Arwin AP Akib, Arwin AP
Unknown Affiliation

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

Berbagai Teknik Pemeriksaan untuk Menegakkan Diagnosis Penyakit Alergi Sudewi, Ni Putu; Kurniati, Nia; Suyoko, EM Dadi; Munasir, Zakiudin; Akib, Arwin AP
Sari Pediatri Vol 11, No 3 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka kejadian penyakit alergi makin meningkat selama tigapuluh tahun terakhir dan tidak jarang mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan mengganggu tumbuh kembang anak. Faktor herediter merupakan penyebab terpenting terjadinya penyakit alergi namun paparan lingkungan, infeksi, dan kondisi psikis juga sering kali menjadi faktor pencetus. Tata laksana utama penyakit alergi adalah tindakan pencegahan terhadap alergen penyebab namun tidak jarang alergen penyebab sulit diidentifikasi hanya berdasarkan pada anamnesis. Disamping itu banyak pula kasus alergi dengan gejala menyerupai penyakit lain, maka diperlukan pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan diagnosis dan menentukan alergen penyebab.
Terapi Antiretroviral Lini Kedua pada HIV Anak di RS. Cipto Mangunkusumo Muktiarti, Dina; Akib, Arwin AP; Munasir, Zakiudin; Kurniati, Nia
Sari Pediatri Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Akses terhadap terapi antiretroviral (ARV) semakin mudah saat ini dan membuat angka harapan hidup anak terinfeksi HIV semakin panjang. Dalam penanganan jangka panjang anak terinfeksi HIV, salah satu masalah baru yang timbul adalah gagal terapi dan resistensi obat. Tujuan. Menilai karakteristik pasien anak terinfeksi di RS. Cipto Mangunkusumo yang menggunakan terapi ARV lini kedua dan indikasi penggantian ke terapi ARV lini kedua.Metode. Penelitian kohort pasien anak terinfeksi HIV di RS Cipto Mangunkusumo sejak tahun 2002. Kriteria inklusi adalah pasien anak terinfeksi HIV yang berobat di RS Cipto Mangunkusumo sejak tahun 2002 sampai April 2012 dan menggunakan salah satu obat antiretroviral lini kedua. Data yang diambil adalah data demografis, kada CD4, jumlah virus, stadium klinis, dan kombinasi terapi ARV.Hasil. Empatratus empat pasien anak terinfeksi HIV dan 44 (10,9%) menggunakan terapi antiretroviral lini kedua. Sebagian besar (59,1%) gagal terapi adalah kombinasi antara kegagalan virologi, imunologis, dan klinis. Median usia saat memulai terapi ARV lini kedua 69 (26-177) bulan. Median lama subyek menggunakan terapi ARV lini pertama 9 (13-176) bulan. Seluruh subyek penelitian menggunakan lopinavir/ritonavir sebagai salah satu obat ARV lini kedua dengan kombinasi terbanyak adalah didanosin, lamivudin, dan lopinavir/ritonavir (40,9%). Efek samping didapatkan pada 2 pasien akibat abacavir. Sebagian besar subyek (19/25) yang diperiksa jumlah virus pada 6-12 sesudah menggunakan ARV lini kedua mempunyai hasil tidak terdeteksi.Kesimpulan. Jumlah pasien yang menggunakan terapi ARV lini kedua tidak terlalu banyak karena deteksi kegagalan terapi masih lebih banyak berdasarkan kegagalan klinis dan imunologis.
Karakteristik Densitas Tulang Anak dengan Hiperplasia Adrenal Kongenital yang Mendapat Terapi Glukokortikoid Widodo, Ariani Dewi; Batubara, Jose R. L.; Ifran, Evita B.; Akib, Arwin AP; Pardede, Sudung O.; Setyanto, Darmawan B.
Sari Pediatri Vol 12, No 5 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.408 KB)

Abstract

Latar belakang. Anak dengan hiperplasia adrenal kongenital (HAK) mendapat terapi glukokortikoid seumurhidup. Penggunaan glukokortikoid jangka panjang diketahui dapat menyebabkan penurunan densitas mineraltulang (DMT), namun pada anak HAK terapi tersebut bersifat substitusi. Belum diketahui karakteristikDMT pada anak HAK di Indonesia.Tujuan. Mengetahui karakteristik densitas tulang anak dengan HAK yang mendapat terapiglukokortikoid.Metode. Uji potong lintang deskriptif dilakukan di Poliklinik Endokrinologi Departemen Ilmu KesehatanAnak RSUPN Cipto Mangunkusumo selama November 2008-April 2010. Subjek adalah anak HAK yangmendapat terapi glukokortikoid teratur lebih dari 6 bulan. Pada setiap subjek dilakukan pencatatan data danpemeriksaan DMT menggunakan dual energy x-ray absorptiometry (DEXA) di Klinik Teratai RSUPNCM.Hasil. Tigapuluh dua subjek, 25 perempuan dan 7 lelaki, 18 dengan HAK tipe virilisasi sederhana dan 14tipe salt-losing, diikutsertakan dalam penelitian, median usia 6 tahun. Diagnosis 24 subjek ditegakkan padausia <1 tahun, tipe salt-losing terdiagnosis pada usia lebih muda. Semua subjek memiliki status gizi baikhingga obesitas, dan 29/32 subjek memiliki status pubertas sesuai usia. Semua pasien HAK mendapat terapiglukokortikoid teratur sejak saat diagnosis, dengan median dosis 17,7 mg/m2/hari atau 3,8 gram dalam 6bulan terakhir, dan rerata lama pengobatan 7,7 tahun. Terapi mineralokortikoid pada subjek dengan mediandosis 50 mcg/hari. Ditemukan DMT normal pada 24/32 subjek, 7 osteopenia, dan 1 osteoporosis. Delapandi antara pasien dengan DMT normal, memiliki Z-score >+1. Rerata Z-score DMT L1-L4 subjek +0,29 (SB1,46). Terdapat korelasi lemah antara DMT dengan dosis kumulatif glukokortikoid enam bulan terakhir(r= -0,36; p=0,04), dan tidak ditemukan korelasi dengan dosis glukokortikoid/LPB/hari (r= -0,29; p=0,11)maupun dengan durasi terapi (r= -0,07; p=0,69).Kesimpulan. Sebagian besar anak HAK yang mendapat terapi substitusi glukokortikoid memiliki DMTnormal. Terdapat korelasi lemah antara DMT dengan dosis kumulatif glukokortikoid enam bulan terakhir,sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan durasi dosis kumulatif yang berbeda-beda.
Profil Kasus Artritis Idiopatik Juvenil (AIJ) Berdasarkan Klasifikasi International League Against Rheumatism (ILAR) Pribadi, Ariz; Akib, Arwin AP; Tambunan, Taralan
Sari Pediatri Vol 9, No 6 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.152 KB)

Abstract

Latar belakang. Skema yang dibuat oleh American college of rheumatology (ACR) tentang juvenilerheumatoid arthritis dan skema yang dibuat oleh European league against rheumatism (EULAR) tentangjuvenile chronic arthritis, sering dipertentangkan dalam membuat klasifikasi dan kriteria diagnosis.International League Against Rheumatism (ILAR), berupaya untuk mempertemukan ketidaksepahamanini dengan membuat klasifikasi dan kriteria diagnosis artritis idiopatik juvenil (AIJ).Tujuan. Mengetahui proporsi dan profil pasien reumatik anak berdasarkan klasifikasi ILARMetode. Penelitian deskriptif potong lintang dilakukan untuk memperoleh profil pasien AIJ berdasarkankriteria dan klasifikasi ILAR di RSCM. Populasi anak dengan keluhan artritis diambil dari data rekammedis sejak 1 Januari 2001 hingga 31 Desember 2006.Hasil. Penelitian menemukan 71 pasien AIJ (35,9%) dari 198 pasien dengan keluhan utama artritis.Enampuluh delapan pasien merupakan pasien artritis reumatoid juvenil (ARJ) (34,3%), sedangkan 3 pasienditemukan dari pasien artritis juvenil lainnya. Tipe oligoartritis persisten merupakan jenis terbanyak yangditemukan (40,8%).Kesimpulan. Penggunaan klasifikasi dan kriteria diagnosis ILAR pada penelitian ini hanya mampumenangkap tiga pasien (1,6%) yang tidak tertangkap jika menggunakan klasifikasi dan kriteria ACR
Karakteristik Klinis Lupus Eritematosus Sistemik pada Anak Sudewi, Ni Putu; Kurniati, Nia; Suyoko, EM Dadi; Munasir, Zakiudin; Akib, Arwin AP
Sari Pediatri Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Manifestasi klinis Lupus Eriternatosus Sistemik (LES) sangat bervariasi sehinggaseringkali menyulitkan penegakan diagnosis. Skor aktivitas penyakit dan kerusakan organ belumditerapkan dalam pemantauan sehari-hari.Tujuan. Mengetahui karakteristik pasien anak dengan LES yang berobat ke Departemen Ilmu KesehatanAnak (IKA) RSCM.Metode. Penelitian retrospektif deskriptif dengan data didapatkan dari rekam medik anak dengan LESperiode 1 Januari 1995-31 Desember 2008.Hasil. Dari 27 rekam medik yang memenuhi kriteria penelitian, tidak ada subjek berusia dibawah 5 tahun dan hampir seluruhnya perempuan. Manifestasi klinis terbanyak adalah ruammalar, artritis, artralgia, fotosensitivitas, dan demam. Kadar anti ds-DNA pada sebagian besarpasien menunjukkan peningkatan bermakna. Seluruh pasien mendapat kortikosteroid oral sebagaiterapi inisial. Skor SLEDAI dan ACR Damage Index meningkat pada subjek dengan perjalananpenyakit yang progresif.Kesimpulan. Karakteristik pasien LES pada penelitian ini sesuai denga kepustakaan. Pemantauanpenyakit dengan skor bermanfaat dalam mencegah kerusakan organ.
Penyakit Respiratorik pada Anak dengan HIV Yani, Finny Fitry; Akib, Arwin AP; Supriyatno, Bambang; Setyanto, Darmawan B.; Kurniati, Nia; Kaswandani, Nastiti
Sari Pediatri Vol 8, No 3 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.355 KB)

Abstract

Latar belakang. Kejadian AIDS pada anak meningkat seiring dengan peningkatan kasusdewasa. Gejala dan manifestasi klinis sering tidak khas, sehingga menyebabkanunderdiagnosis. Anak HIV sering datang dengan keluhan yang berasal dari infeksioportunistik, bahkan infeksi oportunistik banyak ditemukan sebagai penyebab kematian.Salah satu infeksi oportunistik yang sering terjadi adalah infeksi respiratorik.Tujuan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola penyakit respiratorikpada anak HIV yang dirawat di Bagian Ilmu Kesehatan RS Dr. Cipto Mangunkusumo(RSCM), Jakarta.Metoda. Data berasal dari rekam medis anak HIV tahun 2002-2005. Penelitiandilakukan dengan desain potong lintang. Kriteria inklusi adalah anak usia 0-13 tahun,dengan HIV positif dan menderita penyakit respiratorik. Data yang dicatat meliputiumur, jenis kelamin, faktor risiko, status gizi, parut BCG, diameter uji tuberkulin, riwayatkontak dengan pasien tuberkolosis, kategori HIV, diagnosis penyakit respiratorik,outcome. Data klinis khusus meliputi batuk kronik berulang, demam lama, sesak nafas,laboratorium rutin, foto torak, dan kadar CD4, PCR.Hasil. Sejak Januari 2002-Desember 2005, telah dirawat 85 anak yang terinfeksi HIV,dengan 13 orang (15,2%) di antaranya meninggal. Tiga belas orang (13/35) didiagnosisHIV berdasarkan serologi dan PCR, 24/35 hanya dengan serologi, dan 1/35 orang denganPCR. Sebanyak 38 (44,7%) orang menderita infeksi respiratorik dengan pola penyakit: TB47,3%, pneumonia 44,7%, pneumocytis corinii pneumonia (PCP) 13,1%. Pada penelitianini, didapatkan bahwa 3/38 (7,8%) anak HIV dengan penyakit paru meninggal karenapneumonia berat, dengan 2/3 di antaranya pada kelompok umur 1-5 tahun. Penyebabkematian lainnya adalah PCP 2/38 pasien (5,2%), dan tersangka sepsis pada 2 pasien (5,2%).Kesimpulan. Pada anak HIV, TB merupakan penyakit respiratorik terbanyak, diikutipneumonia, sedangkan penyebab kematian terbanyak adalah pneumonia. Penyakitrespiratorik pada anak HIV dapat menjadi pembuka jalan untuk diagnosis anak HIV.
Artritis Idiopatik Juvenil Kesepakatan Baru Klasifikasi dan Kriteria Diagnosis Penyakit Artritis pada Anak Akib, Arwin AP
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.239 KB)

Abstract

Klasifikasi dan kriteria diagnosis penyakit reumatik anak sudah sering menimbulkankontroversi para peneliti dan ahli reumatologi. Dengan berkembangnya spesialisasireumatologi pediatri dalam ruang lingkup yang luas, maka berbagai ketidaksepahamantersebut sudah selayaknya diselesaikan dalam suatu kesepakatan. Prakarsa ILAR membuatnomenklatur baru AIJ di Santiago (1994) serta revisi Durban (1997) patut mendapatpenghargaan semua pihak karena diharapkan akan dapat menjadi pemersatu untukmempermudah komunikasi antar dokter dan peneliti.Kriteria AIJ diharapkan dapat mengidentifikasi kelompok homogen penderita artritispada anak, untuk mempermudah penatalaksanaan dan penentuan prognosis penderita,serta merancang dan melakukan penelitian di bidang re umatologi pediatri sepertimisalnya penelitian imunogenetik dan ilmu kedokteran dasar lainnya, epidemiologi,prognosis, dan uji terapetik. Walaupun pemakaian kriteria Durban di lapangan belumteruji dengan baik, laporan yang sudah ada menunjukkan bahwa tidak tertutupkemungkinan untuk melakukan revisi ulang kriteria AIJ. Dengan demikian makaterpulang kepada kita, apakah akan memakainya sekarang ataukah menunggu sampaikeluar revisi berikutnya yang sudah tentu lebih tahan uji.
Asma pada Anak Akib, Arwin AP
Sari Pediatri Vol 4, No 2 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asma pada anak mempunyai berbagai aspek khusus yang umumnya berkaitan denganproses tumbuh dan kembang seorang anak, baik pada masa bayi, balita, maupun anakbesar. Peran atopi pada asma anak sangat besar dan merupakan faktor terpenting yangharus dipertimbangkan dengan baik untuk diagnosis dan upaya penatalaksanaan.Mekanisme sensitisasi terhadap alergen serta perkembangan perjalanan alamiah penyakitalergi dapat memberi peluang untuk mengubah dan mencegah terjadinya asma melaluikontrol lingkungan dan pengobatan pada seorang anak. Pendidikan pada pasien dankeluarga merupakan unsur penting penatalaksanaan asma pada anak yang bertujuanuntuk meminimalkan morbiditas fisis dan psikis serta mencegah disabilitas. Upayapengobatan asma anak tidak dapat dipisahkan dari pemberian kortikosteroid yangmerupakan anti-inflamasi terpilih untuk semua jenis dan tingkatan asma. Pemberiankortikosteroid topikal melalui inhalasi memberikan hasil sangat baik untuk mengontrolasma tanpa pengaruh buruk, walaupun pada anak kecil tidak begitu mudah untukdilakukan sehingga masih memerlukan alat bantu inhalasi.
Karakteristik Purpura Henoch-Schönlein pada Anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Sugianti, Ihat; Akib, Arwin AP; Soedjatmiko, Soedjatmiko
Sari Pediatri Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.365 KB)

Abstract

Latar belakang. Purpura Henoch-Schönlein (PHS) merupakan sindrom klinis yang disebabkan vaskulitis akut sistemik yang paling sering pada anak. Manifestasi klinis melibatkan berbagai organ, seperti kulit, sendi, gastrointestinal, dan ginjal dengan rekurensi terjadi pada hampir 50% kasus.Tujuan. Mengetahui manifestasi klinis, laboratorium, serta rekurensi PHS anak di Indonesia.Metode. Penelitian deskriptif retrospektif dari rekam medis pasien anak berusia 0-18 tahun dengan diagnosis PHS selama periode 1 Januari 2009 hingga 31 Desember 2012 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.Hasil. Terdapat 71 kasus PHS, rentang usia 2 sampai 16 tahun dan tersering pada kelompok 6-8 tahun. Proporsi anak perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki (rasio 1,2:1). Semua pasien mengalami purpura palpabel, manifestasi tersering adalah gangguan gastointestinal (79%), artritis atau artralgia (68%), dan keterlibatan ginjal (41%). Riwayat infeksi yang mendahului gejala PHS didapatkan 56% kasus. Peningkatan laju endap darah (88%) dan trombositosis (60%) merupakan kelainan laboratorium yang paling sering ditemukan, diikuti hematuria (41%), leukositosis (32%), dan anemia (31%). Penurunan fungsi ginjal ditemukan 6/42 kasus. Perbaikan gejala klinis terlihat dalam waktu kurang dari 4 minggu untuk manifestasi kulit, gastrointestinal, dan persendian. Sebanyak 18/24 subjek dengan hematuria mengalami perbaikan dalam waktu 6 bulan. Penurunan fungsi ginjal menetap tidak ditemukan. Rekurensi didapatkan 5/57 subjek yang memiliki data pemantauan.Kesimpulan. Manifestasi klinis tersering pada PHS adalah purpura palpabel, gangguan gastrointestinal, artritis atau artralgia, dan keterlibatan ginjal. Pemeriksaan darah perifer lengkap dan urinalisis sebaiknya dilakukan pada semua pasien PHS untuk mendukung diagnosis dan menilai keterlibatan ginjal. Pemantauan minimal dilakukan selama 6 bulan untuk menilai keterlibatan ginjal yang mungkin timbul terlambat serta rekurensi.
Fungsi Sistolik dan Diastolik Jantung pada Pasien Anak dengan Osteosarkoma yang Mendapat Terapi Doksorubisin Di RS Cipto Mangunkusumo Handojo, Kristin; Sjakti, Hikari Ambara; Yanuarso, Piprim B.; Akib, Arwin AP
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Doksorubisin merupakan obat golongan antrasiklin yang penting dan efektif pada pengobatan tumor padat pada anak. Doksorubisin mencegah sintesis RNA dan DNA melalui proses interkalasi. Kardiotoksisitas dilaporkan paling banyak karena penggunaan doksorubisin tersebut sehingga penggunaannya masih terbatas.Tujuan. Mengetahui fungsi jantung pada anak dengan osteosarkoma setelah mendapat terapi doksorubisin di RSCM.Metode. Studi deskriptif potong lintang dilakukan di RSCM, Divisi Hematologi-Onkologi IKA dan Sub Bagian Onkologi Orthopedik dan Traumatologi, dengan menelusuri catatan registrasi dan rekam medis pasien anak dengan osteosarkoma sejak 1 Januari 2005 sampai dengan 31 Desember 2012.Hasil. Terdapat 25 subjek penelitian, 21 di antaranya selesai menjalani kemoterapi dan mendapat total dosis kumulatif doksorubisin dengan rentang 300 mg/m2 sampai 675 mg/m2. Fungsi sistolik LV mengalami penurunan rerata fraksi ejeksi 3,3% dan pemendekan 2,5% setelah mendapat doksorubisin. Fungsi diastolik LV mengalami penurunan rerata rasio E/A 17,6%. Sembilan dari 18 pasien yang selesai menjalani kemoterapi dan mendapat total dosis kumulatif doksorubisin 375 mg/m2 mengalami gangguan fungsi diastolik tidak disertai gangguan fungsi sistolik. Kardiomiopati dilatasi ditemukan pada satu pasien setelah mendapat dosis kumulatif doksorubisin 300 mg/m2 dan satu pasien setelah mendapat dosis 675 mg/m2. Pasien berusia ≥10 tahun dan berjenis kelamin perempuan lebih banyak mengalami penurunan fungsi sistolik dan diastolik LV setelah mendapat doksorubisin.Kesimpulan. Fungsi sistolik dan diastolik LV menurun setelah pasien mendapat terapi doksorubisin dengan dosis kumulatif 300 mg/m2. Penurunan fungsi diastolik mendahului penurunan fungsi sistolik LV. Dosis, usia, dan jenis kelamin perempuan dapat menjadi faktor risiko penurunan fungsi jantung setelah pemberian doksorubisin.