M Sakundarno, M
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Hipertensi pada Obesitas Masa Anak

MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2010:MMI VOLUME 44 ISSUE 1 YEAR 2010
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.624 KB)

Abstract

Background: The prevalence of obesity in children increased rapidly in recent years. One of the comorbidity of obesity is the premature onset of cardiovascular risk factors such as hypertension. The objective of the study is to describe the relationship between obesity and the elevated of blood pressure in children.Method: The population for this cross-sectional study was students in one of the junior high school in Semarang with the mean age of 13.5 years. The anthropometric and blood pressure data were taken in 2006. BMI was measured with bioelectrical impedance analysis (BIA) Omron Karada Scan and classified based on International Obesity Task Force according to CDC 2000 graphs. The blood pressure was measured by using Omron Digital type SEM-1 and classified based on national high blood pressure education program (NHBPEP). Anova, Spearman correlation and chi-square test were performed to analyze the data.Result: Of 1.129 students (50.7% boys and 49.3% girls), 185 (16.4%) were overweight and 160 (14.2%) were obese. Hypertension was detected in 304 students (26.9%). There were significant correlation between systolic blood pressure with BMI (r=0.466) and diastolic blood pressure with BMI (r=0.337). The risk to hypertension in overweight was 2.8 times greater (OR=2.79; 95% CI 1.97-3.96 p<0.001) and in obesity was 6.6 times greater (OR=6.61; 95% CI 4.59-9.52 p0.001) than normoweight children. Chinese race has 1.4 times greater risk to have hypertension than native Indonesian children.Conclusion: Overweight and obeis children have greater risk for hypertension than normal children. AbstrakLatar belakang: Prevalensi obesitas pada anak meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu komorbiditas obesitas yang terjadi sejak dini adalah penyakit kardiovaskuler seperti hipertensi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara obesitas dengan peningkatan tekanan darah pada anak.Metode: Desain penelitian adalah belah lintang dengan populasi adalah siswa sebuah SLTP di kota Semarang dengan rerata umur 13,5 tahun. Pengambilan data antropometri dan tekanan darah dilakukan tahun 2006. Indeks massa tubuh (IMT) diukur Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) Omron Karada Scan dan status gizi ditetapkan berdasarkan kriteria International Obesity Task Force dengan memakai grafik CDC 2000. Tekanan darah diukur dengan Omron Digital type SEM-1 dan ditetapkan berdasarkan klasifikasi National High Blood Pressure Education Program (NHBPEP), dinyatakan hipertensi bila tekanan darah >persentil ke-90. Data dianalisis dengan Anova, Spearman correlation dan chi-square. Hasil: Dari 1.129 siswa (50,7% laki-laki dan 49,3% perempuan), 185 (16.4% adalah gizi lebih dan 160 (14,2%) obesitas. Didapatkan 304 siswa (26,9%) dengan hipertensi. Terdapat korelasi signifikan antar IMT dengan tekanan darah sistolik (r=0,466) dan tekanan darah diastolik (r=0,337). Risiko untuk terjadi hipertensi meningkat 2,8 kali (OR=2,79; 95% CI 1,97-3,96 p<0,001) pada anak dengan gizi lebih dan 6,6 kali (OR=6,61; 95% CI 4,59-9,52 p0,001) pada anak dengan obesitas. Ras Tionghoa mempunyai risiko 1,4 kali lebih tinggi untuk terjadi hipertensi dibandingkan pribumi.

Dampak Lama Fototerapi Terhadap Penurunan Kadar Bilirubin Total pada Hiperbilirubinemia Neonatal

Sari Pediatri Vol 10, No 3 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Fototerapi dapat menurunkan kadar bilirubin total namun lama pemberian fototerapi masih belum jelas. Fototerapi di RS dr Kariadi biasanya dilakukan selama 12-24 jam berturut-turut tanpa memandang kadar bilirubin total awal.Tujuan. Menganalisis perbedaan rata-rata penurunan kadar bilirubin total dalam 6 jam, 12 jam, 18 jam, dan 24 jam setelah pemberian fototerapi.Metode. Penelitian kuasi eksperimental pada 40 neonatus hiperbilirubinemia, dibagi 4 kelompok (kelompok I: bilirubin total 13-15 mg/dL, fototerapi 6 jam; kelompok II: 16-17 mg/dL, fototerapi 12 jam; kelompok III: 18-20 mg/dL, fototerapi 18 jam dan kelompok IV: >20 mg/dL, fototerapi 24 jam), menggunakan 4 buah lampu biru khusus fluoresen (Philips TL52/20W), dengan jarak 50 cm. Keadaan hemolitik dan ASI merupakan variabel perancu yang mempengaruhi efek fototerapi. Uji Wilcoxon signed ranks test digunakan untuk menganalisa perbedaan rerata penurunan kadar bilirubin total terhadap lamanya fototerapi.Hasil. Tidak terdapat perbedaan bermakna penurunan kadar bilirubin total pada kelompok II dan III (p>0,05), sebaliknya ada perbedaan bermakna penurunan kadar bilirubin total pada kelompok IV (p<0,05). Setelah enam jam penurunan kadar bilirubin total terbesar terjadi pada kelompok IV (4,83±2,42 mg/dL). Pada akhir fototerapi, penurunan kadar bilirubin total pada kelompok I, II, III, dan IV adalah 3,14±1,86 mg/dL, 4,89±1,82 mg/dL, 7,96±1,94 mg/dL, dan 13,41±3,27 mg/dL. Tidak ada perbedaan bermakna kadar bilirubin total setelah fototerapi antara kelompok berdasarkan gambaran hemolitik atau pemberian ASI.Kesimpulan. Rerata penurunan kadar bilirubin total secara berurutan terdapat pada kadar bilirubin total >20mg/dL yang diberikan fototerapi selama 24 jam.