Harapan Parlindungan Ringoringo, Harapan Parlindungan
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Saat Terbaik Pemberian Suplementasi Zat Besi pada Bayi 0 Bulan sampai 6 Bulan

Sari Pediatri Vol 10, No 3 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah kesehatan gizi di Indonesia. Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalensi ADB pada bayi 0-6 bulan 61,3%.Tujuan. Mengetahui berapa insidens defisiensi besi dengan atau tanpa anemia, dan kapan mulai terjadi deplesi besi atau defisiensi besi sebelum terjadi ADB pada bayi berusia 0-6 bulan.Metode. Desain penelitian adalah studi kohort prospektif dengan pembanding eksternal. Di antara 211 bayi yang ikut penelitian, terdiri dari 143 bayi yang lahir dari ibu tanpa anemia dan 68 bayi yang lahir dari ibu dengan anemia. Pemeriksaan darah tepi lengkap, gambaran darah tepi, saturasi transferin (ST) dilakukan saat bayi berusia 0, 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 bulan. Diagnosis ADB berdasarkan 1) kadar Hb <14g/dL untuk usia 0-3 hari, <11g/dL untuk usia 1 bulan, <10g/dL untuk usia 2-6 bulan, 2) mikrositik dan atau hipokrom, 3) kadar Hb meningkat setelah diberi terapi besi, 4) RDW >14%, 5) Indeks Mentzer >13; 6) Indeks RDW >22,0. Deplesi besi bila ST <30% untuk usia 0-1 bulan, ST <21% untuk usia 2-6 bulan. Defisiensi besi bila ST <20% untuk usia 0-1 bulan, ST <16% untuk usia 2-6 bulan.Hasil. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB berturut-turut 28,0, 27,0, dan 40,8%; artinya 95,8% bayi mempunyai status besi bermasalah. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB paling tinggi pada bayi berusia 0 bulan, berturut-turut 9,5, 14,2, dan 11,8%.Kesimpulan. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB paling tinggi pada bayi berusia 0 bulan. Suplementasi zat besi elemental dengan dosis 1 mg/kg/hari hendaknya diberikan pada semua bayi aterm sejak lahir.

Insidens Defisiensi Besi dan Anemia Defisiensi Besi pada Bayi Berusia 0-12 Bulan di Banjarbaru Kalimantan Selatan: studi kohort prospektif

Sari Pediatri Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah kesehatan gizi di Indonesia. Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalensi ADB pada bayi kurang dari 1 tahun 55%.Tujuan. Mengetahui insidens deplesi besi, defisiensi besi, dan anemia defisiensi besi pada bayi berusia kurang dari 1 tahun.Metode. Desain penelitian adalah studi kohort prospektif dengan pembanding eksternal. Dijumpai 211 bayi ikut dalam penelitian, terdiri dari 143 bayi lahir dari ibu tanpa anemia dan 68 bayi lahir dari ibu dengan anemia. Pemeriksaan darah tepi lengkap, gambaran darah tepi, feritin, saturasi transferin (ST) dilakukan saat bayi berusia 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 12 bulan. Diagnosis ADB berdasarkan 1) kadar hemoglobin <14g/dL untuk usia 0-3 hari, <11g/dL usia 1 bulan, <10g/dL usia 2-6 bulan, <11g/dL usia 6-12 bulan, 2) mikrositik dan atau hipokrom, 3) kadar hemoglobin meningkat setelah diberi terapi besi, 4) feritin <12 ug/L usia 6-12 bulan, 5) RDW >14%, 6) Indeks Mentzer >13; 7) Indeks RDW >220. Deplesi besi bila ST <30% untuk usia 0-1 bulan, ST <21% untuk usia 2-6 bulan, feritin<20 ug/L usia 6-12 bulan. Defisiensi besi bila ST <20% usia 0-1 bulan, ST <16% usia 2-6 bulan, feritin <12 ug/L usia 6-12 bulan.Hasil. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB berturut-turut 11,4%, 7,6%, 47,4%, tertinggi pada bayi berusia 0 bulan, yaitu berturut-turut 9,5%, 14,2%, 11,8%.Kesimpulan. Insidens deplesi besi, defisiensi besi, ADB paling tinggi dijumpai pada bayi berusia 0 bulan.

Model Skoring Untuk Memprediksi Anemia Defisiensi Besi pada Bayi 0-6 Bulan

Sari Pediatri Vol 10, No 5 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu masalah kesehatan gizi di Indonesia. DataSKRT tahun 2001 menunjukkan prevalensi ADB pada bayi 0-6 bulan 61,3%. Belum dijumpai pemeriksaanlaboratorium sederhana yang dapat memprediksi seorang bayi berusia 0-6 bulan menderita ADB.Tuj uan. Mencari model skoring untuk memprediksi ADB pada bayi 0-6 bulan.Metode. Desain penelitian adalah studi kohort prospektif dengan pembanding eksternal. Ada 211 bayi yangikut penelitian, terdiri dari 143 bayi yang lahir dari ibu tanpa anemia dan 68 bayi yang lahir dari ibu dengananemia. Pemeriksaan darah tepi lengkap, gambaran darah tepi, feritin, sTfR dilakukan saat bayi berusia 0bulan, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 12 bulan. Diagnosis ADB berdasarkan 1) kadar Hb <14g/dL untuk usia 0-3 hari,<11g/dL untuk usia 1 bulan, <10g/dL untuk usia 2-6 bulan, 2) gambaran darah tepi mikrositik dan atauhipokrom, 3) kadar Hb meningkat setelah diberi terapi besi, 4) RDW >14%, 5) Indeks Mentzer >13; 6)Indeks RDW >220.Hasil. Faktor risiko terjadi ADB pada bayi berusia 0-6 bulan adalah diet ibu dan jenis kelamin bayi. Berdasarkanfaktor risiko dibuat model skoring dan klasifikasi risiko untuk memprediksi seorang bayi berusia 0-6 bulanakan menderita ADB atau tidak.Kesimpulan. Model skoring untuk memprediksi ADB pada bayi berusia 0-6 bulan dapat digunakan untukdeteksi dini ADB. (

Phenotypic diversity in beta-HbE thalassemia patients

Paediatrica Indonesiana Vol 46 No 2 (2006): March 2006
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background Thalassemia is a monogenic disease, yet the clini-cal manifestations (phenotype) are variable although they havethe same genotype. The clear-cut correlation between genotypeand phenotype in β-thalassaemia/HbE patients remains unex-plained. There are several factors that play a role in the severity ofthe clinical manifestations, i.e. two alpha-gene deletion, homozy-gote Xmn1 polymorphism +/+, -+-++, ++-++ haplotype, and hemo-globin Constant Spring.Objective To understand the clinical diversity of patients with HbE/α thalassemia and to determine whether it is possible to predictphenotypic severity from genetic factors.Methods A descriptive study on clinical presentations and hema-tological data of beta-HbE thalassemia patients. DNA analysis wasperformed to detect β-thalassemia mutations and the amelioratingfactors (alpha-globin genes deletions and Xmn1 restriction site poly-morphism at position –158 upstream of the G γ-globin gene) whichwere already known.Results Thirty patients with HbE/β thalassemia (4 to 29 years old)were recruited. IVS1-nt5 (G>C) severe β + mutation was detectedin 20 patients. Eighteen of 20 patients with positive IVS1-nt5 mu-tation group were heterozygous for Xmn1 restriction site polymor-phism and none of the patients was co-inherited with two á-globingene deletion. Almost all patients (19/20) with positive IVS1-nt5mutation group required regular transfusions, yet the mean age atfirst blood transfusion was older in negative IVS1-nt5 mutation groupthan that of positive IVS1-nt5 mutation group (5.7 vs 4 years). Meanhemoglobin before initial transfusion was higher in negative IVS1-nt5 mutation group than that of positive IVS1-nt5 mutation group(5.88 vs 5.39 g/dl). The mean total transfusion per year was lowerin the negative IVS1-nt5 mutation group than that of positive IVS1-nt5 mutation group (190.6 vs 215.1 ml/year).Conclusions Beta-HbE thalassemia patients with identical betathalassemia mutation (IVS1-nt5) show remarkable clinical diver-sity. Neither two alpha-gene deletion, nor the Xmn1- G γ polymor-phism can explain the phenotypic variation. Other amelioratingdeterminants or genetic modifications responsible for the variableclinical severity remain to be explored.