Rulina Suradi, Rulina
Unknown Affiliation

Published : 26 Documents
Articles

Found 26 Documents
Search

Efficacy of oral erythromycin to enhance feeding tolerance in preterm infants Sukmawati, Made; Rohsiswatmo, Rinawati; Suradi, Rulina; Gayatri, Pramita
Paediatrica Indonesiana Vol 57 No 3 (2017): May 2017
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.951 KB) | DOI: 10.14238/pi57.3.2017.154-9

Abstract

Background Feeding intolerance is a common condition that affects preterm infants. Erythromycin is a prokinetic agent used to treat feeding intolerance, but its efficacy remains inconclusive.Objective To evaluate the effectiveness of oral erythromycin to enhance feeding tolerance in preterm infants.Methods This prospective, randomized controlled trial in preterm infants was conducted at Sanglah Hospital, Denpasar, Bali, from June 2015 to January 2016. Eligible infants were randomized to receive either 12.5 mg/kg/dose oral erythromycin or a placebo, every 8 hours. The primary outcome was the time to establish full enteral feeding. The secondary outcomes were body weight at full enteral feeding and length of hospital stay.Results Of 62 initial subjects, 3 infants dropped out of the study. Thirty infants were given erythromycin and 29 infants were given placebo. The baseline characteristics of the two groups were similar, with mean of gestational ages of 31.4 (SD 1.7) weeks in the erythromycin group and 32.4 (SD 2.2) weeks in the placebo group. The median times to reach full enteral feeding did not significantly differ between the two groups, with 10 (SD 5.3) days in the erythromycin group vs. 8 (SD 6.5) days in the placebo group (P=0.345). Also, median body weights at full enteral feeding and lengths of hospital stay were not significantly different between the two groups.Conclusion Erythromycin of 12.5 mg/kg/dose every 8 hours as prophylactic treatment does not significantly enhance feeding tolerance in preterm infants. Median body weights at full enteral feeding and length of hospital stay are not significantly different between the erythromycin and placebo groups.
Saat Terbaik Pemberian Suplementasi Zat Besi pada Bayi 0 Bulan sampai 6 Bulan Ringoringo, Harapan Parlindungan; Wahidiyat, Iskandar; Sutrisna, Bambang; Setiabudy, Rahayuningsih; Suradi, Rulina; Setiabudy, Rianto; Bardososono, Sapatawati
Sari Pediatri Vol 10, No 3 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.3.2008.163-70

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah kesehatan gizi di Indonesia. Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalensi ADB pada bayi 0-6 bulan 61,3%.Tujuan. Mengetahui berapa insidens defisiensi besi dengan atau tanpa anemia, dan kapan mulai terjadi deplesi besi atau defisiensi besi sebelum terjadi ADB pada bayi berusia 0-6 bulan.Metode. Desain penelitian adalah studi kohort prospektif dengan pembanding eksternal. Di antara 211 bayi yang ikut penelitian, terdiri dari 143 bayi yang lahir dari ibu tanpa anemia dan 68 bayi yang lahir dari ibu dengan anemia. Pemeriksaan darah tepi lengkap, gambaran darah tepi, saturasi transferin (ST) dilakukan saat bayi berusia 0, 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 bulan. Diagnosis ADB berdasarkan 1) kadar Hb <14g/dL untuk usia 0-3 hari, <11g/dL untuk usia 1 bulan, <10g/dL untuk usia 2-6 bulan, 2) mikrositik dan atau hipokrom, 3) kadar Hb meningkat setelah diberi terapi besi, 4) RDW >14%, 5) Indeks Mentzer >13; 6) Indeks RDW >22,0. Deplesi besi bila ST <30% untuk usia 0-1 bulan, ST <21% untuk usia 2-6 bulan. Defisiensi besi bila ST <20% untuk usia 0-1 bulan, ST <16% untuk usia 2-6 bulan.Hasil. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB berturut-turut 28,0, 27,0, dan 40,8%; artinya 95,8% bayi mempunyai status besi bermasalah. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB paling tinggi pada bayi berusia 0 bulan, berturut-turut 9,5, 14,2, dan 11,8%.Kesimpulan. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB paling tinggi pada bayi berusia 0 bulan. Suplementasi zat besi elemental dengan dosis 1 mg/kg/hari hendaknya diberikan pada semua bayi aterm sejak lahir.
Tata laksana Bayi dari Ibu pengidap HIV/AIDS Suradi, Rulina
Sari Pediatri Vol 4, No 4 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.4.2003.180-5

Abstract

Sejak diidentifikasi kasus AIDS pada tahun 1981 di Los Angeles, kasus AIDS melandadunia. Di Asia Tenggara jumlah kasus yang dilaporkan pada tahun 1999 adalah 134.671kasus. Di Indonesia secara kumulatif tercatat dari September 1987 sampai denganDesember 2001 terdapat 1904 kasus HIV positif dan 615 kasus AIDS. Transmisi vertikaldari ibu ke bayi dapat secara transmisi intra-uterin, intrapartum dan melalui ASI. Denganberbagai cara misalnya persalinan melalui bedah kaisar dan penggunaan obat obatantirertroviral terjadi pengurangan transmisi vertikal secara intra-uterin dan intrapartum,tetapi transmisi melalui ASI tidak dapat dicegah. Tata laksana bayi dari ibu pengidapHIV/AIDS adalah suportif, meliputi pemberian imunisasi rutin, pemantauanpertumbuhan dan pemeriksaan darah. Bila timbul gejala segera obati dengan obatantiretroviral.
Spesifitas Biologis Air Susu Ibu Suradi, Rulina
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.134-40

Abstract

Air susu mamalia adalah species specific (komposisi masing-masing susu mamalia sangatberbeda). Sebagaimana susu sapi adalah makanan terbaik untuk anak sapi maka ASIadalah makanan terbaik untuk bayi manusia, juga untuk bayi yang lahir kurang bulan.Penambahan atau pengurangan zat di dalam susu sapi agar dapat ditolerir oleh bayimanusia berupa susu formula memerlukan penelitian yang canggih yang perlumempertimbangkan bukan hanya zat gizinya tetapi seyogianya segala komponen yangada di dalam ASI. Perubahan komposisi ASI yang disesuaikan dengan masa kehamilan,usia bayi dan cara bayi menyusu tidak dapat ditiru oleh susu formula apalagi keuntunganlain seperti, mencegah penyakit bayi dan ibu serta keuntungan psikologis dan ekonomi.
Model Skoring Untuk Memprediksi Anemia Defisiensi Besi pada Bayi 0-6 Bulan Ringoringo, Harapan Parlindungan; Wahidiyat, Iskandar; Sutrisna, Bambang; Setiabudy, Rahayuningsih; Suradi, Rulina; Setiabudy, Rianto; Bardososono, Saptawati
Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.5.2009.338-44

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah kesehatan gizi di Indonesia. DataSKRT tahun 2001 menunjukkan prevalensi ADB pada bayi 0-6 bulan 61,3%. Belum dijumpai pemeriksaanlaboratorium sederhana yang dapat memprediksi seorang bayi berusia 0-6 bulan menderita ADB.Tuj uan. Mencari model skoring untuk memprediksi ADB pada bayi 0-6 bulan.Metode. Desain penelitian adalah studi kohort prospektif dengan pembanding eksternal. Ada 211 bayi yangikut penelitian, terdiri dari 143 bayi yang lahir dari ibu tanpa anemia dan 68 bayi yang lahir dari ibu dengananemia. Pemeriksaan darah tepi lengkap, gambaran darah tepi, feritin, sTfR dilakukan saat bayi berusia 0bulan, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 12 bulan. Diagnosis ADB berdasarkan 1) kadar Hb <14g/dL untuk usia 0-3 hari,<11g/dL untuk usia 1 bulan, <10g/dL untuk usia 2-6 bulan, 2) gambaran darah tepi mikrositik dan atauhipokrom, 3) kadar Hb meningkat setelah diberi terapi besi, 4) RDW >14%, 5) Indeks Mentzer >13; 6)Indeks RDW >220.Hasil. Faktor risiko terjadi ADB pada bayi berusia 0-6 bulan adalah diet ibu dan jenis kelamin bayi. Berdasarkanfaktor risiko dibuat model skoring dan klasifikasi risiko untuk memprediksi seorang bayi berusia 0-6 bulanakan menderita ADB atau tidak.Kesimpulan. Model skoring untuk memprediksi ADB pada bayi berusia 0-6 bulan dapat digunakan untukdeteksi dini ADB. (
Insidens dan Faktor Risiko Hipotermia Akibat Memandikan pada Bayi Baru Lahir Cukup Bulan Puspita, Irma Rochima; Suradi, Rulina; Munasir, Zakiudin
Sari Pediatri Vol 8, No 4 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.4.2007.258-64

Abstract

Latar belakang. Mandi merupakan salah satu paparan dingin pada bayi baru lahiryang dapat menyebabkan hipotermia. Data mengenai insidens dan faktor risikohipotermia akibat memandikan bayi baru lahir di Puskesmas atau di rumah bersalinsampai saat ini belum ada. Hasil pengamatan awal yang dilakukan di sebuah Puskesmasdan sebuah rumah bersalin swasta didapatkan sebesar 50% bayi baru lahir mengalamihipotermia sesudah mandi.Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidens dan faktorrisiko hipotermia akibat memandikan pada bayi baru lahir cukup bulan setelahmendapatkan penyuluhan tentang hipotermia.Metoda. Penelitian ini adalah studi kohort prospektif pada bayi baru lahir cukup bulandan sehat yang dimandikan saat usia lebih dari 6 jam. Bayi dimandikan dengan caraseluruh tubuh bayi dibasahi dengan air hangat dan dibersihkan dengan sabun bayi,kemudian seluruh tubuh bayi dimasukkan ke dalam bak mandi. Suhu aksila tubuh diukurdengan termometer digital. Suhu ruangan diukur dengan termometer digital, suhu airmandi diukur dengan termometer air raksa dan lama mandi diukur dengan stopwatch.Sebelum penelitian berlangsung, kepada petugas kesehatan setempat telah diberikanpenyuluhan mengenai hipotermia dan persiapan mandi yang baik.Hasil. Subyek penelitian adalah 100 bayi terdiri dari 53 bayi lahir di Puskesmas dan 47 bayilahir di RB swasta. Insidens hipotermia di Puskesmas lebih tinggi yaitu sebesar 49%dibandingkan dengan insidens di RB swasta sebesar 25,5% (RR 1,79; IK 95% 1,07; 3,00, p= 0,016). Insidens hipotermia pada bayi yang dimandikan pagi hari lebih sering (44%)dibandingkan dengan yang dimandikan sore hari (28%), namun secara statistik tidakbermakna (RR = 1,57; IK 95% = 0,88;2,79, p = 0,107). Faktor risiko hipotermia adalahsuhu aksila segera sebelum mandi (r = 0,73, p = 0,000) dan suhu air mandi (r = 0,73, p =0,008). Suhu aksila segera sebelum mandi dan suhu air mandi yang aman untuk memandikanbayi baru lahir berusia lebih dari 6 jam adalah berturut-turut 37,25°C dan 35°C.Kesimpulan. Terjadi penurunan insidens hipotermia setelah mendapatkan penyuluhan tentangpersiapan mandi yang baik, dari 50% pada awal pengamatan menjadi sebesar 49% di Puskesmasdan 25,5% di rumah bersalin swasta. Faktor risiko yang berkorelasi dengan hipotermia akibatmemandikan bayi cukup bulan lebih dari 6 jam sesudah lahir adalah suhu aksila segera sebelummandi dan suhu air mandi. Suhu aksila segera sebelum mandi dan suhu air mandi yang amanuntuk mencegah hipotermia adalah berturut-turut masing-masing 37,25°C dan 35°C.
Metode Kanguru Sebagai Pengganti Inkubator Untuk Bayi Berat Lahir Rendah Suradi, Rulina; Yanuarso, Piprim B.
Sari Pediatri Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.1.2000.29-35

Abstract

Penggunaan inkubator untuk merawat bayi berat lahir rendah (BBLR) memerlukanbiaya yang tinggi. Akibat terbatasnya fasilitas inkubator, tidak jarang satu inkubatorditempati lebih dari satu bayi. Hal tersebut meningkatkan risiko tejadinya infeksinosokomial di rumah sakit. Metode kanguru (MK) ditemukan pada tahun 1983 olehdua orang ahli neonatologi dari Bogota, Colombia untuk mengatasi keterbatasanjumlah inkubator. Setelah dilakukan berbagai penelitian, ternyata MK tidak hanyasekedar menggantikan peran inkubator, namun juga memberi banyak keuntunganyang tidak bisa diberikan oleh inkubator. Metode kanguru mampu memenuhikebutuhan asasi BBLR dengan menyediakan situasi dan kondisi yang mirip denganrahim sehingga memberi peluang BBLR untuk beradaptasi dengan baik di dunia luar.Metode kanguru dapat meningkatkan hubungan emosi ibu-bayi, menstabilkan suhutubuh, laju denyut jantung dan pernapasan bayi, meningkatkan pertumbuhan danberat badan bayi dengan lebih baik, mengurangi stres pada ibu dan bayi, mengurangilama menangis pada bayi, memperbaiki keadaan emosi ibu dan bayi, meningkatkanproduksi ASI, menurunkan kejadian infeksi nosokomial, dan mempersingkat masarawat di rumah sakit. Mengingat berbagai kelebihannya, diperlukan upaya yang lebihstrategis untuk mempopulerkan metode yang sangat bermanfaat ini.
Effects of massage on behavior of full-term newborns Wahyutami, Tri Sunarti; Soedjatmiko, Soedjatmiko; Firmansyah, Agus; Suradi, Rulina
Paediatrica Indonesiana Vol 50, No 4 (2010): July 2010
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi50.4.2010.187-92

Abstract

Background Baby massage is one of the touch stimulation that could be applied as soon as possible after birth. Giving massage regularly will affect the behavior of newborn.Objectives To explore the effects of ten-day massage on infants behavior.Methods A randomized control trial was done from December 200S to March 2009. Full-term newborm were randomly assigned into massage group or control group. Babies in massage group were given massage by their mothers and supervised by midwives. All babies were evaluated twice, i.e., on day 1 and day 11, using Brazelton Scale (Neonatal Behavior Assessment Scale). The behavior was compared between the two groups.Results A total of 72 full-term newborn infants appropriate for gestational age were included in this study. Infants in the massage group sbowed significant difference in adaptive behavior compared to control group. Those adaptive behavior consisted of habituation (WMD 1.08 CI 95% 0.67 to 1.49, P<0.0001), social interaction (WMD 1.54 Cl 95% 1.23 to 1.84, P<0.0001), motor system (WMD 1.35 CI 95% 1.14 to 1.55, P<0.0001), organization state (P<0.0001), range of state (WMD 1.35 CI 95% 0.95 to 1.55, P< 0.0001), autonomic system (WMD 0.53 CI 95% 0.23 to 0.84, P<0.0001), end reflexes (P<0.0001).Conclusions Massage gives better adaptive behavior and reflexes of full-term newborns compared to those without massage.
The effect of Bifidobacterium animalis lactis HNO19 supplementation among pregnant and lactating women on interleukin-8 level in breast milk and infant’s gut mucosal integrity Dewanto, Naomi E.F.; Firmansyah, Agus; Sungkar, Ali; Dharmasetiawani, Nani; Sastroasmoro, Sudigdo; Kresno, Siti B.; Suradi, Rulina; Bardosono, Saptawati; Prasetyo, Dwi
Medical Journal of Indonesia Vol 26, No 3 (2017): September
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.297 KB) | DOI: 10.13181/mji.v26i3.1481

Abstract

Background: Newborn’s gut mucosal is not fully developed, therefore infants are prone to diarrhea. Probiotic supplementation is known to induce the gut mucosal maturity. This study aimed to identify whether probiotics supplementation among pregnant women since the third trimester would increase the infant’s gut mucosal integrity.Methods: A double-blind, randomized clinical trial was conducted to understand the potential effect of probiotic supplementation on the level of probiotics and IL-8 in breastmilk, urine IFABP, faecal α-1-antytripsin (AAT) and calprotectin in infant’s at birth (V0) and three-months old (V3). A single strain of Bifidobacterium lactis animalis HNO19 (known as DR10) was used since it was not the resident bacteria. The study was held at Budi Kemuliaan Hospital and its satellite clinics from December 2014 to December 2015.Results: About 14% (5/35) and 20% (7/35) of the subjects had DR10 in the breastmilk’s colostrum and at the age of 3-months. The median values of IL-8 in the probiotic group vs the placebo group at V0 and V3 were 2810,1 pg/mL vs 1516.4 pg/mL (p=0.327) and 173.2 pg/mL vs 132.7 pg/mL (p=0.211) respectively. IFABP level 211.7 ng/mL vs 842.5 ng/mL (p=0.243) and 25.3 ng/mL vs 25.1 ng/mL (p=0.466); AAT 136.2 mg/dL vs 148.1 mg/dL (p=0.466) and 24 mg/mL vs 29.72 mg/mL (p=0.545); Calprotectin 746.8 ng/mL vs 4645.2 ng/mL (p=0.233) and 378.6 ng/mL vs 391.3 ng/mL (p=0.888).Conclusion: Probiotic DR10 given to pregnant women since the 3rd trimester can be found in colostrum and 3-months breastmilk. However, it did not affect the level of other probiotics or IL-8 and the gut mucosal integrity.
Nutritional status changes in children with malignant solid tumor before and after chemotherapy Januar, Boris; Nasar, Sri S; Suradi, Rulina; Abdulsalam, Maria
Paediatrica Indonesiana Vol 45 No 4 (2005): July 2005
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi45.4.2005.166-70

Abstract

Background Although aggressive multimodal treatment programsin childhood cancer have significantly increased survival rates, themorbidity caused by protein energy malnutrition related to therapyis still high.Objective To describe nutritional status changes in children withmalignant solid tumors after 21 days of chemotherapy.Methods A descriptive prospective study with pre- and post-testdesign in children with malignant solid tumors was conducted inthe Department of Child Health, Medical School University of In-donesia/Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta between Janu-ary and July 2004. Anthropometrics (body weight, BW and mid-upper-arm circumference, MUAC) and serum albumin measure-ments were performed before and after 21 days of chemotherapy.Results Twenty-two children were enrolled in this study. After 21days of chemotherapy, 8 children had decreased BW and 6 chil-dren had decreased MUAC, but 3 children gained weight and hadincreased MUAC. Based on MUAC-for-age, 7 children had de-creased nutritional status. Fifteen children had reduced serum al-bumin levels based on a 10% cut-off point. The number of childrenwho had reduced serum albumin was larger than those who hadreduced BW and MUAC. In the evaluation of average oral foodconsumption during 21 days, 7 out of 16 children could acceptmore than 2/3 portion of served food. All of the children who re-ceived enteral feeding could accept more than 2/3 portion of servedfood.Conclusion There was a decrease of nutritional status, BW,MUAC, and serum albumin in most of the subjects after chemo-therapy. Serum albumin level measurement was the more sensi-tive parameter in determining nutritional status changes. Enteralfeeding seems more appropriate to fulfill nutritional needs than oralfeeding