Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sri Rezeki S.
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Profil Antioksidan dan Oksidan Pasien Anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut pada Kemoterapi Fase Induksi ( Studi Pendahuluan)

Sari Pediatri Vol 11, No 4 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Telah diketahui bahwa sel kanker dan obat kemoterapi pada leukemia limfoblastik akut(LLA) melepaskan radikal bebas. Berakibat akan terjadi stres oksidatif apabila kadar oksidan meningkat danantioksidan menurun, ditandai dengan peningkatan kadar malondialdehid (MDA).Tujuan. Mengetahui profil antioksidan dan oksidan pasien LLA sebelum dan sesudah mendapat kemoterapifase induksi.Metode. Penelitian uji potong lintang pada pasien LLA yang dirawat di Departemen Ilmu Kesehatan AnakFKUI-RSCM sejak bulan Januari sampai Juni 2009. Kadar antioksidan (􀁅-karoten, vitamin C, dan vitaminE plasma) serta kadar oksidan (MDA plasma) diperiksa sebelum kemoterapi, dan setelah kemoterapi mingguke-3 dan minggu ke-6.Hasil. Empat belas kasus baru LLA diikutsertakan dalam penelitian. Dijumpai kadar MDA pada tiga kalipemeriksaan meningkat. Kadar MDA pada LLA high risk (HR) meningkat setelah kemoterapi dibandingkansebelum kemoterapi. Kadar MDA pada LLA standard risk (SR) menurun setelah kemoterapi dibandingkansebelum kemoterapi. Sebelum kemoterapi kadar rerata vitamin C normal, vitamin E rendah, 􀁅-karoten rendahdan setelah minggu ke-3 kemoterapi kadar vitamin C tetap normal, namun terdapat penurunan kadar vitaminE dan 􀁅-karoten. Pada subjek dengan efek samping kemoterapi yang ditunjukkan dengan peningkatan enzimtransaminase dan neutropenia, terjadi penurunan kadar 􀁅-karoten dan vitamin E serta MDA yang tinggi.Kesimpulan. Stres oksidatif terjadi sebelum kemoterapi karena radikal bebas yang dilepaskan sel kankerdan tetap berlangsung saat pemberian kemoterapi. Stres oksidatif pada LLA HR lebih berat dibandingkanLLA SR. Adanya kadar MDA tinggi dan vitamin antioksidan rendah mempermudah terjadi efek sampingkemoterapi

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi

Sari Pediatri Vol 2, No 1 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam era globalisasi, imunisasi merupakan upaya pencegahan penyakit infeksi menujumasa depan anak yang lebih sehat. Peningkatan pemberian imunisasi harus diikuti denganpeningkatan efektifitas dan keamanan vaksin. Walaupun demikian, peningkatanpenggunaan vaksin akan meningkatkan pula kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI)yang tidak diinginkan. Guna mengetahui apakah KIPI yang terjadi disebabkan olehimunisasi, maka diperlukan pelaporan pencatatan dari semua reaksi yang timbul setelahpemberian imunisasi. Reaksi KIPI dapat dipantau melalui sistim surveilans yang baikuntuk mendapatkan profil keamanan penggunaan vaksin di lapangan. Untuk mengetahuibesaran masalah KIPI di Indonesia diperlukan pelaporan dan pencatatan KIPI dankoordinasi antara pengambil keputusan dengan petugas pelaksana di lapangan, gunamenentukan sikap dalam mengatasi KIPI yang terjadi. Diharapkan surveilans KIPI dapatmembantu program imunisasi, khususnya untuk memperkuat keyakinan masyarakatakan pentingnya imunisasi sebagai upaya pencegahan penyakit yang paling efektif.

Terapi Asiklovir pada Anak dengan Varisela Tanpa Penyulit

Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Varisela atau chickenpox atau yang dikenal dengan cacar air adalah infeksi primer virus zoster varicella (VZV)yang umumnya menyerang anak dan merupakan penyakit yang sangat menular. Varisela pada anak tanpapenyulit adalah ringan dan dapat sembuh sendiri. Pengobatan varisela bersifat simtomatik, namun dalampraktek sehari-hari, masih banyak dokter yang memberikan asiklovir oral. Asiklovir sebagai terapi variselasudah lama digunakan termasuk pada anak sehat tanpa penyulit walaupun sampai saat ini masih kontroversial.Berdasarkan hasil penelusuran didapatkan 8 artikel yang relevan yang dapat disimpulkan bahwa bila asiklovirdiberikan dalam 24 jam pertama timbulnya ruam, secara signifikan dapat mengurangi hari lamanya demam,memperpendek lama sakit, mengurangi jumlah lesi, tapi tidak mengurangi komplikasi varisela (level ofevidence 1a). Namun asiklovir tidak dianjurkan diberikan secara rutin pada anak varisela tanpa penyulit,karena ada pendapat bahwa kemungkinan terjadinya resistensi terhadap asiklovir dan menganggu imunitasserta masalah biaya yang mahal.

Profil Klinis, Laboratorium, dan Serologi Infeksi Virus Dengue pada Bayi

Sari Pediatri Vol 16, No 6 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Kejadian infeksi virus dengue (IVD) meningkat di Sumatera Barat pada beberapa tahunterakhir. Bahkan, terjadi pada anak usia kurang dari satu tahun. Bayi mempunyai karakteristik klinik yangunik dan tidak banyak penelitian mengenai hal ini di Indonesia.Tujuan. Mengetahui profil klinis, laboratorium, dan serologi infeksi virus dengue pada bayi yang dirawatdi RSUP Dr. M Djamil Padang dari tahun 2012-2014Metode. Seri kasus menggunakan data rekam medik bayi yang dirawat di RSUP Dr M Djamil Padang dari1 Januari 2012 sampai 31 Desember 2014. Data mencakup usia, jenis kelamin, hari demam saat diagnosis,gejala dan tanda klinis, serta laboratorium.Hasil. Duabelas bayi dengan usia termuda 3 bulan dan usia terbanyak 5 bulan (5/12). Muntah merupakangejala tambahan yang paling banyak ditemukan (9/12), diikuti oleh ptekie dan syok (6/12), serta batuk(5/12). Infeksi primer didapatkan pada 8/12 bayi.Kesimpulan: Rerata usia dan kelompok usia terbanyak 5 bulan. Muntah merupakan gejala yang banyakditemui, diikuti, petekie, batuk dan syok sebagian besar merupakan infeksi primer.

Pattern and influencing factors of breastfeeding of working mothers in several areas in Jakarta

Paediatrica Indonesiana Vol 47 No 1 (2007): January 2007
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background Breast milk contains many essential nutrition factorsbest for babies. The 1997 Indonesian Health Demography foundthat the proportion of exclusive breastfeeding was still low (52%)and increased to 55.1% in 2002. Due to increasing number ofworking mothers, promoting breast feeding among them should beperformed properly. There are no data on exclusive breastfeedingrate and pattern among working mothers in Indonesia.Objective To describe exclusive breastfeeding rate and patternamong working mothers in several areas in Jakarta and the influ-encing factors.Methods A descriptive study using a questionnaire was conductedfrom October 2005 to February 2006. Subjects were workingmothers who had 6 to 12 month old baby and breastfed and thebaby had no congenital or chronic disease.Results Among 290 mothers interviewed, 40% worked at banksor insurance business, 34% were private employees, 25% medicalstaffs, and 2% were teachers. Almost 80% have exclusivelybreastfed for less than 4 months, 17% for 4 months, and only 4%for 6 months. Maternal leave, family support, mothers’ knowl-edge, facilities at workplace, media influences, and working hoursseemed to have no relations to breastfeeding rate. There were122 (42%) mothers who had good knowledge about physiologyof lactation, 155 of them (53%) had fair knowledge, and only45% of them had poor knowledge.Conclusions The proportion of working mothers in several areasin Jakarta who have exclusively breastfed for 4 months is 17%, andonly 4% of subjects do exclusive breastfeeding for 6 months. Mostsubjects have a good to fair knowledge about the physiology oflactation but it does not seem to influence the decision to exclu-sively breastfed their babies.

Karakteristik Klinis dan Epidemiologis Avian Influenza A (H5N1) Anak Di Indonesia, Tahun 2005-2007

Sari Pediatri Vol 12, No 5 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Indonesia merupakan negara tertinggi di dunia yang melaporkan kasus avian influenzaA(H5N1) dengan proporsi kematian yang tinggi (83%). Sampai saat ini belum banyak penelitian kasusavian influenza A(H5N1) anak di Indonesia.Tujuan. Mengetahui pola epidemiologis, klinis, laboratoris, dan radiologis dalam hubungannya dengankesembuhan atau kematian kasus avian influenza A (H5N1) anak.Metode. Studi retrospektif dari 37 kasus konfirmasi avian influenza anak di Indonesia berdasarkan dataBadan Litbangkes dan Dirjen P2PL, Depkes RI serta WHO Indonesia dan disajikan secara deskriptif.Hasil. Riwayat kontak secara langsung dan tidak langsung dengan unggas (37,84%) sebanding dengankontak pada kasus konfirmasi avian influenza (35,14%), 12 kasus diantaranya merupakan anggota klusterkeluarga. Kasus terbanyak pada kelompok umur 5-<12 tahun (50,62%). Domisili kasus anak terutama ditiga propinsi Indonesia yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Proporsi kematian avian influenza anakIndonesia lebih rendah (67,57%) dibanding proporsi kematian nasional (82,8%) tetapi masih sedikit lebihtinggi dari proporsi kematian global (59,45%). Gejala klinis utama yaitu demam (100%), batuk (86,49%),sesak (81,08%), serta penurunan kesadaran (62,16%). Pneumonia terjadi pada 59,46% kasus dengan proporsikematian 68,18%. Kelompok yang mendapat oseltamivir (37%) mempunyai peluang hidup lebih besardari pada kelompok yang tidak mendapat oseltamivir (20%), demikian pula lama awitan sakit dan dosisawal oseltamivir pada kelompok nonfatal lebih pendek (median 5,5 hari dengan rentang waktu 2-10 hari)dibanding kelompok yang fatal (median 8,5 hari, rentang 3-22 hari) menunjukkan makin cepat mendapatterapi oseltamivir memberi peluang hidup lebih baik.Kesimpulan. Spektrum klinis avian influenza yang luas menempatkan penyakit ini sebagai diagnosis bandingyang perlu dipertimbangkan termasuk kematian yang tidak jelas penyakitnya pada kluster keluarga atausakit berat lainnya. Terapi oseltamivir memberi peluang hidup lebih baik disamping penemuan kasus diniserta perawatan secepatnya.

Orkitis pada Infeksi Parotitis Epidemika: laporan kasus

Sari Pediatri Vol 11, No 1 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebelum ditemukan vaksin parotitis pada tahun 1967, parotitis epidemika merupakan penyakit yang sangat sering ditemukan pada anak. Insidens pada umur <15 tahun 85% dengan puncak insidens kelompok umur 5-9 tahun. Setelah ditemukan vaksin parotitis, kejadian parotitis epidemika menjadi sangat jarang. Di negara barat seperti Amerika dan Inggris, rata-rata didapat kurang dari 1.000 kasus per tahun. Demikian pula insidens parotitis bergeser pada anak besar dan dewasa muda serta menyebabkan kejadian luar biasa di tempat kuliah atau tempat kerja. Di Indonesia, tidak didapatkan adanya data mengenai insidens terjadinya parotitis epidemika. Di Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), sejak tahun 1997-2008 terdapat 105 kasus parotitis epidemika. Jumlah kasus tersebut semakin berkurang tiap tahunnya, dengan jumlah 11-15 kasus/tahun sebelum tahun 2000 dan 1-5 kasus/tahun setelah tahun 2000. Selama tahun 2008 hanya didapatkan satu kasus parotitis epidemika. Tidak ada data mengenai jumlah kasus orkitis pada parotitis epidemika di RSCM. Orkitis terjadi sebagai perjalanan parotitis epidemika berlangsung selama kurang lebih 4 hari. Orkitis pada parotitis epidemika tidak menular namun dapat menyebabkan atrofi pada testis dan menyebabkan infertilitas. Tujuan laporan kasus untuk membahas diagnosis serta tata laksana parotis epidemika.