Sri Rezeki Hadinegoro, Sri Rezeki
Unknown Affiliation

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

Adverse events following immunization (AEFI) reports of extended program immunization (EPI) in Indonesia during 1998-2002

Paediatrica Indonesiana Vol 44 No 4 (2004): July 2004
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.4 KB)

Abstract

Background The incidence of adverse events following immuni-zation (AEFI) increased in correlation with the number of vaccinedoses. Meanwhile AEFI reports should be managed properly tomaintain the compliance and immunization coverage.Objectives The aims of this study were to investigate the inci-dence and profile of AEFI, its onset, severity, classification, andoutcome.Methods This study was a passive surveillance of AEFI reportsreceived by the National Committee on AEFI, Ministry of Health ofIndonesia, during 1998 to 2002.Results Two hundreds and four AEFI cases were reported; 4 casesas zero reports, 182 cases as individual reports, and 18 clusterreports. The AEFI incidence was 0.44 per 1 million doses of vac-cines. Vaccine reaction rate was 1 per 2.3 million vaccine doses.The most common vaccines reported as the causes of AEFI wereDTP, Polio, and TT. Among 182 reported cases, local or mild AEFIreactions were observed in 45, moderate in 49, and severe in 88.Based on WHO field classification, this study reported that 84 casesbelonged to coincidence, 72 to vaccine reactions, 13 to program-matic errors, 7 to injection reactions, and 6 to unclassified reac-tions. Forty-seven patients died, 12 had some sequelae, and 123completely recovered. Meanwhile, among the death cases, 70%occurred coincidently, 17% due to vaccine reactions, and 6 wereunclassified.Conclusions The incidence of AEFI in the extended program im-munization (EPI) in Indonesia during the period of 1998-2002 were182 cases, thus vaccine reaction rate was 1 per 2.3 million vac-cine doses. The most common vaccine which caused AEFI wasDTP. Most AEFI with severe symptoms happened in 4-24 hoursafter immunization.

Randomized controlled trial of Phyllanthus niruri Linn extract

Paediatrica Indonesiana Vol 46 No 2 (2006): March 2006
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background Clinical benefits of antiviral treatment in childrenexperience varicella without complications, remains controversial.Phyllanthus niruri Linn extract as a natural medicine is used toincrease cellular and humoral immunity.Objective To determine the efficacy and safety of Phyllanthusniruri Linn extract in the treatment of varicella in children comparedto placebo.Methods This was a double-blind randomized controlled trial onchildren ages 2-14 years who experienced varicella without com-plications. Subjects were randomly assigned to receive eitherPhyllanthus niruri Linn extract syrup (5 mg/5ml, 3 times daily) orplacebo. Efficacy was measured by calculating the number of pap-ules and crusts after taking the extract for 4 days of administration.A five-day monitoring sheet to record daily follow up and adverseeffects of the subjects were given to their parents.Results Efficacy of Phyllanthus niruri Linn measurement basedon no more new papules occurred at the five-day monitor was de-tected in 46 subject (51.1%) of the Phyllantus niruri Linn groupcompared to the placebo group (P=0.723). Meanwhile, the differ-ence of efficacy based on time of crusts disappear in Phyllanthusniruri Linn and placebo group were 22 subjects (43.1%) and 15subject (30.0%), respectively (P=0.053). This finding proved haveclinical benefit (NNT=7.6).Conclusion There was no significant difference between the ef-ficacy of Phyllanthus niruri Linn and placebo in terms of the pre-vention appearing new papules and crusts. However, clinicallyPhyllanthus niruri Linn accelerates appearing and aborting crustcompared to placebo

Gambaran Fungsi Kognitif HIV Anak yang Telah Memperoleh Terapi Antiretrovirus

Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Pasien HIV anak berisiko tinggi mengalami gangguan neurokognitif akibat keterlibatan sistem saraf pusat (SSP). Pemberian antiretrovirus (ARV menurunkan viral load di SSP sehingga mencegah penurunan fungsi kognitif.Tujuan. Memberikan gambaran fungsi kognitif pasien HIV anak dalam terapi ARV.Metode. Studi potong lintang dilakukan terhadap pasien HIV anak berusia 5-15 tahun. Penilaian kognitif dilakukan dengan instrumen Wechsler intelligence scale for children IV (WISC IV) dilanjutkan dengan pemeriksaan elektroensefalografi untuk membuktikan kerusakan akibat keterlibatan SSP pada infeksi HIV.Hasil. Sembilan puluh pasien HIV anak (median usia 9 tahun) telah memperoleh ARV selama  1-124 bulan dengan median 69 bulan. Hasil rerata verbal, performance, dan full-scale IQ (FSIQ) berturut-turut adalah 88,66 (SB 15,69), 85,30 (SB 15,35), dan 85,73 (SB 15,61). Dua puluh tiga (25,6%) subjek memiliki verbal IQ abnormal, 34 (37,8%) performance scale abnormal, dan 32 (35,6%) FSIQ abnormal. Hasil EEG abnormal didapatkan pada 22 subjek (22,4%) dan tidak memiliki hubungan dengan stadium klinis, usia dan lama pemberian ARV, serta viral load. Stadium HIV menunjukkan hubungan bermakna dengan komponen verbal scale IQ dan FSIQ (p=0,042 dan p=0,044). Hasil IQ tidak memiliki hubungan dengan usia pemberian ARV, lama pemberian ARV, dan viral load.Kesimpulan. Pasien HIV anak yang telah mendapat terapi ARV selama 1-124 bulan memiliki rerata IQ abnormal pada verbal, performance, dan FSIQ meskipun jika dinyatakan dalam bentuk kategori, lebih dari 50% subjek memiliki IQ normal pada ketiga skala WISC. 

Ensefalopati Dengue pada Anak

Sari Pediatri Vol 12, No 6 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Infeksi virus dengue pada manusia mengakibatkan spektrum manifestasi klinis yangbervariasi. Ensefalopati dengue atau demam berdarah dengue (DBD) dengan keterlibatan susunan sarafpusat (SSP) merupakan kondisi yang jarang terjadi namun angka kematiannya cukup tinggi.Tujuan. Mengetahui insiden, karakteristik demografik, manifestasi klinis, laboratorium dan luaran pasiendengan ensefalopati dengue.Metode. Studi deskriptif retrospektif di RS Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Kriteria inklusiadalah rekam medik pasien yang dirawat di RSCM tahun 2006-2010 dengan diagnosis ensefalopatidengue.Hasil. Terdapat 20 pasien (2,8%) ensefalopati dengue dari 717 pasien infeksi virus dengue. Pasien terbanyakberusia 2-5 tahun (8 pasien) diikuti usia >10 tahun (7 pasien) dengan rerata usia 6,6 tahun. Kejadian DBDdengan syok terdapat pada 13 pasien, kejang pada 8 pasien, perdarahan saluran cerna pada 12 pasien danrerata penurunan kesadaran pada hari ke 4,3 dengan lama 2,5 hari. Laboratorium didapatkan rerata natrium131,6 meq/L, rerata SGOT/AST 2347 mg/dl dan rerata SGPT/ALT 630 mg/dl. Terdapat pemanjanganPT dengan rerata 22,4” dan pemanjangan aPTT dengan rerata 86,2”. Didapatkan infeksi sekunder denguepada 18 pasien. Antimikroba diberikan pada 16 pasien sedangkan kortikosteroid pada 5 pasien. Ditemukan3 pasien dengan gejala sisa berupa slurred speech, afasia dan tetraparesis serta 1 pasien meninggal.Kesimpulan. Insiden ensefalopati dengue 2,8% dengan infeksi sekunder dengue sebagai penyebab tersering,namun tidak terdapat perbedaan kelompok usia dibandingkan DBD. Terdapat peningkatan yang tinggidari serum transaminase, pemanjangan PT/APTT, hiponatremia. Terdapat gejala sisa pada 3 dari 19 pasienyang hidup.

Imunogenitas dan Keamanan Vaksin Varisela pada Anak Sehat

Sari Pediatri Vol 3, No 4 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk menilai reaktogenitas dan imunogenitas vaksin varisela hidup yang dilemahkan(galur-Oka) pada anak sehat. Studi deskriptif dilakukan pada 300 anak yang berumur1- 12 tahun dan dibagi menjadi 3 subgrup menurut umur (1 -<3 tahun, 3 -<7 tahun, 7-12 tahun). Sebelum penelitian anak-anak tersebut dimintakan kesediaan dari orang tuanyasecara tertulis, dilakukan anamnesis mengenai riwayat varisela sebelumnya, danpemeriksaan titer anti-varisela. Dalam kurun waktu waktu 2 minggu apabila hasil negatif,maka diberikan suntikan vaksin varisela (Varilrix) 0,5 ml pada lengan deltoid kiri, setelahdilakukan pemeriksan fisis sebelumnya. Sesuai penyuntikan pada orangtua pasiendiberikan kartu harian untuk mencatat suhu tubuh, gejala lokal atau umum yang terjadisetelah penyuntikan. Bila dianggap perlu, orang tua dapat membawa anak untukdiperiksa. Pada hari ke-42 dilakukan pemeriksaan fisis pada setiap anak dilanjutkandengan pengambilan darah pasca vaksinasi. Kartu harian dikumpulkan kembali untukdianalisis. Penelitian dilakukan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta,dari tanggal 3 Mei 1998 sampai dengan 22 Oktober 1998. Seluruh sediaan arahpravaksinasi diperiksa di Laboratorium Bioanalytical Research Corporation (Barc) Jakartadengan metode ELISA. Separuh diantara spesimen disimpan menunggu separuh spesimendarah pravaksinasi yang akan dikirim ke Rixenstat, Belgia untuk diperiksa ulang titerpra vaksinasi sekaligus memeriksa titer pasca vaksinasi, dengan metode IndirekImmunoflouresent test (IIF). Dari 300 anak yang masuk dalam penelitian ada 5 anakyang tidak menyelesaikan penelitian. Reaksi umum (9,80%) lebih banyak dijumpaidaripada reaksi lokal (1%). Demam tinggi didapatkan pada 3 anak (1,7%), tigadiantaranya disangka (probable/suspected) ada hubungannya dengan tindakan vaksinasi.Subyek yang memperlihatkan gejala ruam tidak menunjukan gejala demam tinggi. Semuagejala tadi menghilang tidak lebih dari 5 hari. Enam minggu setelah penyuntikan hanyasatu subyek yang tidak menunjukkan adanya serokonversi (0,7%). Golongan umur mudamenunjukkan nilai gmt yang lebih tinggi. Vaksin varisela hidup yang dilemahkan (galurOka) pada penelitian ini aman, ditoleransi dengan baik dan mempunyai tingkatperlindungan yang tinggi pada anak 1 – 12 tahun

Perubahan Epidemiologi Demam Berdarah Dengue Di Indonesia

Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengue berdarah dengue yang ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes aegypty masih merupakan masalah kesehatan penting di dunia. Di Indonesia, demam berdarah dengue mulai dikenal pertama kali pada tahun 1968 di DKI Jakarta dan Surabaya, dan terus menyebar ke seluruh tiga puluh tiga propinsi di Indonesia. Pola epidemiologi infeksi dengue mengalami perubahan dari tahun ke tahun, jumlah kasus memuncak setiap siklus 10 tahunan. Dari tahun 1968-2008 angka kesakitan demam berdarah dengue terus meningkat. Pada tahun 2008 didapatkanangka kesakitan 58,85/ 100.000 penduduk. Angka kematian menurun dengan stabil dari 41% pada tahun 1968 menjadi kurang dari 2% sejak tahun 2000, dan pada tahun 2008 angka kematian menurun menjadi 0,86%.Semua serotipe virus dengue ditemukan di Indonesia, namun serotipe virus den-3 masih dominan menyebabkan kasus dengue yang berat dan fatal. Surveilans epidemiologi, dukungan edukasi masyarakat dan program pengendalian vektor diperlukan untuk mencegah transmisi. Pengembangan vaksin dengue merupakan salah satu upaya mencegah penyakit dengue.

Displasia Ektodermal Hipohidrotik

Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seorang bayi laki-laki berusia 4 bulan menderita displasia ektodermal hipohidrotik (DEH),merupakan kelainan genetik yang sebagian besar diturunkan secara x-linked recessive.Sindrom ini ditandai dengan tidak ada atau berkurangnya kelenjar keringat,hypotrichosis,dan hypodontia. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan dipastikandengan biopsi kulit yang menunjukkan tidak ada atau hipoplasi kelenjar ekskrin danrambut. Trias gambaran klinis utama DEH adalah hipohidrosis atau anhidrosis, hipotrikosisdan andontia total atau partial. Kelainan ini perlu segera ditegakkan untuk menghindarikomplikasi yang berat pada masa bayi dan diperlukan untuk menentukan penangananselanjutnya. Untuk mengetahui pola penurunan genetik pada pasien ini perlu disusunsilsilah penyakit dalam keluarga serta biopsi kulit atau uji starch-iodine pada kedua orangtua pasien sehingga konseling genetik. Pencegahan dapat diberikan secara multidisiplinsangat diperlukan dalam penanganan kasus seperti ini agar mendapatkan prognosis yanglebih baik. Displasia ektodermal hipohidrotik yang disebut juga Christ-Siemens Tourainesyndrome atau displasia ektodermal anhidrotik digambarkan pertama kali pada tahun 1848oleh Thurnam 1,2 dan diikuti pada abad-19 oleh Darwin.2 Pada tahun 1921, Thadanimenetapkan DEH sebagai suatu kelainan x-linked dan kemudian melaporkan bahwaperempuan pembawa gen mutan menampakkan gejala yang bervariasi dari kondisitersebut.1,2Angka kejadian DEH diperkirakan 1 per 100.000 kelahiran hidup,2,5 lebih 90% terjadi padaanak laki-laki.2 Di Indonesia dilaporkan 2 kasus pada tahun 2000-2002,6 salah satu kasusberobat di Subbagian Kulit Anak Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI-RSCM.

Absorption of carbohydrate derived from rice in children aged 1-3 years

Paediatrica Indonesiana Vol 41, No 3 (2001): May 2001
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Many studies showsthat rice starch is well-absorbed in gastrointestinaltract, even better as a composition with electrolyte to overcome diarrhea. Although in small number, there is still a various prevalence of carbohydrate malabsorption, both with rice starch and with other starch. Khin-Maung-U found significant (66.5%) prevalence of rice starch in Burmese children malabsorption, whereas rice starch is readily obtained in countries with rice as the population staple food,so thatability to absorb rice starch in Indonesian children need to be studied. Breath hydrogen test (BHT) was performed in 86 Indonesian children aged 1-3 years on Pejaten Barat Subdistrict, Pasar Minggu, South Jakarta. Among the 86 children given meal test with rice starch cakes 80 g for eachchildren, 82 children (95.3%) can absorb rice starch well, but 4 children (4.7%) suffered from rice starch alabsorption. Currentlyit is unknown certainly the type of the malabsorption. Previous researchers found that rice malabsorption is due to enzyme deficiency and intestinal motility disturbance. In this study there were 16 children (18.6%) coming from social-economically underprivileged family, most of the mothers with junior high school and lower educational level, and the majority of parent occupation were on private and labor sectors. There was no significant relation (p >0.05) between diarrhea effects on rice starch malabsorption in 6 children (7%), history of low birth weight baby (15.1%), undernourished or malnutrition status in 35 children (40.7%), and worm and/or fungal infection in 17 children (19.8%).found that rice malabsorption is due to enzyme deficiency and intestinal motility disturbance. In this study there were 16children (18.6%) coming from social-economically underprivileged family, most of the mothers with junior high school andlower educational level, and the majority of parent occupation were on private and labor sectors. There was no significantrelation (p >0.05) between diarrhea effects on rice starch malabsorption in 6 children (7%), history of low birth weight baby(15.1%), undernourished or malnutrition status in 35 children (40.7%), and worm and/or fungal infection in 17 children(19.8%). [

Profil Keamanan setelah Pemberian Dosis Primer Vaksin Pentabio® pada Bayi di Indonesia

Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vaksin Hib mulai digunakan pada Pogram Imunisasi Nasional sejak tahun 2013 secara bertahap dan di seluruh Indonesia mulai tahun 2014 dalam bentuk vaksin kombinasi DTP/HB/Hib (Pentabio®), yang memberikan  kekebalan terhadap difteria, pertusis, tetanus, hepatitis B, dan Haemophilus influenzae tipe b. Studi ini menilai reaksi sitemik, reaksi lokal, dan reaksi yang serius pascaimunisasi dengan Pentabio®. Sebanyak 4.000 bayi penerima vaksin Pentabio®bergabung dalam studi ini. Reaksi yang timbul dicatat pada kartu harian oleh petugas yang sudah dilatih. Vaksin Pentabio®yang diamati pada PMS ini menggunakan vaksin rutin dari Program Imunisasi Nasional dalam waktu pengamatan 28 hari di empat propinsi, yaitu Nusa Tenggara Barat, Bali, Yogyakarta, dan Jawa Barat pada periode Mei–Desember 2014. Sebanyak 3.978 data dapat dianalisis karena 22 di antaranya tidak memberikan informasi yang valid. Reaksi sistemik yang paling banyak timbul adalah demam 0,85% pada 30 menit pertama, dan meningkat menjadi 14,03% pada satu hari pascaimunisasi, kemudian sembuh pada hari berikutnya. Reaksi lokal yang paling sering timbul adalah nyeri pada tempat suntikan pada 67,6% subjek pada 30 menit setelah imunisasi, dan meningkat menjadi 87,23% pada 1 hari pascaimunisasi namun sembuh pada hari berikutnya. Mayoritas nyeri yang timbul adalah kategori ringan. Tidak ditemukan kejadian ikutan pascaimunisasi serius selama pengamatan. Simpulan, reaksi lokal dan sistemik pascaimunisasi dengan Pentabio® dapat ditoleransi pada bayi. [MKB. 2017;49(2):86–93]   Kata kunci: Bayi, Pentabio®, post marketing surveillance, reaksi lokal, reaksi sistemik   Safety Profile Following Pentabio® Primary Dose Vaccination in Indonesian Infants   Since 2013 Indonesian Expanded Program on Immunization (EPI) has  graduallyincluded Hib vaccine into routine EPI schedule in four provinces and has established the vaccine inclusion in the the nationwide program through integration of Hib vaccine into existing DTP/HB vaccine in the form of pentavalent vaccine (DTP/HB/Hib). Pentabio® vaccine is given to provide protection against diphtheria, tetanus, pertussis, hepatitis B, and Hib infection in infants and children under 5 years old.  The objective of this study was to assess the systemic reactions, local reactions, and any serious adverse event after Pentabio® immunization. About 4,000 infants were involved in this study. Systemic and local reactions were recorded on diary cards by trained health care provider. Pentabio® vaccines in this PMS were obtained from the National Immunization Program within 28 days of observation in four provinces, West Nusa Tenggara, Bali, Yogyakarta, and West Java in May–December 2014. In total, 3,978 infants were analyzed, while the other 22 forms were not included due to incomplete information. The most common systemic reaction was fever, found in 0.85% of the subjects at 30 minutes after injection, and increased to 14.03% at day 1 (one) after immunization, which disappeared the day after. The most common local reaction was pain, which was found in 67.6% subjects at 30 minutes after injection, and increased to 87.23% at day 1 (one) after immunization to disappear the day after. The intensity of the pain was mostly mild. No serious adverse event following immunization found during observation. [MKB. 2017;49(2):86–93]   Key words: Infants, local reactions, Pentabio®, post marketing surveillance, systemic reactions 

The efficacy of suppository versus oral ibuprofen for reducing fever in children

Paediatrica Indonesiana Vol 45 No 5 (2005): September 2005
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background Ibuprofen suppository is used to reduce fever inchildren who are unable to receive it orally. The effectiveness ofibuprofen suppository compared to that of oral ibuprofen has notbeen documented in Indonesian children.Objective The aim of this study was to compare the efficacy ofibuprofen suppository with that of oral ibuprofen for reducingfever in children.Methods This study was a randomized clinical trial without blind-ing on children aged 2-5 years with body weight of 12.5 to 16 kgwho had fever. Subjects received ibuprofen in either oral (7.5mg/kg) or suppository (125 mg) form. The temperature was mea-sured prior to ibuprofen administration, 30 minutes afterwards,and every subsequent half hour until the end of the sixth hour.Any observed adverse effects were recorded.Results Mean time needed for fever reduction was 2.72 (SD 1.1)hours in the suppository group, compared to 3.43 (SD 0.9) hoursin the oral group (P=0.004). The mean rate of fever reduction inthe suppository group was 0.90 (SD 0.4) °C/hour, while in theoral group it was 0.61 (SD 0.3) °C/hour. However, mean maxi-mum temperature lowering ability did not differ significantly [2.11(SD 0.7) °C for the suppository group and 1.99 (SD 0.7) °C, forthe oral group (P=0.489)]. There was no significant difference inmean duration of effect [220.8 (SD 83.0) hours for the supposi-tory group and 196.6 (SD 92.7) hours for the oral group (p=0.231)].Conclusions There was no significant difference between bothpreparations in maximum temperature lowering ability and dura-tion of effect. Temperature reduction was significantly fasterwith the administration of ibuprofen suppository