Articles
25
Documents
Factors associated with the intention to exclusively breastfeed at Siloam Lippo Cikarang Hospital

Paediatrica Indonesiana Vol 48 No 3 (2008): May 2008
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.87 KB)

Abstract

Background World Health Organization (WHO) recommendsbreastfeeding as the appropriate method of infant feeding.Predelivery intentions about breastfeeding are strong predictorsof both initiating and continuing exclusively breastfeedingthrough the post delivery period.Objective To determine the association of age, education,occupation, parity, and information got by pregnant women withthe intention to give exclusive breastfeeding at Siloam LippoCikarang Hospital.Methods Pregnant women were chosen by consecutive samplingfilled in questionnaires contained identity, knowledge, obstacles ofbreastfeeding and intentions to exclusively breastfeed. Pregnantwomen visiting Obstetrics and Gynecologic Department SiloamLippo Cikarang Hospital who were able to read and write inIndonesian were eligible for this study.Result: Most of the 200 respondents were between 20-30 years ofage (69.5%), college graduated (55.5%), working women (50.5%),multiparous (58.5%) and have already got the informationabout breastfeeding (64.5%). The commonly cited source isprinted device (40%). Knowledge about breastfeeding in generalwere good (78%), but respondents who intended to exclusivelybreastfeed were only 58.5%. Multivariate analysis showed thatthe factors significant associated with the intention to exclusivelybreastfeed were age, with OR 0.9 (95%CI 0.84;0.98, P<0.05) andinformation, with OR 0.28 (95%CI 0.143;0.56, P<O.OOl)Conclusions The significant influencing factors to the intentionsto give exclusively breastfeed are age and information.

The role of hearing capability test as a screening test for the possibility of hearing disorder in children with speech delay

Paediatrica Indonesiana Vol 46 No 6 (2006): November 2006
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background Hearing disorder may cause speech delay so thatevery child with speech delay should undergo hearing test. Thegold standard for audiometric test is otoacustic emission (OAE)and brainstem evoked response audiometry (BERA). They havehigh sensitivity and specificity, but the availability is limited andexpensive. Hence, both tests are not available at the primary healthcare centers. In 1997, the Department of Health, Republic of Indo-nesia, established a simple subjective test instrument, i.e. the hear-ing capability test (HCT).Objective To asses the accuracy of HCT compared to the goldstandard hearing tests (OAE and/or BERA).Methods This study was a cross sectional study on 89 childrenaged less than 5 years who had speech delay and came to theGrowth and Development Outpatient Clinic or the General Outpa-tient Clinic, Pediatric Neurology Clinic of the Department of ChildHealth, Cipto Mangunkusumo (CM) Hospital; and Center for EarCare and Communicative Disorders (CECCD), Department of ENT,CM Hospital, during March to August 2005.Results HCT sensitivity and specificity were 92.9% and 27.7%,respectively. Positive predictive value (PPV), negative predictivevalue (NPV), positive likelihood ratio (PLR), and negative likehoodratio (NLR) were 84%, 50%, 1.9, and 0.7, respectively.Conclusion The sensitivity and specificity of HCT as a screeningtest of hearing disorder in children with speech delay were 93%and 28%, respectively. Based on this result, HCT should only beused as screening test and not as a diagnostic test

Saat Terbaik Pemberian Suplementasi Zat Besi pada Bayi 0 Bulan sampai 6 Bulan

Sari Pediatri Vol 10, No 3 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah kesehatan gizi di Indonesia. Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalensi ADB pada bayi 0-6 bulan 61,3%.Tujuan. Mengetahui berapa insidens defisiensi besi dengan atau tanpa anemia, dan kapan mulai terjadi deplesi besi atau defisiensi besi sebelum terjadi ADB pada bayi berusia 0-6 bulan.Metode. Desain penelitian adalah studi kohort prospektif dengan pembanding eksternal. Di antara 211 bayi yang ikut penelitian, terdiri dari 143 bayi yang lahir dari ibu tanpa anemia dan 68 bayi yang lahir dari ibu dengan anemia. Pemeriksaan darah tepi lengkap, gambaran darah tepi, saturasi transferin (ST) dilakukan saat bayi berusia 0, 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 bulan. Diagnosis ADB berdasarkan 1) kadar Hb <14g/dL untuk usia 0-3 hari, <11g/dL untuk usia 1 bulan, <10g/dL untuk usia 2-6 bulan, 2) mikrositik dan atau hipokrom, 3) kadar Hb meningkat setelah diberi terapi besi, 4) RDW >14%, 5) Indeks Mentzer >13; 6) Indeks RDW >22,0. Deplesi besi bila ST <30% untuk usia 0-1 bulan, ST <21% untuk usia 2-6 bulan. Defisiensi besi bila ST <20% untuk usia 0-1 bulan, ST <16% untuk usia 2-6 bulan.Hasil. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB berturut-turut 28,0, 27,0, dan 40,8%; artinya 95,8% bayi mempunyai status besi bermasalah. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB paling tinggi pada bayi berusia 0 bulan, berturut-turut 9,5, 14,2, dan 11,8%.Kesimpulan. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB paling tinggi pada bayi berusia 0 bulan. Suplementasi zat besi elemental dengan dosis 1 mg/kg/hari hendaknya diberikan pada semua bayi aterm sejak lahir.

Tata laksana Bayi dari Ibu pengidap HIV/AIDS

Sari Pediatri Vol 4, No 4 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak diidentifikasi kasus AIDS pada tahun 1981 di Los Angeles, kasus AIDS melandadunia. Di Asia Tenggara jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 1999 adalah 134.671kasus. Di Indonesia secara kumulatif tercatat dari September 1987 sampai denganDesember 2001 terdapat 1904 kasus HIV positif dan 615 kasus AIDS. Transmisi vertikaldari ibu ke bayi dapat secara transmisi intra-uterin, intrapartum dan melalui ASI. Denganberbagai cara misalnya persalinan melalui bedah kaisar dan penggunaan obat obatantirertroviral terjadi pengurangan transmisi vertikal secara intra-uterin dan intrapartum,tetapi transmisi melalui ASI tidak dapat dicegah. Tata laksana bayi dari ibu pengidapHIV/AIDS adalah suportif, meliputi pemberian imunisasi rutin, pemantauanpertumbuhan dan pemeriksaan darah. Bila timbul gejala segera obati dengan obatantiretroviral.

Spesifitas Biologis Air Susu Ibu

Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air susu mamalia adalah species specific (komposisi masing-masing susu mamalia sangatberbeda). Sebagaimana susu sapi adalah makanan terbaik untuk anak sapi maka ASIadalah makanan terbaik untuk bayi manusia, juga untuk bayi yang lahir kurang bulan.Penambahan atau pengurangan zat di dalam susu sapi agar dapat ditolerir oleh bayimanusia berupa susu formula memerlukan penelitian yang canggih yang perlumempertimbangkan bukan hanya zat gizinya tetapi seyogianya segala komponen yangada di dalam ASI. Perubahan komposisi ASI yang disesuaikan dengan masa kehamilan,usia bayi dan cara bayi menyusu tidak dapat ditiru oleh susu formula apalagi keuntunganlain seperti, mencegah penyakit bayi dan ibu serta keuntungan psikologis dan ekonomi.

Model Skoring Untuk Memprediksi Anemia Defisiensi Besi pada Bayi 0-6 Bulan

Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah kesehatan gizi di Indonesia. DataSKRT tahun 2001 menunjukkan prevalensi ADB pada bayi 0-6 bulan 61,3%. Belum dijumpai pemeriksaanlaboratorium sederhana yang dapat memprediksi seorang bayi berusia 0-6 bulan menderita ADB.Tuj uan. Mencari model skoring untuk memprediksi ADB pada bayi 0-6 bulan.Metode. Desain penelitian adalah studi kohort prospektif dengan pembanding eksternal. Ada 211 bayi yangikut penelitian, terdiri dari 143 bayi yang lahir dari ibu tanpa anemia dan 68 bayi yang lahir dari ibu dengananemia. Pemeriksaan darah tepi lengkap, gambaran darah tepi, feritin, sTfR dilakukan saat bayi berusia 0bulan, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 12 bulan. Diagnosis ADB berdasarkan 1) kadar Hb <14g/dL untuk usia 0-3 hari,<11g/dL untuk usia 1 bulan, <10g/dL untuk usia 2-6 bulan, 2) gambaran darah tepi mikrositik dan atauhipokrom, 3) kadar Hb meningkat setelah diberi terapi besi, 4) RDW >14%, 5) Indeks Mentzer >13; 6)Indeks RDW >220.Hasil. Faktor risiko terjadi ADB pada bayi berusia 0-6 bulan adalah diet ibu dan jenis kelamin bayi. Berdasarkanfaktor risiko dibuat model skoring dan klasifikasi risiko untuk memprediksi seorang bayi berusia 0-6 bulanakan menderita ADB atau tidak.Kesimpulan. Model skoring untuk memprediksi ADB pada bayi berusia 0-6 bulan dapat digunakan untukdeteksi dini ADB. (

Insidens dan Faktor Risiko Hipotermia Akibat Memandikan pada Bayi Baru Lahir Cukup Bulan

Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Mandi merupakan salah satu paparan dingin pada bayi baru lahiryang dapat menyebabkan hipotermia. Data mengenai insidens dan faktor risikohipotermia akibat memandikan bayi baru lahir di Puskesmas atau di rumah bersalinsampai saat ini belum ada. Hasil pengamatan awal yang dilakukan di sebuah Puskesmasdan sebuah rumah bersalin swasta didapatkan sebesar 50% bayi baru lahir mengalamihipotermia sesudah mandi.Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidens dan faktorrisiko hipotermia akibat memandikan pada bayi baru lahir cukup bulan setelahmendapatkan penyuluhan tentang hipotermia.Metoda. Penelitian ini adalah studi kohort prospektif pada bayi baru lahir cukup bulandan sehat yang dimandikan saat usia lebih dari 6 jam. Bayi dimandikan dengan caraseluruh tubuh bayi dibasahi dengan air hangat dan dibersihkan dengan sabun bayi,kemudian seluruh tubuh bayi dimasukkan ke dalam bak mandi. Suhu aksila tubuh diukurdengan termometer digital. Suhu ruangan diukur dengan termometer digital, suhu airmandi diukur dengan termometer air raksa dan lama mandi diukur dengan stopwatch.Sebelum penelitian berlangsung, kepada petugas kesehatan setempat telah diberikanpenyuluhan mengenai hipotermia dan persiapan mandi yang baik.Hasil. Subyek penelitian adalah 100 bayi terdiri dari 53 bayi lahir di Puskesmas dan 47 bayilahir di RB swasta. Insidens hipotermia di Puskesmas lebih tinggi yaitu sebesar 49%dibandingkan dengan insidens di RB swasta sebesar 25,5% (RR 1,79; IK 95% 1,07; 3,00, p= 0,016). Insidens hipotermia pada bayi yang dimandikan pagi hari lebih sering (44%)dibandingkan dengan yang dimandikan sore hari (28%), namun secara statistik tidakbermakna (RR = 1,57; IK 95% = 0,88;2,79, p = 0,107). Faktor risiko hipotermia adalahsuhu aksila segera sebelum mandi (r = 0,73, p = 0,000) dan suhu air mandi (r = 0,73, p =0,008). Suhu aksila segera sebelum mandi dan suhu air mandi yang aman untuk memandikanbayi baru lahir berusia lebih dari 6 jam adalah berturut-turut 37,25°C dan 35°C.Kesimpulan. Terjadi penurunan insidens hipotermia setelah mendapatkan penyuluhan tentangpersiapan mandi yang baik, dari 50% pada awal pengamatan menjadi sebesar 49% di Puskesmasdan 25,5% di rumah bersalin swasta. Faktor risiko yang berkorelasi dengan hipotermia akibatmemandikan bayi cukup bulan lebih dari 6 jam sesudah lahir adalah suhu aksila segera sebelummandi dan suhu air mandi. Suhu aksila segera sebelum mandi dan suhu air mandi yang amanuntuk mencegah hipotermia adalah berturut-turut masing-masing 37,25°C dan 35°C.

Metode Kanguru Sebagai Pengganti Inkubator Untuk Bayi Berat Lahir Rendah

Sari Pediatri Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan inkubator untuk merawat bayi berat lahir rendah (BBLR) memerlukanbiaya yang tinggi. Akibat terbatasnya fasilitas inkubator, tidak jarang satu inkubatorditempati lebih dari satu bayi. Hal tersebut meningkatkan risiko tejadinya infeksinosokomial di rumah sakit. Metode kanguru (MK) ditemukan pada tahun 1983 olehdua orang ahli neonatologi dari Bogota, Colombia untuk mengatasi keterbatasanjumlah inkubator. Setelah dilakukan berbagai penelitian, ternyata MK tidak hanyasekedar menggantikan peran inkubator, namun juga memberi banyak keuntunganyang tidak bisa diberikan oleh inkubator. Metode kanguru mampu memenuhikebutuhan asasi BBLR dengan menyediakan situasi dan kondisi yang mirip denganrahim sehingga memberi peluang BBLR untuk beradaptasi dengan baik di dunia luar.Metode kanguru dapat meningkatkan hubungan emosi ibu-bayi, menstabilkan suhutubuh, laju denyut jantung dan pernapasan bayi, meningkatkan pertumbuhan danberat badan bayi dengan lebih baik, mengurangi stres pada ibu dan bayi, mengurangilama menangis pada bayi, memperbaiki keadaan emosi ibu dan bayi, meningkatkanproduksi ASI, menurunkan kejadian infeksi nosokomial, dan mempersingkat masarawat di rumah sakit. Mengingat berbagai kelebihannya, diperlukan upaya yang lebihstrategis untuk mempopulerkan metode yang sangat bermanfaat ini.

Evaluation of Breast-Feeding Promotion Policy in Cipto Mangunkusumo Hospital Jakarta

Paediatrica Indonesiana Vol 35 No 3-4 (1995): March 1995
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.459 KB)

Abstract

The purpose of this prospective cohort study was to evaluate the breastfeeding promotion program m Dr. C1pto Mangunkusumo general hospital which we started m 1991. The study was done from July 1992 until March 1993. During that time. We could follow 249 mother-infant pairs every month for 4 months. Results: 1. Babies who received only breast milk during hospital stay did not lose more weight if compared to babies who got some formula. 2. Not a single baby lost weight more ~10% during hospital stay· Prelacteal feeding delayed the adequacy of breastmilk; 4. Though prelacteal feeding once or twice by spoon did not interfere with full breast feeding at the age of 4 months, yet mothers whose babies were given prelacteal feeding started to give supplementary food earlier; 5. Family income places a role in the decision to give early food supplement.

Pattern and influencing factors of breastfeeding of working mothers in several areas in Jakarta

Paediatrica Indonesiana Vol 47, No 1 (2007): January 2007
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background Breast milk contains many essential nutrition factorsbest for babies. The 1997 Indonesian Health Demography foundthat the proportion of exclusive breastfeeding was still low (52%)and increased to 55.1% in 2002. Due to increasing number ofworking mothers, promoting breast feeding among them should beperformed properly. There are no data on exclusive breastfeedingrate and pattern among working mothers in Indonesia.Objective To describe exclusive breastfeeding rate and patternamong working mothers in several areas in Jakarta and the influ-encing factors.Methods A descriptive study using a questionnaire was conductedfrom October 2005 to February 2006. Subjects were workingmothers who had 6 to 12 month old baby and breastfed and thebaby had no congenital or chronic disease.Results Among 290 mothers interviewed, 40% worked at banksor insurance business, 34% were private employees, 25% medicalstaffs, and 2% were teachers. Almost 80% have exclusivelybreastfed for less than 4 months, 17% for 4 months, and only 4%for 6 months. Maternal leave, family support, mothers’ knowl-edge, facilities at workplace, media influences, and working hoursseemed to have no relations to breastfeeding rate. There were122 (42%) mothers who had good knowledge about physiologyof lactation, 155 of them (53%) had fair knowledge, and only45% of them had poor knowledge.Conclusions The proportion of working mothers in several areasin Jakarta who have exclusively breastfed for 4 months is 17%, andonly 4% of subjects do exclusive breastfeeding for 6 months. Mostsubjects have a good to fair knowledge about the physiology oflactation but it does not seem to influence the decision to exclu-sively breastfed their babies.