0.729
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Sari Pediatri Paediatrica Indonesiana
Articles
7
Documents
Lactate profiles of pediatric shock patients in Cipto Mangunkusumo General Hospital 2015: a pilot study

Paediatrica Indonesiana Vol 57 No 1 (2017): January 2017
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background The 2015 Surviving Sepsis Campaign (SSC) guidelines for management of shock recommend blood lactate to assess the success of resuscitation in shock. However, a study in adults found that 1/3 of septic shock patients had normal lactate levels (alactatemia) and lower mortality rates.Objective To evaluate lactate profiles, possible factors affecting lactate levels, and mortality outcomes in pediatric shock patients in the emergency room (ER) and pediatric intensive care unit (PICU).Methods This was a retrospective study on pediatric shock patients aged 1 month to 18 years in the ER or PICU  from June 2014 to December 2015. Data were taken from subjects’ medical records including lactate levels, examination data required to calculate a PELOD score, and mortality outcomes.Results Of 223 shock patients evaluated, only 92 cases (41.2%) underwent lactate examinations. Of these, 59 (64.1%) had alactatemia and 33 (35.9%) had hyperlactatemia. A total of 23.7% of the alactatemia group and 36.4% of the hyperlactatemia group died, thus, the initial lactate level was not significantly associated with patient outcomes (P=0.197). The mortality rates of patients with <10% and ³10% lactate clearance were 31.3% and 17.6%, respectively (P=0.362).Conclusion In alactatemia patients, lactate level can not be used as a goal for resuscitation. Further study is needed to find a biomarker for assessing the success of pediatric shock resuscitation. Moreover, the clinical relevance of alactatemia is uncertain in pediatric shock patients.

Perbandingan Full Outline of Unresponsiveness Score dengan Glasgow Coma Scale dalam Menentukan Prognostik Pasien Sakit Kritis

Sari Pediatri Vol 13, No 3 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Penilaian kesadaran penting dilakukan pada pasien anak dengan sakit kritis untuk memperkirakanprognosis. Modifikasi Glasgow Coma Scale (GCS) banyak digunakan untuk menilai kesadaran tetapi memilikiketerbatasan terutama pada pasien yang diintubasi. Terdapat skor alternatif baru yaitu Full Outline ofUnResponsiveness score (FOUR score) yang dapat digunakan untuk menilai kesadaran pasien terintubasi.Tujuan. Membandingkan FOUR score dengan GCS dalam menentukan prognosis pasien kritis, sehinggapemeriksaan FOUR score dapat digunakan sebagai alternatif pengganti GCS.Metode. Penelitian prospektif observasional pada anak usia di bawah 18 tahun yang dirawat di Unit PerawatanIntensif Anak RSCM dengan penurunan kesadaran. Waktu penelitian antara 1 Januari – 31 Maret 2011.Masing-masing subjek dinilai oleh 3 orang supervisor berbeda yang bekerja di Unit Perawatan Intensif Anak.Ketiga penilai diuji reliabilitas dalam menilai FOUR score dan GCS. Dibandingkan sensitivitas, spesifisitas, danreceiver operating characteristic (ROC) kedua sistem skor terhadap luaran berupa kematian di rumah sakit.Hasil. Reliabilitas tiap pasangan untuk FOUR score (FOUR 0,963; 0,890; 0,845) lebih baik daripadamodifikasi GCS (GCS 0,851; 0,740; 0,700). Terdapat hubungan yang bermakna antara besar skor danluaran kematian di rumah sakit dengan (pFOUR score = pGCS = 0,001). Nilai sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksipositif dan negatif serta rasio kemungkinan positif masing-masing adalah 93%; 86%; 88%; 92%; 6,6. Areaunder curve (AUC) FOUR score 0,854 dan GCS 0,808Kesimpulan. Prediksi prognostik pada pasien yang dirawat di Unit Perawatan Intensif Anak dengan FOURscore lebih baik dibandingkan GCS.

Evaluasi Penggunaan Antibiotik dengan Kartu Monitoring Antibiotik Gyssens

Sari Pediatri Vol 14, No 6 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang.Masalah infeksi yang sering ditemui di ICU anak, disebabkan berbagai pemakaian antibiotik. Peningkatan penggunaan antibiotik diikuti dengan risiko penurunan kepekaannya sehingga perlu pengendalian pemakaiannya.Tujuan.Evaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif di Pediatric Intensive Care Unit(PICU) dengan menggunakan alur Gyssens.Metode.Uji potong lintang retrospektif dengan mengevaluasi penggunaan antibiotik melalui kartu monitoring serta dilakukan analisis dengan alur Gyssens di PICU dari tanggal 10 Februari 2012 sampai 31 Juli 2012.Hasil.Selama kurun waktu 5 bulan, 233 pasien dirawat di ICU Anak RS. Cipto Mangunkusumo Jakarta dan 45 (19,3%) pasien menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik terbanyak pada kelompok umur 1 bulan sampai 1 tahun. Pada 83 penggunaan antibiotik, 64 antibiotik dipakai sebagai terapi empiris, 11 definitif, dan 8 profilaksis. Lima antibiotik terbanyak yang digunakan adalah sefotaksim, amikasin, piperasilin tazobaktam, meropenem, dan metronidazol. Penggunaan antibiotik yang tepat (alur Gyssens kategori I) didapatkan pada 53% pasien yang dirawat di PICU.Kesimpulan. Penggunaan antibiotik dengan justifikasi yang tepat dapat diterapkan dan diharapkan dapat menurunkan resistensi antibiotik, mengurangi beban biaya pasien serta meningkatkan kualitas pelayanan pasien di ICU Anak. Selain itu, diperlukan pelatihan pengambilan spesimen yang tepat secara berkala, serta dihimbau untuk mengisi formulir antibiotik secara tepat dan benar.

Prevalensi Anemia Defisiensi Besi pada Bayi Usia 4 – 12 Bulan di Kecamatan Matraman dan Sekitarnya, Jakarta Timur

Sari Pediatri Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: prevalensi anemia defisiensi besi masih tinggi terutama pada bayi. Deteksidini terhadap anemia pada bayi terutama bayi dengan risiko tinggi sangat diperlukanuntuk mencapai tumbuh kembang optimal.Tujuan: untuk mengetahui prevalensi anemia defisiensi besi.Bahan dan cara metode: studi deskriptif belah lintang dilakukan di empat Puskesmasdi Jakarta Timur. Populasi sampel adalah bayi umur 4-12 bulan yang tinggal di wilayahKecamatan Matraman dan sekitarnya pada bulan Maret 2004. Sampling diambil denganmetode convenient, pengumpulan data dengan pengisian kuesioner oleh ibu bayi secaraterpimpin. Pengukuran di lakukan pada panjang badan, berat badan, lingkar kepalabayi. Pemeriksaan kadar hemoglobin menggunakan Hemocue®, sedangkan serum feritindiperiksa di laboratorium SEAMEO-TROPMED FKUI.Hasil: sampel terdiri dari 55 bayi, 63,6% laki-laki, 58,2% berumur 8-12 bulan, dan87,3% berasal dari keluarga dengan pendapatan per kapita per bulan rendah. Sebagianbesar berstatus gizi kurang (60%), 96,4% lahir cukup bulan, 3,6% bayi lahir denganberat badan rendah pemberian ASI ekslusif 94,5%. Diantara 55 bayi 38,2% mengalamianemia dan 71,4% bayi anemia tersebut menderita anemia defisiensi besi. Prevalensianemia defisiensi besi lebih besar pada bayi 8-12 bulan daripada bayi yang lebih muda,yaitu 73,3%.Kesimpulan: tidak didapatkan hubungan bermakna antara anemia defisiensi pada bayidengan jenis kelamin, umur, tingkat pendapatan orang tua, usia gestasi, berat lahir,pemberian ASI ekslusif, susu formula yang difortifikasi besi, dan makanan pendampingASI, serta infeksi yang diderita bayi.

Pemberian Nutrisi pada Pasien dengan Penyakit Kritis di Ruang Perawatan Intensif Anak RS. Cipto Mangunkusumo

Sari Pediatri Vol 16, No 4 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Anak yang dirawat di PICU (pediatric intensive care unit) Anak cenderung untuk mengalamimalnutrisi sejak masuk atau selama perawatan. Hal ini akan memperberat penyakit dasar dan komplikasinya,memperpanjang lama rawat, serta meningkatkan mortalitas. Perhitungan kebutuhan kalori yang tepat sertapemberian nutrisi yang adekuat dan sesuai merupakan target perawatan anak di PICU. Baik underfeedingataupun overfeeding dapat terjadi di PICU Anak selama perawatan.Tujuan. Mengetahui status gizi awal pasien masuk PICU Anak, pola pemberian nutrisi, serta faktor yangmemengaruhi pemberian nutrisi pada anak yang di PICU.Metode. Penelitian potong lintang dengan menggunakan data rekam medis pasien yang dirawat di PICUAnak dalam kurun waktu 3 bulan. Didapatkan 45 subjek ikut serta. Dari 45 data pasien didapatkan 127peresepan untuk menilai keseuaian peresepan dengan pemberian nutrisi pada pasien.Hasil. Penelitian ini mendapatkan 47,8% pasien malnutrisi saat awal masuk PICU Anak, 8,7% mengalamiobesitas. Pada hari kedua perawatan, 41,3% pasien mulai mendapat nutrisi. Underfeeding terjadi padapemberian kalori, protein, dan lemak. Selain itu, 44,9% underfeeding terjadi karena perdarahan salurancerna.Kesimpulan. Pemberian nutrisi pada pasien yang dirawat di PICU Anak merupakan hal yang sangat penting.Perlu perhitungan kebutuhan nutrisi yang cermat, pemberian nutrisi tepat yang sesuai kebutuhan pasienagar tidak terjadi malnutrisi yang lebih berat lagi.

Validitas Stroke Volume Variation dengan Ultrasonic Cardiac Output Monitor (USCOM) untuk Menilai Fluid Responsiveness

Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Stroke volume variation (SVV) adalah parameter hemodinamik untuk menilai fluid responsiveness. Pengukuran SVV dapat dilakukan dengan USCOM yang merupakan alat pemantauan hemodinamik non invasif berbasis ekokardiografi Doppler.Tujuan. Mengetahui nilai cut-off point (titik potong optimal) SVV dengan USCOM sebagai prediktor fluid responsiveness pada pasien dengan ventilasi mekanik.Metode. Penelitan dilaksanakan di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dan Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan menggunakan peningkatan stroke volume (SV) setelah challenge cairan ringer laktat 10 mL/kg berat badan selama 15 menit sebagai indek. Subyek penelitian adalah pasien dengan usia ≥1 bulan dan ≤18 tahun yang menggunakan ventilasi mekanik. Peningkatan nilai SV ≥10% disebut responder dan <10% disebut non responder. Pengukuran SV dengan USCOM dilakukan sebelum dan setelah fluid challenge, dan pengukuran SVV dilakukan sebelum challenge cairan.Hasil. Terdapat 32 subyek ikut serta dalam penelitian. Area under curve (AUC) subyek ventilasi mekanik adalah 76,6% (IK95%:60,1%-93,1%), p<0,05. Titik potong optimal SVV adalah 30%, dengan sensitivitas 72,7% dan spesisifitas 70%.Kesimpulan. Ultrasonic cardiac output monitor (USCOM) memiliki validitas yang baik untuk menilai SVV pada pasien dengan ventilasi mekanik. 

The influence of stressor on blood pressure in school children

Paediatrica Indonesiana Vol 43 No 2 (2003): March 2003
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.648 KB)

Abstract

Background Physical and psychological stress such as child anxi-ety, can increase blood pressure.Objective To evaluate the role of vein puncture as a stressor caus-ing alteration of blood pressure in school children.Methods This study was a descriptive, pre and post test study asa part of a screening study on primary school children at Cibubursubdistrict in East Jakarta. Blood pressure was measured beforeand after a vein puncture procedure in 449 children. Nine childrenwere excluded because of incomplete data.Results The increase of systolic blood pressure was found in 121(27.5%) subjects, decrease in 42 (9.5%), and no change in 227(63%). Diastolic blood pressure increased in 123 (28.0%) subjects,decreased in 38 (8.6%), and did not change in 279 (63.4%). Theincrease of both systolic and diastolic blood pressure was found in61 (13.8%), increased systolic with no change of diastolic in 58(13.2%), and increased systolic with decreased diastolic in 2 (0.5%)children. Decreased systolic with increased diastolic was found in2 (0.5%) subjects, decreased systolic with no change of diastolicin 26 (5.9%), and decrease of both systolic and diastolic in 14 (3.2%)children. No changes in both systolic and diastolic blood pressurewere found in 195 (44.3%); no change in systolic with decreaseddiastolic blood pressure was found in 22 (5.0%) children.Conclusion In most of the school children, vein puncture proce-dure did not cause alteration on blood pressure