Articles

Found 6 Documents
Search

Angka Kejadian Delayed Speech Disertai Gangguan Pendengaran pada Anak yang Menjalani Pemeriksaan Pendengaran di Bagian Neurootologi IKTHT-KL RSUP Dr.Moh. Hoesin Lia Sari, Sarah Novi; Memy, Yuli D; Ghanie, Abla
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Delayed Speech adalah keterlambatan proses bicara seorang anak dibandingkan dengan proses bicara anak seusianya. Delayed Speech merupakan masalah utama yang sebagian besar diakibatkan oleh gangguan pendengaran.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi delayed speech dan pemeriksaan pendengaran yang sesuai pada anak dengan gangguan pendengaran  di Bagian  Neurootologi Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher (IKTHT-KL) RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang Periode Januari 2010-Maret 2012.Penelitian deskriptif obser-vasional dengan menggunakan data sekunder berupa hasil timpanometri, OAE dan BERA di Klinik subdivisi Neurotologi bagian THT-KL Periode Januari 2010-Maret 2012. Deskripsi meliputi distribusi usia, jenis kelamin, derajat gangguan pendengaran, gambaran OAE dan penyebab gangguan pendengaran. Sampel penelitian adalah 513 pasien. Terdapat 452 pasien delayed speech yang disertai gangguan pendengaran. Prevalensi pada periode Januari 2010 hingga Maret 2012 adalah 88,4%. Distribusi jenis kelamin laki-laki 343 pasien (66,9%) dan perempuan 170 pasien (33,1%). Pasien berusia 0-1 tahun sebanyak 36 pasien (7%),  lebih dari 1-2 tahun sebanyak 142 (27,7%),  lebih 2-3 tahun sebanyak 128 pasien,  lebih dari 3-4 tahun sebanyak 71 pasien (13,8%),lebih dari 4-5 tahun sebanyak 43 pasien (8,4%), lebih dari 5-6 tahun sebanyak 36 (7%) dan lebih dari 6 tahun adalah sebanyak 57 (11,1%). Gangguan bilateral didapatkan sebanyak 71,2%, dan unilateral sebanyak 17,2%. Distribusi derajat gangguan pendengaran telinga kanan: tuli sangat berat sebanyak 38,4%, tuli sedang berat sebanyak 19,5%, tuli ringan sebanyak 24,2%, pendengaran normal sebanyak 17,9%. Gambaran OAE pass pada telinga kanan sebanyak 41,5%, OAE refer sebanyak  52,8% dan OAE pass dengan gambaran BERA abnormal mulai derajat sedang adalah sebanyak 5,6%.  Gambaran OAE pass telinga kiri adalah 47,1%,  refer 48,5%, dan OAE pass dengan gambaran BERA abnormal mulai derajat sedang adalah sebanyak 4,2%. Derajat gangguan pendengaran telinga kiri: tuli sangat berat sebanyak 18,7%, tuli sedang berat sebanyak 48,6%, tuli ringan sebanyak 17,2%, pendengaran normal sebanyak 15,6%. Predisposisi TORCH dan infeksi intrauterin sebanyak 7,6%, obat-obatan sebanyak 8,8%, lahir SC sebanyak 15,2%, hiperbilirubinemia sebanyak 6,2%, asfiksia sebanyak 8,2%, riwayat infeksi postnatal 20,5%, trauma kepala 13,8%, dan perdarahan telinga  2,5%. Prevalensi delayed speech disertai gangguan pendengaran adalah 88,3% dan pemeriksaan BERA memerlukan penunjang lain seperti OAE dalam menegakkan diagnosa gangguan pendengaran
Gambaran Audiologi dan Temuan Intraoperatif Otitis Media Supurtif Kronik Dengan Kolesteatoma pada Anak Wilsen, Wilsen; Satria, Denny; Doris M, Yuli; Ghanie, Abla
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 2 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Otitis media supuratif kronik (OMSK) dengan kolesteatoma pada anak dapat menyebabkan tuli konduktif derajat ringan sampai berat. Kehilangan pendengaran merupakan komplikasi OMSK yang paling sering. Penurunan pendengaran pada anak-anak penderita OMSK telah dihubungkan dengan ketidakmampuan belajar dan performa sekolah yang buruk. OMSK masih menjadi masalah kesehatan utama di negara maju dan berkembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran audiologi dan temuan intraoperatif pada anak-anak penderita OMSK dengan kolesteatoma di RS Moh Hoesin Palembang. Studi deskriptif retrospektif dilakukan di bagian rawat inap THT-KL RSUP Moh. Hoesin Palembang, melibatkan 40 anak-anak penderita OMSK dengan kolesteatoma yang telah menjalani pembedahan dari Januari 2009 sampai Januari 2012. Pada audiometri didapatkan anak-anak dengan gangguan pendengaran derajat ringan sebanyak 3 pasien (7,5%), derajat sedang 4 pasien (10%), derajat sedang berat 10 pasien (25%), derajat berat 8 pasien (20%), derajat sangat berat 15 pasien (37,5%). Besarnya air bone gap sebelum operasi adalah <20 dB pada 1 pasien (2,5%), 21-40 dB 17 pasien (42,5%), 41-60 dB 22 pasien (55%). Rantai tulang pendengaran saat temuan intraoperatif pasien tersering dijumpai hanya tersisa basis stapes pada 27 pasien (67,5%) dan letak kolesteatoma pada kavum timpani dan kavum mastoid pada 31 pasien (77,5%)
Penatalaksanaan Enam Kasus Aspirasi Benda Asing Tajam di Saluran Trakheobronkial Zuleika, Puspa; Ghanie, Abla
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 3, No 1 (2016): Januari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Aspirasi benda asing ialah masuknya benda yang berasal dari luar tubuh atau dari dalam tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada ke saluran pernafasan. Aspirasi benda tajam di saluran trakheobronkial merupakan permasalahan yang cukup sering terjadi dan meningkat beberapa tahun terakhir seiring dengan peningkatan penggunaan  jarum   pentul, terutama pada wanita muda dan remaja perempuan. Aspirasi benda asing tajam  berpotensi menimbulkan komplikasi serius, seperti distress pernapasan akut, atelektasis, perdarahan, robekan dan infeksi paru, bahkan kematian. Diagnosis aspirasi benda asing tajam dapat ditegakkan melalui anamnesis berupa riwayat tersedak benda asing tajam dan didukung dengan pemeriksaan radiologi berupa gambaran radiopak dari benda asing tajam. Tujuan: Mempresentasikan serial kasus aspirasi benda asing tajam di saluran trakeobronkial. Kasus: Lima kasus aspirasi benda asing tajam jarum pentul dan satu kasus prolong aspirasi benda tajam paku payung plastik di saluran trakeobronkial,           Kesimpulan: Dilaporkan lima kasus aspirasi benda asing tajam jarum pentul dan satu kasus prolong aspirasi benda tajam paku payung plastik di saluran trakeobronkial, yang berhasil ditatalaksana dengan bronkoskopi kaku
Karakteristik pasien benda asing trakeobronkial di bagian T.H.T.K.L Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang Zuleika, Puspa; Ghanie, Abla
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 47, No 2 (2017): Volume 47, No. 2 July - December 2017
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Aspirasi benda asing ialah masuknya benda yang berasal dari luar atau dalam tubuh, ke saluran trakeobronkial. Aspirasi benda asing saluran trakeobronkial merupakan keadaan darurat yang memerlukan tindakan bronkoskopi segera untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Tujuan: Mengidentifikasi karakteristik klinis pasien aspirasi benda asing saluran trakeobronkial di bagian Telinga Hidung Tenggorok – Bedah Kepala Leher (T.H.T.K.L) Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/ Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif. Sampel penelitian ini diambil dari data rekam medis pasien aspirasi benda asing pada saluran trakeobronkial di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode Januari 2012 - Desember 2016. Hasil: Didapatkan 20 pasien dengan riwayat teraspirasi benda asing di saluran trakeobronkial. Dijumpai 9 orang laki-laki dan 11 orang perempuan dengan perbandingan 1:1,2, di mana usia 0-15 tahun merupakan penderita terbanyak aspirasi benda asing ini. Benda asing yang paling banyak ditemukan adalah mainan dan benda plastik sebanyak 9 kasus, serta jarum pentul sebanyak 6 kasus. Sebanyak 19 pasien diketahui terdapat riwayat tersedak benda asing. Pemeriksaan foto toraks menunjukkan gambaran normal pada 12 pasien. Lokasi benda asing terbanyak ditemukan di trakea sebanyak 8 kasus. Kesimpulan: Aspirasi benda asing di saluran trakeobronkial sering terjadi pada anak-anak yang berusia kurang dari 15 tahun. Benda asing terbanyak adalah anorganik berupa mainan dan benda plastik. Pemeriksaan radiologi paru dalam 24 jam pertama setelah kejadian aspirasi pada umumnya menunjukkan gambaran normal. Lokasi benda asing di saluran trakeobronkial terbanyak pada penelitian ini adalah di trakea. Kata kunci: Aspirasi, bronkoskopi, foto toraks, benda asing, traktus trakeobronkial ABSTRACT Background: Foreign body aspiration is the entrance of foreign objects from outside or inside of the body into the tracheobronchial tract. Aspiration of foreign body in tracheobronchial tract is an emergency condition that needs immediate bronchoscopy procedure to prevent serious complications. Objectives: To identify clinical characteristics of foreign body aspiration patients in ENT Department Sriwijaya Medical Faculty / Dr. Mohammad Hoesin Hospital, Palembang. Method: This study was a descriptive observational study. The sample of this study was taken from the medical record of tracheobronchial foreign body aspiration patients at Dr. Mohammad Hoesin Hospital from January 2012 until December 2016. Result: There were twenty patients with the history of foreign body aspiration in tracheobronchial tract, consisted of 9 male and 11 female, with the ratio 1:1,2, in which 0–15 year-old children were the majority of the patients. The most common foreign bodies were toys and plastic objects in 9 cases and head veil pin in 6 cases. Nineteen cases of the patients had the history of choking as presenting symptom. Chest X-Ray showed normal imaging on twelve patients. The most common site in tracheobronchial tract where foreign bodies found was the trachea, in eight cases. Conclusions: Foreign body aspirations in tracheobronchial tract were most frequently happened in children less than 15 year-old. The most common foreign bodies were anorganic material, such as toys and plastic objects. Lung X-Rays on the first 24 hours commonly showed normal imaging. Foreign bodies in tracheobronchial tracts most frequently were found in the trachea. Keywords: Aspirations, bronchoscopy, chest X-Ray, foreign body, tracheobronchial tree
Uji Reliabilitas Voice Handicap Index-30 Adaptasi Bahasa Indonesia dI RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Yanti, Lisa Apri; Ghanie, Abla; Zuleika, Puspa; Adelien, Adelien

Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbicara merupakan cara yang efektif untuk berkomunikasi. Adanya gangguan suara atau disfonia akan mengganggu proses komunikasi yang akan berdampak negatif terhadap kehidupan sosial. Voice Handicap Index (VHI) merupakan salah satu kuesioner untuk menilai persepsi suara dimana Agency of Healthcare Research and Quality pada tahun 2012 mengumumkan VHI sebagai diagnostik instrumen yang valid dan reliabel. Saat ini klinisi di Indonesia belum menggunakan alat ukur ini pada pasien dengan gangguan suara ataupun untuk evaluasi pascaterapi karena belum tersedianya instrumen yang sudah teruji reliabilitasnya dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan VHI adaptasi bahasa Indonesia yang reliabel, mengetahui sebaran subjek gangguan suara berdasarkan demografi, pemeriksaan perseptual subjektif (GRBAS) dan laringoskopi indirek. Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang. Subjek diambil dengan teknik consecutive sampling hingga terpenuhi jumlah sampel 40 orang. Penelitian dilakukan di poliklinik THT-KL divisi Laring Faring RSMH pada bulan Juni-November 2018. Hasil uji reliabilitas VHI didapatkan skala fungsional, fisik, emosional maupun skor total memiliki nilai alpha lebih dari 0,7. Hal ini menunjukkan bahwa VHI adaptasi bahasa Indonesia reliabel untuk dijadikan suatu instrumen pemeriksaan. Nilai Cronbach-α tertinggi yaitu pada skala VHI total sebesar 0.884. VHI-30 adaptasi bahasa Indonesia reliabel sebagai instrumen penilaian kualitas hidup pasien gangguan suara.
Hubungan Otitis Media Supuratif Kronik dengan Derajat Gangguan Pendengaran di Departemen THT-KL RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Periode 2014-2015 Laisitawati, Ayu; Ghanie, Abla; Suciati, Tri
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 49, No 2 (2017): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu penyebab utama gangguan pendengaran adalah otitis media supuratif kronik (OMSK). OMSK dibagi menjadi 2 tipe yaitu OMSK tipe aman (benigna) dan tipe bahaya (maligna). Gangguan pendengaran pada OMSK tipe bahaya (maligna) lebih berat dibandingkan tipe aman (benigna) dikarenakan proses infeksi pada tipe ini sering melibatkan telinga bagian dalam sedangkan pada OMSK tipe aman (benigna) proses infeksi tidak sampai mengenai telinga bagian dalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan otitis media supuratif kronik dengan derajat gangguan pendengaran di RSUP Dr. M. Hoesin Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan potong lintang (cross-sectional study). Sampel penelitian ini adalah semua rekam medik penderita otitis media supuratif kronik di RSUP Dr. M. Hoesin Palembang pada tahun 2014-2015. Dari 116 subjek, ditemukan 62 kasus OMSK tipe bahaya (maligna) dan 54 kasus OMSK tipe aman (benigna) berturut-turut yitu derajat sedang berat (48,1%) dan derajat sedang (38,7%). Jenis gangguan pendengaran terbanyak untuk tipe bahaya (maligna) dan aman (benigna) adalah gangguan pendengaran tipe konduktif dengan persentase berturut-turut 94,4% dan 43,5%. Terdapat hubungan antara OMSK dengan derajat gangguan pendengaran (p= 0,027) dan terdapat perbedaan rata-rata ambang dengar yang sangat bermakna antara OMSK tipe aman (benigna) dan OMSK tipe bahaya (maligna) dengan nilai p= 0,000 serta terdapat hubungan antara OMSK dengan jenis gangguan pendengaran (p=0,000). Terdapat hubungan antara OMSK dengan derajat gangguan pendengaran, dimana derajat gangguan pendengaran lebih berat pada tipe bahaya (maligna) dibandingkan tipe aman (benigna).