai Rank Sperman corelation.Hasil. Sepertiga pasien kejang demam pertama mengalami kejang demam berulang. Mutasi gen kanal ion Na+ SCNIA 19(61,3%) pasien, terdapat pergantian Argenin (R) oleh asam glutamat (Glu) (Arg1627Glu) (mutasi missense) dan kodon stop (TGA).(mutasi nonsense), sedangkan pada SCNIB 12(38,7%) pasien, terdapat mutasi heterozigot, yaitu kodon 130:GAA /AAA, kodon 96:CGG/TGG, kodon 138:GTC/ATC, kodon 95:AGC /ATT dan kodon:154 GCT/AAT. Ada hubungan mutasi gen dengan umur, suhu dan riwayat keluarga pernah kejang demam, saat kejang pertama. (koefisien korelasi berturut-turut –0,359; -0,339; 0,278). Riwayat keluarga pernah kejang demam dan mutasi gen berisiko 2-3 kali terjadi kejang demam berulang (RR 2.9, p<0,05 dan RR 3.556 p>0,05)Kesimpulan. Sepertiga pasien kejang demam pertama mengalami kejang demam berulang. Riwayat keluarga pernah kejang demam dan mutasi gen merupakan faktor risiko kejang demam berulang. Terdapat hubungan mutasi gen dengan umur, suhu dan riwayat keluarga pernah kejang demam, saat kejang pertama
Hubungan Kadar Seng (Zn) dan Memori Jangka Pendek pada Anak Sekolah Dasar Huwae, Frans J.; Bahtera, Tjipta; Sakti, Hastaning
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Seng (Zn) berperan dalam proses regulasi pelepasan neurotransmitter, termasuk mekanisme N- methyl D aspartat (NMDA) yang akan membentuk memori.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan kadar seng dengan memori jangka pendek pada anak kelas 1 sekolah dasar.Metode. Penelitian observasional eksploratif analitik terhadap murid kelas satu Sekolah Dasar di Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Purwodadi, dipilih secara acak pada bulan Juli 2004. Kriteria eksklusi apabila dijumpai anak dengan riwayat kelainan kongenital, menderita epilepsi, kelainan pada salah satu indra, gangguan fungsi motorik pada ekstremitas atas, mendapat pengobatan fenobarbital dan phenytoin jangka panjang, sedang batuk, pilek, atau panas. Sampel diambil dari rambut untuk pemeriksaan seng (Zn) di Laboratorium Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada Jogjakarta, kadar Hb, feritin, dan kalsium plasma diperiksa di Laboratorium GAKY RS Dr. Kariadi, Semarang. Pemeriksaan memori menggunakan digit span forward, digit span backward, dan picture search.Hasil. Subjek penelitian adalah 111 anak kelas satu sekolah dasar terdiri 70 anak laki-laki (63,1%) dan 41 anak perempuan (36,9%). Terdapat hubungan sangat bermakna derajat kuat antara seng rambut dengan skor digit-span forward (p=0,002), backward (p=0,001), dan skor picture search (p=0,003). Kadar seng, Hb, dan ferritin plasma secara bersama-sama mempengaruhi memori jangka pendek sebesar 38–54%.Kesimpulan. Terdapat hubungan bermakna antara kadar seng (Zn) dengan memori jangka pendek pada anak sekolah dasar. 
Hubungan antara Gangguan Tidur dengan Gangguan Mental Emosional Anak Usia 4-6 Tahun di Semarang Lukmasari, Adriana; Hartanto, Fitri; Bahtera, Tjipta; Muryawan, Muhammad Heru
Sari Pediatri Vol 18, No 5 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Tidur adalah salah satu kebutuhan dasar untuk mendukung tumbuh kembang anak. Diagnosis dini gangguan tidur masih asing bagi orang tua karena pengetahuan tentang kualitas tidur yang kurang. Gangguan tidur dikaitkan dengan regulasi emosional otak.Tujuan. Menentukan hubungan antara gangguan tidur dan mental emosional pada anak usia 4-6 tahun di Semarang.Metode. Penelitian cross sectional pada anak usia 4-6 tahun sekolah taman kanak-kanak di Kota Semarang dari bulan April-Mei 2016 berdasarkan kriteria inklusi. Cluster sampling dilakukan dalam seleksi mata pelajaran. Gangguan skala tidur untuk anak sleep disturbances scale for children (SDSC) digunakan sebagai alat skrining, sementara perkembangan emosi dan tingkah laku anak digunakan SDQ. Data dianalisis dengan menggunakan SPSS 22, chi-square, dan Fisher exact dengan signifikansi p<0,05.Hasil. Didapat 208 subyek dengan prevalensi gangguan tidur 73,6%. Terdapat hubungan yang signifikan dari gangguan tidur dengan jumlah SDQ skor (RP 2,3, IK95%: 1,1-4,7; p=0,02), skor emosional (RP 2,7, IK95%: 1,3-5,5; p=0,003) dan melakukan skor (RP 1,8, IK95%: 1,1-2,8; p=0,005). Tidak terdapat hubungan yang signifikan dari gangguan tidur pada hiperaktif, masalah dengan teman sebaya, dan perilaku prososial. Kategori pendapatan orang tua, tingkat pendidikan ibu, dan jenis kelamin tidak terbukti sebagai faktor perancu.Kesimpulan. Terdapat hubungan antara gangguan tidur dan masalah mental emosional dalam 4-6 tahun anak.
FAKTOR RISIKO STATUS EPILEPTIKUS KONVULSIVUS SEBAGAI PREDIKTOR BANGKITAN STATUS EPILEPTIKUS KONVULSIVUS Hardaningsih, Galuh; Bahtera, Tjipta
Media Medika Muda Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background:Convulsive status epilepticus (CSE) is the most common childhood medical neurological emergencies, and is associated with significant morbidity and mortality. Clinico-epidemiologic characteristics and etiology of children with seizure have been emphasized as risk factors for CSE. Objective: To define the role of body temperature at onset of seizure, duration of seizure, central nervous system (CNS) infection, metabolic disorder, increased intracranial pressure, sepsis, anemia and moderate malnutrition as a predictor of CSE.Methods: The medical records of children aged between six months and 5 years with the diagnosis of CSE who were admitted to Kariadi Hospital from anuary 1st 2007 to December 31st2012 were retrospectively reviewed. In this case control study involved 80 children with CSE. Risk factors were analyzed with an odds ratio (95% confidence interval (CI)) and discriminant analysis.Results: The mean age of subjects in the case group 17.46 (SD 1.72) and in the control group 17.74 (SD 1.73) months (p > 0.05). Duration of seizure  (OR 4.74; 95%CI 2.41-9.33), temperature at onset of seizure (OR 2.5; 95%CI 1.32-4.72), CNS infection (OR 4.36; 95%CI 2.24-8.47), metabolic disorder (OR 2.18; 95%CI 1.09-4.35), increased intracranial pressure (OR 2.63; 95%CI 1.33-5.17), sepsis (OR 2.51; 95%CI 1.33-4.76), anemia (OR 3; 95%CI 1.54-5,86) and moderate malnutrition (OR 2.14; 95%CI 1.08-4.23) were risk factors for CSE in children with seizure (p<0.05). Multivariate discriminant analysis showed that the probability of had a child with those risk factors for developing into CSE was 73%.Conclusion: Duration of seizure, temperature at onset of seizure, CNS infection, metabolic disorder, increased intracranial pressure, sepsis, anemia and moderate malnutrition are risk factors for CSE which can be used as a predictor of CSE in children with seizure.Keywords: Convulsive status epilepticus, a risk factor
sTfR Sebagai Faktor Risiko Bangkitan Kejang Demam Khanis, Abdul; Bahtera, Tjipta; Wijayahadi, Noor
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2010:MMI VOLUME 44 ISSUE 3 YEAR 2010
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.316 KB)

Abstract

sTfR parameter as a risk factor of febrile seizuresBackground: Febrile seizures is the most often neurologic disorder in children and 2%-5% children under 5 years old have experienced febrile seizures. Prognosis of febrile seizures is good, however the seizure brings serious worries to the parents. Iron deficiency as a risk factor of febrile seizures is still controversial.Objective: To analyze iron deficiency with serum transferrin receptor (sTfR) parameter as a risk factor of febrile seizures in children.Method: Study design was case control with subjects 72 children aged 3 months – 5 years in Dr. Kariadi hospital on August 2009 – January 2010, 36 children with febrile seizures as case group and 36 children with febrile with no seizure as control group. Clinical data and blood sampling were recorded from study subjects for sTfR level measurement. Risk factors were analyzed with odds ratio (95% confidence interval) and multivariate logistic regression.Results: Mean sTfR level was 6.2 μg/mL (2.6-6.8) in case group and 2.0 μg/mL (1.8-2.3) in control group. Multivariate analysis showed iron deficiency with sTfR parameter was significantly as a risk factor for febrile seizures (p<0.001; OR=25.1; 95%CI 5.1-122.6). sTfR level could be used as febrile seizures indicator with sTfR level cut-off point was 2.55 μg/ml. Conclusion: sTfR parameter can be used is a risk factor for febrile seizures. ABSTRAKLatar belakang: Kejang demam merupakan kelainan saraf tersering pada anak dan 2%-5% anak di bawah umur 5 tahun pernah mengalami kejang demam. Prognosis kejang demam baik, namun cukup mengkhawatirkan bagi orang tuanya. Defisiensi besi sebagai faktor risiko bangkitan kejang demam masih kontroversial. Tujuan penelitian ini menganalisis defisiensi besi dengan parameter serum transferrin receptor (sTfR) sebagai faktor risiko bangkitan kejang demam pada anak.Metode: Penelitian kasus kontrol ini dengan subyek penelitian 72 anak berumur 3 bulan sampai 5 tahun di RSUP Dr. Kariadi pada Agustus 2009 – Januari 2010, 36 anak kelompok kasus dengan bangkitan kejang demam dan 36 anak kelompok kontrol dengan demam tanpa kejang. Subyek penelitian dicatat data klinis dan pengambilan darah untuk diperiksa kadar sTfR. Faktor risiko dianalisis dengan rasio odds (95% interval kepercayaan) dan multivariat regresi logistik.Hasil: Rerata kadar sTfR pada kelompok kasus 6,2 μg/mL (2,6-6,8) dan kelompok kontrol 2,0 μg/mL (1,8-2,3). Analisis multivariat menunjukkan defisiensi besi dengan parameter sTfR secara bermakna merupakan faktor risiko bangkitan kejang demam (p<0,001; OR=25,1; 95%CI 5,1-122,6). Kadar sTfR dapat dipergunakan sebagai indikator bangkitan kejang demam dengan cut-off point kadar sTfR adalah 2,55 μg/mL.Simpulan: Parameter sTfR merupakan faktor risiko bangkitan kejang demam.
Early Ditection of Central Nervous System Infection by C-reactive Protein Examination of Cerebrospinal Fluid Bahtera, Tjipta; Arsana, Bagus Putu Ngurah; Lidwina, Maria
Paediatrica Indonesiana Vol 32 No 5-6 (1992): May 1992
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.157 KB)

Abstract

There are still many cases of bacterial meningitis in Indonesia. The highest morbidity rate are between 2 months until 2 years of age. The important factors that influence the success of treatment are early diagnosis and detection of the cause. C-reactive protein (=CRP) could be found in the spinal fluid of meningitis patients. The aim of this study is to judge the ability of CRP as a tool in making diagnosis as soon as possible whether there is a bacterial infection of the central nervous system and to compare it with the result of the spinal fluid culture. Also to compare the ability of it a conventional or routine examination of the spinal fluid was done. This was a prospective study on 30 children that were admitted in the child ward of Kariadi Hospital, Semarang during the first of April until the and of july 1990. The ages of the children were between one month until 14 years, with clinical symptoms such as fever, seizure and neurological disorders. CRP examination was done with Latex Agglutination method. The result of CRP examination on spinal fluid showed that the sensitivity was 91.6% , the specificity 94.4% , the positive prediction value 91.6% and the negative prediction value 94.4%. As a conclusion, CRP examination of spinal fluid gives better results than the conventional or routine examination in distinguishing bacterial meningitis from non bacterial meningitis.
Neurological Sequalae in Survivors of Perinatal Asphyxia Bahtera, Tjipta; Suroso, Santoso; Darmanto, Bambang
Paediatrica Indonesiana Vol 32 No 7-8 (1992): July 1992
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.108 KB)

Abstract

Perinatal asphyxia is the most common cause of either death or severely handicapped survivors. Perinatal asphyxia can be identified by one, five, ten minutes APGAR scores less than 7. Prolonged asphyxia produce hypoxemia, acidosis, hypercapnia, thus diminishing cerebral blood flow, which in turn results in clinical patterns of Hypoxic - Ischemic Encephalopathy (HIE). The atm of this study was to evaluate the accuracy of clinical observation on newborn asphyxia to predict the presence of neurological deficits connected with blood gas analysts investigation. Thirty eight newborn babies who bad APGAR scores of less than 7 as an asphyctic newborn baby group compared with an equal number of normal babies as control group. Physical and neurological examinations were performed immediately after birth and at six months of age. Two of the 38 infants who bad perinatal asphyxia died several hours after birth. Two of the 31 of the surviving infants with a historical of perinatal asphyxia bad cerebral palsy. One of the two babies with cerebral palsy bad epilepsy. Twenty nine of the 31 of the surviving infants with a history of perinatal asphyxia with or without mild HIE showed normal neurological outcomes. All of the normal newborn babies as control showed normal neurological outcome. One infant with cerebral palsy and one infant who bad cerebral palsy with epilepsy bad a history of a severe degree of HIE and moderate degree of Hm with neonatal convulsion respectively. One of the 2 infants with cerebral palsy bad severe hypoxia and none on the infants with normal neurological outcome exhibited Pa02 less than 50 mmHg. There were no significant differences ( p &gt; 0.05) of the Pa02 PH and base deficit between the infants with a history of asphyxia and with a history of a vigorous baby, who bad a normal outcome. We concluded that postasphyxia encephalopathy was more accurate than a low APGAR score in predicting an adverse outcome, and the value of the Pa02 very important in predicting an encephalopathy.